SIDANG pembaca yang budiman, ada yang pelan-pelan hilang dari rumah kita. Bukan kursi kayu yang diganti sofa minimalis, bukan pula teko porselen yang digantikan oleh dispenser otomatis. Tapi ini sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu suara. Bukan dalam arti literal, karena nyatanya rumah-rumah kita hari ini lebih ramai dari masa sebelumnya. Ramai dengan notifikasi yang tak henti berdenting, suara YouTuber yang teriak-teriak, dan deru game yang membisingkan telinga.
Tapi coba perhatikan, di balik semua itu, rumah sekarang kehilangan suara manusia. Suara obrolan, suara tawa bersama, suara ribut kecil karena beda selera nonton, atau suara tanya sepulang sekolah, “Kamu kenapa hari ini, kok wajahmu jelek gitu?”, misalnya.
Ini bukan sekadar nostalgia sentimentil. Ini soal kehilangan yang sungguh-sungguh. Mari flashback ke era ’90-an, di rumah cuma satu TV, dan itu pun ditaruh di ruang tengah. Mau nggak mau, semua anggota keluarga harus nonton bareng. Ketika beda selera, ya diskusi, berembug. Kadang rebutan remote jadi ajang latihan demokrasi. Si bungsu mau kartun, si sulung mau MTV, bapak nunggu berita. Tapi justru dari sinilah kompromi lahir, negosiasi tumbuh, dan empati dibentuk.
Di situlah anak belajar bahwa keinginan tak selalu dituruti, bahwa hidup itu suatu negosiasi, bahwa menyenangkan orang lain juga bagian dari kebahagiaan. Dalam satu layar TV itu, terbentuk semacam ruang kompromi dan saling memahami yang dulu biasa tapi sekarang jadi barang mewah.
Zaman bergulir, lalu masing-masing punya TV sendiri. Atau saat ini bahkan tak butuh TV lagi, cukup smartphone di tangan. Satu rumah, lima kepala, lima layar, lima dunia. Anak punya dunianya sendiri di TikTok, ayah di Twitter, ibu di Facebook, kakak di YouTube, adik di Roblox. Semua merasa sibuk, semua merasa terhubung, tapi entah sejak kapan rumah kehilangan getaran koneksi yang sesungguhnya. Tak ada lagi ruang tengah, yang ada adalah bunker-bunker digital dengan algoritma masing-masing. Gejala ini mulai terasa, ada yang parah ada yang tidak, tapi ada.
Sekolah Demokrasi di Meja Makan
Eli Pariser, seorang pengamat media digital mengemukakan istilah filter bubble. Ia menggambarkan bagaimana algoritma media sosial dan platform digital menyajikan informasi khusus itu-itu saja, sesuai minat dan preferensi pengguna. Hasilnya kita jadi hidup dalam gelembung informasi pribadi, tanpa tahu bahwa kita sedang dijauhkan dari perspektif orang lain.
Wajarlah jika kemudian komunikasi dalam keluarga jadi seperti sinyal WiFi, kadang nyambung, kadang ngadat, seringkali putus tapi kita malas ngecek. Berharap tipis-tipis, nanti juga entah bagaimana nyambung lagi. Padahal dari sanalah semuanya bermula. Kita tahu keluarga itu unit terkecil dalam masyarakat, tapi jarang kita menyadari betapa rentannya unit itu hari ini. Kalau komunikasi dalam keluarga rusak, maka apa kabar demokrasi?
Tempat pertama anak belajar bahwa beda pendapat itu hal biasa, adalah dari rumah. Kita pertama kali belajar menahan ego, di mana lagi kalau bukan di meja makan. Karena kalau kita bicara tentang toleransi sosial, empati, atau keberagaman, semua itu dipraktikkan pertama kali bisa jadi di meja makan. Di situ anak belajar bahwa ia harus berbagi ayam goreng terakhir, dan memahami pendapat ibu bisa berbeda dari kakak. Jika negara adalah kumpulan komunitas, dan komunitas tersusun dari keluarga, maka kualitas komunikasi dalam keluarga bisa dikatakan sebagai barometer demokrasi. Ketika komunikasi keluarga rusak, maka konflik sosial hanyalah gema dari sunyinya meja makan saat ini.
Ilusi Kedekatan
Kembali lagi, mungkin banyak yang menganggap ini cuma kerinduan sentimentil terhadap masa lalu. Wajar jika dibilang, “Ya nggak bisa dibandingin dong, zaman kan udah berubah.” Ya, tentu saja zaman berubah. Tapi bukan berarti semua perubahan otomatis membawa kebaikan. Sebagian kita akan berkelit, “Tapi sekarang kita tetap bisa ngobrol loh, di grup WhatsApp keluarga.” Yah, itu juga memang benar. Tapi apakah cukup dalam dan cukup jujur.
