6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Horor: Hantu Perempuan, Hukum, Agama, dan Hal-hal yang Berubah

Joseph Sebastian Nazareno Silaen by Joseph Sebastian Nazareno Silaen
February 2, 2018
in Ulasan

Adegan dalam film Pengabdi Setan. /Sumber foto: Google

 

SABTU kemarin, aku dan kembaranku mencoba menonton “Pengabdi Setan” yang katanya bagus sekali. Singkatnya cerita filmnya memang bagus sekali, segala moment menaikkan adrenaline sendiri. Walaupun ceritanya sedikit mengarah ke film horror barat dengan sedikit humor dan masalah yang masih teka-teki.

Adegan yang menceritakan anak terakhir dalam keluarga, bahkan mengingatkan saya pada “Exorcist” yang naik layar 2005. Nama filmnya “Dominion: Prequel to the Exorcist”, yang ternyata juga remake.

Perbedaan yang cukup mengagetkan, ketika saya menyewa film aslinya buatan 1980-an. Orang yang dirasuki adalah pasien di sebuah klinik yang dahulu telantar kemudian dirasuki.

Sedangkan dalam film remake-nya orang yang dirasuki adalah dokter wanita. Ketika fim pertama, untuk mengalahkan setan yang merasuk, pastur yang awalnya sudah lepas jubah dan ia memakainya kembali. Berbeda dengan remake-nya pastur ini hanya memakai kain salib sileher, Alkitab dan Rosario saja.

Film remake bisa menimbulkan rasa nostalgia, bahkan dengan di-remake, film yang sebelumnya hanya dikenang akan kembali didengar dan ditonton. Bahkan untuk ukuran  sebuah cerita, film adalah puncak segala menikmati cerita. Demikian bagaimana horor, komedi, mungkin “silat” menjadi menu nikmat untuk ditonton di Indonesia.

Terlepas buruknya situasi politik Orde Baru, kita bisa menikmati film Indonesia dan peralatan dan visualnya menjadi kenangan. Secara sederhana, cerita “Pengabdi Setan” sudah baik dalam ide film, kemudian artis, kru bahkan peralatan membuat sempurna.

Hantu Perempuan 

Ada berapa hantu perempuan di Indonesia? Cukup banyak, mulai dari perempuan mati dibunuh karena hamil sampai perempuan tua yang menjaga rumah tua, kepunyaan orang Belanda yang bernafsu membunuh perempuan cantik bernama Farida untuk kehidupan sang nyonya menjadi abadi.

Dalam film, “Mak Lampir” muncul 3 kali, dan sebanyak itu pula Sembara melawannya dan memenangkan Farida. Tidak ada istilah Cambuk Amarasuli atau pesan dari Sultan Mataram untuk mengenyahkan Mak Lampir. Hanya ilmu sakti serta Cambuk Kilat yang menemani Sembara.

Jika ditanya apa yang paling dikenal dalam film horror jadul, maka banyak sekali. Di humor, film horror Suzanna hampir menyisipkan humor dalam setiap filmnya. Maka akan lebih enak jika memasukkan 3 hal; Setan, Pemerintah, terakhir adalah Agama. Ketiganya selalu menopang.

Lihat saja film Suzanna misalnya dalam Wanita Harimau. Kita bisa melihat banyak simbol pemerintahan, ada polisi, hansip, pemerintah setempat, dan tokoh agama. Hampir dalam setiap film ada simbol yang sama. Dalam film Suzanna sendiri, ada penggambaran hansip pada suatu daerah yang kecil, di mana fitnah bisa timbul secara cepat dan hansip penggambaran hukum walaupun dalam segi yang paling sederhana.

Berbeda dengan film “Malam Satu Suro” atau “Sundel Bolong” yang lebih memberikan tempat bagi polisi. Mungkin karena terjadi di kota maka peran hansip tidak dibutuhkan, karena pengamanan diwakili dengan peranan polisi.

Pertanyaan yang masih belum terjawab adalah kenapa hantu yang dijual dalam film menyentuh gender. Perempuan paling dominan, lalu hubungannya dalam banyak hantu perempuan hidup dalam masyarakat, baik namanya Kuntilanak, Sundelbolong, Suster Ngesot, Palasik, Kolongwewe, Mak Lampir, semuanya adalah perempuan.

