2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiga Tips Menggunakan Kecerdasan Buatan Agar Tidak Terjerat Dehumanisasi

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
April 12, 2025
in Esai
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Putu Ayu Sunia Dewi

JAUH sebelum adanya pro-kontra tentang perkembangan teknologi kecerdasan buatan, sebelumnya juga ada fenomena yang sama. Yakni ketika awal mula berkembangnya teknologi ojek online.

Saat ojek online muncul, timbul konflik sosial antara para pelaku ojek konvensional vs yang sudah online. Konflik muncul karena lahan tarikan pelaku ojek konvensional seolah-olah direbut oleh ojek yang sudah online, akibat dari sifat teknologi online sendiri yang tidak kenal dengan batas-batas wilayah tarikan.

Singkat cerita konflik ini pun berujung kekalahan dari pelaku ojek konvensional yang mau tak mau harus beradaptasi ke ranah online. Kini, bahkan, rasa-rasanya ojek yang konvensional total sudah jarang kita jumpai. Justru layanan ojek online kini semakin canggih dengan merambah berbagai bidang kebutuhan dengan tawaran keuntungan yang menggiurkan.

Bergerak dari kejadian yang nyata ke scifi, mungkin kita ingat dengan film “I, Robot” yang diperankan oleh Will Smith pada tahun 2005. Film itu bercerita  tentang perkembangan robot baru yang semakin menyerupai manusia, yang hasil akhirnya justru membuat robot itu memberontak terhadap manusia yang menciptakan mereka.

Ada salah satu scene menarik di film yang melibatkan pemikiran Isacc Asimov, novelis yang bergenre futuris (masa depan) itu saat segerombolan robot baru menyerang pusat penyimpangan robot lama yang disaksikan oleh tokoh yang diperankan Will Smith itu.

Dua cerita dari sudut pandang yang berbeda ini secara garis besar menceritakan tiga kepastian kondisi yang akan kita alami dari pekembangan teknologi itu sendiri. Yaitu, pertama, kondisi dari perubahan teknologi yang bakal berpengaruh terhadap cara kita melakukan pekerjaan. Kedua, kondisi dari kebaruan  yang  membuat teknologi lama hilang tak berbekas, sehingga mau tak mau kita  juga harus mengubah teknologi yang kita pakai. Dan, ketiga, tentang kondisi ketidakkontrolan dari teknologi-teknologi baru yang justru menjadi ancaman untuk kemanusiaan bak film terminator atau “I, Robot”.

Perihal kondisi yang ketiga sebenarnya pada saat perayaan ogoh-ogoh tahun ini ada satu karya bernas dari seorang seniman ogoh-ogoh  asal Denpasar, Bli Marmar dalam karyanya berjudul KI AI NIR NUR,  menceritakan bagaimana perkembangan kecerdasan tanpa kesadaran justru membuat alam bertindak memberi balasan. Tentu kita tidak ingin perkembangan teknologi kemudian merusak batasan sehingga semesta meresponnya dengan rangkaian fenomena yang tidak kita inginkan.  

Jika kita kontekskan dalam perkembangan kecerdasan buatan yang semakin hari semakin meningkat kemampuannya itu maka tiga kondisi yang saya sebutkan sebelumya, memang  tidak dapat  hindari. Boleh-boleh saja kita terbelah ke dalam pro dan kontra, namun hasil akhirnya hanya memberikan kita dua pilihan untuk beradapatasi (menyesuaikan diri) atau malah terjebak dalam stagnasi (ketidakberubahan).

Thomas Friedman pernah berhipotesis jika kemajuan teknologi sangatlah cepat berbanding terbalik dengan kemampuan kita beradaptasi dengannya, Oleh karena itu, dalam konteks AI, kemampuan kita beradaptasi amat menentukan output yang dapat kita raih dari AI itu sendiri. Tapi, adaptasi juga ada dua kategori. yaitu  beradaptasi secara bijak atau malah  beradaptasi yang  “mengikut arus”.Pada kondisi yang pertama adaptasi kita masih terkontrol dan memberi output yang tidak  menjebak kita pada dehumanisasi sementara pada kondisi yang kedua justru terjadi sebaliknya.

Setidaknya ada tiga tips yang dapat kita jadikan praksis agar adaptasi kita bijak.

Tips yang pertama, jadikan kecerdasan buatan sebagai mitra kita untuk melatih cara berpikir bukan malah menumpulkan pikiran.

Kalau dicermati perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang sudah dapat berpikir layaknya manusia, apalagi setelah lulus uji tes turing yang menjadi barometer intelegensi mesin pembelajaran (machine learning), sebagaimana dirilis oleh media futurism (2025) baru-baru ini, berdasarkan hasil riset oleh Cameron Jones, peneliti di Lab Bahasa dan Kognisi UC San Diego itu dapat dijadikan sarana untuk berdialektika. Atau, dalam bahasa sederhananya bertukar dan menguji kualitas kita berpikir.

Tapi, tips yang pertama ini harus dimulai dari kemampuan kita untuk bertanya secara benar dan merespon hasil dari kecerdasan buatan itu secara kritis, tidak asal terjebak budaya copy-paste yang justru menumpulkan pikiran.

Tips yang kedua: tetapkan batasan etika dalam penggunaan AI. Sebelum mengadopsi AI, buatlah pedoman etika yang jelas dan berkomitmenlah terhadap etika itu. Sadar akan konsukensi secara sosial, agama, dan hukum menjadi hal penting yang harus dilakukan,  Misalnya, hindari penggunaan AI untuk manipulasi data atau penyebaran hoaks.

Tips yang ketiga, beri batasan terhadap peran AI ketika menyelesaikan suatu pekerjaan,  hal ini menjadi amat penting agar kita tidak terjebak dalam budaya instan yang justru menumpulkan naluri terhadap karya, karsa, dan rasa. AI memang mempermudah pekerjaan kita namun bukan berarti menjebak kita kedalam kedangkalan pola pikir ataupun perilaku, oleh karena itu beri batasan terhadap peran AI dalam setiap aktivis yang ingin kita kerjakan menggunakan AI itu sendiri. 

Pada akhirnya kemajuan AI akan berpengaruh terhadap cara kita menjalani kehidupan kedepannya, AI bagaikan pisau bermata dua yang dapat mempermudah namun juga merugikan bergantung kepada kita dalam menggunakannya.

Oleh karena itu beradaptasi secara bijak, rasional, dan beretika menjadi prinsip serta pilihan yang harus kita lakukan agar AI tidak menurunkan kualitas kemanusiaan kita yang sudah sebaik-baiknya diciptakan oleh Tuhan sebagaimana diksi teologis ‘Imago dei’ atau manusia diciptakan menurut gambar dan rupa dari pencipta itu yang tentu saja  membedakannya dari ciptaan lainnya karena memiliki kualitas seperti kecerdasan, kebebasan berkehendak, dan kemampuan untuk berhubungan yang tidak boleh rusak hanya karena perkembangan AI yang semakin muktahir. [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Adnyana Ole

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?
ChatGPT, Solusi Cerdas atau Sekadar Jalan Pintas?
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme
Tags: AIkomunikasitekhnologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari SMK Fest:  Ruang Kontemplatif untuk Merefleksikan Arah Pendidikan Vokasi di Bali

Next Post

Puisi-puisi Yahya Umar | Cinta, Tuntunlah Rindu Menuju Jalan Pulang

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yahya Umar | Cinta, Tuntunlah Rindu Menuju Jalan Pulang

Puisi-puisi Yahya Umar | Cinta, Tuntunlah Rindu Menuju Jalan Pulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co