6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keberanian dan Kecerdasan pada Topeng Perempuan Buleleng yang Jauh di Swiss

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 25, 2025
in Khas
Keberanian dan Kecerdasan pada Topeng Perempuan Buleleng yang Jauh di Swiss

Topeng wanita purba yang tersimpan di Swiss | Foto: Dian

BERBICARA tentang topeng di Bali, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada pertunjukan tari, ritual sakral, atau barong yang menari di bale banjar. Namun, sejarah topeng Bali ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar fungsi hiburan atau upacara. Salah satu buktinya datang dari Buleleng. Sebuah topeng perempuan yang kini tersimpan jauh di Museum Etnologi Basel, Swiss.

Topeng ini ditemukan oleh seorang kolektor pada tahun 1975 dan kemudian tercatat dalam publikasi The Art and Culture of Bali karya Urs Ramseyer (1977). Bukan sekadar benda seni, topeng ini memuat pesan kultural yang kuat, penghormatan pada peran perempuan dalam masyarakat Bali kuno.

Dalam sebuah seminar di Buleleng Festival (Bulfest) 2025 yang bertema “The Mask History of Buleleng: Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng”, budayawan Bali, Prof. I Made Bandem menyinggung keberadaan topeng perempuan tersebut. Diskusi itu membuka kembali memori tentang sebuah artefak kecil—hanya berukuran 17,7 cm tinggi dan 18 cm lebar—namun sarat makna.

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian

Detailnya mengesankan. Mata besar sedikit sipit, telinga lebar berhias subang, hidung panjang, alis melengkung dan sedikit tebal, serta bibir tegas. Setiap ukiran seolah menghadirkan karakter perempuan yang tidak sekadar cantik, tetapi juga berani dan cerdas. Sebuah gambaran yang kontras dengan stereotip perempuan dalam banyak tradisi seni rupa Nusantara, yang kerap ditempatkan sekadar sebagai figur pendamping.

Prof. Bandem menduga, topeng ini bukan diciptakan untuk dipakai menari. Tetapi berfungsi sebagai persembahan, simbol penghormatan pada perempuan. Artinya, sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Bali Utara telah menempatkan perempuan dalam posisi yang vital dalam kehidupan sosial maupun spiritual.

Bentuk wajah topeng perempuan Buleleng memperlihatkan pengaruh asing. Mata sipit dan telinga lebar misalnya, mengingatkan pada interaksi dengan komunitas pendatang. Hal ini masuk akal, mengingat Buleleng sejak lama menjadi pintu masuk perdagangan internasional.

Melalui pelabuhan Julah dan pelabuhan-pelabuhan kecil lain, kapal dari Jawa, Bugis, India, hingga Tiongkok singgah membawa rempah-rempah, ternak, dan kerajinan. Pertemuan itu bukan hanya soal barang, tetapi juga gagasan, estetika, dan simbol-simbol budaya. Maka, tidak mengherankan jika seni rupa Buleleng memperlihatkan kekayaan hibrid—lokal sekaligus kosmopolitan.

Topeng wanita purba yang tersimpan di Swiss | Foto: Dian

Topeng perempuan ini lahir dari persilangan budaya tersebut. Bukan hanya imitasi pengaruh luar, melainkan hasil asimilasi yang memperkaya identitas seni Bali Utara.

Jejak topeng di Bali sudah sangat tua. Catatan arkeologis menunjukkan keberadaannya jauh sebelum era kerajaan klasik.

Seperti di Gilimanuk. Ditemukan topeng mata dari emas, dikubur bersama fosil manusia. Simbol bahwa topeng telah hadir sebagai bagian dari ritual kematian.

Di Pejeng, terdapat relief topeng pada sarkofagus berbentuk kura-kura serta ukiran pada Nekara Pejeng, artefak perunggu besar yang misterius.

Dan pada Prasasti kuno, kata topeng sudah muncul dalam prasasti Bebetin (896), Tengkulak (1049–1077), Belantih (1058), hingga Julah (1071). Di sana topeng disebut dengan istilah Partapuka.

Artinya, sejak lebih dari seribu tahun lalu, topeng telah menjadi bagian dari ritual, estetika, dan identitas masyarakat Bali. Bukan lagi sebuah seni rupa, tetapi media komunikasi dengan dunia sakral.

Dalam kajian ikonografi Bali, topeng memiliki laksana (atribut/ciri khas), estetika (sakral atau profan), serta bawa (ekspresi wajah yang memancarkan karakter).

Topeng perempuan Buleleng memperlihatkan bawa yang unik. Tatapan cerdas, bibir tegas, dan kehadiran subang pada telinga menandakan sosok yang anggun sekaligus kuat. Bukan hanya perwujudan kecantikan, melainkan simbol otoritas dan intelektualitas perempuan.

Hal ini berbeda dengan banyak topeng dalam tari Bali, yang biasanya menggambarkan karakter lelaki seperti raja, prajurit, atau punakawan. Kehadiran topeng perempuan dalam posisi simbolik justru menunjukkan penghormatan mendalam terhadap kaum perempuan di masa lampau.

Meski begitu, ironi terasa ketika menilik keberadaan topeng ini. Alih-alih tersimpan di Bali, ia justru berada jauh di Swiss. Di Museum Etnologi Basel, topeng ini dilihat sebagai benda penelitian antropologi. Namun di Buleleng, kisahnya nyaris tidak terdengar.

Masyarakat Buleleng bahkan (mungkin) tidak tahu bahwa leluhurnya pernah menciptakan simbol penghormatan setinggi itu kepada perempuan. Padahal, jika dikontekstualkan ulang, kisah ini bisa menjadi narasi penting dalam pembangunan identitas lokal.

Keterputusan pengetahuan ini memperlihatkan bagaimana sejarah seringkali terasing di museum-museum luar negeri, sementara masyarakat asalnya kehilangan akses pada warisan budayanya sendiri.

oppo_2

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian

Kisah topeng perempuan Buleleng sebetulnya bisa dibaca sebagai refleksi atas posisi perempuan hari ini. Dalam tradisi kuno, perempuan dipandang memiliki keberanian, kecerdasan, dan peran besar dalam kehidupan sosial. Nilai itu relevan di tengah perjuangan perempuan modern yang saat ini menuntut kesetaraan.

Menghidupkan kembali kisah ini dapat dilakukan lewat berbagai cara. Misalnya, pameran lokal, dengan menghadirkan dokumentasi dan replika topeng. Melakukan riset akademis, yang mengkaji peran perempuan dalam seni rupa Bali kuno. Atau membuat kreasi seni pertunjukan, misalnya drama tari yang mengangkat kisah topeng perempuan sebagai tokoh utama.

Langkah-langkah ini bukan sekedar upaya pelestarian, tetapi juga strategi untuk membangun kebanggaan identitas.

Pada akhirnya, topeng perempuan Buleleng ini menyimpan kisah besar dalam tubuhnya yang mungil. Topeng itu, berbicara tentang perdagangan maritim, percampuran budaya, penghormatan pada perempuan, serta kecanggihan seni rupa Bali.

Tatapan matanya yang besar seolah ingin menyampaikan pesan lintas abad, jangan lupakan aku, jangan lupakan perempuan.

Topeng bisa diam seribu bahasa, tetapi ekspresi ukirannya mampu bercerita sepanjang zaman. Dan kisah yang diceritakannya kali ini, bukan hanya soal seni, melainkan tentang keberanian, kecerdasan, dan penghormatan. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengbuleleng festivalbulfestBulfest 2025Prof Made Bandemtopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

Next Post

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co