6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

I Dewa Gede Yoga by I Dewa Gede Yoga
March 23, 2025
in Esai
Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli

Pichi Cello Bone Unit Terkecil Masyarakat Kebon

Secara sosiologis kehidupan manusia dari zaman purba sampai bertransformasi menjadi manusia modern tidak bisa dilepaskan dari kehidupan guyub atau komunitas. Hari ini kalau bicara komunitas tentu sudah tidak asing lagi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Komunitas sederhananya didefinisikan sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki tujuan, nilai, dan kepentingan yang sama. Kalau di Bali istilah komunitas identik dengan sebutan sekaa.

Dalam kehidupan masyarakat, sebuah komunitas memiliki peran yang sentral sebagai wadah interaksi sosial yang dapat menumbuhkan dan memperkuat hubungan antar individu. Secara eksplisit, komunitas bukan hanya sekadar kumpulan individu yang berdomisili di suatu wilayah, tetapi di satu sisi komunitas ini melakukan pergerakan-pergerakan baik dalam ruang kemanusiaan, keagamaan, adat, dan budaya.

Salah satu komunitas yang lahir dan tumbuh di Banjar Kebon, Susut, Bangli, adalah komunitas Pichi Cello Bone. Komunitas berlogo keong ini lahir pada tahun 2010 dari obrolan-obrolan ringan pemuda-pemuda usia belasan tahun. Walaupun mereka melahirkan idenya dari obrolan-obrolan ringan namun dari segi identitas nama maupun dan logo mereka tuangkan sarat akan penggambaran kehidupan di pedesaan yang tidak jauh-jauh dari alam sebagai sumber kehidupan.

Kata Pichi (pici) artinyatutut sawah, Cello (selo) artinyaubi, kemudian Bone (bun) artinya daun ubi. Pici, selo, dan bun ialah makanan khas orang pedesaan. Kemudian logo keong menyiratkan jalan keong yang pelan-pelan namun ketika berpindah dari satu tempat ke tempat akan tetap sampai. Sekiranya ini bentuk filosofis masyarakat khususnya pemuda-pemuda tetap berjalan walaupun dengan langkah kecil pasti akan mencapai titik puncaknya—tujuannya masing-masing.

Komunitas ini, walaupun dibentuk oleh golongan-golongan muda tetapi anggotanya meliputi golongan-golongan tua, kami menyebutnya dengan istilah duur sasur. Tentunya orang-orang di dalamnya berlatar belakang profesi yang berbeda-beda—ini bukan menjadi perihal persoalan yang serius, semasih bisa diajak bekerjasama dan berfikir kenapa tidak.

Perjalanan panjang telah dilalui, 15 tahun berdiri sampai sekarang masih tetap ajeg. Kilas baliknya, tentu setiap perjalanannya yang dilalui tidak selalu berada dalam lintasan yang mulus, terkadang harus melewati lintasan kerikil dan batu-batu besar. Artinya setiap komunitas dalam perjalanannya akan selalu menemukan jalan yang terjal dan akan mengalami dinamika-dinamika setiap generasinya.

Bagaimanapun, ini adalah suatu hal yang wajar dan umum, ketika menyatukan isi kepala yang berbeda ke dalam satu wadah komunitas, silang pandang pendapat kerap terjadi, namun ini bukan menjadi suatu rintangan yang berat untuk melangkah lebih jauh lagi.

Merayakan Perjalanan

Setiap perjalanan perlu dirayakan begitulah kira-kira celetukan dari beberapa orang-orang komunitas. Lebih-lebih ini perjalanan komunitas yang masih tetap eksis sampai sekarang ditengah-tengah kesibukan manusia-manusia di dalamnya. Tahun ini merupakan momentum yang tepat untuk merayakan ini perjalanan panjang ini, mengingat sebagian besar orang-orang di komunitas bekerja di sektor pariwisata.

Dengan waktu di kampung yang lumayan panjang selain menikmati waktu dengan anak, istri, dan keluarga, berkumpul dengan teman-teman komunitas di kampung adalah salah satu agenda yang wajib untuk menjaga komunikasi dan simakrama satu dengan lainnya.

Seperti pada umumnya, agenda selayaknya perayaan komunitas yang dilangsungkan dengan meriah dan hikmat. Tak luput juga dilanjutkan dengan sesi diskusi terkait agenda komunitas selanjutnya. Lebih jauh lagi, perayaan ini dalam pelaksanaannya memperoleh dana dari sumbangan sukarela anggota, artinya uang iurannya tidak dipatok dengan nominal tertentu, namun diberlakukan semampu dan seikhlasnya saja.

Tentang Kemanusiaan

Di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan, terkadang di luar sana masih banyak saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan. Maka dari itu, berangkat dari rasa kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong, komunitas Pichi Cello Bone hadir di tengah-tengah masyarakat yang memiliki misi untuk berbagi dan peduli dengan sesama, khususnya bagi masyarakat Kebon itu sendiri.

Seperti yang disebutkan di atas, anggota yang terdiri dari beragam profesi tidak menyurutkan untuk mereka saling berkolaborasi dalam aksi kemanusian ini. Bahkan, dalam aksi kemanusian ini, mereka melakukannya dengan tulus ikhlas dan penuh bersemangat tanpa adanya unsur paksaan diri.

