DI halaman depan Ruang Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Bali, sore itu terasa berbeda. Di antara embusan angin Singaraja yang membawa aroma laut dan sejarah, suara Aan Mansyur dan Shinta Febriany perlahan menembus keramaian.
“Bahasa Pohon-Pohon Tumbang”, buku puisinya yang baru saja diluncurkan di Singaraja Literary Festival (SLF), Sabtu, 25 Juli 2025, bukan sekadar kumpulan kata. Ia hadir sebagai kesaksian batin seorang penyair yang mencoba memahami hidup melalui perspektif sosial, spiritual, sekaligus personal.

Aan Mansyur dan Shinta Febriany saat peluncuran buku “Bahasa Pohon-Pohon Tumbang” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
Sesi peluncuran buku ini menjadi salah satu momen paling kontemplatif dalam rangkaian festival. Aan tidak hanya membacakan puisi, tetapi juga mengajak audiens merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.
“Pohon yang tumbang selalu punya bahasa,” ujarnya. “Bahasa itu adalah ingatan, peringatan, dan doa,” sambungnya. Kalimat ini membuat suasana mendadak hening; seolah setiap orang di halaman itu mendengar suara pohon dalam dirinya masing-masing.

Aan Mansyur saat peluncuran buku “Bahasa Pohon-Pohon Tumbang” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
SLF tahun ini mengambil tema besar Buda Kecapi, mengangkat energi penyembuhan semesta sebagai respons atas kerusakan alam yang kian masif. Dalam konteks itu, kehadiran Aan terasa seperti jembatan antara naskah lontar pengobatan Bali dengan realitas kontemporer.
Puisi-puisi Aan memantik pertanyaan: apa arti penyembuhan ketika yang rusak bukan hanya tubuh, tapi juga relasi manusia dengan alam dan kemanusiaannya?
Gedong Kirtya, yang menjadi ikon SLF, menyimpan ribuan lontar Usadha—naskah pengobatan tradisional Bali yang melihat kesehatan sebagai harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Shinta Febriany saat peluncuran buku “Bahasa Pohon-Pohon Tumbang” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
Di halaman yang sama, Aan menghadirkan harmoni itu lewat kata-kata. “Puisi adalah cara lain menyembuhkan diri,” katanya, menegaskan bahwa bahasa bisa menjadi obat, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi kolektif manusia.
Para peserta—penyair muda, pelajar, kritikus, hingga masyarakat umum—terlihat larut dalam setiap jeda. Tidak ada jarak antara Aan dan audiens; yang ada hanyalah ruang bersama untuk bertanya pada diri sendiri. Seorang guru dari Buleleng berkata lirih, “Ini bukan sekadar peluncuran buku. Ini pelajaran tentang menjadi manusia.”
Singaraja Literary Festival, yang sejak awal mengusung semangat mendokumentasikan dan mereinterpretasi naskah lontar, kembali membuktikan dirinya sebagai ruang dialog lintas zaman.

Para peserta peluncuran buku “Bahasa Pohon-Pohon Tumbang” karya Aan Mansyur di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
Dari lontar yang berusia ratusan tahun hingga puisi Aan yang baru lahir, semua bertemu dalam satu kesadaran: pengetahuan adalah air yang mengalir, menyejukkan, dan menyembuhkan.
Ketika sesi berakhir, halaman itu tidak benar-benar bubar. Kata-kata Aan seolah menetap, berbisik bersama angin yang melewati pohon-pohon tua di sekitar museum. Bahwa setiap tumbangnya pohon, setiap runtuhnya manusia, selalu menyimpan bahasa. Dan di Singaraja, bahasa itu kembali dihidupkan, untuk mengingatkan bahwa sastra bukan sekadar estetika, melainkan napas kemanusiaan itu sendiri.[T]
Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Jaswanto



























