SASTRA masa lampau menjadi artefak yang menunjukkan bahwa dahulu “sekolah” bukan barang eksklusif. Sebab, sastra masa lalu, tak terkecuali sastra lisan, kerap memiliki sifat didaktis yang lugas dan bisa dinikmati khalayak melalui orang tua, juru baca, atau guru, tanpa lembaga formal. Bahkan, boleh dikata, karya-karya tersebut adalah risalah berkedok fiksi atau puisi. Serat Centhini adalah contoh paling populer bagaimana ensiklopedia budaya Jawa menyaru cerita. Atau, Serat Cabolek yang memperkarakan polemik teologis yang ditampilkan dalam debat naratif. Lontar pengobatan tradisional Bali, Usada Budha Kecapi, masuk dalam jajaran karya yang ditulis dengan gaya demikian.
Mengemas sebuah ajaran dengan siasat fiksi atau puisi dimaksudkan agar audiens yang disasar tidak mudah melupakannya. Seseorang akan lebih mudah mengingat petuah dalam bentuk sajak bermetrum ketimbang nasihat yang disampaikan dalam prosa nonfiksi. Risalah yang diujarkan melalui cerita juga akan lebih mengesankan daripada sebuah fatwa. Itulah mengapa, dalam masyarakat tradisional, puisi atau cerita ditembangkan—dan diiringi musik—supaya pengetahuan yang dibungkusnya mudah ditransmisikan, dilafalkan, dan akhirnya mengendap dalam memori audiens.
Dalam filsafat Yunani, misalnya, apa yang disebut musik murni belum ada pada zaman itu sehingga musik dan puisi saling melekat; yang satu mensyaratkan yang lain. Plato mengapresiasi musik sejauh ia mengiringi lirik. Maka, di kala itu, puisi senantiasa dilantunkan dengan iringan musik. “Lirik”, yang merupakan kata lain puisi, dipinjam dari nama instrumen dawai yang menyertainya: lira.
Sementara itu, dalam tradisi oral Nusantara, kita juga kerap mendengarkan pepatah petitih yang dinyanyikan, baik yang diiringi musik atau tidak. Dengan demikian, di masa silam, seni atau sastra atau puisi ditakhlikkan sebagai modus untuk mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi. Ia relatif berbeda dengan karya seni modern yang acap diciptakan untuk tujuan pencapaian artistik.
Sebagai karya sastra, Usada Budha Kecapi dirangkai dalam narasi yang sederhana. Singkatnya, ia berkisah tentang tabib gadungan bersaudara, Kali Mosadha dan Kali Moshadi yang tersandung malapraktik. Insiden itu mendorong keduanya untuk berguru kepada Budha Kecapi yang telah dikenal sebagai orang bijkasana. Di situlah Budha Kecapi menyampaikan petuah panjang-lebar tentang risalah medis. Pengobatan ala Budha Kecapi mengombinasikan dimensi spiritual dan aspek material. Dalam alam pikir tradisional, kedua elemen tersebut memang gayung bersambut, lengkap-melengkapi, dan mustahil dipisahkan. Itulah mengapa, di Usada Budha Kecapi, pengobatan herbal yang material kerap disertai mantra yang spiritual.
Bahkan, pengetahuan medis Budha Kecapi konon diperoleh dengan jalan semadi. Ia menerima pencerahan dari Dewa Siwa dengan perantara ego femininnya, Dewi Durga. Dalam masyarakat tradisional, perempuan memang kerap memonopoli ilmu medis. Mereka memahami seluk-beluk herbal, obatan-obatan untuk janin beserta cara menggugurkannya, dan praktik melahirkan. Perempuan juga menjalin korespondensi mistik dengan alam—yang secara intrinsik memiliki watak feminin—sebagai pemasok kebutuhan obat-obatan. Karena itulah perempuan acap menduduki posisi syamanistik dalam struktur masyarakat kuno. Ia berperan sebagai dokter sekaligus penghubung antara jagat sekala dan niskala. Masuk akal bila berkah ilmu pengobatan Budha Kecapi diperoleh melalui Batari Uma, elemen biner feminin Sang Batara Guru.
Transfer pengetahuan itu dilangsungkan melalui kelima indra. Namun, di Usada Budha Kecapi, lidah tampak menerima jatah lebih banyak. Durga merajah lidah Budha Kecapi dengan anugerah. Berbeda dengan indra-indra lainnya, lidah memang menjadi lokasi diproduksinya mantra dan doa serta aras persemayaman dewa-dewa. Kita kerap menjumpai cerita tentang seorang guru yang mewariskan “pengetahuan-langsung” kepada muridnya melalui lidah. Dalam tradisi mistik Islam, misalnya, dikisahkan bahwa Syekh Abdul Qadir Jilani menyerap ilmu ketika sang Nabi beserta keempat sahabatnya meludah di lidahnya. Sementara itu, tradisi pesantren mengapropriasi cerita tersebut sebagaimana yang kita dengar dalam riwayat suprarasional Kiai Syamsul Arifin Sukorejo yang telah menerima pengetahuan melalui ludah sang guru, Syekh Kholil Bangkalani, di atas lidahnya.