Lalu jika kamu memikirkan nama hantu yang pria; sedikit. Walaupun paling banyak akan menyebut Pastur Jeruk Purut. Kebanyakan yang menjadi hantu adalah korban bukan karena dari kecil mempelajari ilmu hitam.

Misalkan film Suzanna berjudul “Ratu Ilmu Hitam”, ceritanya adalah seorang perempuan yang dikhianati kekasihnya. Ia difitnah melakukan santet, ibunya mati jadi korban main hakim sendiri. Dia dikubur, lalu diselamatkan oleh guru santet. Perempuan mendendam, ia mempelajari santet dan mulai meneror warga.

Itu terjadi di film “Santet 1” dan “Santet 2” yang dibintangi Suzanna. Sama-sama ada kasus fitnah dan aksi main hakim sendiri, lalu mempelajari ilmu hitam lalu meneror. Lalu semua diatasi orang yang taat agama, lalu melawan atas nama agama. Secara umum, film horor di Indonesia lahir dari kekosongan peranan negara dan hukum.

Hal ini ditambah dengan menaruh perempuan sebagai tokoh utama, menjadi penguat cerita misalnya korban yang disakiti. Karena di Indonesia atau mungkin di Asia sendiri, hantu perempuan lebih banyak dan diceritakan memancing rasa ketakutan. Artinya film “Beranak dalam Kubur” atau “Sundelbolong”, kita bisa mengkaitkan bukan dengan angka pemerkosaan saat itu, namun dengan angka kematian ibu dan anak.

Namun ada kesan cerita itu diambil dalam kehidupan masyarakat. Maka ketika 1970-an Suzanna memainkan film horror yang pertama berjudul “Beranak dalam Kubur”, entah kenapa dalam wacana kesehatan, itu adalah kampanye pendampingan suami di dalam waktu melahirkan. Dekat sekali dengan permasalahan yang ada, istri melahirkan namun suami berada jauh untuk berkerja.

Topik perempuan inilah yang lebih menjual, selain bagian seksualitas. Karena selain menyentuh dengan banyaknya hantu perempuan dalam masyarakat, tanpa didasari, juga memberikan alarm bahwa isu perempuan saat masih tinggi terutama kesehatannya. Maka jika film horor harus mengedepankan bagian sensualitas, atau keseraman, kita bisa juga mengedepankan  sisi lain dalam permasalahan.

Sama saja dengan film-film barat yang menyangkut horor mulai dari “Rumah Angker”, “Ritual Pemanggilan Arwah”, atau “Kerasukan”. Bahkan ada pula yang digabung misal film “Freddy”. “Freddy” adalah film yang mengabungkan pembunuhan berantai dan ritual. Sedangkan “Possessed” menambilkan ritual ilmu hitam dan ritual pengusiran roh.

Latar belakang film ini cukup umum di Amerika yang memang memiliki kejadian tentang hal-hal seperti itu. Dimana di luar negeri, Gereja Katolik pernah menjalankan ritual pengusiran roh, atau adanya orang yang menjadi praktisi indra keenam.

Sedangkan “Freddy” membahas tentang ritual, serta kecemasan dalam mengatasi sesuatu. Memang sepertinya tema seperti itulah yang disukai di Amerika. Ceritanya memiliki jalan berliku dan memiliki kisah lebih pada bagian-bagian tertentu yang mesti diselesaikan dahulu sebelum fokus ke pokok cerita.

Menyinggung “Pengabdi Setan”, itu  adalah film yang berkisah pada perempuan, Mertua dan menantu yang memiliki masalah.keturunan (anak). Dalam sisi perempuan, itu adalah masalah yang runyam, kerap disalahkan. Ibu belum memiliki anak, ia amat menginginkannya maka ia bersekutu dengan ritual yang gelap untuk mendapatkan. Maka hadirlah akibatnya, lalu siapa yang melarang kisah ini hidup. Selama permasalah dinyata belum usai ?

Masalah Klenik, dan Hukum

Sulit membedakan cerita klenik, dengan cerita yang sesungguhnya terjadi. Semuanya selalu beradu argumen untuk dipercayai masyarakat. Polisi pasti menemui kasus sulit, pembunuhan terjadi. Namun pelaku menyatakan bahwa itu adalah bagian dari ritual mereka. Bahkan dalam masyarakat, hilangnya anak kerap diyakini hilangnya bukan karena kabur atau diculik orang, namun karena ada mahluk yang suka menculik anak.

