3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan: Lahir dari Modifikasi dan Regenerasi

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 24, 2025
in Panggung
Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan: Lahir dari Modifikasi dan Regenerasi

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

ADA banyak cara mempertahankan seni gambuh. Salah satunya melakukan modifikasi agar kesenian itu tetap relevan dengan zaman.

Itulah yang dilakukan Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan, Buleleng. Belakangan, sanggar dengan kerja keras melakukan modifikasi terhadap seni gambuh, sehingga lahirlah gambuh anyar, yang bisa dimainkan dan ditonton anak-anak muda.  

Gambuh anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa itu mempertunjukkan hasil modifikasi yang sangat apik di panggung Puri Kanginan Buleleng, Jumat malam, 22 Agustus 2025, serangkaian Buleleng Festival (Bulfest) 2025.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Sanggar ini mengangkat cerita lokal Buleleng yang melegenda, yaitu kisah Panji Sakti. Lakon yang dibawakan berjudul Panji Mahottama Den Bukit dengan iringan gamelan semar pegulingan atau semarandana.

Fragmen yang dipentaskan mengisahkan perjalanan Ki Barak Panji Sakti saat mengikuti sayembara di Pantai Penimbangan. Sayembara itu diadakan terkait karamnya kapal Empu Awang milik saudagar Tiongkok di dekat Pura Penimbangan.

Ki Barak memenangkan sayembara itu, yang kemudian memicu perselisihan dengan Pungakan Gendis, penguasa wilayah Gendis. Sehingga terjadi perkelahian yang dimenangkan Ki Barak sehingga Ki Barak kemudian menjadi raja.

Gambuh dengan Sejumlah Penyesuaian

Gambuh anyar muncul dari kekhawatiran akan punahnya kesenian gambuh di Buleleng, bahkan di Bali. Kekhawatiran itu antara lain, terlupakannya gerak-gerak tari dan gending-gending (komposisi musik) gambuh karena tidak ada lagi yang bisa meniup suling gambuh di masa depan.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Kekhawatiran itulah yang mendorong Nyoman Sugita Rupiana, pemilik Sanggar Genta Iswara Tattwa dari Desa Anturan, itu untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian agar gambuh tetap bisa diterima oleh zaman.

“Misalnya, gending-gending gambuh itu kami transformasikan ke dalam bentuk gamelan barungan. Tujuannya untuk mendokumentasikan gending itu lewat gangsa. Nanti, setelah gendingnya dikenal, baru anak-anak bisa belajar sulingnya,” kata Sugita.

Di Sanggar Genta Iswara Tattwa, beberapa gending bahkan dimainkan dengan suling yang lebih pendek, sehingga memudahkan penabuh muda untuk ikut berlatih. Dengan alunan tabuh yang lebih mudah, banyak anak-anak muda di sanggarnya yang tertarik untuk menjadi penabuh dan penari.

”Gerak tari juga dimodifikasi, dan penari-penarinya semua anak-anak muda. Ya, agar mereka tetap mencintai gambuh,” tegas Sugita.

Sebuah pementasan gambuh idealnya membutuhkan 20 hingga 25 tokoh, seperti pemeran condong, putri, arya, tumang temenggung, kakan-akan, dan kade-kadean.

“Pada pementasan ini tidak sampai 20-an tokoh, kita hanya menggunakan beberapa tokoh yang sesuai dengan lakon cerita,’’ kata Sugita.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Karakter para tokoh memiliki vokal yang khas, seperti suara tinggi nan melengking untuk tokoh panji atau tokoh yang memiliki sifat manis. Bahasanya menggunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang sudah tidak banyak dipahami orang awam, sehingga memerlukan seorang tututan atau ngetut (mengiringi tokoh tersebut) sebagai penerjemah.

“Di Gambuh tututan tidak menari, berbeda dengan pertunjukan topeng dan arja, penasar akan menari terlebih dahulu, setelah itu menghadap raja (nangkilin raja),” papar Sugita.

Gambuh anyar di Bulfest itu dipenuhi oleh penbonton. Puri Kanginan sebagai salah satu zoza Bulfest biasanya jarang menjadi tujuan utama penonton. Orang lebih sering melirik ke panggung-panggung lain. Namun, antusiasme masyarakat jelas terlihat ketika gambuh ditampilkan.

Sugita terharu karena gambuh masih tetap eksis di berbagai kalangan usia. “Tadi lihat penontonnya full. Artinya kan antusias masyarakat untuk menonton gambuh ini,” kata Sugita.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Menurut Sugita, kondisi itu menunjukkan ada rasa penasaran di masyarakat. “Apa sih gambuh itu? Kan ada juga yang penasaran, gambuh itu apa sih?” ucapnya.

Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya membuat penonton datang dan memberi ruang bagi Gambuh untuk kembali hadir di tengah masyarakat.

Apa itu Gambuh?

Bagi masyarakat awam, nama gambuh mungkin terdengar asing. Sugita menjelaskan,  gambuh adalah cikal bakal seni drama tari di Bali yang jejaknya dapat ditelusuri hingga ke era Kerajaan Majapahit.

“Gambuh itu adalah kesenian yang cikal bakalnya dari Kerajaan Majapahit. Kesenian itu dibawa ke Bali saat Majapahit runtuh dan pusat kebudayaannya bergeser ke Blambangan,” jelasnya.

Ketika Raja Bali menaklukkan Blambangan, berbagai elemen kesenian turut dibawa ke Bali, termasuk topeng Gajah Mada. Kesenian inilah yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal dan berkembang menjadi Gambuh, sebuah kesenian yang awalnya hidup dan berkembang di lingkungan puri atau kerajaan. Cerita yang diangkat pun berkisar pada kisah-kisah kerajaan di Jawa dan Bali.

Seiring waktu, gambuh menyebar ke desa-desa, termasuk beberapa wilayah di Buleleng seperti Desa Pacung, Desa Bungkulan, Desa Depeha, dan Desa Anturan. Namun, eksistensinya kian meredup.

Gambuh Anyar dari Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan | Foto: Disbud Buleleng

Di tengah kondisi tersebut, Sanggar Genta Iswara Tattwa dari Desa Anturan, Buleleng, berdiri teguh sebagai pelestarian sekaligus pengembangan kesenian klasik Bali. Selama 15 tahun, fokus utama dari sanggar ini adalah pelestarian dan pengembangan kesenian klasik. Beberapa bentuk kesenian yang ditekuni seperti gambuh, wayang wong, sanghyang dedari dan sanghyang memedi. Meskipun menekuni seni ritual, visi utama sanggar adalah pada aspek pengembangan kesenian.

“Yang masih ada ini saya anggaplah mati suri. Mau hidup, tapi tidak seperti dulu, biasanya yang minat sama gambuh itu orang-orang tua,” ujar Sugita.

Kesulitan terletak pada gamelannya. Instrumen gamelan pegambuhan adalah suling raksasa dengan panjang mencapai 90 sentimeter hingga 1 meter.

“Memainkannya butuh teknik khusus. Kalau meniup terlalu kencang, tidak bunyi. Terlalu pelan juga tidak bunyi. Jika tidak ada yang bisa memainkannya, lama-kelamaan gending-gendingng bisa hilang,” katanya prihatin.

Jadi, sudah benarlah langkah Sanggar Genta Iswara Tattwa, Desa Anturan, ini untuk terus melakukan pengembangan, selain juga tetap melestarikannya. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengbuleleng festivalbulfestBulfest 2025Desa AnturanKesenian GambuhTari Gambuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Next Post

Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

by Komang Sujana
June 3, 2026
0
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
0
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

Read moreDetails
Next Post
Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co