4 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Son Lomri by Son Lomri
August 2, 2025
in Khas
Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

PADA Jumat, 25 Juli 2025, di halaman Museum Buleleng, sedang berlangsung lokakarya dengan tajuk “Pewarna Alam pada Kain”, salah satu mata program Singaraja Literary Festival (SLF) 2025. Workshop ini diampu oleh Andika Putra, founder Pagi Motley—industri kreatif yang berfokus pada pewarna alami—dan Dina Widiawan, founder Din’z Handmade—pun perempuan kreatif yang juga intens menggunakan kain berwarna alam untuk produk-produknya.

Namun, lebih dari sekadar workshop celup-menyelup kain, lokakarya ini juga sebagai bentuk respon atas dampak limbah kimia, terutama di bidang industri tekstil. Di situlah letak keterhubungan antara terselenggaranya lokakarya ini dengan tema Singaraja Literary Festival tahun ini, yakni “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta”. Artinya, dalam hal ini peserta mendapat dua hal sekaligus, yakni tata cara pembuatan pewarna alam sekaligus pengaplikasiannya pada kain; dan pengetahuan akan dampak dari lingkungan yang tercemar oleh penggunaan bahan kimia pada industri tekstil.

Ya, di tengah derasnya diskursus akan kerusakan lingkungan karena aktivitas industri sandang, workshop ini memberikan satu kesempatan belajar dan menyadarkan para peserta untuk dapat menyembuhkan semesta melalui pewarna alami.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

Pagi Motley dan Din’z Handmade tampaknya bukan sekadar tempat usaha. Ia mengandung, katakanlah, napas perjuangan yang luhur. Ya, Andika dan Dina merupakan sosok yang sangat menghormati lingkungan—bukan Wahabi Lingkungan, ya. Mereka meyakini industri pewarna alam dapat mendorong aksi-aksi pelestarian lingkungan hidup, paling tidak dapat melestarikan tumbuhan-tumbuhan yang bisa dijadikan bahan baku pewarna alam, seperti secang, mangga, ketapang, kelapa, dan indigo.

Kegiatan belajar dan praktik yang berlangsung di depan mobil bersejarah Gubernur Sunda Kecil I Gusti Ketut Pudja itu, diikuti belasan siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Singaraja dan beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Singaraja. Para peserta itu teteg dari awal sampai kegiatan workshop berakhir.

Biru Indigo, Sebuah Fermentasi

Andika Putra, sosok yang sudah berpengalaman selama dua puluh tahun di bidang pewarna alam, begitu menggebu saat menjelaskan cara membuat pewarna alami. Terang saja, melalui Studio Pagi Motley di Sembiran, Tejakula, Andika telah bertungkus-lumus dengan pewarna alam sampai mendapat penghargaan Sewaka Kerthi Mahawidya Nugraha 2023 dari Institut Seni Indonesia Depasar.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

“Proses pewarnaan alam ini seperti memasak sayur, bahannya kita ekstrak dengan cara direbus,” kata Andika kepada para peserta workshop.

Ia mengatakan bahwa berbagai tumbuhan di sekitar kita sebenarnya dapat menghasilkan warna-warna yang unik, dan tentunya sehat. Daun mangga menghasilkan warna kuning, daun ketapang memberikan warna hitam pekat, serabut kelapa diubah menjadi warna coklat, dan kayu secang mampu menghasilkan warna merah.

Selayaknya sebuah lokakarya, para peserta diajak meracik warna indigo, yang menghasilkan warna biru. Berbeda dengan teknik ekstraksi rebus, indigo memerlukan proses yang lebih kompleks dan “spesial”, yaitu fermentasi.

“Yang spesial adalah warna indigo. Itu yang fermentasi. Jadi dibusukkan. Dari daun, kita ubah menjadi pasta dulu. Setelah jadi pasta, kita campur dengan gula lontar, baru bisa jadi warna,” ungkap Andika.

