26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan by Jerry Indrawan
July 24, 2025
in Esai
Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan

Sejak tahun 2006 Korea Utara (Korut) mulai berani mengadakan uji coba rudal nuklir ICBM (Intercontinental Ballistic Missile). Keadaan ini membuat politik internasional seakan berada di titik nadir. Mengapa?

Sebagai sebuah negara yang dikenal berada di bawah rezim diktator militer bernama Kim Jong-un, keberanian melakukan uji coba nuklir bisa jadi dianggap sebagai awalan untuk memulai perang (prelude to war). Ditambah lagi keterlibatan Amerika Serikat (AS) di Semenanjung Korea, dan Asia Timur secara luas, bisa jadi membuat Kim Jong-un terasa makin terancam. Diinisiasi perang Ukraina-Rusia dan Iran-Israel yang belum juga usai, apakah rezim Kim akan memulai perang dengan AS, untuk kemudian melecut terjadinya perang dalam skala besar?

Konflik Dua Korea

Sebelumnya membahas hal di atas, marilah kita amati dulu sejarah antara Korut dengan Korea Selatan (Korsel). Korut adalah sebuah negara yang terbentuk pasca berakhirnya Perang Dunia II oleh pasukan Sekutu yang membagi dua Korea pada paralel utara ke-38, yaitu Korut (di bawah kendali Uni Soviet) dan Korsel (kendali AS). Pasca gencatan senjata, dua negara ini melakukan provokasi dan propaganda yang tak ada hentinya antara satu sama lain. Di era perang dingin, Uni Soviet dan China “membekingi” tindakan Korut, sedangkan AS selalu berada di belakang Korsel.

Menariknya, sekalipun masih dalam keadaan perang, karena tidak pernah ada perjanjian damai antar-keduanya yang mengakhiri perang, hinggi kini perang tidak pernah dilanjutkan. Keadaan di kedua Korea bisa dikatakan berada dalam fase perang dingin, mirip yang terjadi antara Uni Soviet dengan AS dahulu. Ancaman terus terjadi, bahkan sampai ancaman nuklir, tetapi tidak pernah terjadi perang kembali.

Security Dilemma dan Offensive-Defensive Realism

Kondisi tersebut sangat terkait dengan konsep security dilemma-nya John Herz. Security dilemma adalah tindakan yang diambil sebuah negara untuk menjaga kebutuhan keamanannya sendiri, tetapi memiliki kecenderungan untuk memicu ketidaknyamanan negara lainnya. Ketidaknyamanan terjadi karena setiap negara selalu menganggap tindakan yang diambil bersifat defensif, sebaliknya tindakan yang dilakukan negara lain mengancam.

Dalam perspektif realis, terutama pemikiran Rober Jervis tentang offensive-defensive realism, kondisi keamanan yang menegang antara dua Korea sebenarnya sudah diprediksi. Menurut Jervis, saat perilaku ofensif dan defensif sebuah negara dapat dibedakan, keadaan security dilemma tidak kuat (not intense), sekalipun isu keamanan tetap ada. Lingkungan politik internasional aman, karena ancaman keamanan tidak akan mengarah pada perang, tetapi hanya perlombaan senjata dan pembentukan aliansi pertahanan.

Perilaku ofensif  Korut terlihat dari semakin seringnya negara itu menguji coba rudal ICBM dan secara konstan menebar ancaman kepada pihak-pihak yang menentang tindakan Korut tersebut. Sebagai catatan, rudal terbaru dan terkuat Korut adalah Hwasong-19. Hwasong-19 diperkirakan memiliki panjang setidaknya 28 meter, sementara ICBM canggih AS dan Rusia panjangnya kurang dari 20 meter. Sebaliknya, perilaku defensif Korsel terlihat dari kehadiran pangkalan militer AS di Korsel sejak perang Korea berakhir, serta pemasangan sistem pertahanan rudak THAAD yang diproyeksikan mampu mencegat rudal Korut di udara (surface to air missile defense).

Peristiwa yang sama sudah disaksikan dunia ketika era perang dingin, yang berakhir tanpa ada perang antara blok Barat dan blok Timur. Dunia mengalami keadaan security dilemma yang jauh lebih dahsyat dibandingkan keadaan di Korea saat ini, karena yang bersaing kala itu adalah dua raksasa besar yang sama-sama mengembangkan persenjataan nuklir. Jika satu saja ditembakkan, maka dunia dipastikan akan mengalami perang nuklir untuk pertama kalinya. Ternyata, Uni Soviet akhirnya “kalah” tanpa ada satu nuklir pun ditembakkan. Demokratisasi-lah yang membawa akhir pada perang dingin yang mencekam dunia selama puluhan tahun.

Walaupun begitu, penulis yakin tidak ada rezim apa pun, baik komunis, kapitalis, sosialis, teologis, dll, yang ingin menggunakan senjata nuklir hanya untuk ambisi kekuasaan atau perspektif pertahanan, seperti pre-emptive strike. Kekuatan nuklir hanya akan menjadi bagian dari diplomasi keras (hard diplomacy) agar sebuah negara yang memilikinya mendapatkan high profile di mata dunia internasional.

