25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baduy Perlu Menciptakan Budaya Baru Demi Keberlangsungan Masa Depan Kesukuannya

Asep Kurnia by Asep Kurnia
August 6, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

“Ngindung ka waktu ngais ka zaman” adalah peribahasa popular yang melekat di kesukuan Sunda yang memiliki makna sangat luas terkait dengan periodesasi perubahan alam (Segir Zaman). Adanya masa kini tentunya karena adanya masa lalu. Kekinian atau kebaruan pola kehidupan suatu komunitas adalah hasil proses evolusi budaya yang lama melalui tahapan-tahapan perubahan sesuai dengan kebutuhan dan atau tuntutan zaman, ini adalah teori kebertahanan (survival theory) suatu komunitas. (Asep Kurnia, 2025).

Zaman terus berubah, maka dalam catatan sejarah pola kehidupan manusia dan peradaban pun dipastikan ikut berubah dari waktu ke waktu, dan itu adalah salah satu sunatullah. Implikasinya jelas sekali, bahwa manusia tidak bisa melawan zaman atau menghentikannya dan tidak mungkin bisa berada atau bertahan di satu zaman tertentu. karena bumi ini pun sebagai tempat hidup manusia terus berputar atau berotasi tanpa henti.

Manusia atau kelompok manusia, demikian pula suatu kesukuan yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan dan tidak melakukan perubahan (dinamisasi dan updating) sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman, mereka dipastikan akan mengalami kehancuran dan kepunahan (destruction and extinction of ethnic cultures). Banyak fakta keberadaan suatu suku bangsa di dunia yang hilang dari pergaulan dunia karena tidak segera adaptif dengan sikon kekinian zaman, atau terlalu kaku dan menutup pembaharuan budaya, dan akhirnya kini hanya tinggal dikenang nama dalam catatan sejarahnya saja. 

Makna tersirat lainnya dari peribahasa di atas adalah bahwa manusia harus terus berproses untuk menuju kesempurnaan dan keterlengkapan (perfection and completeness), mengganti hal-hal yang kurang baik dan usang dengan hal yang baik dan update, terus membangun sumber daya manusia (the national character building) yang lebih berkualitas serta membangun fisik /material  dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang kurang baik dan kurang lengkap menjadi lebih baik untuk mendekati kondisi sempurna.

Baduy sebagai suatu kesukuan di tanah Sunda dengan segala kondisi dan problematikanya, tentunya perlu melakukan proses dinamisasi dan updating sikap yang bijak, terencana dan terukur dalam rangka mempertahankan keberadaan, keajegan dan keterlangsungan kesukuannya dengan merespons secara selektif terhadap berbagai tuntutan dan perubahan zaman. Ngindung ka waktu ngais ka zaman makna singkatnya adalah bahwa kita wajib dan harus mampu beradaptasi dengan segala kondisi, tuntutan dan kebutuhan zaman. Zaman modern dan era digitalisasi menuntut paksa kita semua sebagai umat manusia didunia untuk adaptif terhadap tuntutan zaman yang sedang berlangsung jika kita ingin hidup kita tetap berkelangsungan, termasuk komunitas adat bernama Suku Baduy.

Masa Depan Suku Baduy Perlu dan Bisa Diciptakan

Masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat ditentukan oleh kecekatan, ketajaman, dan keluwesan para pemikir-pemikir, elit politik, pemimpin-pemimpin dan para pengelola negara dalam membuat atau menciptakan Garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai acuan membangun masa depan kebangsaan dengan berbagai revisi konstitusi atau amandemen perundang-undangan.

Suku Baduy pun sama perlu adanya peng-update-an yang kekinian agar mereka tidak salah dalam memilih sikap adat dan budayanya demi menghadapi tantangan masa depan baduy yang lebih kompetitip menuju suasana yang lebih sejahtera dan bermartabat. Maka adaptasi dan dinamisasi hukum adat menjadi penting untuk diciptakan agar kesukuan mereka bisa bertahan dan mampu mengikuti zaman selaras dengan tuntutan situasi dan kondisi yang ada dengan tidak menanggalkan dan meninggalkan prinsip pokok hukum adat dan identitas khas mereka. Hemat penulis, modifikasi dan akulturasi menjadi pilihan bijak bagi mereka.

Baduy adalah living culture  masyarakat  masa lalu yang mendekati pada pewaris asli budaya dan amanat leluhur kesukuan Sunda. Istilah pewaris asli hanya menunjuk pada tingkat ketaatan dan kesadaran komunitas mereka dalam mempertahankan adat istiadatnya dan kekonsistenan menutup dirinya dari pengaruh-pengaruh kebudayaan asing yang dianggap negatif.  

Namun, sesuai dengan lintasan zaman, Baduy saat ini sedang melintasi modernisasi dengan percepatan yang luar biasa sehingga sangat mencengangkan publik, berbagai perubahan dan dinamisasi sedang mereka tampilkan dan lakukan di berbagai aspek kehidupan. Artinya mereka sedang dan sudah memulai: “Mendesain dan Menciptakan Pola Hidup Masa Depan Kesukuannya“, agar mereka bisa terus menterlanjutakan kisah kesukuannya dan keberadaannya di kancah pergaulan kebangsaan dalam bingkai NKRI.