Proses pembuatan pasta indigo ini sendiri membutuhkan waktu dan kesabaran. Daun indigo jenis Strobilanthes cusia, yang aslinya berasal dari Bhutan dan kini telah berhasil dibudidayakan di Jawa dan Bali, direndam selama 24 hingga 48 jam, tergantung kondisi cuaca.

Proses perendaman ini merupakan tahap awal fermentasi untuk mengeluarkan pigmen warna. Selanjutnya, air rendaman tersebut diproses oksidasi dengan penambahan kapur (limestone).

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

Tampak di proses itu para peserta dengan antusias mencoba “mengocok” campuran air indigo dan kapur, mirip seperti membuat teh tarik. Proses itu untuk memasukkan oksigen, juga mengubah cairan yang semula kehijauan menjadi biru pekat. Buih-buih yang muncul menjadi penanda jika proses oksidasi telah berjalan baik.

“Jika kapurnya terlalu banyak, pasta yang didapat banyak tapi kualitas warnanya turun. Jika kapurnya sedikit, warnanya bagus tapi pastanya sedikit,” Andika menerangkan berapa takaran yang pas.

Setelah didiamkan semalaman, endapan pasta biru akan terpisah dari airnya. Pasta inilah yang kemudian diaktifkan kembali menggunakan air hangat dan gula aren sebelum siap digunakan untuk mencelup kain. Gula lontar berfungsi sebagai aktivator untuk menaikkan pH larutan pewarna.

Pentingnya Proses Mordanting

Selain teknik pewarnaan yang unik, para pengampu juga menekankan pentingnya persiapan kain. Dina Widiawan menjelaskan bahwa kain harus melalui proses mordanting— proses pra-perlakuan kain, terutama untuk pewarnaan alami, dengan merendamnya dalam larutan mordan (biasanya tawas dan soda abu)—terlebih dahulu sebelum diwarnai.

“Kadang-kadang, kegagalan orang mewarnai itu karena kainnya tidak di-mordan dulu. Mordan itu satu step sebelum pewarnaan untuk menyiapkan kain,” jelas Dina.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

Kemudian ia melanjutkan, bahwa proses ini bertujuan agar warna dapat terikat sempurna pada serat kain dan tidak mudah luntur. Uniknya, abu dari sisa daun indigo yang telah difermentasi pun dapat dimanfaatkan untuk proses mordanting, sehingga tidak ada yang terbuang.

Dina juga menambahkan pentingnya pemilihan bahan kain. Karena bermain dengan yang natural, seratnya harus serat natural seperti katun atau linen. Tidak bisa memakai kain bersifat plastik seperti bahan poliester.

Proses pencelupan indigo tidak bisa terburu-buru, ia harus sabar dan tenang. Layaknya sebuah meditasi, kain yang dicelup tidak boleh terlalu banyak bergerak di dalam air untuk menghindari oksidasi yang berlebihan, yang bisa mematikan zat warna.

Untuk mendapatkan warna biru yang pekat, proses pencelupan bisa diulang hingga lebih dari sepuluh kali. Dalam sesi praktik itu, para peserta workshop dibolehkan untuk berkreasi membuat berbagai motif pada kain menggunakan teknik jumputan (tie-dye).

Dengan bantuan jepitan, sumpit, tali rafia, dan karet gelang, para peserta menciptakan pola-pola unik sebelum mencelupkannya ke dalam larutan indigo yang telah disiapkan. Workshop ini memberikan keterampilan baru bagi peserta dan membuka wawasan tentang potensi alam, dan gaya hidup yang sehat di bidang fashion—dan sedikit melangkah menuju penyembuhan semesta dengan pewarna alami.[T]

Reporter: Komang Puja Savitri
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Bongkar Pasang Andre Syahreza dalam Novel “Semua Karena Nirankara”
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Din’z HandmadePagi Motleypewarna alamSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Next Post

Menulis dan Bercerita dengan Perspektif Dekolonialisasi | Catatan Workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails
Next Post
Menulis dan Bercerita dengan Perspektif Dekolonialisasi | Catatan Workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”

Menulis dan Bercerita dengan Perspektif Dekolonialisasi | Catatan Workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?
Opini

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi
Esai

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co