Menurut paham realisme, setiap negara pasti membutuhkan power agar negara tersebut memiliki bargaining position yang tinggi dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Kemudian, salah satu cara meningkatkan profil negaranya adalah dengan memiliki power, yang ke depannya akan mengarah pada hegemoni. Dominasi hegemoni menurut Gramsci adalah di saat krisis otoritas terjadi, fist of force-lah yang akan muncul. Fist of force disini adalah kekuatan militer, yang dalam kasus ini terwujud dalam bentuk senjata nuklir.

Krisis otoritas terjadi di era perang dingin, maupun era saat ini. Akan tetapi, krisis ini hanya akan membawa pada kontestasi senjata (arms race), bukan perang skala global. Rivalitas Uni Soviet dan AS dulu menunjukkan dunia bahwa toh perang nuklir tetap tidak terjadi, sekalipun ribuan rudal nuklir sudah disiapkan di piring masing-masing negara. Tinggal disajikan saja.

Tidak Akan Ada Perang

Diskursus kita adalah, apakah skenario di atas akan dicoba dimainkan oleh para sutradara-sutradara hegemoni, dalam hal ini Kim dan Trump? Jangan-jangan skenario ini tidak pernah sampai ke tingkat produser sehingga hanya tercatat sebagai naskah skenario bekas yang tidak pernah mendapat dana untuk difilm-kan.

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya jarang ditanyakan atau dibahas dalam diskursus-diskursus internasional adalah tentang alasan (the why) Korut memiliki senjata pemusnah massal (WMD) sekelas dan sekuat Hwasong-19. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bagi Korut, kepemilikan nuklir mereka hanyalah bagian dari hard diplomacy negara tersebut dalam percaturan politik internasional. Untuk menjaga negaranya dari serangan asing, “Korut butuh pelindung”. WMD itulah pelindung Korut (safeguard).

Pasca Uni Soviet runtuh, praktis hanya Beijing “teman” aliansi Pyongyang yang terkuat. Sebuah kondisi yang dari kacamata pertahanan cukup rapuh, apalagi Korut dikelilingi oleh negara-negara yang menjadi bagian dari aliansi pertahanan tandingan, yang dipimpin AS. Untuk itu, wajar saja Korut mengembangkan senjata nuklir sebagai bagian dari upaya survival negara tersebut, di samping tetap mencari peluang hegemoni.

Walaupun sulit mendapatkan hegemoni militer dan politik dalam level dunia, paling tidak Kim sudah mendapatkan porsinya sendiri di mata penduduk dunia dengan strategi uji coba nuklir ini. Sebuah strategi yang mungkin tidak akan dilakukan ayah dan kakeknya dahulu. Penulis menilai Kim bukanlah madman with a nuclear weapon, seperti yang pernah dituduhkan Donald Trump. Ia hanyalah seorang pemimpin yang ingin membawa bangsanya disegani di dunia internasional, dengan caranya sendiri. Bahasa penulis, Korut membentuk hegemoni ala Kim.

Lalu, apakah membentuk hegemoni harus dengan perang? Sejarah mencatat, selama lebih dari setengah abab sejak perang Korea berakhir, perang antar-keduanya tidak pernah terjadi, sekalipun peluang untuk Korut menyerang duluan tetap terbuka lebar. Hal ini menunjukkan bahwa rivalitas kedua Korea hanya berada dalam tataran perang dingin, bukan perang nuklir. Bahkan, sejak tahun 2006 Korut dengan pemimpinnya Kim Jong-il, sudah melakukan nuclear testing tanpa sekali pun pernah menembakkannya hingga detik ini.

Anaknya, Kim Jong-un, juga bukanlah pemimpin yang tidak paham strategi militer. Jika skenario menembakkan ICBM ke Korsel terlaksana, efek radio aktifnya pasti akan sampai ke Korut juga. Apalagi, jika mereka menyerang Guam, atau bahkan AS sekalipun dengan Hwasong-19 misalnya, tidak mungkin AS dan sekutunya tidak akan membalas. Lalu, apabila AS menyerang Korut dengan ICBM, dampaknya akan dirasakan juga oleh China sebagai tetangga Korut. China pasti akan melakukan retaliation. Rusia sebagai sekutu terdekatnya tidak mungkin tinggal diam. Begitu pula Iran.

Sebuah skenario yang pemimpin mana pun pasti tidak inginkan karena sudah pasti tidak akan ada negara yang mendapat hegemoni, wong dunianya sudah luluh-lantak dihabisi oleh senjata nuklir. Jadi, jawaban dari judul tulisan ini adalah tidak mungkin. Pemimpin yang waras pasti akan berkata tidak! Namun, jika skenario perang ini dibuat film seperti “Avenger: Endgame” misalnya, pasti akan laku keras ditonton orang AS dan juga orang Korut, termasuk Kim dan Trump. [T]

Penulis: Jerry Indrawan
Editor: Adnyana Ole

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buka Festival Lovina, Bupati Sutjidra Akan Tata Kembali Kawasan Lovina Lebih Representatif

Next Post

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Jerry Indrawan

Jerry Indrawan

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co