14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Rumah Tak Lagi Bicara

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 7, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, ada yang pelan-pelan hilang dari rumah kita. Bukan kursi kayu yang diganti sofa minimalis, bukan pula teko porselen yang digantikan oleh dispenser otomatis. Tapi ini sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu suara. Bukan dalam arti literal, karena nyatanya rumah-rumah kita hari ini lebih ramai dari masa sebelumnya. Ramai dengan notifikasi yang tak henti berdenting, suara YouTuber yang teriak-teriak, dan deru game yang membisingkan telinga.

Tapi coba perhatikan, di balik semua itu, rumah sekarang kehilangan suara manusia. Suara obrolan, suara tawa bersama, suara ribut kecil karena beda selera nonton, atau suara tanya sepulang sekolah, “Kamu kenapa hari ini, kok wajahmu jelek gitu?”, misalnya.

Ini bukan sekadar nostalgia sentimentil. Ini soal kehilangan yang sungguh-sungguh. Mari flashback ke era ’90-an, di rumah cuma satu TV, dan itu pun ditaruh di ruang tengah. Mau nggak mau, semua anggota keluarga harus nonton bareng. Ketika beda selera, ya diskusi, berembug. Kadang rebutan remote jadi ajang latihan demokrasi. Si bungsu mau kartun, si sulung mau MTV, bapak nunggu berita. Tapi justru dari sinilah kompromi lahir, negosiasi tumbuh, dan empati dibentuk.

Di situlah anak belajar bahwa keinginan tak selalu dituruti, bahwa hidup itu suatu negosiasi, bahwa menyenangkan orang lain juga bagian dari kebahagiaan.  Dalam satu layar TV itu, terbentuk semacam ruang kompromi dan saling memahami yang dulu biasa tapi sekarang jadi barang mewah.

Zaman bergulir, lalu masing-masing punya TV sendiri. Atau saat ini bahkan tak butuh TV lagi, cukup smartphone di tangan. Satu rumah, lima kepala, lima layar, lima dunia.  Anak punya dunianya sendiri di TikTok, ayah di Twitter, ibu di Facebook, kakak di YouTube, adik di Roblox. Semua merasa sibuk, semua merasa terhubung, tapi entah sejak kapan rumah kehilangan getaran koneksi yang sesungguhnya. Tak ada lagi ruang tengah, yang ada adalah bunker-bunker digital dengan algoritma masing-masing. Gejala ini mulai terasa, ada yang parah ada yang tidak, tapi ada.

Sekolah Demokrasi di Meja Makan

Eli Pariser, seorang pengamat media digital mengemukakan istilah filter bubble. Ia menggambarkan bagaimana algoritma media sosial dan platform digital menyajikan informasi khusus itu-itu saja, sesuai minat dan preferensi pengguna. Hasilnya kita jadi hidup dalam gelembung informasi pribadi, tanpa tahu bahwa kita sedang dijauhkan dari perspektif orang lain.

Wajarlah jika kemudian komunikasi dalam keluarga jadi seperti sinyal WiFi, kadang nyambung, kadang ngadat, seringkali putus tapi kita malas ngecek. Berharap tipis-tipis, nanti juga entah bagaimana nyambung lagi.  Padahal dari sanalah semuanya bermula. Kita tahu keluarga itu unit terkecil dalam masyarakat, tapi jarang kita menyadari betapa rentannya unit itu hari ini. Kalau komunikasi dalam keluarga rusak, maka apa kabar demokrasi?

Tempat pertama anak belajar bahwa beda pendapat itu hal biasa, adalah dari rumah.  Kita pertama kali belajar menahan ego, di mana lagi kalau bukan di meja makan. Karena kalau kita bicara tentang toleransi sosial, empati, atau keberagaman, semua itu dipraktikkan pertama kali bisa jadi di meja makan. Di situ anak belajar bahwa ia harus berbagi ayam goreng terakhir,  dan memahami pendapat ibu bisa berbeda dari kakak. Jika negara adalah kumpulan komunitas, dan komunitas tersusun dari keluarga, maka kualitas komunikasi dalam keluarga bisa dikatakan sebagai barometer demokrasi. Ketika komunikasi keluarga rusak, maka konflik sosial hanyalah gema dari sunyinya meja makan saat ini.

Ilusi Kedekatan

Kembali lagi, mungkin banyak yang menganggap ini cuma kerinduan sentimentil terhadap masa lalu. Wajar jika dibilang, “Ya nggak bisa dibandingin dong, zaman kan udah berubah.” Ya, tentu saja zaman berubah. Tapi bukan berarti semua perubahan otomatis membawa kebaikan. Sebagian kita akan berkelit, “Tapi sekarang kita tetap bisa ngobrol loh, di grup WhatsApp keluarga.” Yah, itu juga memang benar. Tapi apakah cukup dalam dan cukup jujur.

