23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba by Luh Aninditha Wiralaba
July 12, 2025
in Cerpen
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Ilustrasi tatkala.co

“Radhea, ke sini sebentar, Nak. Bantu dulu ibu metanding banten untuk besok,” seru ibuku dari dapur, suaranya bercampur dengan aroma tum ayam.

Namaku Radhea, Ni Wayan Radhea Putri. Indah bukan? Sekarang usiaku sudah enam belas tahun. Besok merupakan Hari Raya Kuningan, rentetan dari Hari Raya Galungan, hari yang selalu kutunggu. Tak hanya karena suasananya yang meriah, atau aroma lawar dan sate yang begitu menggoda, tapi karena Juwita akan pulang.

Sudah lima tahun kami tidak bertemu. Dulu kami berdua seperti bayangan untuk satu sama lain. Duduk sebangku, pulang sekolah bersama, bahkan kami mengikuti latihan tari di sanggar yang sama. Ia harus pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya, yang kini katanya menjadi direktur di perusahaan  besar. Kabarnya Juwita pulang ditemani banyak pengawal, bak putri raja.

Aku masih menyimpan sebuah gantungan kunci yang ia berikan padaku. “Supaya kita tidak lupa,” katanya waktu itu. Tapi mungkin aku terlalu naif, menganggap kenangan dapat menyambung jarak sejauh itu.

Beberapa tahun ini aku berusaha memperbaiki diri. Rambut yang dulunya lepek kini mulai terawat. Kacamata kutanggalkan kecuali di kelas. Aku bahkan mulai memakai skincare dasar yang kusembunyikan dari ibu agar tidak dikira bermewah-mewah.

Malam sebelum Kuningan, aku menulis di sebuah buku kecil. Menulis hal-hal yang akan kuceritakan pada Juwita. Tentang masa orientasi SMA saat aku bermain teater Kasih Tak Sampai dan menjadi pemeran utama. Tentang Samsul Bahri versi sekolahku, yang kini menjadi pacarku. Tentang sahabat baru yang diam-diam menyiapkan kejutan ulang tahun untukku. Mungkin aku akan bertanya apakah ia masih suka menonton film Korea, atau bahkan bagaimana keadaan sekolah di Jakarta.

Aku jadi tidak sabar mendengar ucapan dari mulutnya, “Aku sungguh rindu kamu, Dhe.” Pasti itu akan sangat membuat rasa rinduku juga terobati. Tapi yang paling membuatku bersemangat adalah rencana kecil sore besok. Menonton Tari Gambuh bersama Juwita, seperti dulu sewaktu masih bersama. Di antara gemerincing gamelan dan aroma dupa, di petang yang menyimpan langit jingga begitu indah.

Ayam berkokok begitu riuh, menandakan waktu sudah pagi. Aku memulai pagiku dengan senyuman yang menghiasi wajahku. Aku membantu ibu sembahyang di area rumah. Di pura aku perhatikan setiap wajah yang datang. Beribu detik sudah ku lewati, namun Juwita tak kunjung datang. “Apa mungkin dia tidak sembahyang ke pura?” batinku.

Dalam gelisah aku bergegas pulang dan berganti pakaian. Lalu dengan nekat aku datang ke rumahnya. Rumah itu kini tampak begitu besar dan megah. Ada mobil mewah di garasi, taman penuh anggrek dan kupu-kupu yang beterbangan, seperti sebuah lukisan hidup.

Aku mendekat ke gerbang.

“Juwita ini aku, Radhea!” teriakku sembari melihat ke sana kemari mencari keberadaan Juwita. Seorang satpam mendekat, kemudian melarangku untuk masuk. Di balik tirai kaca, aku melihat sesosok gadis berdiri mengintip. Wajah Juwita, jelas. Ia sempat menoleh, dan pandangan kami sempat bertemu. Tapi ia membalikkan badan, dan kemudian menghilang di sana.

“Mungkin dia lelah… mungkin nanti sore kami akan menonton Tari Gambuh bersama,” gumamku menolak percaya.

Sore tiba. Langit terlihat berwarna jingga, sangat cantik. Cahaya matahari tampak meredup. Suasana pura tempat pementasan Tari Gambuh sungguh meriah, aroma dupa menyeruak di tengah keramaian. Orang-orang berdatangan dengan pakaian adat madya, begitupun juga aku. Lama aku menunggu sendirian sembari menonton Tari Gambuh.

Penarinya mengenakan kostum yang sangat megah. Gerakannya khas, lambat, namun penuh makna. Diiringi lantunan gamelan. Pandanganku masih terpaku saat sorak penonton terdengar sedikit riuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Hingga dari kejauhan, segerombol pecalang tampak mengawal sebuah keluarga. Ketika wajah itu tampak jelas di antara kerumunan, aku sadar. Itu Juwita.

“Juwita! kemarilah dan menonton bersamaku,” ucapku berteriak dan menghampirinya. Namun, langkahku dihentikan oleh para pecalang. “Juwita, ini aku, Radhea!” ulangku berteriak lebih keras, tapi ia tak menoleh sama sekali. Aku terus memanggilnya, namun ia tak menghiraukanku. Sedih untukku, rasanya begitu asing. Ternyata aku tidak cukup berarti untuk dikenang.

Aku berdiri membeku. Dunia di sekitarku masih terus bergerak, namun aku diam.

Akhirnya aku memilih menonton Tari Gambuh sendirian. Menikmati keramaian sendirian. Menikmati cerita yang ku siapkan sendirian. Terasa kosong. Hatiku begitu hampa. Tari Gambuh tetap berlangsung. Alunan gamelannya masih terdengar sama, tapi tak dapat menyentuhku seperti saat pertama.

Penari itu melangkah perlahan. Ia tidak tahu, seorang gadis di antara penonton sedang patah hati. Bukan karena cinta, tapi karena kenangan yang tak diakui. Aku duduk di antara puluhan manusia, menatap ke panggung, tetapi tidak benar-benar memperhatikan. Ragaku di sana, namun jiwaku entah dimana. Mungkin sedang menyusuri kenangan yang gagal menjadi kenyataan.

Malam datang menyapa, dinginnya angin menusuk kulitku. Pementasan telah usai. Orang-orang datang dengan senyum, pulang juga dengan senyum. Sedangkan aku? Aku datang dengan cerita, pulang juga dengan cerita yang tak sempat dimulai.

Sembari berjalan, aku teringat gerakan Tari Gambuh. Penarinya mengangkat tangan tinggi, lalu menunduk perlahan. Mungkin begitu juga aku harus belajar. Mengangkat kenangan, kemudian menguburnya dalam dengan perlahan. [T]

Penulis: Luh Aninditha Wiralaba
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ahmad Fatoni | Sun Rise di Bromo

Next Post

Akhiri Habitus, Muda Wijaya Belajar Mengaji Lewat Buku Puisinya, “Belajar Mengaji Pada Ibu” 

Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba

Siswa SMAN 1 Amlapura

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Akhiri Habitus, Muda Wijaya Belajar Mengaji Lewat Buku Puisinya, “Belajar Mengaji Pada Ibu” 

Akhiri Habitus, Muda Wijaya Belajar Mengaji Lewat Buku Puisinya, "Belajar Mengaji Pada Ibu" 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co