BEBERAPA pekan terakhir, para pemilik usaha mikro, pedagang daring, hingga pelapak kaki lima, kompak mengeluh: “Yang lihat banyak, yang beli jarang.” Bahkan istilah baru bermunculan di jagat maya: ROJALI — Rombongan Jarang Beli, dan ROHANA — Rombongan Hanya Nanya. Sebuah humor getir yang menyentil realitas: daya beli masyarakat sedang tidak baik-baik saja.
Ekonomi Katanya Tumbuh, Tapi Dompet Masih Kering
Pemerintah merilis kabar gembira: ekonomi nasional tumbuh 5,1% pada kuartal II 2025. Namun di pasar tradisional, pertumbuhan itu belum terasa. Di Bali, pasar-pasar seperti Pasar Anyar dan Pasar Banyuasri di Buleleng mulai memperlihatkan ironi ekonomi yang nyata. Para pedagang menyebut pelanggan hari ini sebagai “rombongan jarang beli” dan “rombongan hanya nanya”. Istilah ROJALI dan ROHANA tak lahir dari sinisme, melainkan dari kelelahan bertahan dalam situasi ekonomi yang serba tanggung.
Harga sembako memang tampak stabil di permukaan — beras medium rata-rata Rp14.600/kg, minyak goreng kemasan sekitar Rp19.700/liter, dan cabai rawit merah Rp44.900/kg. Tapi bagi warga dengan penghasilan pas-pasan, angka itu tetap terasa menggigit. Upah Minimum Provinsi Bali tahun 2025 memang naik 6,5% menjadi Rp2.996.560, namun beban hidup juga ikut melonjak: biaya transportasi, pendidikan, hingga cicilan pokok rumah tangga tak lagi memberi ruang lapang bagi belanja spontan.
Fenomena ROJALI bukanlah tanda kemalasan konsumsi, tetapi sinyal bahwa daya beli masih tertahan. Warga datang ke pasar atau membuka aplikasi e-commerce lokal, bukan untuk langsung membeli, melainkan hanya memastikan apakah kebutuhan mereka masih bisa dijangkau. ROHANA pun menjadi identitas baru: mereka bertanya harga, bandingkan kualitas, lalu pamit dengan senyum getir — bukan karena tak butuh, tapi karena belum cukup uang.
Dalam kerangka ini, inflasi Bali yang relatif stabil di kisaran 1,89% (Maret 2025) tidak serta-merta menenangkan hati, sebab inflasi psikologis jauh lebih memukul: kecemasan akan masa depan, ketidakpastian harga, dan kelelahan ekonomi pasca pandemi yang belum tuntas. Maka, dalam lanskap ekonomi yang katanya bertumbuh, Bali juga menyimpan wajah-wajah diam yang tak terdengar: mereka yang hadir di pasar, tapi pulang dengan tangan kosong dan harapan yang makin pelan berdetak.
Bukan Minta Dibantu, Hanya Minta Dihiraukan
Baik Rojali maupun Rohana tidak menuntut semua jadi murah. Mereka hanya ingin ekonomi yang terasa lebih adil. Subsidi tepat sasaran, birokrasi UMKM yang sederhana, dan harga pokok yang dikendalikan tanpa gimmick pasar.
Ketika belanja menjadi aktivitas mewah, dan bertahan hidup butuh akrobat mental, masyarakat tidak minta dimanjakan — mereka hanya minta diberi ruang untuk berdaya.
Penutup: Rombongan Ini Jangan Dibiarkan Sendirian
Fenomena ROJALI dan ROHANA adalah suara dari bawah. Jika terus diabaikan, ia bisa menjadi desakan sosial yang meledak tanpa aba-aba. Tapi jika didengar, ia bisa menjadi koreksi penting untuk pembangunan ekonomi yang lebih membumi.
Masyarakat bukan tidak mau belanja, hanya sedang memeluk dompet lebih erat daripada harapan. Karena mereka tahu, bukan pertumbuhan yang membuat perut kenyang — tapi keberpihakan yang membuat hidup layak. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