Di kekinian, mereka sedang melawan, menyeleksi dan memodifikasi pola kehidupan kesukuannya di berbagai aspek kehidupan demi mengimbangi perubahan dan tuntutan zaman.  Berbagai dinamisasi sedang gencar mereka lakukan demi meng-counter berbagai hal negatif sesuai dengan percepatan dahsyatnya pengaruh modernisasi termasuk efek domino dari digitalisasi yang mengarah pada terjadinya “Technotronic Ethnocide”.  

Mereka amat sangat menyadari bahwa keutuhan dan keajegan serta kekonsistensian melaksanakan amanat leluhur dan hukum adat kesukuan mereka sedang diuji secara berat oleh ancaman pemodernan yang brutal. Mereka pun menyadari bahwa melawan atau menolak perubahan dan tuntutan zaman adalah sesuatu yang tidak mungkin dan tidak bisa mereka lakukan. Tetap kaku dengan budaya dan norma adat yang mereka anut adalah beresiko akan terisolirnya mereka dari pergaulan dengan masyarakat luar Baduy. Membuka diri secara vulgar menerima berbagai pemodernan juga sangat beresiko terjadinya disitegrasi dan resistensi antara kelompok Baduy Luar dengan Baduy Dalam.

Mereka sadar hanya dengan cara memodifikasi dan akulturasilah mereka bisa mempertahankan dan menterlanjutkan keberadaan kesukuannya. Menelan dan menerapkan mentah-mentah semua pola atau model pemodernan kedalam kehidupan adat mereka adalah kesalahan fatal dan sangat merugikan, menolak secara total pemodernan juga akan sangat mempersulit kehidupan mereka terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan. Maka, mengadopsi dan sekaligus memodifikasi pola kehidupan modern menjadi bagian dari pola kehidupan adat mereka secara selektif adalah cara tengah yang paling aman dan bijak bagi keberlangungan kesukuan mereka.

Perlu Adanya Pengarah dan Pendesain Modifikasi

Kita paham dan mengetahui bahwa suku Baduy adalah salah satu kesukuan yang patrun dengan hukum adat, lengket dengan budaya lisan dan kurang bersahabat dengan budaya tulisan. Sehingga hukum adat itu berada di ucapan sesepuh atau tokoh adat dan tidak terkodifikasikan. Sehingga kita tidak akan paham bentuk-bentuk atau bunyi-bunyi dan atau pasal-pasal hukum ada mereka yang diberlakukan dalam bentuk tulisan, hukum adat mereka baru akan diketahui dari ucapan tokoh adat dan dari hebitasi kehidupan sehari hari mereka.   Oleh karenanya intervensi, provokasi dan rekayasa sosial menjadi penting untuk membantu mereka menemukan jalan dalam menciptakan pola atau modifikasi budaya baru mereka yang mampu menyeimbangkan hukum adat yang berlaku dengan modernisasi. 

Mereka juga tidak biasa dan dibiasakan untuk berdiskusi tentang bagaimana perkembangan peradaban di luar kesukuan mereka, karena mereka mematuhi tugas kesukuan mereka: “Neguhkeun agama ka sakabeh agama, neguhkeun nagara ka sakabeh nagara, teu kabagean ngaramekeun negara“ (Mempastikan/menegaskan agama ke seluruh agama, menegaskan negara ke seluruh negara, tidak kebagian untuk berkecimpung meramaikan dalam mengelola negara). Sehingga pelaksanaan hukum adat mereka menjadi kaku, tegas , lugas dan tidak mengenal kompromi.

Atas dasar dua kondisi nyata karakter mereka yaitu budaya lisan dan kekakuan hukum adat, maka keberadaan dan kehadiran pakar antropologi, sosiologi, budayawan, pemerhati komunitas adat,  dan pakar hukum adat serta pemerintah sebagai penaung keberadaan mereka sebagai pengarah dan pendesain modifikasi pola hidup baru suku Baduy yang bisa adaptif dengan tuntutan zaman adalah amat sangat penting keberadaannya. 

Yach, sederhananya atau paling tidak dengan adanya team riset serta kajian-kajian secara ilmiah yang terus menerus dan berkesinambungan, akan melahirkan kebijakan pemerintah yang tepat guna dan tepat sasaran bagi masa depan masyarakat Baduy ke depan.

Kesimpulanya bahwa masa depan bisa dibaca dan diprediksi sejak hari ini, dan masa depan bisa diciptakan sejak hari ini, maka jika dan hanya jika kita menginginkan dan memimpikan masa depan yang sukses dan gemilang prediksilah ( baca) dan ciptakanlah di hari ini jangan ditunda ke hari esok. Sebab jarak antara masa lalu ke masa kini dan ke masa depan itu nisbi batas waktunya. [T]

(Di tulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, Agustus 2025)

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Problematika Desa Adat Baduy Menuju Desa Wisata — [Bagian 1]
Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy – [Bagian 1]
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran

Next Post

Pada Waktu Seperti Apa Sebaiknya Kita Makan Rujak?

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Puasa Sehat Ramadan: Menu Apa yang Sebaiknya Dipilih Saat Sahur dan Berbuka?

Pada Waktu Seperti Apa Sebaiknya Kita Makan Rujak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co