4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terhubung dengan Puisi, Terhubung dengan Teman Baru: Catatan Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
August 26, 2025
in Panggung
Terhubung dengan Puisi, Terhubung dengan Teman Baru: Catatan Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima

Luh Evi Juniari sedang baca puisi karya sendiri di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di Bulfest 2025 | Foto: tatkala.co/ Son

LUH EVI JUNIARI, atau biasa disapa Evi itu, datang bersama pacarnya, Arta, ke Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di tengah riuh Buleleng Festival (Bulfest) 2025 di stage Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Rabu, 20 Agustus 2025.

Mereka datang bersama anjing kesayangan, Miku, namanya. Miku bertubuh kecil, unyuk. Wajahnya berbulu kuning keemasan dan ada warna putih di bagian hidungngnya.

Ekornya selalu bergoyang ke kanan ke kiri—tambah unyuk. Miku tidak rewel sebagai anjing peliharaan yang diajak ke Bulfest untuk baca puisi. Di lehernya, ada kalung berwarna merah dengan satu bandul berbentuk bulat.

Mereka datang ke acara itu selepas mengantar kue pesanan ke Pemaron. Evie nyambi jualan kue, dan datang mau baca puisi.

“Sebenarnya kami mau ngirim kue pesanan ke Pemaron, tapi karena kami lihat poster Mahima di Instagram, jadinya ikut,” kata Luh Evi Juniari.

Suasana Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima di Bulfest 2025 | Foto: tatkala.co/Son

Evi punya usaha kecil namanya Havita Bakery. Kuenya enak-enak. Dan menyoal puisi, ia sedari SD sudah menyukai puisi, selain kue.

Evi banyak menulis puisi yang diunggah di Line, sebuah aplikasi kirim pesan. Puisi baginya merupakan alternatif untuk mengekspresikan sesuatu. Dengan menulis puisi membuat jiwanya plong, juga membaca puisi membuat jiwanya plong. Lega.

Ketika itu ia membawakan satu puisi karyanya sendiri dengan judul “Bangkitkan Anala Sang Raga”. Dan ketika namanya dipanggil oleh Mc kece, Rusdi Ulu—penyair dari Bima, Evi segera maju ke depan dengan sangat siap.

Desak Putu Shinta saat membaca puisi di acara Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son

Di samping panggung, sang pacar, Arta, tampak memberi semangat dengan memberi tepuk tangan pada Evi. Miku, seekor anjing itu melihat majikannya baca puisi, juga tampak berseri. Ekornya terus goyang ke kanan ke kiri. Barangkali ia ikut bangga, ikut memberi semangat juga.

Dengan gerak ekspresif suara lepas, Evi mulai membaca puisi:

Perihal waktu memang sebangsat itu
Semarak dekap merujuk pilu
Seperti, nyamuk dan darah yang sedang bercumbu
Membelai jentik kemudian mati tertampar kelambu

Lucu
Lama-lama kita tak jauh dari seekor nyamuk
Tidak mentah, tidak pula busuk
Terlena pada fana yang membangkitkan nafsu
Terjerumus pada ruang yang tak bertepi sampai melupakan waktu
Perihal kenyamanan memang sebrengsek itu,
Bak dekap kita,
Bak kecup kita,
Bak leburnya sukma menuju nirwana
Tanpa disadari
Kini,
Hanya tarian luka yang menjadi penghantar pengorbanan negeri ini

Bangkitlah wahai pemuda
Janganlah terus engkau membisu
Berhenti berpangku tangan pada eloknya perjalanan sang waktu
Goreskan tintamu mengejar ilmu
Bangkitkan anak negeri ini dari belenggu
Ini bukan tentang sejarah yang harus selalu diperingati
Ini bukan tentang pengakuan untuk para pengabdi negeri ini
Ini bukan pula aksara yang bertutur bualan semata
Ini tentang aksi nyata yang harus tertuang jika tidak ingin terjerumus pada metamorfosis cacat
Layaknya, jentik yang tengah kehilangan napas
Telapak waktu dapat membunuh kita

Kapan saja.

Sorak tepuk tangan mengapresiasi pembacaan puisi Evi yang lepas, seperti puisinya yang ekspresif. Tampak sang pacar terkagum dengan hasil pembacaannya.

“Pacar saya bilang suara saya bagus, dia baru pertama kali denger puisi itu dan baru pertama kali denger saya baca puisi,” kata Evi sambil tersipu malu. “Kalau bisa dihitung, ini baru yang ketiga kalinya saya baca puisi di hadapan umum. Sebelumnya pernah lomba online aja, lewat video di kampus,” lanjutnya.

Selepas Evi baca puisi, di tengah kerumunan anak SMA Negeri 2 Banjar, Komang Yudana Yasa berdiri gagah. Mc langsung menyeretnya untuk segera maju karena sudah giliran—harus baca puisi.

Komang Yudana Yasa, siswa SMA Negeri 2 Banjar, sedang membaca puisi karya sendiri berjudul “Toleransi” | Foto: tatkala.co/Son

Komang Yudana pun maju. Dengan postur tubuh yang tegap, langkah Komang tampak penuh siap. Sorak pendukung Komang pun terdengar meriah.

Di acara Open Mic Baca Puisi Karya Sendiri di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima, Komang Yudana Yasa, sama seperti Luh Evi Juniari, adalah peserta baca puisi. Selain Komang Yudana dan Evi, juga ada Julio Saputra, Desak Putu Shinta, Gede Yoga Wismantara, Kadek Wisnu Oktaditya, Chatrine, dan Aryati.

