23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan: Lahir dari Modifikasi dan Regenerasi

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 24, 2025
in Panggung
Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan: Lahir dari Modifikasi dan Regenerasi

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

ADA banyak cara mempertahankan seni gambuh. Salah satunya melakukan modifikasi agar kesenian itu tetap relevan dengan zaman.

Itulah yang dilakukan Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan, Buleleng. Belakangan, sanggar dengan kerja keras melakukan modifikasi terhadap seni gambuh, sehingga lahirlah gambuh anyar, yang bisa dimainkan dan ditonton anak-anak muda.  

Gambuh anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa itu mempertunjukkan hasil modifikasi yang sangat apik di panggung Puri Kanginan Buleleng, Jumat malam, 22 Agustus 2025, serangkaian Buleleng Festival (Bulfest) 2025.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Sanggar ini mengangkat cerita lokal Buleleng yang melegenda, yaitu kisah Panji Sakti. Lakon yang dibawakan berjudul Panji Mahottama Den Bukit dengan iringan gamelan semar pegulingan atau semarandana.

Fragmen yang dipentaskan mengisahkan perjalanan Ki Barak Panji Sakti saat mengikuti sayembara di Pantai Penimbangan. Sayembara itu diadakan terkait karamnya kapal Empu Awang milik saudagar Tiongkok di dekat Pura Penimbangan.

Ki Barak memenangkan sayembara itu, yang kemudian memicu perselisihan dengan Pungakan Gendis, penguasa wilayah Gendis. Sehingga terjadi perkelahian yang dimenangkan Ki Barak sehingga Ki Barak kemudian menjadi raja.

Gambuh dengan Sejumlah Penyesuaian

Gambuh anyar muncul dari kekhawatiran akan punahnya kesenian gambuh di Buleleng, bahkan di Bali. Kekhawatiran itu antara lain, terlupakannya gerak-gerak tari dan gending-gending (komposisi musik) gambuh karena tidak ada lagi yang bisa meniup suling gambuh di masa depan.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Kekhawatiran itulah yang mendorong Nyoman Sugita Rupiana, pemilik Sanggar Genta Iswara Tattwa dari Desa Anturan, itu untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian agar gambuh tetap bisa diterima oleh zaman.

“Misalnya, gending-gending gambuh itu kami transformasikan ke dalam bentuk gamelan barungan. Tujuannya untuk mendokumentasikan gending itu lewat gangsa. Nanti, setelah gendingnya dikenal, baru anak-anak bisa belajar sulingnya,” kata Sugita.

Di Sanggar Genta Iswara Tattwa, beberapa gending bahkan dimainkan dengan suling yang lebih pendek, sehingga memudahkan penabuh muda untuk ikut berlatih. Dengan alunan tabuh yang lebih mudah, banyak anak-anak muda di sanggarnya yang tertarik untuk menjadi penabuh dan penari.

”Gerak tari juga dimodifikasi, dan penari-penarinya semua anak-anak muda. Ya, agar mereka tetap mencintai gambuh,” tegas Sugita.

Sebuah pementasan gambuh idealnya membutuhkan 20 hingga 25 tokoh, seperti pemeran condong, putri, arya, tumang temenggung, kakan-akan, dan kade-kadean.

“Pada pementasan ini tidak sampai 20-an tokoh, kita hanya menggunakan beberapa tokoh yang sesuai dengan lakon cerita,’’ kata Sugita.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Karakter para tokoh memiliki vokal yang khas, seperti suara tinggi nan melengking untuk tokoh panji atau tokoh yang memiliki sifat manis. Bahasanya menggunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang sudah tidak banyak dipahami orang awam, sehingga memerlukan seorang tututan atau ngetut (mengiringi tokoh tersebut) sebagai penerjemah.

“Di Gambuh tututan tidak menari, berbeda dengan pertunjukan topeng dan arja, penasar akan menari terlebih dahulu, setelah itu menghadap raja (nangkilin raja),” papar Sugita.

Gambuh anyar di Bulfest itu dipenuhi oleh penbonton. Puri Kanginan sebagai salah satu zoza Bulfest biasanya jarang menjadi tujuan utama penonton. Orang lebih sering melirik ke panggung-panggung lain. Namun, antusiasme masyarakat jelas terlihat ketika gambuh ditampilkan.

Sugita terharu karena gambuh masih tetap eksis di berbagai kalangan usia. “Tadi lihat penontonnya full. Artinya kan antusias masyarakat untuk menonton gambuh ini,” kata Sugita.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Menurut Sugita, kondisi itu menunjukkan ada rasa penasaran di masyarakat. “Apa sih gambuh itu? Kan ada juga yang penasaran, gambuh itu apa sih?” ucapnya.

Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya membuat penonton datang dan memberi ruang bagi Gambuh untuk kembali hadir di tengah masyarakat.

Apa itu Gambuh?

Bagi masyarakat awam, nama gambuh mungkin terdengar asing. Sugita menjelaskan,  gambuh adalah cikal bakal seni drama tari di Bali yang jejaknya dapat ditelusuri hingga ke era Kerajaan Majapahit.

“Gambuh itu adalah kesenian yang cikal bakalnya dari Kerajaan Majapahit. Kesenian itu dibawa ke Bali saat Majapahit runtuh dan pusat kebudayaannya bergeser ke Blambangan,” jelasnya.

Ketika Raja Bali menaklukkan Blambangan, berbagai elemen kesenian turut dibawa ke Bali, termasuk topeng Gajah Mada. Kesenian inilah yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal dan berkembang menjadi Gambuh, sebuah kesenian yang awalnya hidup dan berkembang di lingkungan puri atau kerajaan. Cerita yang diangkat pun berkisar pada kisah-kisah kerajaan di Jawa dan Bali.

Seiring waktu, gambuh menyebar ke desa-desa, termasuk beberapa wilayah di Buleleng seperti Desa Pacung, Desa Bungkulan, Desa Depeha, dan Desa Anturan. Namun, eksistensinya kian meredup.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Di tengah kondisi tersebut, Sanggar Genta Iswara Tattwa dari Desa Anturan, Buleleng, berdiri teguh sebagai pelestarian sekaligus pengembangan kesenian klasik Bali. Selama 15 tahun, fokus utama dari sanggar ini adalah pelestarian dan pengembangan kesenian klasik. Beberapa bentuk kesenian yang ditekuni seperti gambuh, wayang wong, sanghyang dedari dan sanghyang memedi. Meskipun menekuni seni ritual, visi utama sanggar adalah pada aspek pengembangan kesenian.

“Yang masih ada ini saya anggaplah mati suri. Mau hidup, tapi tidak seperti dulu, biasanya yang minat sama gambuh itu orang-orang tua,” ujar Sugita.

Kesulitan terletak pada gamelannya. Instrumen gamelan pegambuhan adalah suling raksasa dengan panjang mencapai 90 sentimeter hingga 1 meter.

“Memainkannya butuh teknik khusus. Kalau meniup terlalu kencang, tidak bunyi. Terlalu pelan juga tidak bunyi. Jika tidak ada yang bisa memainkannya, lama-kelamaan gending-gendingng bisa hilang,” katanya prihatin.

Jadi, sudah benarlah langkah Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan, ini untuk terus melakukan pengembangan, selain juga tetap melestarikannya. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengbuleleng festivalbulfestBulfest 2025Desa AnturanKesenian GambuhTari Gambuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Next Post

Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co