Misalnya dalam Sinetron “Misteri Gunung Merapi”. Dalam sebuah episode, Mak Lampir ingin meningkatkan ilmunya. Dalam usaha meningkatkan ilmunya harus menemukan anak istimewa yang bersaudara 5 (semuanya laki-laki) dan lahir dalam malam Jumat Kliwon.

Jika kita memasukkan logika yang dikatakan masa kini (positif), pandangan ini mengada-ada. Namun masih ada yang percaya. Artinya jika saya mengatakan hantu kita adalah isu negatif karena berkenaan dengan nilai dollar yang kian melambung, mungkin akan disetujui oleh banyak orang. Tetapi apapun itu, banyak cara membuat mereka ditemukan dalam satu waktu yang sama. Salah satunya dalam film, dimana kita bisa menikmatinya.

Pada film horor mana saja, polisi tidak bisa mengungkapkan kasus yang berkenaan dengan hantu. Tokoh utama mesti mengandalkan orang yang memiliki kemampuan dalam menjelaskan masalah supranatural. Jika tidak, adalah tokoh agama yang memiliki metodenya yang dianggap paling rasional.

Itu terjadi pada film Asia yang bergenre horor baik Hongkong, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Punya metode, jika hantu bisa dikalahkan dengan doa yang dibacakan oleh tokoh agama yang juga memiliki pemahaman soal hantu. Bahkan di Indonesia, hansip dan polisi tidak memiliki kekuataan yang cukup dan muncul di pertarungan akhir.

Meski sedikit berbeda, film “Malam Satu Suro” atau “Telaga Angker” di mana polisi memiliki moment cukup banyak. Tetapi porsi lebih banyak, tidak bisa menemukan siapa yang menciptkan teror. Maka tokoh agama yang bertugas mengusirnya akan mengundang polisi untuk membuktikan masalah ini.

Inilah yang saya katakana diawal, dalam film horor ketakutan akan fitnah dan aksi sepihak warga akan menakutkan dan korban akan menuntut balas akan penderitaan yang ada lewat apa? Memakai kekuataan supranatural. Ia mati kemudian menjadi hantu kemudian menghantui.

Atau pilihannya mempelajari ilmu hitam dengan syarat yang kurang masuk akal. Kemudian ketika sudah menguasainya akan membalas dendam. Inilah menurut saya film Horor Indonesia mendapatkan kelasnya sendiri.

Indonesia menempatkan horor pada tempat yang lebih luas ketimbang barat. Meski kebanyakan film barat mengambil kisah nyata, film horor Indonesia memancing adrenaline. Kamu bisa menemukan bahwa hantu dan roh bukan pelaku kejahatan, namun orang yang menggunakan ilmu hitam.

Maksimal kamu menemukan di Amerika adalah Triller, tetapi di Indonesia masih saja pembuat film mencoba menggarap film seperti ini.  Film Suzanna pun yang tentang seperti ini, pelaku yang mengunakan ilmu hitam tidak pernah ditangkap, karena setan sudah mati dikalahkan tokoh agama.

Maka saya pun menganggap, semoga saja film “Pengabdi Setan” akan dilanjutkan. Namun keluarga itu bukan mengalahkan setan, mereka terbukti tidak punya modal apa-apa. Mungkin film akan menjadi menaklukkan pembunuh yang menginginkan darah atau nyawa anak-anak yang bisa selamat. Mereka harus membuktikan bahwa permainan belum berakhir dan kesempatan hidup normal belum bisa diukur logika normal.

Agama Ternyata Bukan Lagi Formula Baku

Film “Tusuk Jelangkung” jauh dari usur agama, kental dengan supranatural. Mungkin ini awal dari film-film horor yang makin jarang menyetuh agama. Maksimal tokoh utama ada yang mati, kemudian rohnya datang. Sepengamatan saya dalam film horor, terakhir adalah “Lentera Merah” yang memakai unsur agama. Namun lebih universal, tidak ada ustad atau sulinggih atau pastur menjadi penyelamat. Lentera Merah menyunguhkan fennomena baru.

Untuk mengusir hantu dibutuhkan cara penguburan yang layak dan doa. Bahkan mereka berdoa dengan kepercayaan masing-masing. Maksimal film horor adalah mempertemukan hantu dengan orang yang mampu menanganinya. Maka ketika “Ratu Ilmu Hitam” saya tonton, saya takjub. Bahwa orang taat mendapatkan gangguan macam begitu. Bahkan akhir film, ilmu hitam vs ilmu hitam bagaimana saya tidak menduga jalannya akan seperti ini.

