25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terhubung dengan Puisi, Terhubung dengan Teman Baru: Catatan Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
August 26, 2025
in Panggung
Terhubung dengan Puisi, Terhubung dengan Teman Baru: Catatan Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima

Luh Evi Juniari sedang baca puisi karya sendiri di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di Bulfest 2025 | Foto: tatkala.co/ Son

LUH EVI JUNIARI, atau biasa disapa Evi itu, datang bersama pacarnya, Arta, ke Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di tengah riuh Buleleng Festival (Bulfest) 2025 di stage Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Rabu, 20 Agustus 2025.

Mereka datang bersama anjing kesayangan, Miku, namanya. Miku bertubuh kecil, unyuk. Wajahnya berbulu kuning keemasan dan ada warna putih di bagian hidungngnya.

Ekornya selalu bergoyang ke kanan ke kiri—tambah unyuk. Miku tidak rewel sebagai anjing peliharaan yang diajak ke Bulfest untuk baca puisi. Di lehernya, ada kalung berwarna merah dengan satu bandul berbentuk bulat.

Mereka datang ke acara itu selepas mengantar kue pesanan ke Pemaron. Evie nyambi jualan kue, dan datang mau baca puisi.

“Sebenarnya kami mau ngirim kue pesanan ke Pemaron, tapi karena kami lihat poster Mahima di Instagram, jadinya ikut,” kata Luh Evi Juniari.

Suasana Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di Bulfest 2025 | Foto: tatkala.co/Son

Evi punya usaha kecil namanya Havita Bakery. Kuenya enak-enak. Dan menyoal puisi, ia sedari SD sudah menyukai puisi, selain kue.

Evi banyak menulis puisi yang diunggah di Line, sebuah aplikasi kirim pesan. Puisi baginya merupakan alternatif untuk mengekspresikan sesuatu. Dengan menulis puisi membuat jiwanya plong, juga membaca puisi membuat jiwanya plong. Lega.

Ketika itu ia membawakan satu puisi karyanya sendiri dengan judul “Bangkitkan Anala Sang Raga”. Dan ketika namanya dipanggil oleh Mc kece, Rusdi Ulu—penyair dari Bima, Evi segera maju ke depan dengan sangat siap.

Desak Putu Shinta saat membaca puisi di acara Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son

Di samping panggung, sang pacar, Arta, tampak memberi semangat dengan memberi tepuk tangan pada Evi. Miku, seekor anjing itu melihat majikannya baca puisi, juga tampak berseri. Ekornya terus goyang ke kanan ke kiri. Barangkali ia ikut bangga, ikut memberi semangat juga.

Dengan gerak ekspresif suara lepas, Evi mulai membaca puisi:

Perihal waktu memang sebangsat itu
Semarak dekap merujuk pilu
Seperti, nyamuk dan darah yang sedang bercumbu
Membelai jentik kemudian mati tertampar kelambu

Lucu
Lama-lama kita tak jauh dari seekor nyamuk
Tidak mentah, tidak pula busuk
Terlena pada fana yang membangkitkan nafsu
Terjerumus pada ruang yang tak bertepi sampai melupakan waktu
Perihal kenyamanan memang sebrengsek itu,
Bak dekap kita,
Bak kecup kita,
Bak leburnya sukma menuju nirwana
Tanpa disadari
Kini,
Hanya tarian luka yang menjadi penghantar pengorbanan negeri ini

Bangkitlah wahai pemuda
Janganlah terus engkau membisu
Berhenti berpangku tangan pada eloknya perjalanan sang waktu
Goreskan tintamu mengejar ilmu
Bangkitkan anak negeri ini dari belenggu
Ini bukan tentang sejarah yang harus selalu diperingati
Ini bukan tentang pengakuan untuk para pengabdi negeri ini
Ini bukan pula aksara yang bertutur bualan semata
Ini tentang aksi nyata yang harus tertuang jika tidak ingin terjerumus pada metamorfosis cacat
Layaknya, jentik yang tengah kehilangan napas
Telapak waktu dapat membunuh kita

Kapan saja.

Sorak tepuk tangan mengapresiasi pembacaan puisi Evi yang lepas, seperti puisinya yang ekspresif. Tampak sang pacar terkagum dengan hasil pembacaannya.

“Pacar saya bilang suara saya bagus, dia baru pertama kali denger puisi itu dan baru pertama kali denger saya baca puisi,” kata Evi sambil tersipu malu. “Kalau bisa dihitung, ini baru yang ketiga kalinya saya baca puisi di hadapan umum. Sebelumnya pernah lomba online aja, lewat video di kampus,” lanjutnya.

Selepas Evi baca puisi, di tengah kerumunan anak SMA Negeri 2 Banjar, Komang Yudana Yasa berdiri gagah. Mc langsung menyeretnya untuk segera maju karena sudah giliran—harus baca puisi.

Komang Yudana Yasa, siswa SMA Negeri 2 Banjar, sedang membaca puisi karya sendiri berjudul “Toleransi” | Foto: tatkala.co/Son

Komang Yudana pun maju. Dengan postur tubuh yang tegap, langkah Komang tampak penuh siap. Sorak pendukung Komang pun terdengar meriah.

Di acara Open Mic Baca Puisi Karya Sendiri di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima, Komang Yudana Yasa, sama seperti Luh Evi Juniari, adalah peserta baca puisi. Selain Komang Yudana dan Evi, juga ada Julio Saputra, Desak Putu Shinta, Gede Yoga Wismantara, Kadek Wisnu Oktaditya, Chatrine, dan Aryati.

