4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan: Lahir dari Modifikasi dan Regenerasi

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 24, 2025
in Panggung
Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan: Lahir dari Modifikasi dan Regenerasi

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

ADA banyak cara mempertahankan seni gambuh. Salah satunya melakukan modifikasi agar kesenian itu tetap relevan dengan zaman.

Itulah yang dilakukan Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan, Buleleng. Belakangan, sanggar dengan kerja keras melakukan modifikasi terhadap seni gambuh, sehingga lahirlah gambuh anyar, yang bisa dimainkan dan ditonton anak-anak muda.  

Gambuh anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa itu mempertunjukkan hasil modifikasi yang sangat apik di panggung Puri Kanginan Buleleng, Jumat malam, 22 Agustus 2025, serangkaian Buleleng Festival (Bulfest) 2025.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Sanggar ini mengangkat cerita lokal Buleleng yang melegenda, yaitu kisah Panji Sakti. Lakon yang dibawakan berjudul Panji Mahottama Den Bukit dengan iringan gamelan semar pegulingan atau semarandana.

Fragmen yang dipentaskan mengisahkan perjalanan Ki Barak Panji Sakti saat mengikuti sayembara di Pantai Penimbangan. Sayembara itu diadakan terkait karamnya kapal Empu Awang milik saudagar Tiongkok di dekat Pura Penimbangan.

Ki Barak memenangkan sayembara itu, yang kemudian memicu perselisihan dengan Pungakan Gendis, penguasa wilayah Gendis. Sehingga terjadi perkelahian yang dimenangkan Ki Barak sehingga Ki Barak kemudian menjadi raja.

Gambuh dengan Sejumlah Penyesuaian

Gambuh anyar muncul dari kekhawatiran akan punahnya kesenian gambuh di Buleleng, bahkan di Bali. Kekhawatiran itu antara lain, terlupakannya gerak-gerak tari dan gending-gending (komposisi musik) gambuh karena tidak ada lagi yang bisa meniup suling gambuh di masa depan.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Kekhawatiran itulah yang mendorong Nyoman Sugita Rupiana, pemilik Sanggar Genta Iswara Tattwa dari Desa Anturan, itu untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian agar gambuh tetap bisa diterima oleh zaman.

“Misalnya, gending-gending gambuh itu kami transformasikan ke dalam bentuk gamelan barungan. Tujuannya untuk mendokumentasikan gending itu lewat gangsa. Nanti, setelah gendingnya dikenal, baru anak-anak bisa belajar sulingnya,” kata Sugita.

Di Sanggar Genta Iswara Tattwa, beberapa gending bahkan dimainkan dengan suling yang lebih pendek, sehingga memudahkan penabuh muda untuk ikut berlatih. Dengan alunan tabuh yang lebih mudah, banyak anak-anak muda di sanggarnya yang tertarik untuk menjadi penabuh dan penari.

”Gerak tari juga dimodifikasi, dan penari-penarinya semua anak-anak muda. Ya, agar mereka tetap mencintai gambuh,” tegas Sugita.

Sebuah pementasan gambuh idealnya membutuhkan 20 hingga 25 tokoh, seperti pemeran condong, putri, arya, tumang temenggung, kakan-akan, dan kade-kadean.

“Pada pementasan ini tidak sampai 20-an tokoh, kita hanya menggunakan beberapa tokoh yang sesuai dengan lakon cerita,’’ kata Sugita.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Karakter para tokoh memiliki vokal yang khas, seperti suara tinggi nan melengking untuk tokoh panji atau tokoh yang memiliki sifat manis. Bahasanya menggunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang sudah tidak banyak dipahami orang awam, sehingga memerlukan seorang tututan atau ngetut (mengiringi tokoh tersebut) sebagai penerjemah.

“Di Gambuh tututan tidak menari, berbeda dengan pertunjukan topeng dan arja, penasar akan menari terlebih dahulu, setelah itu menghadap raja (nangkilin raja),” papar Sugita.

Gambuh anyar di Bulfest itu dipenuhi oleh penbonton. Puri Kanginan sebagai salah satu zoza Bulfest biasanya jarang menjadi tujuan utama penonton. Orang lebih sering melirik ke panggung-panggung lain. Namun, antusiasme masyarakat jelas terlihat ketika gambuh ditampilkan.

Sugita terharu karena gambuh masih tetap eksis di berbagai kalangan usia. “Tadi lihat penontonnya full. Artinya kan antusias masyarakat untuk menonton gambuh ini,” kata Sugita.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Menurut Sugita, kondisi itu menunjukkan ada rasa penasaran di masyarakat. “Apa sih gambuh itu? Kan ada juga yang penasaran, gambuh itu apa sih?” ucapnya.

Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya membuat penonton datang dan memberi ruang bagi Gambuh untuk kembali hadir di tengah masyarakat.

Apa itu Gambuh?

Bagi masyarakat awam, nama gambuh mungkin terdengar asing. Sugita menjelaskan,  gambuh adalah cikal bakal seni drama tari di Bali yang jejaknya dapat ditelusuri hingga ke era Kerajaan Majapahit.

“Gambuh itu adalah kesenian yang cikal bakalnya dari Kerajaan Majapahit. Kesenian itu dibawa ke Bali saat Majapahit runtuh dan pusat kebudayaannya bergeser ke Blambangan,” jelasnya.

Ketika Raja Bali menaklukkan Blambangan, berbagai elemen kesenian turut dibawa ke Bali, termasuk topeng Gajah Mada. Kesenian inilah yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal dan berkembang menjadi Gambuh, sebuah kesenian yang awalnya hidup dan berkembang di lingkungan puri atau kerajaan. Cerita yang diangkat pun berkisar pada kisah-kisah kerajaan di Jawa dan Bali.

Seiring waktu, gambuh menyebar ke desa-desa, termasuk beberapa wilayah di Buleleng seperti Desa Pacung, Desa Bungkulan, Desa Depeha, dan Desa Anturan. Namun, eksistensinya kian meredup.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Di tengah kondisi tersebut, Sanggar Genta Iswara Tattwa dari Desa Anturan, Buleleng, berdiri teguh sebagai pelestarian sekaligus pengembangan kesenian klasik Bali. Selama 15 tahun, fokus utama dari sanggar ini adalah pelestarian dan pengembangan kesenian klasik. Beberapa bentuk kesenian yang ditekuni seperti gambuh, wayang wong, sanghyang dedari dan sanghyang memedi. Meskipun menekuni seni ritual, visi utama sanggar adalah pada aspek pengembangan kesenian.

“Yang masih ada ini saya anggaplah mati suri. Mau hidup, tapi tidak seperti dulu, biasanya yang minat sama gambuh itu orang-orang tua,” ujar Sugita.

Kesulitan terletak pada gamelannya. Instrumen gamelan pegambuhan adalah suling raksasa dengan panjang mencapai 90 sentimeter hingga 1 meter.

“Memainkannya butuh teknik khusus. Kalau meniup terlalu kencang, tidak bunyi. Terlalu pelan juga tidak bunyi. Jika tidak ada yang bisa memainkannya, lama-kelamaan gending-gendingng bisa hilang,” katanya prihatin.

Jadi, sudah benarlah langkah Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan, ini untuk terus melakukan pengembangan, selain juga tetap melestarikannya. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengbuleleng festivalbulfestBulfest 2025Desa AnturanKesenian GambuhTari Gambuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Next Post

Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co