SANGAT menarik membahas konsep pengobatan dari era ke era. Apalagi saat konsep pengobatan yang telah berkembang di masa lampau, masih eksis keberadaannya di masa kini. Tentu saja menjadi sebuah isyarat, untuk kita tetap memberi rasa hormat kepada setiap ide yang telah membawa spirit penyembuhan umat manusia. Tidak begitu saja menafikan konsep lama yang tradisional lalu mendewa-dewakan konsep baru yang modern dan canggih. Meskipun tampak sangat jelas ada perbedaan konsep pengobatan dalam teks lama dan baru, namun sesungguhnya banyak sekali bukti-bukti kesamaan pada dimensinya yang lain.
Bukti-bukti arkeologi prasejarah bangsa Peru misalnya, ditemukan tengkorak manusia berlubang-lubang yang oleh para ahli dipercaya sebagai tindakan pengobatan yang di era modern ini dikenal sebagai trepanasi. Trepanasi, adalah prosedur medis–dulu mungkin mistis–dengan melubangi tulang tengkorak manusia, yang saat ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan di bawah tulang tengkorak yang sangat membahayakan otak. Tekanan tersebut mungkin disebabkan oleh penumpukan cairan seperti darah, biasanya pada pasien stroke atau cedera atau dapat juga penumpukan nanah bahkan udara.
Praktek trepanasi di masa lampau pun diketahui telah dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa, Afrika Utara, Asia, Tahiti, New Zealand, dan Amerika Selatan. Hal mendasar yang kemudian kita ketahui menjadi perbedaan dari tindakan trepanasi di masa lampau dan kedokteran modern saat ini adalah apa yang disebut sebagai patofisiologi.
Patofisiologi adalah lmu yang mempelajari tentang perubahan fungsi tubuh yang abnormal akibat penyakit, cedera, atau kondisi lain. Ini adalah gabungan dari patologi (studi tentang penyakit) dan fisiologi (studi tentang fungsi tubuh normal). Patofisiologi membantu memahami bagaimana penyakit berkembang, bagaimana tubuh bereaksi terhadapnya, dan bagaimana hal itu memengaruhi fungsi tubuh.
Konsep lama yang mendasari tindakan trepanasi di atas adalah adanya roh jahat yang masuk ke dalam tubuh manusia dan menyerang kepalanya. Sehingga timbul gejala-gejala seperi nyeri kepala, kejang-kejang bahkan penurunan kesadaran. Saat ini, gejala-gejala tersebut persis merupakan gejala pada pasien stroke. Maka dalam hal trepanasi, konsep lama dan baru sama pada cara namun berbeda pada konsep penyebab. Bagaimanapun juga, baik dari bukti-bukti arkelogis prasejarah tersebut maupun situasi pada saat ini, pasien telah banyak diselamatkan dengan tindakan trepanasi.
Dalam tradisi penyembuhan masyarakat Bali masa lampau, disebutkan dalam lontar, Budha Kecapi adalah seorang balian yang sangat ahli dan bijaksana, memiliki pengetahuna yang sangat luas dalam pengobatan. Ia memperoleh pengetahuan dan keterampilannya tersebut, berkat usaha keras dan keteguhanya dalam menggelar tapa, brata, yoga, dan samadhi di kuburan. Sebuah perjuangan dan ketekunan yang juga di era modern ini harus dilalui oleh para calon dokter sebelum meraih sarjana profesi dokter, dokter ahli (spesialis) bahkan konsultan (subspesialis.)
Jika ingin meraih gelar dokter konsultan atau subspesialis, seorang peserta didik perlu waktu paling sedikit 12 tahun dengan berbagai tugas yang tak mudah. Maka jika kurun waktu 12 tahun tempaan kawah candradimuka itu dijalani dengan baik, maka seperti Budha Kecapi, seorang dokter pun layak mendapat anugerah dari Bhatara Hyang Dini Dalem atau Durga.
Budha Kecapi tak hanya ahli dan terampil dalam mengobati. Ia pun diketahui sangat menekankan aspek etik dalam melayani orang sakit. Hal mana yang di era modern ini pun kerap menjadi sorotan. Aspek etik telah mengangkat setinggi-tingginya harkat, baik praktisi penyembuhan di masa lampau maupun para dokter di masa kini, jauh di atas sembuh atau tidak dan selamat atau meninggal pasien yang dirawat.
Sangat menarik juga, dalam lontar yang sama, disinggung ramalan penyakit yang diderita oleh pasien. Apakah memiliki peluang yang besar untuk sembuh, kecil atau bahkan akan meninggal dalam waktu dekat. Dalam praktek kedokteran modern, konsep ini dikenal sebagai prognosis. Keduanya sangat menekankan aspek etik dalam hal ini. Sejauh mana upaya yang akan kita lakukan, seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan sesuai dengan prognosis penyakit yang diderita pasien.
Oleh karena konsep pengobatan di masa lampau lebih dipengaruhi oleh keyakinan para tabib, shaman atau balian, maka metode terapi yang diterapkan bentuknya unik dan praktisi penyembuh berperan dominan, sepenuhnya menentukan dalam praktek pengobatan tersebut. Kontras dengan konsep masa kini yang mengharuskan penerapan praktek kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine.)
Pengobatan atau tindakan medis apa pun yang akan diterapkan kepada para pasien wajib sudah melalui suatu penelitian klinis dengan berbagai tingkatan bukti. Semakin kuat dan luas bukti yang telah diverifikasi, maka semakin kuat rekomendasinya untuk pasien. Rekomendasi semakin lemah jika hanya berbasis pengalaman empirik, apalagi hanya atas keyakinan seorang ahli (expert opinion.) Dengan rekomendasi terkuat sekalipun, saat ini seorang pasien tetap memiliki otonomi untuk menentukan keputusan medisnya, ia berhak menolak, bahkan setelah dokter menjelaskan dengan benar terkait penyakit dan pengobatan yang ditawarkan (informed concent.)
Kini, pengobatan modern belum cukup didasarkan hanya pada kedokteran berbasis bukti. Semakin diketahui, setiap individu memiliki keunikan yang rupanya juga dapat memberi pengaruh kepada respon terapi yang diberikan. Dikenal sebagai sistem genomik. Setiap orang, keluarga, suku, ras atau bangsa memiliki untaian genetik atau pembawa sifat yang berbeda-beda. Secara rasional akan memengaruhi zat obat yang bekerja di dalam tubuhnya.
Maka pengetahuan genomik ini mengantarkan terapi modern akan semakin presisi. Jejak-jejak arkeologis di Peru, lontar Budha Kecapai adalah kebijaksanaan di masa lampau, dan sejarah yang dihormati sesungguhnya adalah penyembuh masa depan bumi. [T]
- Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali
Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole


























