25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 3, 2025
in Panggung
Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025

Dila Banda di UFF 2025 | Foto: tatkala.co/Dede

ASAP tipis mengepul dari wajan panas, menari di udara yang dipenuhi aroma tumisan bumbu. Di baliknya, sepasang tangan bekerja lincah—menumis, mencicip, dan mengusap pelipis yang dibasahi keringat. Wangi tumisan itu menyelinap ke hidung para penonton, menggelitik rasa penasaran, menggoda langkah untuk mendekat ke panggung.

Hari itu, Minggu, 1 Juni 2025, adalah hari terakhir Ubud Food Festival 2025—festival kuliner prestisius yang kini memasuki tahun ke-10 penyelenggaraannya. Di panggung Teater Kuliner, berdirilah Dila Banda, perempuan bertubuh ramping dengan celemek polos dan senyum yang tak putus-putus. Ia memperkenalkan satu menu khas dari Banda Neira: Terong Saus Kenari.

“Kalau di Maluku namanya kenari, tapi kerennya orang-orang bilang almond nut,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia tertawa kecil, lalu memulai demo dengan meracik bumbu: bawang merah, bawang putih, cabai rebus agar tak terlalu pedas tapi tetap menyala warnanya, ditambah lengkuas, terasi, dan kenari. Semua diblender jadi satu, lalu ditumis sekitar 10 menit dengan empat sendok makan minyak kelapa. Aroma bumbu yang perlahan matang membuat para penonton menelan ludah, mulai saling berbisik, dan diam-diam berharap bisa mencicipi.

Setelah saus kenari siap, Dila mengupas terong satu per satu, memotong, menaburi garam, lalu menggoreng hingga keemasan. Tak ada plating mewah, tak ada pula hiasan modern. Tapi di balik kesederhanaannya, muncul kejujuran rasa yang menggugah. Ketika Dila mengucapkan, “hidangan ini hanya disiapkan untuk sepuluh orang,” penonton refleks bergerak, mengamankan tempat dengan harap-harap cemas.

Dila Banda menumis bumbu | Foto: tatkala.co/Dede

Dila Banda mengawasi proses menggoreng terong | Foto: tatkala.co/Dede

Sebagian penonton yang hadir hari itu, tampak baru pertama kali mendengar nama Banda Neira. Beberapa bahkan bertanya pelan, seolah malu, “Banda Neira itu di mana, ya?” Nama yang asing di telinga, tapi indah ketika dibayangkan.

Banda Neira adalah sebuah pulau di Provinsi Maluku. Untuk mencapainya, dibutuhkan perjalanan panjang selama kurang lebih dua belas jam. Tapi siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di sana tahu, Banda Neira adalah tempat yang menyimpan keajaiban—laut sebening kaca, terumbu karang eksotis, sejarah yang berdesir di tiap sudut, dan rempah-rempah yang dulu membuat bangsa-bangsa saling berebut.

Hingga pertengahan abad ke-19, Banda Neira pernah menjadi pusat perdagangan pala dan fuli (bunga pala) dunia, karena Kepulauan Banda adalah satu-satunya tempat yang menghasilkan rempah-rempah bernilai tinggi. Kota modernnya didirikan oleh anggota VOC, yang membantai penduduk Banda untuk mendapatkan pala pada tahun 1621 dan membawa yang tersisa ke Batavia (kini Jakarta) untuk dijadikan budak.

Pulau ini juga terkenal sebagai tempat pembuangan tahanan politik pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Beberapa tokoh perjuangan nasional yang pernah merasakan tinggal di pulau ini di antaranya Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dan Cipto Mangunkusumo. Pada 2016, rumah tempat Sutan Syahrir dan Mohammad Hatta tinggal telah dijadikan museum, sedangkan rumah Cipto Mangkusumo masih dibiarkan kosong.

