30 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

I Dewa Gede Yoga by I Dewa Gede Yoga
March 23, 2025
in Esai
Dari Banjar Kembali ke Banjar: Catatan 15 Tahun Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli Membangun Masyarakat

Komunitas “Pichi Cello Bone” dari Susut-Bangli

Pichi Cello Bone Unit Terkecil Masyarakat Kebon

Secara sosiologis kehidupan manusia dari zaman purba sampai bertransformasi menjadi manusia modern tidak bisa dilepaskan dari kehidupan guyub atau komunitas. Hari ini kalau bicara komunitas tentu sudah tidak asing lagi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Komunitas sederhananya didefinisikan sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki tujuan, nilai, dan kepentingan yang sama. Kalau di Bali istilah komunitas identik dengan sebutan sekaa.

Dalam kehidupan masyarakat, sebuah komunitas memiliki peran yang sentral sebagai wadah interaksi sosial yang dapat menumbuhkan dan memperkuat hubungan antar individu. Secara eksplisit, komunitas bukan hanya sekadar kumpulan individu yang berdomisili di suatu wilayah, tetapi di satu sisi komunitas ini melakukan pergerakan-pergerakan baik dalam ruang kemanusiaan, keagamaan, adat, dan budaya.

Salah satu komunitas yang lahir dan tumbuh di Banjar Kebon, Susut, Bangli, adalah komunitas Pichi Cello Bone. Komunitas berlogo keong ini lahir pada tahun 2010 dari obrolan-obrolan ringan pemuda-pemuda usia belasan tahun. Walaupun mereka melahirkan idenya dari obrolan-obrolan ringan namun dari segi identitas nama maupun dan logo mereka tuangkan sarat akan penggambaran kehidupan di pedesaan yang tidak jauh-jauh dari alam sebagai sumber kehidupan.

Kata Pichi (pici) artinyatutut sawah, Cello (selo) artinyaubi, kemudian Bone (bun) artinya daun ubi. Pici, selo, dan bun ialah makanan khas orang pedesaan. Kemudian logo keong menyiratkan jalan keong yang pelan-pelan namun ketika berpindah dari satu tempat ke tempat akan tetap sampai. Sekiranya ini bentuk filosofis masyarakat khususnya pemuda-pemuda tetap berjalan walaupun dengan langkah kecil pasti akan mencapai titik puncaknya—tujuannya masing-masing.

Komunitas ini, walaupun dibentuk oleh golongan-golongan muda tetapi anggotanya meliputi golongan-golongan tua, kami menyebutnya dengan istilah duur sasur. Tentunya orang-orang di dalamnya berlatar belakang profesi yang berbeda-beda—ini bukan menjadi perihal persoalan yang serius, semasih bisa diajak bekerjasama dan berfikir kenapa tidak.

Perjalanan panjang telah dilalui, 15 tahun berdiri sampai sekarang masih tetap ajeg. Kilas baliknya, tentu setiap perjalanannya yang dilalui tidak selalu berada dalam lintasan yang mulus, terkadang harus melewati lintasan kerikil dan batu-batu besar. Artinya setiap komunitas dalam perjalanannya akan selalu menemukan jalan yang terjal dan akan mengalami dinamika-dinamika setiap generasinya.

Bagaimanapun, ini adalah suatu hal yang wajar dan umum, ketika menyatukan isi kepala yang berbeda ke dalam satu wadah komunitas, silang pandang pendapat kerap terjadi, namun ini bukan menjadi suatu rintangan yang berat untuk melangkah lebih jauh lagi.

Merayakan Perjalanan

Setiap perjalanan perlu dirayakan begitulah kira-kira celetukan dari beberapa orang-orang komunitas. Lebih-lebih ini perjalanan komunitas yang masih tetap eksis sampai sekarang ditengah-tengah kesibukan manusia-manusia di dalamnya. Tahun ini merupakan momentum yang tepat untuk merayakan ini perjalanan panjang ini, mengingat sebagian besar orang-orang di komunitas bekerja di sektor pariwisata.

Dengan waktu di kampung yang lumayan panjang selain menikmati waktu dengan anak, istri, dan keluarga, berkumpul dengan teman-teman komunitas di kampung adalah salah satu agenda yang wajib untuk menjaga komunikasi dan simakrama satu dengan lainnya.

Seperti pada umumnya, agenda selayaknya perayaan komunitas yang dilangsungkan dengan meriah dan hikmat. Tak luput juga dilanjutkan dengan sesi diskusi terkait agenda komunitas selanjutnya. Lebih jauh lagi, perayaan ini dalam pelaksanaannya memperoleh dana dari sumbangan sukarela anggota, artinya uang iurannya tidak dipatok dengan nominal tertentu, namun diberlakukan semampu dan seikhlasnya saja.

Tentang Kemanusiaan

Di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan, terkadang di luar sana masih banyak saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan. Maka dari itu, berangkat dari rasa kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong, komunitas Pichi Cello Bone hadir di tengah-tengah masyarakat yang memiliki misi untuk berbagi dan peduli dengan sesama, khususnya bagi masyarakat Kebon itu sendiri.

Seperti yang disebutkan di atas, anggota yang terdiri dari beragam profesi tidak menyurutkan untuk mereka saling berkolaborasi dalam aksi kemanusian ini. Bahkan, dalam aksi kemanusian ini, mereka melakukannya dengan tulus ikhlas dan penuh bersemangat tanpa adanya unsur paksaan diri.

