22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat Perlu Pemimpin yang Prihatin dan Tidak Mencuri

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 18, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

MENJADI pemimpin tidak boleh bicara yang tidak terukur, bicara semaunya, seenaknya. Jangan bicara tanpa berpikir, jangan berbuat semena-mena. Pemimpin harus dapat mengasuh dengan kasih sayang, menolong pada yang membutuhkan dan kesusahan, mengantar pada yang takut, mampu memberikan pencerahan.

Begitu bunyi salah satu pikukuh (pedoman hidup)  adat suku Baduy, yang bermukim di wilayah Banten Selatan.  Saya tidak akan menginterpretasikan arti ungkapan pikukuh tersebut, dengan anggapan pembaca budiman akan lebih arif, dan bijak memaknai pikukuh itu. Saya juga percaya pembaca lebih tahu dan paham maksud dan nasihat pikukuh adat Baduy tersebut. Mari  kita renungkan, karena pada dasarnya kita adalah seorang pemimpin, paling tidak untuk diri dan keluarga kita.

Pedoman itu masih dipatuhi sampai sekarang oleh orang-orang  Baduy. Hal ini bertolak belakang  dengan persepsi dan praktik hidup masyarakat modern, khususnya di perkotaan. Orang modern banyak bicara, semakin vokal dan keras, dianggap sebagai hal baik. Dalam pikukuh Baduy tersebut di atas jelas, pemimpin adalah figur ideal manusia sehat lahir maupun batin, dia adalah sosok yang mulia dan dimuliakan.

Pemimpin tidak berwatak menyeruduk seperti badak. Kaum badak nafsunya begitu besar sehingga semua yang diinginkannya harus diwujudkan. Metafora manusia badak adalah manusia nafsu seperti disampakain budayawan Jakob Sumardjo dalam tulisanya “Badak-Badak” pada Harian Kompas. Itulah sebabnya badak berbahaya bagi manusia. Nafsu besar itu biasanya menenggelamkan pikiran akal sehatnya.

Korupsi semakin dianggap hal lumrah, apalagi dengan alasan kekurangan. Yang lebih parah dan menyakitkan lagi; banyak orang melakukan korupsi bukan karena alasan kekurangan, melainkan untuk memenuhi nafsu kerakusan. Para koruptor yang tertangkap KPK bukan orang-orang miskin, melainkan orang-orang kaya, berpendidikan dan berjabatan tinggi.

Dalam konteks pikukuh adat Baduy, mencuri sekecil apa pun dan dengan alasan apa pun dilarang: “ulah maling papanjingan”, tidak boleh mencuri meskipun kekurangan.  Perhatikan pepatah Baduy berikut ini; “Mipit kudu pamit, ngala kudu menta”. Artinya, memetik harus ijin, mengambil harus minta.

Larangan mencuri, walau kekurangan itu memiliki dimensi spiritual yang tinggi. Dalam khasanah budaya Jawa ada pitutur (nasihat) bagaimana menjadikan keadaan kekurangan atau kemiskinan justru sebagai cambuk untuk memperkuat niat dan membajakan tekad guna terus berjuang menuju kehidupan yang makmur dan bermartabat. Bahkan, menahan lapar, mengurangi tidur dan meninggalkan kesenangan justru dianjurkan sebagai laku prihatin.

Manurut Parni Hadi (2015), Anjuran itu digubah dalam bentuk tembang Kinanti. Penggalan pertama lagu itu berbunyi: “Padha gulangen ing kalbu, ing samita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, pesunen sariranira, sudanen dahar lan guling”. Artinya,mari latih dalam kalbu, agar batin lebih tajam, jangan cuma makan dan tidur, latihlah fisikmu, kurangi makan dan tidur. Dalam bentuk modern anjuran itu bisa dilakukan dengan  berpuasa dan sholat malam. (Parni Hadi. 2015. Ulah Maling Papanjingan, Artikel. Seminar. Kongres Kesejahteraan Sosial VII. Padang.18-20 April.2015).