Dan siang itu, Komang Yudana Yasa membawakan puisi karya sendiri dengan judul “TOLERANSI”. Segera ia baca:

Kubuka kamus negeri
Kutemukan kata toleransi.
Toleransi penyeimbang negeri
Sebagai negara yang tinggi toleransi
Bagiku toleransi adalah penyeimbang negeri
Berbagai macam agama di negeriku Tak menjadikanku membeku

Di depan orang banyak, Komang Yudana memasang wajah mantap dan yakin. Suaranya sedikit diangkat-dikeraskan. Ekspresi wajahnya tampak menggebu-gebu. Tangannya meliuk ketika membaca puisinya karya sendiri. Sorot mata penonton tak lepas dari pembacaan puisinya Komang Yudana.

Negeriku, negeri nan elok
Keindahan alamnya yang memesona
Hamparan biru laut
dan
gunung-gunung saling menyapa
menyatukan negeriku, negeri Indonesia

Indonesia kaya akan keberagaman
Bersatu dalam keanekaragaman
Menjaga nilai-nilai luhur
Pancasila
Dalam naungan
Bhineka Tunggal Ika

Tepuk tangan lebih keras menimpuki lelaki itu. Seseorang bilang, mantap untuk pembacaan puisi Komang Yudana Yasa. Ngegas sangat.

Chatrine membacakan puisi di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son

“Padahal saya orangnya sedikit introvert. Ketika saya baca puisi di depan orang banyak langsung gugup dan deg-degan,” kata Komang Yudana Yasa memberi alasan mengapa pembacaan puisinya totalitas dan semua rasa gugup dilepas.

Kritik Sosial di Balik Tumbuhnya Jerawat

Di acara Rabu Puisi #17 siang itu, juga terdapat pembacaan puisi menarik selain dari karakter suara dan wajah penuh semangat dari para peserta. Yaitu pembacaan puisi dari Julio Saputra, atau biasa disapa Bang Julio, penyair yang pandai membuat puisi sekali duduk—dalam satu tarikan napas. Dor.

Julio Saputra saat membacakan puisi Jerawat di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son

Ia maju ke depan. Ia membaca puisi seperti menembak sesuatu.

Ini gawat
Di wajahku tumbuh jerawat
Ia menyebar dengan cepat
Dari satu jadi empat
Dari empat jadi berlipat-lipat
Berlipat-lipat jadi pangkat kuadrat
Dengan angka yang susah dicatat
Jerawat oh jerawat

Ini gawat
Gara-gara jerawat
Aku tak bisa makan-makan cokelat
Aku lupa rasa ketupat
kerupuk bawang, bakso urat
Juga sambel merah, dan soto babat
Aku tak bisa lagi makan-makan nikmat
Jerawat oh jerawat

Ini gawat
Jerawat giat pindah-pindah tempat
Ia semakin merambat-rambat
Dari sudut timur ke sudut barat
Dari semula jauh menjadi dekat
Dari renggang jadi erat
Jerawat oh jerawat

Ini gawat
Jarawatku lambat-lambat makin membulat
Semuanya padat-padat
Semuanya lekat-melekat
Ibarat pasukan granat
Yang satu sama lain sama-sama sepakat
bak siap meledakan jagat, duaaar
gawat oh gawat

Orang-orang tertawa kecil tampak geli-heran dengan pembacaan puisi yang isinya hanya jerawat, atau kebanyakan huruf “t”. Tapi tergelitik dengan kritik sosial Julio di balik jerawat. Lantas mereka tepuk tangan.

“Keren dan bagus, pengambilan diksinya bagus, dari hal yang kita alami bisa jadi puisi,” kata Evi berkomentar tentang pembacaan puisi milik Julio Saputra.

Penampilan pembacaan puisi oleh Komunitas Mahima di Rabu Puisi #17 | Foto: tatkala.co/Son

Sampai di situ, Evi juga berkomentar Rabu puisi baginya adalah ide yang briliant sebagai wadah untuk mengeluarkan tulisan-tulisan bebas seperti puisi miliknya.

Dan di pinggir panggung, Evi dan Arta, juga anjing peliharaan mereka yang lucu, Miku, bersiap-siap untuk pulang setelah acara mau selesai. Mereka merasa senang datang-terlibat di acara Rabu Puisi #17, juga merasa senang bisa terhubung dengan pertemanan baru di lingkaran sastra.

“Terutama dengan puisi, karena sudah agak lama tidak berpuisi,” kata Evi mau pulang. Mereka datang dan pulang menggunakan motor Vario, seperti awal, Miko dipangku agar tak lompat. Dada, Miku.[T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Tags: buleleng festivalBulfest 2025Komunitas MahimaPuisiRabu Puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Joged Buleleng Porno? — Sanggar Seni Dharma Santi Bantah dengan Elegan di Bulfest 2025

Next Post

Mendaki Jangan “Ngae Daki” — Catatan Mendaki Sekaligus “Ngayah” ke Puncak Gunung Lesung

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails
Next Post
Mendaki Jangan “Ngae Daki” — Catatan Mendaki Sekaligus “Ngayah” ke Puncak Gunung Lesung

Mendaki Jangan "Ngae Daki" -- Catatan Mendaki Sekaligus "Ngayah" ke Puncak Gunung Lesung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co