Kami sangat percaya bahwa sekecil apa pun bentuk bantuan yang diberikan, jika dilakukan dengan rasa tulus ikhlas, akan membawa dampak besar bagi kehidupan orang lain. Dengan ini, kami akan selalu berharap komunitas ini selalu hadir dan siap untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di bawah ini dua foto dokumentasi aksi kemanusiaan kami, dimana sasaran kami adalah para lansia-lansia di kampung yang notabene sudah berstatus janda dan duda. Kebaikan bukan hanya tentang memberi, tetapi bagaimana membentuk kesadaran setiap orang untuk peduli dengan sesama, terkhusus pada peduli dengan lingkungan tempat tinggal terlebih dahulu. Lebih jauh, dengan aksi-aksi seperti ini semoga semua pihak yang berada di Banjar Kebon khususnya untuk selalu bersyukur dan pentingnya memiliki rasa kemanusiaan antar sesama.

Tentang Kontribusi Menjaga Adat dan Tradisi

Di balik orientasi pemikiran manusia semakin maju dan kapitalis dan ini sejalan dengan makna filosofis dari logo keong yang berjalan dengan pelan-pelan akhirnya akan menemukan titik finish-nyasebagai orang yang memiliki niat dan keinginan yang besar untuk menjadi sukses dengan jalan masing-masing. Di balik itu tentang adat dan tradisi jangan pernah sampai terpinggirkan, adat dan tradisi merupakan hal penting dan ini digunakan sebagai bahan refleksi untuk membangun kualitas SDM yang maju dengan semangat gotong royong dan penuh akan rasa persaudaraan.

Dengan kesadaran penuh, kami di komunitas selalu mendukung penuh hal-hal yang berkaitan dengan menjaga adat dan tradisi. sebagai contoh, dari pengumpulan dana untuk kegiatan merayakan perjalanan komunitas Pichi Cello Bone, uang dari seluruh donatur yang sudah terkumpul, 80% disumbangkan untuk revitalisasi pegayungan/tigasana di Pura Pucak Tedung Sari.

Sederhananya, ini merupakan sebuah kepedulian kami atas menjaga adat dan tradisi, walaupun dananya yang disumbangkan tidak seberapa, namun setidaknya kami sudah memiliki bentuk inisiatif untuk terus menjaga adat dan tradisi khususnya di Banjar Kebon.

Harapan Penulis

Komunitas bukan hanya sekadar tempat berseminya individu-individu dalam satu wadah dengan latar belakang minat, tetapi juga sebagai tempat untuk menyalurkan ide-ide, inspirasi, dan perubahan. Komunitas tidak hanya kuat dalam mencari ide-ide kreatif namun ada hal yang lebih penting dari sekadar mencari ide-ide dan berkata-kata, yakni dengan tindakan nyata sehingga muncul semangat bersama.

Harapan saya sebagai penulis, yang secara langsung saya juga sebagai anggota dari komunitas ini. Dengan perjalanan panjang selama 15 tahun teruslah bertumbuh dan membaur dengan masyarakat dan yang terpenting tebarkan selalu manfaat kepada masyarakat sekitar kalian. Walaupun kalian memiliki profesi berbeda-beda, memiliki penghasilan yang berbeda-beda, memiliki pilihan politik yang berbeda, status sosial berbeda jangan hal tersebut digunakan sebagai alat untuk memecah belah satu sama lain.

Saya berharap antar anggota di komunitas ini tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dan yang tak kalah pentingnya terkait dengan program-program tidak hanya berjalan tahun ini saja, namun seharusnya ini dilaksanakan secara rutin. Bahkan diharuskan merambat ke sektor pendidikan, ini tidak kalah pentingnya juga bagi anak-anak generasi penerus dan jangan sampai ada yang putus sekolah gara-gara faktor ekonomi.

Di tengah-tengah kehidupan yang semakin individualistis, komunitas ini seyogyanya menjadi sebuah wadah untuk memberikan pemahaman bahwa semua orang itu memiliki kesempatan untuk berkontribusi untuk orang lain.

Pada sisi lain juga saya menyadari betul, setiap orang mempunyai karakter dan watak yang berbeda-beda, ketika sudah berada dalam komunitas ini, semua hal-hal buruk yang masih membelenggu kalian dinetralkan dahulu. Mari bersama-sama membangun dan memajukan Banjar Kebon yang kita cintai ini dengan penuh semangat kolektif. [T]

Penulis: I Dewa Gede Yoga
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I DEWA GEDE YOGA

Bali Dalam Politik: Pola Kampanye Semu Calon Pejabat Publik Dilihat Dari Perspektif Dramaturgi Erving Goffman
Memikirkan Perempuan Bali di Tengah Budaya Patriarki
Sentimen Politik Jelang Pilkada dalam Media Sosial
Tags: Banglidesa susutkomunitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini

Next Post

Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

I Dewa Gede Yoga

I Dewa Gede Yoga

Kelahiran Bangli, alumni jurusan sosiologi Undiksha Singaraja tahun 2022

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co