Karena begini, komunikasi digital menciptakan suatu ilusi keintiman. Di sini ekspresi diganti dengan emoji, dan video call menggantikan sentuhan. Ada hal-hal yang seharusnya kita pertahankan justru karena untuk mengantisipasi zaman. Seperti kehadiran, seperti perhatian, seperti obrolan yang nggak buru-buru ditutup, karena baterai tinggal 5 persen.
Dulu kita belajar komunikasi bukan dari seminar atau webinar, tapi dari ruang tamu. Dari diamnya bapak yang menyiratkan marah, dari nada suara ibu yang membujuk saat menegur, dari tatapan kakak yang minta tolong diam-diam. Hari ini, semua diketik dan dikemas dalam emoji. Semua serba cepat, lucu, singkat, dan tak meninggalkan jejak rasa. Kita jadi terbiasa menulis “wkwk” padahal perasaan kita flat, B aja.
Komunikasi digital menciptakan ilusi kedekatan. Kita pikir kita sudah cukup dekat karena tiap hari saling kirim stiker, padahal tak pernah benar-benar hadir. Kita pikir sudah mengobrol karena ikut grup WhatsApp keluarga, padahal isinya cuma saling lempar berita forwarding dan komen tak produktif. Yang hilang di sini adalah kedekatan yang hadir secara penuh, bukan hanya notifikatif.
Beberapa ahli komunikasi seperti George Herbert Mead mengingatkan bahwa identitas diri terbentuk dari interaksi sosial. Nah, nonton TV bersama, ngobrol saat iklan, tertawa bareng saat nonton sinetron konyol, itu semua adalah momen mikroskopis pembentukan masyarakat. Artinya, anak-anak zaman sekarang bukan sekadar hidup di dunia yang berbeda dengan zaman sebelumnya, tapi secara esensial tengah membentuk diri dalam ruang yang nyaris tanpa interaksi nyata.
Mereka tumbuh tanpa melihat orang tuanya saling bicara dalam percakapan yang bermakna, tanpa ikut berunding menentukan mau makan di mana. Masing-masing punya selera, tak perlu ribut. Nampaknya damai, tapi damainya dingin dan sunyi. Jadi jangan kita heran ketika mereka sulit bersosialisasi, tak bisa berdebat dengan kepala dingin, atau tak mampu menyelesaikan konflik dengan kalimat tapi dengan main block, private akun atau cancel culture. Padahal mungkin saja mereka hanya meniru orang dewasa di rumah yang terlalu sibuk hidup di dunia layar, dan tak sempat menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang utuh.
Tentu tak mungkin kembali ke era televisi tabung. Tapi kita bisa menciptakan ulang ruang-ruang itu. Ruang makan tanpa gadget. Pilih film atau acara yang bisa ditonton bersama. Nonton bukan sekadar hiburan, tapi kesempatan menyelami pikiran satu sama lain. Biarkan saja jika anak tidak suka film pilihan ayah. Biarkan ibu tidak paham game anak. Justru di situlah lahir kesediaan untuk memahami. Bangun kembali budaya bertutur.
Michael White, pelopor narrative therapy, menyebut bahwa manusia menyembuhkan diri lewat cerita. Ngobrol sebelum tidur, walau cuma sepuluh menit. Bukan soal durasi, tapi kehadiran. Cerita hari ini. Cerita masa lalu. Cerita lucu. Cerita gagal. Cerita adalah jembatan antarhati. Karena tidak ada teknologi yang bisa menggantikan suara manusia yang sungguh-sungguh mendengarkan. Dan rumah adalah tempat pertama cerita harus kembali menggema.
Sekadar Usulan
Kadang kita merasa semua ini terlalu sepele. Tapi justru dari hal-hal sepele itu lahir rasa percaya, pengertian, dan empati. Anak yang terbiasa didengarkan akan lebih mudah mendengar. Pasangan yang terbiasa saling berbagi cerita akan lebih tahan terhadap godaan pelarian digital. Dan keluarga yang terbiasa bicara akan lebih tahan menghadapi dunia yang makin bising tapi juga makin sunyi ini.
Romantisme masa lalu bukan nostalgia murahan. Ia adalah pengingat bahwa kita pernah lebih manusiawi dalam berkomunikasi. Jika dulu kita lebih saling mendengarkan, lebih sabar, dan lebih siap berbagi ruang, mengapa kita tidak mencoba menciptakan itu kembali, di tengah modernitas ini?
Ngomong-ngomong, kalau AI zaman sekarang bisa mempercepat dan mempermudah pekerjaan, mestinya bisa dong, kalau waktu kita sekarang jadi lebih banyak untuk keluarga. Tapi kembali lagi, semua itu tergantung niat, sih. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI





























