4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terhubung dengan Puisi, Terhubung dengan Teman Baru: Catatan Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
August 26, 2025
in Panggung
Terhubung dengan Puisi, Terhubung dengan Teman Baru: Catatan Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima

Luh Evi Juniari sedang baca puisi karya sendiri di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di Bulfest 2025 | Foto: tatkala.co/ Son

LUH EVI JUNIARI, atau biasa disapa Evi itu, datang bersama pacarnya, Arta, ke Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di tengah riuh Buleleng Festival (Bulfest) 2025 di stage Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Rabu, 20 Agustus 2025.

Mereka datang bersama anjing kesayangan, Miku, namanya. Miku bertubuh kecil, unyuk. Wajahnya berbulu kuning keemasan dan ada warna putih di bagian hidungngnya.

Ekornya selalu bergoyang ke kanan ke kiri—tambah unyuk. Miku tidak rewel sebagai anjing peliharaan yang diajak ke Bulfest untuk baca puisi. Di lehernya, ada kalung berwarna merah dengan satu bandul berbentuk bulat.

Mereka datang ke acara itu selepas mengantar kue pesanan ke Pemaron. Evie nyambi jualan kue, dan datang mau baca puisi.

“Sebenarnya kami mau ngirim kue pesanan ke Pemaron, tapi karena kami lihat poster Mahima di Instagram, jadinya ikut,” kata Luh Evi Juniari.

Suasana Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di Bulfest 2025 | Foto: tatkala.co/Son

Evi punya usaha kecil namanya Havita Bakery. Kuenya enak-enak. Dan menyoal puisi, ia sedari SD sudah menyukai puisi, selain kue.

Evi banyak menulis puisi yang diunggah di Line, sebuah aplikasi kirim pesan. Puisi baginya merupakan alternatif untuk mengekspresikan sesuatu. Dengan menulis puisi membuat jiwanya plong, juga membaca puisi membuat jiwanya plong. Lega.

Ketika itu ia membawakan satu puisi karyanya sendiri dengan judul “Bangkitkan Anala Sang Raga”. Dan ketika namanya dipanggil oleh Mc kece, Rusdi Ulu—penyair dari Bima, Evi segera maju ke depan dengan sangat siap.

Desak Putu Shinta saat membaca puisi di acara Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son

Di samping panggung, sang pacar, Arta, tampak memberi semangat dengan memberi tepuk tangan pada Evi. Miku, seekor anjing itu melihat majikannya baca puisi, juga tampak berseri. Ekornya terus goyang ke kanan ke kiri. Barangkali ia ikut bangga, ikut memberi semangat juga.

Dengan gerak ekspresif suara lepas, Evi mulai membaca puisi:

Perihal waktu memang sebangsat itu
Semarak dekap merujuk pilu
Seperti, nyamuk dan darah yang sedang bercumbu
Membelai jentik kemudian mati tertampar kelambu

Lucu
Lama-lama kita tak jauh dari seekor nyamuk
Tidak mentah, tidak pula busuk
Terlena pada fana yang membangkitkan nafsu
Terjerumus pada ruang yang tak bertepi sampai melupakan waktu
Perihal kenyamanan memang sebrengsek itu,
Bak dekap kita,
Bak kecup kita,
Bak leburnya sukma menuju nirwana
Tanpa disadari
Kini,
Hanya tarian luka yang menjadi penghantar pengorbanan negeri ini

Bangkitlah wahai pemuda
Janganlah terus engkau membisu
Berhenti berpangku tangan pada eloknya perjalanan sang waktu
Goreskan tintamu mengejar ilmu
Bangkitkan anak negeri ini dari belenggu
Ini bukan tentang sejarah yang harus selalu diperingati
Ini bukan tentang pengakuan untuk para pengabdi negeri ini
Ini bukan pula aksara yang bertutur bualan semata
Ini tentang aksi nyata yang harus tertuang jika tidak ingin terjerumus pada metamorfosis cacat
Layaknya, jentik yang tengah kehilangan napas
Telapak waktu dapat membunuh kita

Kapan saja.

Sorak tepuk tangan mengapresiasi pembacaan puisi Evi yang lepas, seperti puisinya yang ekspresif. Tampak sang pacar terkagum dengan hasil pembacaannya.

“Pacar saya bilang suara saya bagus, dia baru pertama kali denger puisi itu dan baru pertama kali denger saya baca puisi,” kata Evi sambil tersipu malu. “Kalau bisa dihitung, ini baru yang ketiga kalinya saya baca puisi di hadapan umum. Sebelumnya pernah lomba online aja, lewat video di kampus,” lanjutnya.

Selepas Evi baca puisi, di tengah kerumunan anak SMA Negeri 2 Banjar, Komang Yudana Yasa berdiri gagah. Mc langsung menyeretnya untuk segera maju karena sudah giliran—harus baca puisi.

Komang Yudana Yasa, siswa SMA Negeri 2 Banjar, sedang membaca puisi karya sendiri berjudul “Toleransi” | Foto: tatkala.co/Son

Komang Yudana pun maju. Dengan postur tubuh yang tegap, langkah Komang tampak penuh siap. Sorak pendukung Komang pun terdengar meriah.

Di acara Open Mic Baca Puisi Karya Sendiri di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima, Komang Yudana Yasa, sama seperti Luh Evi Juniari, adalah peserta baca puisi. Selain Komang Yudana dan Evi, juga ada Julio Saputra, Desak Putu Shinta, Gede Yoga Wismantara, Kadek Wisnu Oktaditya, Chatrine, dan Aryati.