***

Pertanyaannya, mengapa agama dan ideologi modern, termasuk Pancasila, tidak berhasil menjadikan pengikutnya patuh seperti anggota Komunitas Adat Terpencil Baduy? Salah satu jawabannya, menurut Parni Hadi (2015), adalah: semakin menipisnya dimensi spiritual di tengah keriuhan ritual dalam praktik keberagamaan kita. Tentu, kita tidak harus hidup mengasingkan diri seperti suku Baduy untuk dapat mengamalkan ajaran agama dan ideologi modern secara konsekuen. Kita bisa tetap hidup secara modern dan mencapai kebahagiaan, jika kita mampu mengendalikan nafsu kita. Itulah inti dimensi spiritual ajaran agama.

Pemimpin yang Merendah

Kata orang bijak kenapa sungai besar dan lautan raya bisa menjadi tempat berkumpulnya ratusan sungai lembah. Karena sungai besar dan lautan raya berada di tempat yang lebih rendah, maka mereka bisa menjadi pemersatu ratusan sungai lembah.

Bila seorang pemimpin ingin berada di atas rakyat dia harus bicara merendah di depan rakyat. Kalau seorang pemimpin ingin berdiri di depan rakyat dia harus meletakkan kepentingan pribadinya di belakang rakyat. Kondisi itu hanya bisa dipahami oleh seorang pemimpin yang mau dan mampu berada di tengah-tengah masyarakat untuk menciptakan iklim yang kondusif, penuh optimisme, dan semangat.

Pemimpin Walk the Talk

Saya tidak perlu membahas secara panjang lebar walk the talk. Saya yakin pembaca memahami maksudnya, bahwa pemimpin tidak hanya bicara saja, tetapi juga melakukan dan menjadi teladan. Hal yang paling saya ingat tentu tauladan Nabi Muhammad SAW yang turut serta dalam membangun parit pada masa perang Tabuk.

Pemimpin harus memiliki konsep dalam membangun kepribadian bangsanya. Dan itu seharusnya dilakukan pada setiap aspek kehidupan masyarakat. Sosok pemimpin semestinya mengambil alih kendali dalam membangun karakter sebuah bangsa. Bukan malah menyerahkan semuanya pada kehendak pasar, dalam artian semuanya dibiarkan berjalan begitu saja tanpa memiliki konsep yang jelas.

Pemimpin yang Mendoakan

Adakah pemimpin yang selalu mendoakan rakyat, maksudnya selalu merendah tidak berusaha membalas suatu itikad yang dianggap mengancam dari rakyatnya? Misalnya dicontohkan oleh Tauladan kita Nabi Muhammad SAW ketika beliau berdakwah di kota Tha’if, setelah mengalami jalan buntu berdakwah di kota Mekkah, tetapi dakwah Nabi ditolak oleh warga Thaif. Bahkan Rasul dilempari batu sampai berdarah-darah. Kemudian Nabi berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan kepadanya. Allah mendengar doa Nabi dan ditawarkan kepada Nabi untuk menimpakan gunung ke atas penduduk Thaif, tetapi baginda Rasul menolak.

Dari sudut pandang dan kisah ini saya tidak akan mengulas lebih jauh makna peristiwa tersebut. Saya hanya ingin mengatakan tidak perlu ada kekerasan dan dendam, ketika sekelompok orang memohon sesuatu perlindungan, unjuk rasa dan pendapat dari sebuah proses aturan dan regulasi yang akan dibuat.

Menurut Ary Ginanjar Agustian dalam buku ESQ, menjadi pemimpin juga berarti harus mampu menjadi sosok pendengar yang baik. Malah seharusnya ia lebih banyak mendengar daripada didengar. Ia harus banyak menyerap aspirasi di setiap saat dan setiap waktu. [T] 

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN

Masalah Manusia Tidak Jauh dari Uang
Senandung “Gas Blues” untukMu Tuhanku
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
Tags: pemimpin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador

Next Post

Prof Bandem: Kembalikan Pakem Seni Tradisi pada Pesta Kesenian Bali 2025

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Prof Bandem: Kembalikan Pakem Seni Tradisi pada Pesta Kesenian Bali 2025

Prof Bandem: Kembalikan Pakem Seni Tradisi pada Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co