23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
March 19, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

MESKIPUN saat ini ada gelombang pesimisme terhadap Indonesia, setidaknya tanah dan air tempat dimana kita lahir dan kembali pada ilahi kelak ini masih tetap dikenal sebagai kawasan yang kaya, bukan hanya pada persoalan sumber daya alamnya, namun juga keberagaman yang melekat menjadi sifat yang menyatukan kita sebagai manusia Indonesia dari masa lalu, masa kini, dan nanti.

Kalau kata seorang sahabat di platform twitter, ‘Admixture increases diversity’: percampuran genetik kelompok-kelompok yang berbeda pada akhirnya  meningkatkan keberagaman yang harus menjadi  paradigma ketika mengungkap sejarah manusia Indonesia dengan segala problematikanya.

Karena beragam tadi, pada akhirnya kita bukan hanya dapat hidup bersama, namun juga ikut merayakan ritus-ritus dalam konteks sosial dari mereka yang berbeda. Seringkali perayaan antara umat satu dengan umat lainnya berdekatan. Mungkin sebuah  kebetulan, namun dari yang kebetulan itu  dapat dijadikan momentum untuk merefleksikan kembali kondisi keberagaman kita di tengah tantangan multidimensi seperti intoleransi, kesenjangan sosial, dan polarisasi.

Sekali lagi pada tahun 2025 ini, perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1446H dan Nyepi (1947 Saka) dirayakan berdekatan di akhir bulan Maret 2025. Sepertinya kita diingatkan kembali bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang mampu menjembatani perbedaan sekaligus menjawab tantangan dengan berpijak pada kekuatan spiritual yang kita yakini.

Jadi sudah selayaknya ada proses refleksi tentang spirit Nyepi dan Idul Fitri, yang berakar pada ajaran agama dan filsafat hidup itu untuk  menjadi fondasi untuk membangun solidaritas sosial yang progresif, inklusif, dan berkeadilan.

Makna Idul Fitri dan Nyepi

Hari Raya Idul Fitri dalam pemaknaan teologis umat Islam merupakan  puncak kemenangan setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadan. Hari yang  melambangkan kembalinya manusia kepada fitrah, yaitu keadaan suci dan murni, serta menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan melalui saling memaafkan.

Dalam Al-Qur’an, esensi Ramadan dan Idul Fitri tercermin dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bertujuan membentuk takwa—kesadaran akan Allah yang tercermin dalam perilaku penuh kasih dan hormat kepada sesama. Idul Fitri, dengan tradisi halal bihalal-nya, menjadi wujud nyata dari semangat rekonsiliasi dan toleransi.

Sebaliknya, Hari Nyepi adalah hari keheningan yang unik dalam tradisi Hindu, khususnya di Bali. Sependek pengetahuan saya  hanya Hindu di Indonesia saja yang melaksanakan tradisi Nyepi—ini jika dibandingkan dengan Hindu di Malaysia, tempat saya berdomisili saat ini yang mayoritasnya berasal dari etnis tamil itu.  Perayaan Hindu yang dirayakan di Malaysia seperti Deepavali dan Thaipussam sangat jauh dari keheningan seperti Nyepi, namun sama-sama menarik secara ritus di mana Hindu dipraktikkan mengikuti tempat di mana dia berpijak.

Nyepi yang selama 24 jam mengharuskan dihentikannya aktivitas duniawi di tengah budaya yang hustle atau terburu-buru pada akhirnya  membawa situasi yang mendorong kita bermeditasi untuk mengenalikan diri dan mencari kedamaian batin, sebagaimana tertuang dalam Bhagavad Gita 6.6.

 “Bagi orang yang telah menaklukkan pikirannya, pikiran adalah sahabat terbaiknya; tetapi bagi orang yang gagal melakukannya, pikiran akan menjadi musuh terbesar.”

Ayat ini menggarisbawahi bahwa harmoni dengan diri sendiri adalah langkah awal menuju harmoni dengan orang lain. Nyepi, dengan keheningannya, menciptakan ruang untuk merenungkan hubungan kita dengan Tuhan, alam, dan  sesama.