Tentu, Kali Mosadha dan Kali Mosadhi tidak pernah menerima berkat esoterik semacam itu. Kedua paranormal jadi-jadian tersebut cuma bisa memberi obat secara spekultaif, tapi tak sanggup mendiagnosis penyakit. Bahkan, mereka menyodorkan pasien obat yang sama untuk segala penyakit. Jelas, panasea, obat sapujagat itu, terlarang dalam Usada Budha Kecapi. Sebab, setiap penyakit memiliki biografinya masing-masing: dari mana sumbernya, apa penyebabnya, bagaimana gejalanya, apa obatnya, dan bagaimana cara menyembuhkannya. “Dan lagi, adikku,” tutur Budha Kecapi kepada Kali Mosadha dan Kali Mosadhi sebagaimana kita baca dalam terjemahan Ida Bagus Bajra, “jika ada orang mengundangmu dengan memberikan obat dua, tiga, empat, lima kali kau membuat obat untuk satu orang, penyakit orang itu juga tidak berkurang, lalu kau salah memberi obat, jangan begitu, jika seperti itu, itu bukan dukun namanya, itu namanya dukun demi uang dan beras. Itu sangat dikutuk oleh dewa yang dipuja.”
Nasihat tersebut sekaligus menunjukkan semangat “Sumpah Hippokrates” yang diikrarkan para dokter modern untuk tidak mendiskriminasikan pasien berdasarkan situasi ekonominya. Dengan kata lain, seorang balian tidak boleh serakah sehingga menambah derita orang sakit yang sudah ketiban sial. Untuk meringankan beban si sakit, Usada Budha Kecapi memberi pasal khusus perkara regulasi upah seorang tabib—semacam peringatan bagi para petugas rumah sakit untuk tidak melanggar komitmen Hippokrates hanya karena si pasien adalah pelanggan BPJS golongan 3.
Maka, ihwal tarif tabib—yang sering dianggap banal itu—menjadi urgen dan inheren dalam Usada Budha Kecapi yang berwatak holistik. Kompleksitas medis tersebut sesungguhnya telah ditampilkan sejak awal ketika sang Budha memohon kepada Batara untuk memberinya pemahaman tentang hakikat jagat agung (alam semesta) dan jagat alit (alam raga). Juga asal-usul penyakit, supaya tahu hakikat bisa, racun, pamali, ajian ampuh, dan daya sabda.
Kesehatan manusia yang bergantung pada keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos memang sudah lazim dalam keyakinan tradisional. Bahkan, dokter Swiss zaman Renaisans, Paracelsus, percaya bahwa konstelasi benda-benda langit dapat memengaruhi kesehatan manusia. Sebab, tubuh manusia (mikrokosmos) merefleksikan jagat raya (makrokosmos). Menurut Paracelsus, dengan memahami astrologi secara mendalam, seorang dokter akan mampu menyembuhkan pasien.
Dalam Usada Budha Kecapi, pengetahuan makrokosmos seperti arah, waktu, dan energi digunakan sebagai pedoman untuk menangani pasien. Prinsip relasi kosmik dalam medis Budha Kecapi mengharuskan tabib tidak sekadar memberi obat herbal kepada pasien. Bagi masyarakat tradisional, penyakit tidak semata-mata dipandang sebagai kondisi yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan cedera. Penyakit bisa timbul lantaran seseorang telah merusak keseimbangan kosmos. Untuk memulihkan kesetimbangan alam semesta, misalnya, upacara yang bersifat sosial perlu diselenggarakan.
Harmoni tersebut juga perlu dihadirkan kembali melalui daya mantra, kekuatan suara, sebagaimana yang kita saksikan di Usada Budha Kecapi. Dalam alam pikir masyarakat kuno, suara—yang diwujudkan via mantra atau doa—dianggap memiliki daya sugestif dan agregatif yang kuat. Ia bisa menyembuhkan atau mematikan. Sebenarnya, hingga saat ini, kita masih sering menjumpai praktik terapi dengan musik, motivasi melalui kata-kata motivator, atau kasus bunuh diri karena perundungan verbal.
Tapi, yang paling menarik dari Usada Budha Kecapi, yaitu sikap kepasrahan totalnya kepada takdir. Kali Mosadha dan Kali Mosadhi ditimpa kutukan karena telah menunda kematian pasien. Artinya, seorang tabib mesti memahami tanda-tanda kematian agar tidak mengobati zombi yang jasadnya telah ditinggalkan Hyang Atman. Hidup dan maut adalah siklus yang dipercaya sebagai fenomena alamiah yang niscaya hadir dalam diri manusia. Maka, obsesi akan keabadian dinilai merusak prinsip kemanusiaan dan menafikan akhir dari karma seseorang. Keabadian hanya boleh terjadi di semesta dewa-dewa.
Tunduk kepada ajal dalam iman Usada Budha Kecapi merupakan penolakan tegas terhadap pengobatan modern yang dikritik Fritjof Capra telah menggunakan pendekatan militeristik. Bagi Capra, pendekatan ini terlalu mengandalkan model mekanistik-reduksionistik yang memandang tubuh sebagai medan perang dan penyakit sebagai musuh. Istilah-istilah yang digunakan pun berbau militer, seperti “melawan infeksi”, “menyerang sel kanker”, atau “obat sebagai senjata”. Tubuh yang sekarat dipasang “alat-alat tempur”, terus-menerus dipaksa berperang melawan penyakit.
Baik Fritjof Capra maupun Budha Kecapi berpegang pada paradigma serupa terkait kesehatan yang sistemik dan ekologis. Andai membaca Usada Budha Kecapi, barangkali ilmuwan Austria-Amerika itu akan menghargainya sebagai warisan epistemologis; bukan takhayul, melainkan perspektif alternatif dalam memahami tubuh dan dunia yang lebih utuh, tubuh dan dunia yang berakar pada kehidupan. Capra akan bersaksi bahwa Usada Budha Kecapi telah berikhtiar menjalankan darmanya dalam membuhulkan kembali ikatan kosmik antara manusia dengan semesta. [T]
- Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali
Penulis: Royyan Julian
Editor: Adnyana Ole



























