23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keberanian dan Kecerdasan pada Topeng Perempuan Buleleng yang Jauh di Swiss

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 25, 2025
in Khas
Keberanian dan Kecerdasan pada Topeng Perempuan Buleleng yang Jauh di Swiss

Topeng wanita purba yang tersimpan di Swiss | Foto: Dian

BERBICARA tentang topeng di Bali, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada pertunjukan tari, ritual sakral, atau barong yang menari di bale banjar. Namun, sejarah topeng Bali ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar fungsi hiburan atau upacara. Salah satu buktinya datang dari Buleleng. Sebuah topeng perempuan yang kini tersimpan jauh di Museum Etnologi Basel, Swiss.

Topeng ini ditemukan oleh seorang kolektor pada tahun 1975 dan kemudian tercatat dalam publikasi The Art and Culture of Bali karya Urs Ramseyer (1977). Bukan sekadar benda seni, topeng ini memuat pesan kultural yang kuat, penghormatan pada peran perempuan dalam masyarakat Bali kuno.

Dalam sebuah seminar di Buleleng Festival (Bulfest) 2025 yang bertema “The Mask History of Buleleng: Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng”, budayawan Bali, Prof. I Made Bandem menyinggung keberadaan topeng perempuan tersebut. Diskusi itu membuka kembali memori tentang sebuah artefak kecil—hanya berukuran 17,7 cm tinggi dan 18 cm lebar—namun sarat makna.

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian

Detailnya mengesankan. Mata besar sedikit sipit, telinga lebar berhias subang, hidung panjang, alis melengkung dan sedikit tebal, serta bibir tegas. Setiap ukiran seolah menghadirkan karakter perempuan yang tidak sekadar cantik, tetapi juga berani dan cerdas. Sebuah gambaran yang kontras dengan stereotip perempuan dalam banyak tradisi seni rupa Nusantara, yang kerap ditempatkan sekadar sebagai figur pendamping.

Prof. Bandem menduga, topeng ini bukan diciptakan untuk dipakai menari. Tetapi berfungsi sebagai persembahan, simbol penghormatan pada perempuan. Artinya, sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Bali Utara telah menempatkan perempuan dalam posisi yang vital dalam kehidupan sosial maupun spiritual.

Bentuk wajah topeng perempuan Buleleng memperlihatkan pengaruh asing. Mata sipit dan telinga lebar misalnya, mengingatkan pada interaksi dengan komunitas pendatang. Hal ini masuk akal, mengingat Buleleng sejak lama menjadi pintu masuk perdagangan internasional.

Melalui pelabuhan Julah dan pelabuhan-pelabuhan kecil lain, kapal dari Jawa, Bugis, India, hingga Tiongkok singgah membawa rempah-rempah, ternak, dan kerajinan. Pertemuan itu bukan hanya soal barang, tetapi juga gagasan, estetika, dan simbol-simbol budaya. Maka, tidak mengherankan jika seni rupa Buleleng memperlihatkan kekayaan hibrid—lokal sekaligus kosmopolitan.

Topeng wanita purba yang tersimpan di Swiss | Foto: Dian

Topeng perempuan ini lahir dari persilangan budaya tersebut. Bukan hanya imitasi pengaruh luar, melainkan hasil asimilasi yang memperkaya identitas seni Bali Utara.

Jejak topeng di Bali sudah sangat tua. Catatan arkeologis menunjukkan keberadaannya jauh sebelum era kerajaan klasik.

Seperti di Gilimanuk. Ditemukan topeng mata dari emas, dikubur bersama fosil manusia. Simbol bahwa topeng telah hadir sebagai bagian dari ritual kematian.

Di Pejeng, terdapat relief topeng pada sarkofagus berbentuk kura-kura serta ukiran pada Nekara Pejeng, artefak perunggu besar yang misterius.

Dan pada Prasasti kuno, kata topeng sudah muncul dalam prasasti Bebetin (896), Tengkulak (1049–1077), Belantih (1058), hingga Julah (1071). Di sana topeng disebut dengan istilah Partapuka.

Artinya, sejak lebih dari seribu tahun lalu, topeng telah menjadi bagian dari ritual, estetika, dan identitas masyarakat Bali. Bukan lagi sebuah seni rupa, tetapi media komunikasi dengan dunia sakral.

Dalam kajian ikonografi Bali, topeng memiliki laksana (atribut/ciri khas), estetika (sakral atau profan), serta bawa (ekspresi wajah yang memancarkan karakter).

Topeng perempuan Buleleng memperlihatkan bawa yang unik. Tatapan cerdas, bibir tegas, dan kehadiran subang pada telinga menandakan sosok yang anggun sekaligus kuat. Bukan hanya perwujudan kecantikan, melainkan simbol otoritas dan intelektualitas perempuan.

Hal ini berbeda dengan banyak topeng dalam tari Bali, yang biasanya menggambarkan karakter lelaki seperti raja, prajurit, atau punakawan. Kehadiran topeng perempuan dalam posisi simbolik justru menunjukkan penghormatan mendalam terhadap kaum perempuan di masa lampau.

Meski begitu, ironi terasa ketika menilik keberadaan topeng ini. Alih-alih tersimpan di Bali, ia justru berada jauh di Swiss. Di Museum Etnologi Basel, topeng ini dilihat sebagai benda penelitian antropologi. Namun di Buleleng, kisahnya nyaris tidak terdengar.

Masyarakat Buleleng bahkan (mungkin) tidak tahu bahwa leluhurnya pernah menciptakan simbol penghormatan setinggi itu kepada perempuan. Padahal, jika dikontekstualkan ulang, kisah ini bisa menjadi narasi penting dalam pembangunan identitas lokal.

Keterputusan pengetahuan ini memperlihatkan bagaimana sejarah seringkali terasing di museum-museum luar negeri, sementara masyarakat asalnya kehilangan akses pada warisan budayanya sendiri.

oppo_2

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian

Kisah topeng perempuan Buleleng sebetulnya bisa dibaca sebagai refleksi atas posisi perempuan hari ini. Dalam tradisi kuno, perempuan dipandang memiliki keberanian, kecerdasan, dan peran besar dalam kehidupan sosial. Nilai itu relevan di tengah perjuangan perempuan modern yang saat ini menuntut kesetaraan.

Menghidupkan kembali kisah ini dapat dilakukan lewat berbagai cara. Misalnya, pameran lokal, dengan menghadirkan dokumentasi dan replika topeng. Melakukan riset akademis, yang mengkaji peran perempuan dalam seni rupa Bali kuno. Atau membuat kreasi seni pertunjukan, misalnya drama tari yang mengangkat kisah topeng perempuan sebagai tokoh utama.

Langkah-langkah ini bukan sekedar upaya pelestarian, tetapi juga strategi untuk membangun kebanggaan identitas.

Pada akhirnya, topeng perempuan Buleleng ini menyimpan kisah besar dalam tubuhnya yang mungil. Topeng itu, berbicara tentang perdagangan maritim, percampuran budaya, penghormatan pada perempuan, serta kecanggihan seni rupa Bali.

Tatapan matanya yang besar seolah ingin menyampaikan pesan lintas abad, jangan lupakan aku, jangan lupakan perempuan.

Topeng bisa diam seribu bahasa, tetapi ekspresi ukirannya mampu bercerita sepanjang zaman. Dan kisah yang diceritakannya kali ini, bukan hanya soal seni, melainkan tentang keberanian, kecerdasan, dan penghormatan. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengbuleleng festivalbulfestBulfest 2025Prof Made Bandemtopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

Next Post

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co