Idul Fitri dan Nyepi: Dua Ritus Perlawanan terhadap Krisis Kemanusiaan.

Kita memahami Idul Fitri sebagai momen bermaafan dan merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, hakikatnya, Idul Fitri adalah revolusi kesadaran.

Puasa Ramadan mengajarkan empati terhadap jutaan orang yang dipaksa “berpuasa” sepanjang tahun karena kemiskinan yang seringkali diakibatkan oleh yang struktural.

Sementara, tradisi zakat fitrah yang wajib dikeluarkan sebelum salat Id itu merupakan manifestasi dari instrumen redistribusi kekayaan yang mewajibkan orang berada untuk berbagi dengan yang membutuhkan apalagi ditengah kesenjangan yang semakin Nampak.

Kalau kita cermati lebih mendalam, konsep fitrah dalam Islam bukan sekadar kembalinya manusia ke keadaan suci, tapi juga seruan untuk membongkar struktur yang menghambat kemurnian itu.

Dalam teologi Islam, setiap manusia lahir dengan potensi kebaikan (fitrah), tetapi sistem yang korup, keserakahan, dan ketidakadilan bisa menguburnya. Idul Fitri mengajak kita membersihkan diri dari “sampah” duniawi—bukan hanya dosa pribadi, tapi juga kezaliman sistemik.

Persoalan ketertindasan dalam konteks Islam memang menjadi keutamaan, Surah Al-Ma’un (107:1-7) mengingatkan bahwa mendustakan agama adalah mengabaikan anak yatim dan fakir miskin. Ayat ini bukan hanya kritik terhadap individu, tetapi juga terhadap sistem yang membiarkan kemiskinan menjadi takdir.

Sementara itu, Nyepi yang dirayakan dengan empat prinsip Catur Brata Penyepian (Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan) adalah bentuk resistensi kultural. Di Bali, di tengah gempuran pariwisata massal yang mengomersialisasi setiap ruang hidup .

Nyepi menjadi pengingat bahwa budaya, alam, bahkan agama itu sendiri bukanlah komoditas, melainkan warisan, nilai, dan kekayaan yang harus dijaga. Prinsip Amati Geni (tidak menyalakan api) dan Amati Karya (menghentikan aktivitas) mengajarkan kesadaran ekologis,  manusia tidak boleh menjadi penguasa alam, melainkan mitra yang menjaga keseimbangan.

Kitab Upanishad menyatakan “Tat Tvam Asi” (Engkaulah itu), yang dalam bacaan teologi pembebasan menegaskan kesatuan manusia dengan alam sebagai basis perjuangan ekologis . Krisis iklim dan deforestasi di Indonesia—dari Sumatera hingga Papua—adalah bukti bahwa kapitalisme telah merusak keseimbangan ini. Nyepi mengajarkan bahwa ketenangan batin hanya mungkin tercapai jika ada keadilan ekologis dan penghapusan dominasi manusia atas alam .

Nyepi memang tak bisa dipisahkan dari Tri Hita Karana—filosofi Hindu Bali tentang harmoni tiga hubungan: dengan Tuhan (Parhyangan), sesama (Pawongan), dan alam (Palemahan). Saat listrik padam dan aktivitas terhenti, kita diingatkan bahwa manusia bukan penguasa alam, tapi bagian darinya. Ritual ngerupuk (mengusir roh jahat) sebelum Nyepi adalah metafora untuk mengusir keserakahan yang merusak lingkungan.

Sekali lagi, yang hening dan yang fitri hadir bersamaan selain sebagai romansa toleransi juga menjadi momentum refleksi untuk menghidupkan kembali spirit keagamaan yang melampuai ritus ditengah problematika bangsa yang semakin hari semakin menjadi-menjadi. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Hari Nyepi Tanpa Pecalang, Beranikah Kita?
Tags: Hari Raya NyepihinduIdul FitriIslamMuslimtradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

RUBIK SMANDUTA Diluncurkan, Membangun Generasi Muda Kritis  

Next Post

Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co