Dan siang itu, Komang Yudana Yasa membawakan puisi karya sendiri dengan judul “TOLERANSI”. Segera ia baca:

Kubuka kamus negeri
Kutemukan kata toleransi.
Toleransi penyeimbang negeri
Sebagai negara yang tinggi toleransi
Bagiku toleransi adalah penyeimbang negeri
Berbagai macam agama di negeriku Tak menjadikanku membeku

Di depan orang banyak, Komang Yudana memasang wajah mantap dan yakin. Suaranya sedikit diangkat-dikeraskan. Ekspresi wajahnya tampak menggebu-gebu. Tangannya meliuk ketika membaca puisinya karya sendiri. Sorot mata penonton tak lepas dari pembacaan puisinya Komang Yudana.

Negeriku, negeri nan elok
Keindahan alamnya yang memesona
Hamparan biru laut
dan
gunung-gunung saling menyapa
menyatukan negeriku, negeri Indonesia

Indonesia kaya akan keberagaman
Bersatu dalam keanekaragaman
Menjaga nilai-nilai luhur
Pancasila
Dalam naungan
Bhineka Tunggal Ika

Tepuk tangan lebih keras menimpuki lelaki itu. Seseorang bilang, mantap untuk pembacaan puisi Komang Yudana Yasa. Ngegas sangat.

Chatrine membacakan puisi di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son

“Padahal saya orangnya sedikit introvert. Ketika saya baca puisi di depan orang banyak langsung gugup dan deg-degan,” kata Komang Yudana Yasa memberi alasan mengapa pembacaan puisinya totalitas dan semua rasa gugup dilepas.

Kritik Sosial di Balik Tumbuhnya Jerawat

Di acara Rabu Puisi #17 siang itu, juga terdapat pembacaan puisi menarik selain dari karakter suara dan wajah penuh semangat dari para peserta. Yaitu pembacaan puisi dari Julio Saputra, atau biasa disapa Bang Julio, penyair yang pandai membuat puisi sekali duduk—dalam satu tarikan napas. Dor.

Julio Saputra saat membacakan puisi Jerawat di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son

Ia maju ke depan. Ia membaca puisi seperti menembak sesuatu.

Ini gawat
Di wajahku tumbuh jerawat
Ia menyebar dengan cepat
Dari satu jadi empat
Dari empat jadi berlipat-lipat
Berlipat-lipat jadi pangkat kuadrat
Dengan angka yang susah dicatat
Jerawat oh jerawat

Ini gawat
Gara-gara jerawat
Aku tak bisa makan-makan cokelat
Aku lupa rasa ketupat
kerupuk bawang, bakso urat
Juga sambel merah, dan soto babat
Aku tak bisa lagi makan-makan nikmat
Jerawat oh jerawat

Ini gawat
Jerawat giat pindah-pindah tempat
Ia semakin merambat-rambat
Dari sudut timur ke sudut barat
Dari semula jauh menjadi dekat
Dari renggang jadi erat
Jerawat oh jerawat

Ini gawat
Jarawatku lambat-lambat makin membulat
Semuanya padat-padat
Semuanya lekat-melekat
Ibarat pasukan granat
Yang satu sama lain sama-sama sepakat
bak siap meledakan jagat, duaaar
gawat oh gawat

Orang-orang tertawa kecil tampak geli-heran dengan pembacaan puisi yang isinya hanya jerawat, atau kebanyakan huruf “t”. Tapi tergelitik dengan kritik sosial Julio di balik jerawat. Lantas mereka tepuk tangan.

“Keren dan bagus, pengambilan diksinya bagus, dari hal yang kita alami bisa jadi puisi,” kata Evi berkomentar tentang pembacaan puisi milik Julio Saputra.

Penampilan pembacaan puisi oleh Komunitas Mahima di Rabu Puisi #17 | Foto: tatkala.co/Son

Sampai di situ, Evi juga berkomentar Rabu puisi baginya adalah ide yang briliant sebagai wadah untuk mengeluarkan tulisan-tulisan bebas seperti puisi miliknya.

Dan di pinggir panggung, Evi dan Arta, juga anjing peliharaan mereka yang lucu, Miku, bersiap-siap untuk pulang setelah acara mau selesai. Mereka merasa senang datang-terlibat di acara Rabu Puisi #17, juga merasa senang bisa terhubung dengan pertemanan baru di lingkaran sastra.

“Terutama dengan puisi, karena sudah agak lama tidak berpuisi,” kata Evi mau pulang. Mereka datang dan pulang menggunakan motor Vario, seperti awal, Miko dipangku agar tak lompat. Dada, Miku.[T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Tags: buleleng festivalBulfest 2025Komunitas MahimaPuisiRabu Puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Joged Buleleng Porno? — Sanggar Seni Dharma Santi Bantah dengan Elegan di Bulfest 2025

Next Post

Mendaki Jangan “Ngae Daki” — Catatan Mendaki Sekaligus “Ngayah” ke Puncak Gunung Lesung

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Mendaki Jangan “Ngae Daki” — Catatan Mendaki Sekaligus “Ngayah” ke Puncak Gunung Lesung

Mendaki Jangan "Ngae Daki" -- Catatan Mendaki Sekaligus "Ngayah" ke Puncak Gunung Lesung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co