Hampir semua film horor Indonesia di zaman Orde Baru, hantu akan diselesaikan oleh ustad atau kiai. Selebihnya tokoh agama lain, seperti “Calon Arang” dan “Leak” yang kental dengan nilai agama Hindu.

Sedangkan “Ranjang Setan”, hantu diusir oleh pastur yang membuat salib dengan potongan kayu, peranan tokoh agama kental. Menjadi solusi ketika logika tidak mampu menyelesaikan masalah yang ada. Masalah hantu dan metafisika lainnya tidak bisa diselesaikan dengan polisi atau ilmu yang umum di masyarakat.

Polisi bahkan menjadi penonton dalam setiap film, anehnya film horor mengalami perubahan besar. Tidak lagi tokoh agama menjadi solusi, peran polisi ada banyak namun juga tidak ada disangkutkan, dan lebih menunjukkan bagian-bagian seksualitas.

Agama mulai terpinggirkan, digantikan metode supranatural, mulai dari mencari ayam cemani, membeli kemenyan, melakukan ritual pemanggilan, dan masih banyak lagi. Meski pembalasan dendam adalah menu utama dari hantu kepada pembunuhnya, kita melihat fenomena yang lain.

Secara jujur saya menikmati jalan cerita film horor jadul, karena sebagai cerita mampu menghidupi dua hal. Pertama cara pikir memakai logika umum, ada kejahatan pastinya ada pelaku yang berbuat dan adapula korban yang menerima dampak.

Hanya saja, dalam film horor tidak seperti itu. Polisi adalah penonton karena tidak bisa menyelesaikan kasus tersebut, peranan menghukum digantikan hantu dan ditutup dengan peran tokoh agama. Sepertinya jalan itulah yang paling ampuh menyelesaikan masalah tentang hantu.

Agama adalah ajaran baik, lalu apa jadinya agama dalam film. Kadang menjadi tajam dan memicu masalah yang kompleks, karena bisa menyerang hal yang paling privasi dari manusia. Saya malah merasa kaget jika ada moment orang membaca doa karena dihantui malah gangguan makin terasa berat.

Sang anak tertua dalam film “Pengabdi Setan” mencoba sholat setelah sekian lama tidak melakukannya. Namun gangguan tetap saja terjadi, mulai bayangan ibu di kaca maupun ditarik sesuatu. Saya sudah menduga jika remake film ini akan mengurangi bagian simbol agama.  Masalahnya saya menduga jika mesti ada hal yang dilakukan untuk menghindari korban lebih banyak.

Jika keluarga tidak mengizinkan maka akan sulit anak itu dibawa. Keluarga mencoba menahan Ijan untuk tidak dibawa pergi. Walaupun mereka harus merelakan Ijan untuk pergi, karena di luar kemampuan mereka. Dalam wawancara di Flik TV, Joko Anwar sudah memberi sinyal akan membuat perbedaan cukup kental dalam “Pengabdi Setan”.

Untuk ukuran film horor malah tidak ada pesan khusus. Hanya pesan ibu yang dibicarakan anak-anak untuk saling menjaga sesama anak ibu. Lagi pula dalam sejarah film horor, film mana yang hantunya meyakiti orang-orang yang dikasihinya. Film horor barat berjudul Mama, menampilkan rasa cermburu hantu ibu ketika anak-anaknya disayangi adik iparnya.

Mama mencoba merebut anaknya, namun adik iparnya serta istrinya mencoba sekeras mungkin mempertahankan kedua anak itu. Berjalan ke film “Telaga Angker”, hantu mama yang diperankan Suzanna memesankan anaknya untuk menjadi orang yang berguna. Akankah film horor akan memiliki perkembangan dari sisi lain. Kita bisa berharap. (T)

Tags: agamafilmhororPerempuan
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Kembali Bali Bertani – Sebuah Pemikiran Kecil

Next Post

Guru itu Bernama Pengalaman – Catatan Seorang Guru Swasta

Joseph Sebastian Nazareno Silaen

Joseph Sebastian Nazareno Silaen

Lulusan dari Univeritas Negeri Yogyakarta, jurusan sejarah dan menyukai isu-isu kekinian dan pemikiran sosialis.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Guru itu Bernama Pengalaman – Catatan Seorang Guru Swasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co