23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
March 31, 2025
in Esai
Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Ilustrasi: tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

SETIAP tahun, ketika musim mudik tiba, lautan manusia bergegas pulang ke kampung halaman. Mereka yang beruntung mendapatkan tiket pesawat atau kereta api berangkat lebih awal, sementara yang lain memilih perjalanan darat berjam-jam, menghadapi kemacetan yang tak terelakkan. Namun, bagi sebagian orang, terutama mereka yang tinggal di luar negeri atau berada dalam kondisi tertentu, mudik tidak lebih dari sekadar kerinduan yang terus mengendap. Tidak ada tiket di tangan, tidak ada koper yang dikemas, hanya kenangan yang menggantikan perjalanan fisik.

Fenomena ini begitu akrab bagi diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Mereka yang tinggal di Eropa, Amerika, Timur Tengah, atau bahkan Asia Tenggara, sering kali harus merelakan kenyataan bahwa pulang kampung bukanlah sesuatu yang mudah. Ada yang terkendala biaya, ada yang terhambat urusan pekerjaan, dan ada pula yang tidak bisa kembali karena regulasi keimigrasian atau alasan lainnya. Maka, bagi mereka, mudik menjadi sesuatu yang dilakukan dalam ingatan, bukan dalam langkah.

Bagi seorang diaspora, pulang ke kampung halaman bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah peristiwa emosional yang kompleks. Rindu akan rumah, suasana Lebaran yang hangat, dan kehadiran keluarga menjadi bagian dari perasaan yang sulit diabaikan. Mereka yang tidak bisa pulang sering kali menemukan cara lain untuk mendekatkan diri dengan keluarga. Teknologi menjadi jembatan bagi mereka yang terpisah ribuan kilometer dari orang-orang tercinta.

 Video call menjadi sarana untuk menyaksikan kebahagiaan keluarga di kampung, meskipun hanya melalui layar. Suara takbir yang dikirimkan dalam rekaman suara, foto-foto hidangan khas Lebaran yang dibagikan melalui media sosial, hingga percakapan larut malam dengan keluarga di tanah air menjadi cara alternatif bagi mereka yang tidak bisa pulang.

Banyak diaspora mengakui bahwa ada rasa sepi yang menyelinap di tengah gegap gempita perayaan Lebaran. Ketika teman-teman mereka di perantauan berkumpul untuk saling menguatkan, suasana tetap terasa berbeda dibandingkan dengan merayakan Lebaran di rumah sendiri. Tak ada opor ayam yang dimasak oleh ibu, tak ada pelukan erat dari ayah, tak ada canda tawa dengan saudara-saudara di pagi hari. Mereka yang tinggal di negara yang tidak memiliki komunitas Muslim yang besar sering kali menjalani Lebaran sebagai hari biasa. Tidak ada libur nasional, tidak ada gema takbir di sudut-sudut kota, hanya mereka sendiri yang tahu bahwa hari itu seharusnya menjadi hari yang istimewa.

Di balik semua itu, ada kekuatan yang tumbuh dalam hati mereka yang tidak bisa pulang. Mereka belajar untuk menghargai arti rumah, arti keluarga, dan arti kebersamaan dengan cara yang lebih mendalam. Banyak dari mereka yang akhirnya membangun tradisi baru di tanah rantau. Beberapa komunitas diaspora mengadakan acara Lebaran bersama, di mana makanan khas Indonesia dihidangkan dan cerita-cerita masa kecil kembali dikenang. Ada pula yang memilih untuk melakukan refleksi diri, menulis surat untuk keluarga yang tak sempat dikirimkan, atau sekadar menonton film Indonesia untuk mengobati rindu.

Pulang dalam ingatan juga berarti membawa serta kenangan yang telah tertanam sejak kecil. Aroma rendang yang dimasak sehari sebelum Lebaran, suara petasan yang mewarnai malam takbiran, hingga tradisi sungkeman yang selalu membuat hati hangat. Semua itu menjadi harta yang tersimpan di dalam memori dan sesekali dikeluarkan kembali ketika rindu datang melanda. Dalam diam, mereka yang tidak bisa pulang tetap merasakan kehadiran kampung halaman dalam diri mereka.

Ada diaspora yang menjadikan ketidakhadiran mereka sebagai sebuah pelajaran hidup. Mereka menyadari bahwa rumah bukanlah sekadar tempat fisik, melainkan juga sebuah keadaan hati. Sebagian besar dari mereka mulai memahami bahwa kebersamaan sejati tidak selalu harus diukur dari jarak yang ditempuh, tetapi dari seberapa dalam mereka menghargai momen-momen kecil yang pernah mereka lalui bersama keluarga. Lebaran tidak lagi hanya tentang berkumpul di satu tempat, tetapi tentang bagaimana mereka tetap terhubung meskipun berjauhan.

Lebih jauh lagi, ada fenomena menarik di mana diaspora justru menjadi penghubung antara tradisi Lebaran Indonesia dengan budaya lokal tempat mereka tinggal. Beberapa dari mereka memperkenalkan makanan khas Lebaran kepada teman-teman mereka di luar negeri, mengundang rekan kerja untuk ikut merasakan kebersamaan, dan bahkan mengadakan acara kecil untuk menjelaskan makna Idul Fitri. Dalam hal ini, mereka tidak hanya membawa ingatan tentang kampung halaman, tetapi juga menyebarkan kebudayaan mereka ke tempat baru.

Seiring waktu, teknologi yang semakin canggih membuat pengalaman mudik virtual menjadi lebih nyata. Kini, dengan bantuan video 360 derajat atau VR (Virtual Reality), beberapa diaspora bahkan dapat merasakan suasana kampung halaman secara lebih mendalam. Beberapa keluarga di Indonesia mulai menggunakan teknologi ini untuk membawa pengalaman Lebaran lebih dekat bagi mereka yang tidak bisa pulang. Meski tetap tidak bisa menggantikan sentuhan fisik, setidaknya ini menjadi solusi kecil bagi mereka yang terpisah oleh jarak.

Mudik tanpa tiket bukan berarti kehilangan esensi pulang itu sendiri. Pulang tidak selalu harus dilakukan dengan langkah kaki, tetapi juga bisa dengan menghidupkan kembali kenangan, menjaga komunikasi dengan keluarga, dan tetap merawat tradisi meskipun di tanah rantau. Bagi mereka yang tidak bisa mudik, rindu memang selalu menjadi teman. Namun, dalam rindu itu pula ada kehangatan yang terus dijaga, ada cinta yang tetap tumbuh, dan ada rumah yang selalu ada dalam hati, meskipun tidak bisa didatangi secara fisik.

Lebaran adalah tentang kembali ke fitrah, tentang merayakan kebersamaan dalam bentuk apa pun yang memungkinkan. Mereka yang bisa pulang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sementara mereka yang tidak bisa, tetap bisa merayakan dengan cara mereka sendiri. Tidak ada tiket pesawat yang bisa mengantar mereka pulang, tetapi ada satu hal yang selalu bisa membawa mereka kembali ke kampung halaman, kenangan yang tak pernah pudar, dan kasih sayang yang selalu tersimpan di hati. Bagi diaspora, mudik sejati adalah ketika mereka tetap merasa dekat, meskipun berada di tempat yang jauh. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Idulfitri ala Mahasiswa Rantau di Singaraja: Bertamu, Menelepon Ibu, dan Menangis Usai Sholat Ied
Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian
Mudik ke Bali
Tags: Idul FitriIdulfitriIslammudikmudik lebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”

Next Post

Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co