SORE itu, Museum Buleleng terasa seperti ruang perjumpaan dua dunia. Di satu sisi, kotak-kotak keropak berisi manuskrip lontar tersusun rapi, menyimpan ratusan tahun pengetahuan tradisional. Di sisi lain, stetoskop, catatan medis modern, dan para akademisi duduk berdampingan dengan filolog.
Panel diskusi “Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru” menjadi salah satu sesi paling menyedot perhatian dalam Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025. Tema ini mengajak publik melihat bagaimana warisan naskah pengobatan dari Bali dan Jawa bisa berdialog dengan ilmu medis masa kini.
Festival yang digelar di kota yang menjadi rumah Gedong Kirtya tahun ini mengangkat Buda Kecapi sebagai tema besar. Lontar pengobatan tersebut tidak hanya memuat ramuan herbal, tetapi juga filosofi penyembuhan yang berakar pada relasi manusia dengan alam. Panel ini menyoroti dimensi yang lebih luas: bisakah pengetahuan kuno itu menjadi inspirasi bagi dunia medis modern?
Diskusi ini menghadirkan Direktur RSUD Buleleng dr. Putu Arya Nugraha, filolog Ghis Nggar, akademisi Ari Dwijayanthi, dan dimoderatori oleh filolog Putu Eka Guna Yasa.
Dalam paparannya, dr. Arya menegaskan pentingnya membuka ruang dialog antara teks kuno dan praktik medis kontemporer.
“Kita tidak bisa memandang pengobatan tradisional hanya sebagai warisan budaya. Banyak prinsip di dalamnya relevan dengan kedokteran preventif dan konsep holistik yang sekarang sedang kita kembangkan,” ujarnya.

Dari kiri ke kanan: Ghis Nggar, dr. Putu Arya Nugraha, dan Ari Dwijayanthi pada diskusi “Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru” | Foto: Dok. SLF 2025
Ghis Nggar, yang telah bertahun-tahun meneliti naskah pengobatan dari skriptorium Merapi-Merbabu hingga lontar Bali, menekankan tantangan utama, yakni: bahasa dan sistem aksara kuno.
“Naskah-naskah ini ibarat laboratorium pengetahuan yang terkunci. Butuh kerja filologis serius untuk menerjemahkan tidak hanya kata, tapi konteks pengetahuan di baliknya,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa sistem klasifikasi pengobatan dalam lontar Bali, seperti Usadha, menunjukkan pemahaman mendalam leluhur terhadap keseimbangan tubuh dan alam.
Sementara itu, Ari Dwijayanthi mengangkat aspek filsafat penyembuhan dalam teks lama. “Lontar tidak sekadar mencatat ramuan. Ia juga memuat pandangan kosmologis: sakit bukan hanya fisik, tetapi gangguan harmoni antara manusia, lingkungan, dan dimensi spiritual,” ungkapnya. Perspektif ini, menurutnya, bisa menjadi refleksi bagi dunia medis modern yang kerap terlalu fokus pada aspek biologis semata.
Suasana panel menjadi bukti mengapa SLF bukan sekadar festival sastra. Ia adalah ruang pertemuan lintas disiplin, tempat teks kuno tidak hanya dibaca, tetapi dihidupkan kembali dalam konteks hari ini.

Suasana peserta diskusi “Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru” | Foto: Dok. SLF 2025
Diskusi mengalir ke isu lebih luas: bagaimana kita memanfaatkan pengetahuan tradisional tanpa terjebak romantisme, dan sebaliknya, bagaimana ilmu modern bisa lebih terbuka pada kearifan lokal.
Festival ini sekaligus mengingatkan pada posisi Singaraja sebagai simpul sejarah intelektual Bali. Gedong Kirtya, perpustakaan manuskrip lontar terbesar di Bali, menjadi sumber utama alih wahana pengetahuan.
Dari Usadha Buda Kecapi hingga naskah Merapi-Merbabu, SLF membuka kembali halaman-halaman yang nyaris terlupakan dan menawarkannya sebagai jawaban atas krisis kesehatan dan lingkungan hari ini.
Ketika sesi panel berakhir, tepuk tangan penonton terasa bukan hanya apresiasi, tetapi juga kesadaran baru: masa depan pengobatan mungkin saja lahir dari pertemuan antara lontar yang ditulis berabad-abad lalu dan laboratorium modern.
Seperti air yang mengalir dari masa lalu ke masa depan, pengetahuan ini menyejukkan, menyembuhkan, dan menghubungkan manusia dengan alamnya kembali.[T]
Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Jaswanto



