Dan siang itu, Komang Yudana Yasa membawakan puisi karya sendiri dengan judul “TOLERANSI”. Segera ia baca:

Kubuka kamus negeri
Kutemukan kata toleransi.
Toleransi penyeimbang negeri
Sebagai negara yang tinggi toleransi
Bagiku toleransi adalah penyeimbang negeri
Berbagai macam agama di negeriku Tak menjadikanku membeku

Di depan orang banyak, Komang Yudana memasang wajah mantap dan yakin. Suaranya sedikit diangkat-dikeraskan. Ekspresi wajahnya tampak menggebu-gebu. Tangannya meliuk ketika membaca puisinya karya sendiri. Sorot mata penonton tak lepas dari pembacaan puisinya Komang Yudana.

Negeriku, negeri nan elok
Keindahan alamnya yang memesona
Hamparan biru laut
dan
gunung-gunung saling menyapa
menyatukan negeriku, negeri Indonesia

Indonesia kaya akan keberagaman
Bersatu dalam keanekaragaman
Menjaga nilai-nilai luhur
Pancasila
Dalam naungan
Bhineka Tunggal Ika

Tepuk tangan lebih keras menimpuki lelaki itu. Seseorang bilang, mantap untuk pembacaan puisi Komang Yudana Yasa. Ngegas sangat.

Chatrine membacakan puisi di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son

“Padahal saya orangnya sedikit introvert. Ketika saya baca puisi di depan orang banyak langsung gugup dan deg-degan,” kata Komang Yudana Yasa memberi alasan mengapa pembacaan puisinya totalitas dan semua rasa gugup dilepas.

Kritik Sosial di Balik Tumbuhnya Jerawat

Di acara Rabu Puisi #17 siang itu, juga terdapat pembacaan puisi menarik selain dari karakter suara dan wajah penuh semangat dari para peserta. Yaitu pembacaan puisi dari Julio Saputra, atau biasa disapa Bang Julio, penyair yang pandai membuat puisi sekali duduk—dalam satu tarikan napas. Dor.

Julio Saputra saat membacakan puisi Jerawat di Rabu Puisi #17 Komunitas Mahima | Foto: tatkala.co/Son

Ia maju ke depan. Ia membaca puisi seperti menembak sesuatu.

Ini gawat
Di wajahku tumbuh jerawat
Ia menyebar dengan cepat
Dari satu jadi empat
Dari empat jadi berlipat-lipat
Berlipat-lipat jadi pangkat kuadrat
Dengan angka yang susah dicatat
Jerawat oh jerawat

Ini gawat
Gara-gara jerawat
Aku tak bisa makan-makan cokelat
Aku lupa rasa ketupat
kerupuk bawang, bakso urat
Juga sambel merah, dan soto babat
Aku tak bisa lagi makan-makan nikmat
Jerawat oh jerawat

Ini gawat
Jerawat giat pindah-pindah tempat
Ia semakin merambat-rambat
Dari sudut timur ke sudut barat
Dari semula jauh menjadi dekat
Dari renggang jadi erat
Jerawat oh jerawat

Ini gawat
Jarawatku lambat-lambat makin membulat
Semuanya padat-padat
Semuanya lekat-melekat
Ibarat pasukan granat
Yang satu sama lain sama-sama sepakat
bak siap meledakan jagat, duaaar
gawat oh gawat

Orang-orang tertawa kecil tampak geli-heran dengan pembacaan puisi yang isinya hanya jerawat, atau kebanyakan huruf “t”. Tapi tergelitik dengan kritik sosial Julio di balik jerawat. Lantas mereka tepuk tangan.

“Keren dan bagus, pengambilan diksinya bagus, dari hal yang kita alami bisa jadi puisi,” kata Evi berkomentar tentang pembacaan puisi milik Julio Saputra.

Penampilan pembacaan puisi oleh Komunitas Mahima di Rabu Puisi #17 | Foto: tatkala.co/Son

Sampai di situ, Evi juga berkomentar Rabu puisi baginya adalah ide yang briliant sebagai wadah untuk mengeluarkan tulisan-tulisan bebas seperti puisi miliknya.

Dan di pinggir panggung, Evi dan Arta, juga anjing peliharaan mereka yang lucu, Miku, bersiap-siap untuk pulang setelah acara mau selesai. Mereka merasa senang datang-terlibat di acara Rabu Puisi #17, juga merasa senang bisa terhubung dengan pertemanan baru di lingkaran sastra.

“Terutama dengan puisi, karena sudah agak lama tidak berpuisi,” kata Evi mau pulang. Mereka datang dan pulang menggunakan motor Vario, seperti awal, Miko dipangku agar tak lompat. Dada, Miku.[T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Tags: buleleng festivalBulfest 2025Komunitas MahimaPuisiRabu Puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Joged Buleleng Porno? — Sanggar Seni Dharma Santi Bantah dengan Elegan di Bulfest 2025

Next Post

Mendaki Jangan “Ngae Daki” — Catatan Mendaki Sekaligus “Ngayah” ke Puncak Gunung Lesung

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
0
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

Read moreDetails

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

by Komang Sujana
June 3, 2026
0
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails
Next Post
Mendaki Jangan “Ngae Daki” — Catatan Mendaki Sekaligus “Ngayah” ke Puncak Gunung Lesung

Mendaki Jangan "Ngae Daki" -- Catatan Mendaki Sekaligus "Ngayah" ke Puncak Gunung Lesung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co