SORE itu, saat saya berkunjung ke Buleleng Festival (Bulfest) 2025 di Singaraja, Bali, untuk hadir pada diskusi yang digelar di area rumah jabatan Bupati. Mata saya sedikit tertahan oleh pemandangan yang berbeda di tengah kemeriahan Buleleng Festival.
Di antara kerumunan pengunjung yang datang, tampak sekelompok anak muda sibuk mondar-mandir dengan topi dan rompi hijau muda. Tidak semua dari mereka mengenakan rompi, namun topi hijau dan kalung identitas yang tergantung di leher menjadi tanda pengenal yang mencolok.
Mereka membawa kampil, mengenakan masker dan sarung tangan, dan dengan sigap mengawasi area festival, mengecek bak sampah, hingga mengingatkan pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan.
Di antara orang-orang mencolok itu, saya berkesempatan berbincang dengan dua sosok perempuan muda yang begitu ramah: Ratna Sari dan Lydia Kencana. Mereka mendatangi saya dan teman saya, Kardian Narayana, mereka mengenalkan diri sebagai relawan kebersihan dan mengingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan.
Saat itu kami tengah menikmati kopi dan pisang goreng di salah sudut aera di Taman Rumah Jabatan Bupati Buleleng. Ya, mereka adalah relawan kebersihan Buleleng Festival — sebanyak 135 orang yang berdedikasi menjaga kebersihan agar gelaran ini tetap nyaman dan berkesan bagi semua.
Ratna Sari, gadis 21 tahun asal Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, adalah mahasiswi semester lima jurusan Akuntansi di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Ia tergabung dalam komunitas Sadhu Eco Bank, sebuah komunitas lingkungan yang baru berdiri di Desa Panji Anom, Sukasada.

Perempuan-perempuan muda relawan kebersihan di Bulfest 2025 | Foto: Ganesha
Melalui peran sebagai relawan Bulfest, Ratna dan empat rekannya dari komunitas ini ingin memperkenalkan organisasi mereka serta menjalin jaringan dengan pemerintah dan komunitas lingkungan lain di Buleleng. Keikutsertaannya menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem penggiat lingkungan yang berkelanjutan.
JIka Ratna yang masih aktif kuliah, Lidya Kencana, 24 tahun, sudah menuntaskan pendidikannya di jurusan Pendidikan Fisiologi Undiksha. “Baru selesai yudisium, lagi nunggu wisuda, daripada bengong mending ikut relawan saja,” kata Lidya santai.
Meski bukan warga asli Buleleng, Lidya menganggap daerah ini rumah kedua. Ia pernah bersekolah di SMA Bali Mandara dan bahkan mewakili sekolahnya dalam Bulfest 2018. Kecintaannya pada kegiatan sosial sudah lama tertanam, sehingga begitu tahu ada program relawan, ia langsung mantap bergabung.
Meski menjadi relawan kebersihan yang tugasnya mengurus sampah, nampak wajah senang dan bangga yang saya liat pada Ratna dan Lidya. Bahkan mereka katakan keluarga mendukung sepenuhnya.
“Hari itu saat pertama relawan yang diterima dikumpulkan, diminta harus sudah kumpul jam 6 pagi di Dinas Lingkungan Hidup. Saya sedang di Tabanan, harus berangkat pagi-pagi sekali. Untungnya, ibu bangunin jam 4 pagi,” kata Lidya sambil tersenyum.
Dukungan keluarga ternyata jadi semangat tambahan yang penting bagi para relawan muda ini.
Ratna pun tak kalah mendapat dukungan, meski orangtuanya tinggal di desa yang cukup jauh. “Kakak-kakak saya yang tinggal bareng di Giriemas yang kasih dukungan. Awalnya mereka tanya-tanya kenapa tiba-tiba ikut kegiatan sosial, tapi setelah dijelaskan, mereka setuju dan mendukung,” ujarnya.
Menjadi relawan kebersihan bukan tanpa tantangan. Menurut Lidya dan Ratna, hal tersulit bukan soal memungut sampah, melainkan mengedukasi pengunjung. Berkomunikasi dengan penjaga stand cukup mudah, namun berbeda halnya dengan pengunjung yang jumlahnya sangat banyak.
“Kalau dengan teman-teman di stand sih mudah, tinggal bilang supaya pilah sampah. Tapi kalau pengunjung, banyak yang nggak tahu atau sulit dibilangin,” ujar Lyda dengan nada jujur.
Meski demikian, mereka tetap menjalankan tugas dengan semangat, apalagi jika pengunjungnya adalah teman sendiri — hal yang membuat pendekatan menjadi lebih mudah.

Perempuan-perempuan muda relawan kebersihan di Bulfest 2025 | Foto: Ganesha
Menjadi relawan menurut mereka jadi pengalaman ini membuka peluang baru: memperluas jaringan sosial, belajar bekerja dalam tim, dan memperkuat rasa cinta terhadap lingkungan.
“Meski tugasnya ngurusin sampah, saya bangga bisa ikut bagian dalam acara sebesar ini,” ujar Ratna. Sebenarnya Ratna dan Lidya mereka juga baru saling mengenal di hari pertama festival, namun sudah terlihat kompak dan solid menjalankan tugas bersama. “Relawan juga jadi tempat ketemu teman baru,” tambah Ratna.
Sosok seperti Lidya dan Ratna menunjukkan pada saya bahwa pengabdian tak harus menunggu menjadi pejabat atau tokoh penting. Cukup dengan menjadi bagian dari sesuatu yang baik, dan memberikan yang terbaik, kita sudah ikut membangun perubahan.
Relawan kebersihan ini sendiri akan bertugas setiap hari dari pukul 4 sore hingga 7 malam, hadir di titik-titik strategis Buleleng Festival. Mereka ramah, sabar, dan siap mengingatkan dengan sopan agar pengunjung membuang sampah pada tempatnya.
Jika Bulfest itu pesta, maka Ratna dan Lidya membersihkan limbah pesta itu. Jadi, bila nanti kamu bertemu mereka pada gelaran Bulfest hingga 23 Agustus nanti, jangan segan untuk menyapa, dan tentu saja, jagalah kebersihan bersama. [T]
Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto
- BACA JUGA:



























