24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keberanian dan Kecerdasan pada Topeng Perempuan Buleleng yang Jauh di Swiss

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 25, 2025
in Khas
Keberanian dan Kecerdasan pada Topeng Perempuan Buleleng yang Jauh di Swiss

Topeng wanita purba yang tersimpan di Swiss | Foto: Dian

BERBICARA tentang topeng di Bali, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada pertunjukan tari, ritual sakral, atau barong yang menari di bale banjar. Namun, sejarah topeng Bali ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar fungsi hiburan atau upacara. Salah satu buktinya datang dari Buleleng. Sebuah topeng perempuan yang kini tersimpan jauh di Museum Etnologi Basel, Swiss.

Topeng ini ditemukan oleh seorang kolektor pada tahun 1975 dan kemudian tercatat dalam publikasi The Art and Culture of Bali karya Urs Ramseyer (1977). Bukan sekadar benda seni, topeng ini memuat pesan kultural yang kuat, penghormatan pada peran perempuan dalam masyarakat Bali kuno.

Dalam sebuah seminar di Buleleng Festival (Bulfest) 2025 yang bertema “The Mask History of Buleleng: Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng”, budayawan Bali, Prof. I Made Bandem menyinggung keberadaan topeng perempuan tersebut. Diskusi itu membuka kembali memori tentang sebuah artefak kecil—hanya berukuran 17,7 cm tinggi dan 18 cm lebar—namun sarat makna.

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian

Detailnya mengesankan. Mata besar sedikit sipit, telinga lebar berhias subang, hidung panjang, alis melengkung dan sedikit tebal, serta bibir tegas. Setiap ukiran seolah menghadirkan karakter perempuan yang tidak sekadar cantik, tetapi juga berani dan cerdas. Sebuah gambaran yang kontras dengan stereotip perempuan dalam banyak tradisi seni rupa Nusantara, yang kerap ditempatkan sekadar sebagai figur pendamping.

Prof. Bandem menduga, topeng ini bukan diciptakan untuk dipakai menari. Tetapi berfungsi sebagai persembahan, simbol penghormatan pada perempuan. Artinya, sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Bali Utara telah menempatkan perempuan dalam posisi yang vital dalam kehidupan sosial maupun spiritual.

Bentuk wajah topeng perempuan Buleleng memperlihatkan pengaruh asing. Mata sipit dan telinga lebar misalnya, mengingatkan pada interaksi dengan komunitas pendatang. Hal ini masuk akal, mengingat Buleleng sejak lama menjadi pintu masuk perdagangan internasional.

Melalui pelabuhan Julah dan pelabuhan-pelabuhan kecil lain, kapal dari Jawa, Bugis, India, hingga Tiongkok singgah membawa rempah-rempah, ternak, dan kerajinan. Pertemuan itu bukan hanya soal barang, tetapi juga gagasan, estetika, dan simbol-simbol budaya. Maka, tidak mengherankan jika seni rupa Buleleng memperlihatkan kekayaan hibrid—lokal sekaligus kosmopolitan.

Topeng wanita purba yang tersimpan di Swiss | Foto: Dian

Topeng perempuan ini lahir dari persilangan budaya tersebut. Bukan hanya imitasi pengaruh luar, melainkan hasil asimilasi yang memperkaya identitas seni Bali Utara.

Jejak topeng di Bali sudah sangat tua. Catatan arkeologis menunjukkan keberadaannya jauh sebelum era kerajaan klasik.

Seperti di Gilimanuk. Ditemukan topeng mata dari emas, dikubur bersama fosil manusia. Simbol bahwa topeng telah hadir sebagai bagian dari ritual kematian.

Di Pejeng, terdapat relief topeng pada sarkofagus berbentuk kura-kura serta ukiran pada Nekara Pejeng, artefak perunggu besar yang misterius.

Dan pada Prasasti kuno, kata topeng sudah muncul dalam prasasti Bebetin (896), Tengkulak (1049–1077), Belantih (1058), hingga Julah (1071). Di sana topeng disebut dengan istilah Partapuka.

Artinya, sejak lebih dari seribu tahun lalu, topeng telah menjadi bagian dari ritual, estetika, dan identitas masyarakat Bali. Bukan lagi sebuah seni rupa, tetapi media komunikasi dengan dunia sakral.

Dalam kajian ikonografi Bali, topeng memiliki laksana (atribut/ciri khas), estetika (sakral atau profan), serta bawa (ekspresi wajah yang memancarkan karakter).

Topeng perempuan Buleleng memperlihatkan bawa yang unik. Tatapan cerdas, bibir tegas, dan kehadiran subang pada telinga menandakan sosok yang anggun sekaligus kuat. Bukan hanya perwujudan kecantikan, melainkan simbol otoritas dan intelektualitas perempuan.

Hal ini berbeda dengan banyak topeng dalam tari Bali, yang biasanya menggambarkan karakter lelaki seperti raja, prajurit, atau punakawan. Kehadiran topeng perempuan dalam posisi simbolik justru menunjukkan penghormatan mendalam terhadap kaum perempuan di masa lampau.

Meski begitu, ironi terasa ketika menilik keberadaan topeng ini. Alih-alih tersimpan di Bali, ia justru berada jauh di Swiss. Di Museum Etnologi Basel, topeng ini dilihat sebagai benda penelitian antropologi. Namun di Buleleng, kisahnya nyaris tidak terdengar.

Masyarakat Buleleng bahkan (mungkin) tidak tahu bahwa leluhurnya pernah menciptakan simbol penghormatan setinggi itu kepada perempuan. Padahal, jika dikontekstualkan ulang, kisah ini bisa menjadi narasi penting dalam pembangunan identitas lokal.

Keterputusan pengetahuan ini memperlihatkan bagaimana sejarah seringkali terasing di museum-museum luar negeri, sementara masyarakat asalnya kehilangan akses pada warisan budayanya sendiri.

oppo_2

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian

Kisah topeng perempuan Buleleng sebetulnya bisa dibaca sebagai refleksi atas posisi perempuan hari ini. Dalam tradisi kuno, perempuan dipandang memiliki keberanian, kecerdasan, dan peran besar dalam kehidupan sosial. Nilai itu relevan di tengah perjuangan perempuan modern yang saat ini menuntut kesetaraan.

Menghidupkan kembali kisah ini dapat dilakukan lewat berbagai cara. Misalnya, pameran lokal, dengan menghadirkan dokumentasi dan replika topeng. Melakukan riset akademis, yang mengkaji peran perempuan dalam seni rupa Bali kuno. Atau membuat kreasi seni pertunjukan, misalnya drama tari yang mengangkat kisah topeng perempuan sebagai tokoh utama.

Langkah-langkah ini bukan sekedar upaya pelestarian, tetapi juga strategi untuk membangun kebanggaan identitas.

Pada akhirnya, topeng perempuan Buleleng ini menyimpan kisah besar dalam tubuhnya yang mungil. Topeng itu, berbicara tentang perdagangan maritim, percampuran budaya, penghormatan pada perempuan, serta kecanggihan seni rupa Bali.

Tatapan matanya yang besar seolah ingin menyampaikan pesan lintas abad, jangan lupakan aku, jangan lupakan perempuan.

Topeng bisa diam seribu bahasa, tetapi ekspresi ukirannya mampu bercerita sepanjang zaman. Dan kisah yang diceritakannya kali ini, bukan hanya soal seni, melainkan tentang keberanian, kecerdasan, dan penghormatan. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengbuleleng festivalbulfestBulfest 2025Prof Made Bandemtopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

Next Post

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co