KADANG saya mencoba menjelaskan kepada orang-orang seperti apa anak pertama saya. Tapi jujur saja, saya tidak tahu bagaimana harus mendefinisikannya. Kata “autis” seringkali terlalu sempit untuk menggambarkan dirinya yang begitu kompleks, tak terduga, dan di saat-saat tertentu, sungguh memesona.
Anak pertama saya, Gangga, adalah seorang kakak. Kakak dari dua adik, Kanha dan Davka, yang tumbuh seperti anak-anak lain pada umumnya—berlari ke sana kemari, tertawa tanpa batas, dan berbicara penuh imajinasi. Sementara si sulung, ia lebih banyak diam atau malah berteriak. Kadang ia tertawa sendiri, kadang ia menggigit atau memukul tanpa bisa menjelaskan kenapa. Dan ketika emosinya meledak dalam bentuk tantrum, semuanya seperti berhenti. Rumah seperti kapal yang dihantam badai. Tak ada yang bisa saya lakukan selain mencoba bertahan, dan berharap badai itu segera reda.
Saya ini hanya manusia biasa. Ada kalanya saya menatap kedua anak saya yang lain—yang bisa duduk manis di bangku sekolah, ikut lomba mewarnai, atau naik sepeda tanpa drama—lalu hati saya bertanya lirih, “Kapan, ya, Kakaknya bisa seperti itu? Kapan bisa tenang? Kapan tidak lagi menggigit atau memukul? Kapan saya bisa mengajaknya keluar tanpa rasa cemas atau ketakutan?”.
Dan di saat-saat seperti itu, rasa tidak sabar kadang muncul tanpa permisi. Rasa ingin menyerah datang dengan wajah lelah. Tapi kemudian malam tiba, dan saya melihatnya terlelap setelah seharian berjuang melawan dunia yang tak pernah ramah baginya. Di wajahnya yang damai, saya melihat sosok lain—anak kecil yang tak pernah benar-benar bisa meminta maaf atau mengucap terima kasih, tapi selalu berusaha keras untuk menyampaikan cintanya lewat pelukan atau senyuman singkat yang penuh makna.
Saya sering menangis diam-diam, bahkan beberapa kali tangis itu meledak secara
tiba-tiba. Bukan karena lemah. Tapi karena hati ini terlalu penuh. Penuh dengan cinta yang tak tahu bagaimana caranya keluar. Penuh dengan doa-doa yang belum tahu kapan akan dijawab. Penuh dengan harapan bahwa suatu hari, dunia akan lebih sabar dan lebih adil pada anak saya.
Mendampingi anak dengan kebutuhan khusus bukan jalan yang mudah. Tapi saya percaya, ini adalah jalan yang dipilihkan Tuhan.
“Anak istimewa adalah titipan Tuhan yang tak biasa. Kadang kita merasa terbebani, tapi seringkali lewat merekalah rezeki tak terduga mengalir deras. Sabar bukan sekadar pilihan—ia adalah jembatan menuju pemahaman dan keberkahan.” – Dewa Rhadea
Saya tidak tahu bagaimana masa depan anak pertama saya. Tapi saya tahu satu hal: saya akan tetap di sini. Menjadi pelindungnya. Menjadi penerjemah dunia baginya, dan juga menjadi penerjemah dirinya bagi dunia. Meski lelah, meski terkadang merasa sendiri, saya tahu—ini adalah cinta yang Tuhan sendiri percayakan pada saya.
Dan cinta, tak pernah butuh definisi. [T]
- Dewa Rhadea, papa dari Gangga, Kanha dan Davka
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:










![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-75x75.jpg)