Kami sangat percaya bahwa sekecil apa pun bentuk bantuan yang diberikan, jika dilakukan dengan rasa tulus ikhlas, akan membawa dampak besar bagi kehidupan orang lain. Dengan ini, kami akan selalu berharap komunitas ini selalu hadir dan siap untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di bawah ini dua foto dokumentasi aksi kemanusiaan kami, dimana sasaran kami adalah para lansia-lansia di kampung yang notabene sudah berstatus janda dan duda. Kebaikan bukan hanya tentang memberi, tetapi bagaimana membentuk kesadaran setiap orang untuk peduli dengan sesama, terkhusus pada peduli dengan lingkungan tempat tinggal terlebih dahulu. Lebih jauh, dengan aksi-aksi seperti ini semoga semua pihak yang berada di Banjar Kebon khususnya untuk selalu bersyukur dan pentingnya memiliki rasa kemanusiaan antar sesama.

Tentang Kontribusi Menjaga Adat dan Tradisi

Di balik orientasi pemikiran manusia semakin maju dan kapitalis dan ini sejalan dengan makna filosofis dari logo keong yang berjalan dengan pelan-pelan akhirnya akan menemukan titik finish-nyasebagai orang yang memiliki niat dan keinginan yang besar untuk menjadi sukses dengan jalan masing-masing. Di balik itu tentang adat dan tradisi jangan pernah sampai terpinggirkan, adat dan tradisi merupakan hal penting dan ini digunakan sebagai bahan refleksi untuk membangun kualitas SDM yang maju dengan semangat gotong royong dan penuh akan rasa persaudaraan.

Dengan kesadaran penuh, kami di komunitas selalu mendukung penuh hal-hal yang berkaitan dengan menjaga adat dan tradisi. sebagai contoh, dari pengumpulan dana untuk kegiatan merayakan perjalanan komunitas Pichi Cello Bone, uang dari seluruh donatur yang sudah terkumpul, 80% disumbangkan untuk revitalisasi pegayungan/tigasana di Pura Pucak Tedung Sari.

Sederhananya, ini merupakan sebuah kepedulian kami atas menjaga adat dan tradisi, walaupun dananya yang disumbangkan tidak seberapa, namun setidaknya kami sudah memiliki bentuk inisiatif untuk terus menjaga adat dan tradisi khususnya di Banjar Kebon.

Harapan Penulis

Komunitas bukan hanya sekadar tempat berseminya individu-individu dalam satu wadah dengan latar belakang minat, tetapi juga sebagai tempat untuk menyalurkan ide-ide, inspirasi, dan perubahan. Komunitas tidak hanya kuat dalam mencari ide-ide kreatif namun ada hal yang lebih penting dari sekadar mencari ide-ide dan berkata-kata, yakni dengan tindakan nyata sehingga muncul semangat bersama.

Harapan saya sebagai penulis, yang secara langsung saya juga sebagai anggota dari komunitas ini. Dengan perjalanan panjang selama 15 tahun teruslah bertumbuh dan membaur dengan masyarakat dan yang terpenting tebarkan selalu manfaat kepada masyarakat sekitar kalian. Walaupun kalian memiliki profesi berbeda-beda, memiliki penghasilan yang berbeda-beda, memiliki pilihan politik yang berbeda, status sosial berbeda jangan hal tersebut digunakan sebagai alat untuk memecah belah satu sama lain.

Saya berharap antar anggota di komunitas ini tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dan yang tak kalah pentingnya terkait dengan program-program tidak hanya berjalan tahun ini saja, namun seharusnya ini dilaksanakan secara rutin. Bahkan diharuskan merambat ke sektor pendidikan, ini tidak kalah pentingnya juga bagi anak-anak generasi penerus dan jangan sampai ada yang putus sekolah gara-gara faktor ekonomi.

Di tengah-tengah kehidupan yang semakin individualistis, komunitas ini seyogyanya menjadi sebuah wadah untuk memberikan pemahaman bahwa semua orang itu memiliki kesempatan untuk berkontribusi untuk orang lain.

Pada sisi lain juga saya menyadari betul, setiap orang mempunyai karakter dan watak yang berbeda-beda, ketika sudah berada dalam komunitas ini, semua hal-hal buruk yang masih membelenggu kalian dinetralkan dahulu. Mari bersama-sama membangun dan memajukan Banjar Kebon yang kita cintai ini dengan penuh semangat kolektif. [T]

Penulis: I Dewa Gede Yoga
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I DEWA GEDE YOGA

Bali Dalam Politik: Pola Kampanye Semu Calon Pejabat Publik Dilihat Dari Perspektif Dramaturgi Erving Goffman
Memikirkan Perempuan Bali di Tengah Budaya Patriarki
Sentimen Politik Jelang Pilkada dalam Media Sosial
Tags: Banglidesa susutkomunitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini

Next Post

Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

I Dewa Gede Yoga

I Dewa Gede Yoga

Kelahiran Bangli, alumni jurusan sosiologi Undiksha Singaraja tahun 2022

Related Posts

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails
Next Post
Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali
Pendidikan

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

DENPASAR | TATKALA.CO -- Tim Penelitian Fundamental menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Formulasi Konsep Drama Tari Berbahasa Inggris Berbasis...

by Dewi Yulianti
July 29, 2026
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik
Esai

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
Layar Redup, Pembelajaran Hidup
Esai

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”
Pameran

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Ulas Pentas

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja
Panggung

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

by Yahya Umar
July 28, 2026
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati
Ulas Rupa

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

by Angga Wijaya
July 28, 2026
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata
Khas

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 
Pemerintahan

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

BULELENG | TATKALA.CO -- Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Kerja bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten...

by tatkala
July 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co