BERBICARA tentang topeng di Bali, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada pertunjukan tari, ritual sakral, atau barong yang menari di bale banjar. Namun, sejarah topeng Bali ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar fungsi hiburan atau upacara. Salah satu buktinya datang dari Buleleng. Sebuah topeng perempuan yang kini tersimpan jauh di Museum Etnologi Basel, Swiss.
Topeng ini ditemukan oleh seorang kolektor pada tahun 1975 dan kemudian tercatat dalam publikasi The Art and Culture of Bali karya Urs Ramseyer (1977). Bukan sekadar benda seni, topeng ini memuat pesan kultural yang kuat, penghormatan pada peran perempuan dalam masyarakat Bali kuno.
Dalam sebuah seminar di Buleleng Festival (Bulfest) 2025 yang bertema “The Mask History of Buleleng: Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng”, budayawan Bali, Prof. I Made Bandem menyinggung keberadaan topeng perempuan tersebut. Diskusi itu membuka kembali memori tentang sebuah artefak kecil—hanya berukuran 17,7 cm tinggi dan 18 cm lebar—namun sarat makna.

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian
Detailnya mengesankan. Mata besar sedikit sipit, telinga lebar berhias subang, hidung panjang, alis melengkung dan sedikit tebal, serta bibir tegas. Setiap ukiran seolah menghadirkan karakter perempuan yang tidak sekadar cantik, tetapi juga berani dan cerdas. Sebuah gambaran yang kontras dengan stereotip perempuan dalam banyak tradisi seni rupa Nusantara, yang kerap ditempatkan sekadar sebagai figur pendamping.
Prof. Bandem menduga, topeng ini bukan diciptakan untuk dipakai menari. Tetapi berfungsi sebagai persembahan, simbol penghormatan pada perempuan. Artinya, sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Bali Utara telah menempatkan perempuan dalam posisi yang vital dalam kehidupan sosial maupun spiritual.
Bentuk wajah topeng perempuan Buleleng memperlihatkan pengaruh asing. Mata sipit dan telinga lebar misalnya, mengingatkan pada interaksi dengan komunitas pendatang. Hal ini masuk akal, mengingat Buleleng sejak lama menjadi pintu masuk perdagangan internasional.
Melalui pelabuhan Julah dan pelabuhan-pelabuhan kecil lain, kapal dari Jawa, Bugis, India, hingga Tiongkok singgah membawa rempah-rempah, ternak, dan kerajinan. Pertemuan itu bukan hanya soal barang, tetapi juga gagasan, estetika, dan simbol-simbol budaya. Maka, tidak mengherankan jika seni rupa Buleleng memperlihatkan kekayaan hibrid—lokal sekaligus kosmopolitan.

Topeng wanita purba yang tersimpan di Swiss | Foto: Dian
Topeng perempuan ini lahir dari persilangan budaya tersebut. Bukan hanya imitasi pengaruh luar, melainkan hasil asimilasi yang memperkaya identitas seni Bali Utara.
Jejak topeng di Bali sudah sangat tua. Catatan arkeologis menunjukkan keberadaannya jauh sebelum era kerajaan klasik.
Seperti di Gilimanuk. Ditemukan topeng mata dari emas, dikubur bersama fosil manusia. Simbol bahwa topeng telah hadir sebagai bagian dari ritual kematian.
Di Pejeng, terdapat relief topeng pada sarkofagus berbentuk kura-kura serta ukiran pada Nekara Pejeng, artefak perunggu besar yang misterius.
Dan pada Prasasti kuno, kata topeng sudah muncul dalam prasasti Bebetin (896), Tengkulak (1049–1077), Belantih (1058), hingga Julah (1071). Di sana topeng disebut dengan istilah Partapuka.
Artinya, sejak lebih dari seribu tahun lalu, topeng telah menjadi bagian dari ritual, estetika, dan identitas masyarakat Bali. Bukan lagi sebuah seni rupa, tetapi media komunikasi dengan dunia sakral.
Dalam kajian ikonografi Bali, topeng memiliki laksana (atribut/ciri khas), estetika (sakral atau profan), serta bawa (ekspresi wajah yang memancarkan karakter).
Topeng perempuan Buleleng memperlihatkan bawa yang unik. Tatapan cerdas, bibir tegas, dan kehadiran subang pada telinga menandakan sosok yang anggun sekaligus kuat. Bukan hanya perwujudan kecantikan, melainkan simbol otoritas dan intelektualitas perempuan.
Hal ini berbeda dengan banyak topeng dalam tari Bali, yang biasanya menggambarkan karakter lelaki seperti raja, prajurit, atau punakawan. Kehadiran topeng perempuan dalam posisi simbolik justru menunjukkan penghormatan mendalam terhadap kaum perempuan di masa lampau.
Meski begitu, ironi terasa ketika menilik keberadaan topeng ini. Alih-alih tersimpan di Bali, ia justru berada jauh di Swiss. Di Museum Etnologi Basel, topeng ini dilihat sebagai benda penelitian antropologi. Namun di Buleleng, kisahnya nyaris tidak terdengar.
Masyarakat Buleleng bahkan (mungkin) tidak tahu bahwa leluhurnya pernah menciptakan simbol penghormatan setinggi itu kepada perempuan. Padahal, jika dikontekstualkan ulang, kisah ini bisa menjadi narasi penting dalam pembangunan identitas lokal.
Keterputusan pengetahuan ini memperlihatkan bagaimana sejarah seringkali terasing di museum-museum luar negeri, sementara masyarakat asalnya kehilangan akses pada warisan budayanya sendiri.

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian
Kisah topeng perempuan Buleleng sebetulnya bisa dibaca sebagai refleksi atas posisi perempuan hari ini. Dalam tradisi kuno, perempuan dipandang memiliki keberanian, kecerdasan, dan peran besar dalam kehidupan sosial. Nilai itu relevan di tengah perjuangan perempuan modern yang saat ini menuntut kesetaraan.
Menghidupkan kembali kisah ini dapat dilakukan lewat berbagai cara. Misalnya, pameran lokal, dengan menghadirkan dokumentasi dan replika topeng. Melakukan riset akademis, yang mengkaji peran perempuan dalam seni rupa Bali kuno. Atau membuat kreasi seni pertunjukan, misalnya drama tari yang mengangkat kisah topeng perempuan sebagai tokoh utama.
Langkah-langkah ini bukan sekedar upaya pelestarian, tetapi juga strategi untuk membangun kebanggaan identitas.
Pada akhirnya, topeng perempuan Buleleng ini menyimpan kisah besar dalam tubuhnya yang mungil. Topeng itu, berbicara tentang perdagangan maritim, percampuran budaya, penghormatan pada perempuan, serta kecanggihan seni rupa Bali.
Tatapan matanya yang besar seolah ingin menyampaikan pesan lintas abad, jangan lupakan aku, jangan lupakan perempuan.
Topeng bisa diam seribu bahasa, tetapi ekspresi ukirannya mampu bercerita sepanjang zaman. Dan kisah yang diceritakannya kali ini, bukan hanya soal seni, melainkan tentang keberanian, kecerdasan, dan penghormatan. [T]
Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole



