Terong Saus Kenari | Foto: tatkala.co/Dede

Para penonton mengantre untuk terong saus kenari | Foto: tatkala.co/Dede

Di pulau itulah Dila Banda memulai perjalanannya di dunia kuliner, sejak usia dua puluh tahun. Bersama suaminya, Rizal Bahalwan, atau yang akrab disapa Abba, mereka mengelola dua penginapan: Mutiara Guest House dan Cilu Bintang Estate. Di sana, Dila menyajikan hidangan autentik Banda—resep turun-temurun dari zaman kolonial, dari tangan para leluhur yang memasak bukan hanya untuk kenyang, tapi juga untuk mengenang.

Hari itu, Abba turut mendampingi Dila. Ia bukan hanya pemilik penginapan, tetapi juga seorang pencerita ulung. Dengan suara tenang dan sorot mata penuh keyakinan, ia berbicara tentang jalur rempah, tentang pohon-pohon kenari yang tumbuh subur, dan bagaimana makanan bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Dila Banda membagikan terong saus kenari kepada penonton | Foto: tatkala.co/Dede

“Datanglah ke Banda Neira, di sana, makanan bukan cuma soal rasa. Ia adalah warisan,” ujar Abba dengan penuh semangat, ia kemudian menceritakan keindahan alam Banda Neira, yang menjadi surga bagi para penyelam, pecinta sejarah, dan penjelajah. Ia menjelaskan bahwa perjalanan ke pulau itu akan membawa pengunjung melewati bentang alam vulkanik, pantai berpasir putih, serta ekosistem bawah laut yang termasuk paling indah di dunia. Lalu, dengan suara yang lantang dan pasti, ia menambahkan: “Suatu saat nanti, kami akan buat Banda Neira Food Festival.”

Seketika, tepuk tangan pecah. Sebab dari cara ia mengatakannya, semua tahu, itu bukan sekadar impian. Itu adalah janji—seperti sepiring terong saus kenari yang dimasak dengan perlahan, menyatukan sejarah, cita rasa, dan harapan dalam hidangan sederhana penuh makna.

Dila Banda (kanan) | Foto: tatkala.co/Dede

                                      

Abba (kiri) dan Dila Banda (kanan) | Foto: tatkala.co/Dede

Tak lama setelah itu, satu per satu penonton yang beruntung mencicipi hidangan buatan Dila, mereka tampak begitu menikmati—mengunyah pelan, mencoba menangkap rasa yang tak mereka kenal tapi terasa akrab. Seorang perempuan muda tampak tertegun sesaat setelah suapan pertama, lalu tersenyum dan berbisik kepada kawannya, “Ini… enak sekali.”

Dan begitulah, dari perayaan kuliner di Ubud, sebuah pulau kecil di timur sana kembali dikenang. Lewat rasa, lewat cerita, lewat sepotong terong yang dilumuri saus kenari, Banda Neira pelan-pelan hadir di hati mereka yang menyaksikan dan mencicipi—mungkin, suatu hari nanti, mereka akan datang sendiri ke sana.

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Pindang Ayam Gunung: Aroma Rumah dari Pangandaran yang Menguar di Ubud Food Festival 2025
Perayaan Penuh Kelezatan di Ubud Food Festival 2025
Ubud Food Festival 2025 Merayakan Potensi Lokal: Made Masak dan Bili Wirawan Siapkan Kejutan
Tags: kulinerUbud Food Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Selalu Bersama Pancasila, Benarkah Demikian?

Next Post

Susu dan Tinggi Badan Anak

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
0
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus...

Read moreDetails

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
0
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan...

Read moreDetails

Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

by tatkala
April 5, 2026
0
Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan...

Read moreDetails

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

DI Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, kreativitas anak muda kembali menemukan bentuknya dalam karya ogoh-ogoh untuk menyambut Nyepi Caka...

Read moreDetails

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
0
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil...

Read moreDetails
Next Post
Puasa Sehat Ramadan: Menu Apa yang Sebaiknya Dipilih Saat Sahur dan Berbuka?

Susu dan Tinggi Badan Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co