LUH EVI JUNIARI, atau biasa disapa Evi itu, datang bersama pacarnya, Arta, ke Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di tengah riuh Buleleng Festival (Bulfest) 2025 di stage Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Rabu, 20 Agustus 2025.
Mereka datang bersama anjing kesayangan, Miku, namanya. Miku bertubuh kecil, unyuk. Wajahnya berbulu kuning keemasan dan ada warna putih di bagian hidungngnya.
Ekornya selalu bergoyang ke kanan ke kiri—tambah unyuk. Miku tidak rewel sebagai anjing peliharaan yang diajak ke Bulfest untuk baca puisi. Di lehernya, ada kalung berwarna merah dengan satu bandul berbentuk bulat.
Mereka datang ke acara itu selepas mengantar kue pesanan ke Pemaron. Evie nyambi jualan kue, dan datang mau baca puisi.
“Sebenarnya kami mau ngirim kue pesanan ke Pemaron, tapi karena kami lihat poster Mahima di Instagram, jadinya ikut,” kata Luh Evi Juniari.

Suasana Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di Bulfest 2025 | Foto: tatkala.co/Son
Evi punya usaha kecil namanya Havita Bakery. Kuenya enak-enak. Dan menyoal puisi, ia sedari SD sudah menyukai puisi, selain kue.
Evi banyak menulis puisi yang diunggah di Line, sebuah aplikasi kirim pesan. Puisi baginya merupakan alternatif untuk mengekspresikan sesuatu. Dengan menulis puisi membuat jiwanya plong, juga membaca puisi membuat jiwanya plong. Lega.
Ketika itu ia membawakan satu puisi karyanya sendiri dengan judul “Bangkitkan Anala Sang Raga”. Dan ketika namanya dipanggil oleh Mc kece, Rusdi Ulu—penyair dari Bima, Evi segera maju ke depan dengan sangat siap.

Desak Putu Shinta saat membaca puisi di acara Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son
Di samping panggung, sang pacar, Arta, tampak memberi semangat dengan memberi tepuk tangan pada Evi. Miku, seekor anjing itu melihat majikannya baca puisi, juga tampak berseri. Ekornya terus goyang ke kanan ke kiri. Barangkali ia ikut bangga, ikut memberi semangat juga.
Dengan gerak ekspresif suara lepas, Evi mulai membaca puisi:
Perihal waktu memang sebangsat itu
Semarak dekap merujuk pilu
Seperti, nyamuk dan darah yang sedang bercumbu
Membelai jentik kemudian mati tertampar kelambu
Lucu
Lama-lama kita tak jauh dari seekor nyamuk
Tidak mentah, tidak pula busuk
Terlena pada fana yang membangkitkan nafsu
Terjerumus pada ruang yang tak bertepi sampai melupakan waktu
Perihal kenyamanan memang sebrengsek itu,
Bak dekap kita,
Bak kecup kita,
Bak leburnya sukma menuju nirwana
Tanpa disadari
Kini,
Hanya tarian luka yang menjadi penghantar pengorbanan negeri ini
Bangkitlah wahai pemuda
Janganlah terus engkau membisu
Berhenti berpangku tangan pada eloknya perjalanan sang waktu
Goreskan tintamu mengejar ilmu
Bangkitkan anak negeri ini dari belenggu
Ini bukan tentang sejarah yang harus selalu diperingati
Ini bukan tentang pengakuan untuk para pengabdi negeri ini
Ini bukan pula aksara yang bertutur bualan semata
Ini tentang aksi nyata yang harus tertuang jika tidak ingin terjerumus pada metamorfosis cacat
Layaknya, jentik yang tengah kehilangan napas
Telapak waktu dapat membunuh kita
Kapan saja.
Sorak tepuk tangan mengapresiasi pembacaan puisi Evi yang lepas, seperti puisinya yang ekspresif. Tampak sang pacar terkagum dengan hasil pembacaannya.
“Pacar saya bilang suara saya bagus, dia baru pertama kali denger puisi itu dan baru pertama kali denger saya baca puisi,” kata Evi sambil tersipu malu. “Kalau bisa dihitung, ini baru yang ketiga kalinya saya baca puisi di hadapan umum. Sebelumnya pernah lomba online aja, lewat video di kampus,” lanjutnya.
Selepas Evi baca puisi, di tengah kerumunan anak SMA Negeri 2 Banjar, Komang Yudana Yasa berdiri gagah. Mc langsung menyeretnya untuk segera maju karena sudah giliran—harus baca puisi.