Karena begini, komunikasi digital menciptakan suatu ilusi keintiman. Di sini ekspresi  diganti dengan emoji,  dan video call menggantikan sentuhan.   Ada hal-hal yang seharusnya kita pertahankan justru karena untuk mengantisipasi zaman. Seperti kehadiran, seperti perhatian, seperti obrolan yang nggak buru-buru ditutup, karena baterai tinggal 5 persen.

Dulu kita belajar komunikasi bukan dari seminar atau webinar, tapi dari ruang tamu. Dari diamnya bapak yang menyiratkan  marah, dari nada suara ibu yang membujuk saat menegur, dari tatapan kakak yang minta tolong diam-diam. Hari ini, semua diketik dan dikemas dalam emoji. Semua serba cepat, lucu, singkat, dan tak meninggalkan jejak rasa. Kita jadi terbiasa menulis “wkwk” padahal perasaan kita flat, B aja.

Komunikasi digital menciptakan ilusi kedekatan. Kita pikir kita sudah cukup dekat karena tiap hari saling kirim stiker, padahal tak pernah benar-benar hadir. Kita pikir sudah mengobrol karena ikut grup WhatsApp keluarga, padahal isinya cuma saling lempar berita forwarding dan komen tak produktif. Yang hilang di sini adalah kedekatan yang hadir secara penuh, bukan hanya notifikatif.

Beberapa ahli komunikasi seperti George Herbert Mead mengingatkan bahwa identitas diri terbentuk dari interaksi sosial. Nah, nonton TV bersama, ngobrol saat iklan, tertawa bareng saat nonton sinetron konyol, itu semua adalah momen mikroskopis pembentukan masyarakat. Artinya, anak-anak zaman sekarang bukan sekadar hidup di dunia yang berbeda dengan zaman sebelumnya, tapi secara esensial tengah membentuk diri dalam ruang yang nyaris tanpa interaksi nyata.

Mereka tumbuh tanpa melihat orang tuanya saling bicara dalam percakapan yang bermakna, tanpa ikut berunding menentukan mau makan di mana. Masing-masing punya selera, tak perlu ribut. Nampaknya damai, tapi damainya dingin dan sunyi. Jadi  jangan kita heran ketika mereka sulit bersosialisasi, tak bisa berdebat dengan kepala dingin, atau tak mampu menyelesaikan konflik dengan kalimat tapi dengan main block, private akun atau cancel culture. Padahal mungkin saja mereka hanya meniru orang dewasa di rumah yang terlalu sibuk hidup di dunia layar, dan tak sempat menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang utuh.

Tentu tak mungkin kembali ke era televisi tabung. Tapi kita bisa menciptakan ulang ruang-ruang itu. Ruang makan tanpa gadget. Pilih film atau acara yang bisa ditonton bersama. Nonton bukan sekadar hiburan, tapi kesempatan menyelami pikiran satu sama lain. Biarkan saja jika anak tidak suka film pilihan ayah. Biarkan ibu tidak paham game anak. Justru di situlah lahir kesediaan untuk memahami. Bangun kembali budaya bertutur.

Michael White, pelopor narrative therapy, menyebut bahwa manusia menyembuhkan diri lewat cerita.  Ngobrol sebelum tidur, walau cuma sepuluh menit. Bukan soal durasi, tapi kehadiran. Cerita hari ini. Cerita masa lalu. Cerita lucu. Cerita gagal. Cerita adalah jembatan antarhati. Karena tidak ada teknologi yang bisa menggantikan suara manusia yang sungguh-sungguh mendengarkan. Dan rumah adalah tempat pertama cerita harus kembali menggema.

Sekadar Usulan

Kadang kita merasa semua ini terlalu sepele. Tapi justru dari hal-hal sepele itu lahir rasa percaya, pengertian, dan empati. Anak yang terbiasa didengarkan akan lebih mudah mendengar. Pasangan yang terbiasa saling berbagi cerita akan lebih tahan terhadap godaan pelarian digital. Dan keluarga yang terbiasa bicara akan lebih tahan menghadapi dunia yang makin bising tapi juga makin sunyi ini.

Romantisme masa lalu bukan nostalgia murahan. Ia adalah pengingat bahwa kita pernah lebih manusiawi dalam berkomunikasi. Jika dulu kita lebih saling mendengarkan, lebih sabar, dan lebih siap berbagi ruang, mengapa kita tidak mencoba menciptakan itu kembali, di tengah modernitas ini? 

Ngomong-ngomong, kalau AI zaman sekarang bisa mempercepat dan mempermudah pekerjaan, mestinya bisa dong, kalau waktu kita sekarang jadi lebih banyak untuk keluarga. Tapi kembali lagi, semua itu tergantung niat, sih. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: demokrasigaya hidupRumah Tangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Megandu” Permainan Tradisional Anak-anak Petani Tabanan di Jantra Tradisional Bali 2025

Next Post

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co