Komang Yudana Yasa, siswa SMA Negeri 2 Banjar, sedang membaca puisi karya sendiri berjudul “Toleransi” | Foto: tatkala.co/Son
Komang Yudana pun maju. Dengan postur tubuh yang tegap, langkah Komang tampak penuh siap. Sorak pendukung Komang pun terdengar meriah.
Di acara Open Mic Baca Puisi Karya Sendiri di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima, Komang Yudana Yasa, sama seperti Luh Evi Juniari, adalah peserta baca puisi. Selain Komang Yudana dan Evi, juga ada Julio Saputra, Desak Putu Shinta, Gede Yoga Wismantara, Kadek Wisnu Oktaditya, Chatrine, dan Aryati.
Dan siang itu, Komang Yudana Yasa membawakan puisi karya sendiri dengan judul “TOLERANSI”. Segera ia baca:
Kubuka kamus negeri
Kutemukan kata toleransi.
Toleransi penyeimbang negeri
Sebagai negara yang tinggi toleransi
Bagiku toleransi adalah penyeimbang negeri
Berbagai macam agama di negeriku Tak menjadikanku membeku
Di depan orang banyak, Komang Yudana memasang wajah mantap dan yakin. Suaranya sedikit diangkat-dikeraskan. Ekspresi wajahnya tampak menggebu-gebu. Tangannya meliuk ketika membaca puisinya karya sendiri. Sorot mata penonton tak lepas dari pembacaan puisinya Komang Yudana.
Negeriku, negeri nan elok
Keindahan alamnya yang memesona
Hamparan biru laut
dan
gunung-gunung saling menyapa
menyatukan negeriku, negeri Indonesia
Indonesia kaya akan keberagaman
Bersatu dalam keanekaragaman
Menjaga nilai-nilai luhur
Pancasila
Dalam naungan
Bhineka Tunggal Ika
Tepuk tangan lebih keras menimpuki lelaki itu. Seseorang bilang, mantap untuk pembacaan puisi Komang Yudana Yasa. Ngegas sangat.

Chatrine membacakan puisi di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son
“Padahal saya orangnya sedikit introvert. Ketika saya baca puisi di depan orang banyak langsung gugup dan deg-degan,” kata Komang Yudana Yasa memberi alasan mengapa pembacaan puisinya totalitas dan semua rasa gugup dilepas.
Kritik Sosial di Balik Tumbuhnya Jerawat
Di acara Rabu Puisi #17 siang itu, juga terdapat pembacaan puisi menarik selain dari karakter suara dan wajah penuh semangat dari para peserta. Yaitu pembacaan puisi dari Julio Saputra, atau biasa disapa Bang Julio, penyair yang pandai membuat puisi sekali duduk—dalam satu tarikan napas. Dor.

Julio Saputra saat membacakan puisi Jerawat di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son
Ia maju ke depan. Ia membaca puisi seperti menembak sesuatu.
Ini gawat
Di wajahku tumbuh jerawat
Ia menyebar dengan cepat
Dari satu jadi empat
Dari empat jadi berlipat-lipat
Berlipat-lipat jadi pangkat kuadrat
Dengan angka yang susah dicatat
Jerawat oh jerawat
Ini gawat
Gara-gara jerawat
Aku tak bisa makan-makan cokelat
Aku lupa rasa ketupat
kerupuk bawang, bakso urat
Juga sambel merah, dan soto babat
Aku tak bisa lagi makan-makan nikmat
Jerawat oh jerawat
Ini gawat
Jerawat giat pindah-pindah tempat
Ia semakin merambat-rambat
Dari sudut timur ke sudut barat
Dari semula jauh menjadi dekat
Dari renggang jadi erat
Jerawat oh jerawat
Ini gawat
Jarawatku lambat-lambat makin membulat
Semuanya padat-padat
Semuanya lekat-melekat
Ibarat pasukan granat
Yang satu sama lain sama-sama sepakat
bak siap meledakan jagat, duaaar
gawat oh gawat
Orang-orang tertawa kecil tampak geli-heran dengan pembacaan puisi yang isinya hanya jerawat, atau kebanyakan huruf “t”. Tapi tergelitik dengan kritik sosial Julio di balik jerawat. Lantas mereka tepuk tangan.
“Keren dan bagus, pengambilan diksinya bagus, dari hal yang kita alami bisa jadi puisi,” kata Evi berkomentar tentang pembacaan puisi milik Julio Saputra.

Penampilan pembacaan puisi oleh Komunitas Mahima di Rabu Puisi #17 | Foto: tatkala.co/Son
Sampai di situ, Evi juga berkomentar Rabu puisi baginya adalah ide yang briliant sebagai wadah untuk mengeluarkan tulisan-tulisan bebas seperti puisi miliknya.
Dan di pinggir panggung, Evi dan Arta, juga anjing peliharaan mereka yang lucu, Miku, bersiap-siap untuk pulang setelah acara mau selesai. Mereka merasa senang datang-terlibat di acara Rabu Puisi #17, juga merasa senang bisa terhubung dengan pertemanan baru di lingkaran sastra.
“Terutama dengan puisi, karena sudah agak lama tidak berpuisi,” kata Evi mau pulang. Mereka datang dan pulang menggunakan motor Vario, seperti awal, Miko dipangku agar tak lompat. Dada, Miku.[T]
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto



























