13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baligrafi dan Masa Depan Seni Aksara Bali

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
March 5, 2025
in Ulas Rupa
Baligrafi dan Masa Depan Seni Aksara Bali

Hasil karya lomba Baligrafi di Rumah Intaran | Foto Purwita Sukahet

Dua tahun terakhir saya selalu mendapatkan tawaran untuk menjadi juri atau diminta membantu membuatkan TOR (Term of Reference) lomba Baligrafi, akan tetapi saya selalu menolak. Satu alasan saya menolak adalah bahwa saya tidak menemukan kejelasan bentukan atau konsep dasar Baligrafi itu sendiri, satu pertanyaan yang kemudian merembet kepada rangkaian pertanyaan terkait Baligrafi adalah tentang apa itu Baligrafi?

Apakah kaligrafi yang dibuat dari aksara Bali? Mengapa namanya Baligrafi? Apakah sebagai sebuah brand seni aksara Bali? Apakah Baligrafi harus figuratif? Merangkai aksara menjadi bentuk figur dewa-dewi, simbol-simbol sakral misalkan cakra, trisula, gada, atau bentuk lainnya? Apa beda Baligrafi dengan aksara modre? Dan serangkaian pertanyaan lainnya yang memenuhi kepala saya.

Pada akhirnya, tahun ini saya putuskan menerima tawaran menjadi juri Baligrafi di Bali Utara, tepatnya di Pasar Intara (Rumah Intaran) dalam rangka Bulan Bahasa Bali. Alasan saya akhirnya menerima adalah saya ingin menjadikan proses hasil Baligrafi pada acara Merayakan Bahasa Bali di Rumah Intaran, Buleleng, sebagai salah satu contoh kasus.

Pertimbangan saya menerima tawaran tersebut adalah momentum untuk mengevaluasi Baligrafi harus segera dilakukan sebab saya anggap telah keluar dari keidealan kaligrafi itu sendiri, karya Baligrafi masuk ke dalam jebakan-jebakan estetik yang tanggung, memaksakan aksara Bali ke dalam bentuk figuratif, istilahnya rupa yang banal, kasar.

Meski demikian, saya tidak hendak memaksakan kebenaran secara mutlak pada tulisan catatan ini. Tulisan ini bukan sesuatu yang mutlak benar dan harus dituruti atau diamini oleh semua orang. Yang ada dalam pandangan saya adalah bagaimana menguarai simpul Baligrafi pada keidealan nafas kaligrafi dan bagaimana keidealan itu dihadirkan menjadi sebuah karya.

Persoalan Baligrafi hari ini adalah persoalan dua wilayah yang seharusnya bertanggung jawab bersama-sama yaitu wilayah dunia sastra Bali dan wilayah seni rupa.

Saat diskusi penilaian di Rumah Intaran, saya menawarkan hal ini kepada rekan juri yaitu Bli Nengah Juliawan, “Harusnya prodi Seni dan Kebudayaan Agama Hindu Kampus STAH Mpu Kuturan berani melakukan perumusan ulang Baligrafi dan melakukan rangkaian workshopnya bekerjasama dengan komunitas sastra Bahasa Bali Singhambara di Singaraja sebagaimana Prodi Seni Rupa Undiksha melakukannya melalui mata kuliah Prasi!”. Hehehe.

Proses penjurian dalam lomba baligrafi di Pasar Intaran (Rumah Intaran) | Foto: Purwita Sukahet

Semenjak setahun terakhir, saya pun mencoba untuk mencari sekaligus mereka-reka tentang keidealan Baligrafi dan relasinya terhadap pendidikan aksara Bali atau setidaknya relasi seni dengan aksara dalam konteks mempopulerkan lebih jauh aksara ibu orang Bali. Sialnya, yang saya tahu, dua orang tokoh penting pencetus istilah Baligrafi telah telah tiada yaitu sahabat saya sendiri, I Gede Gita Purnama AP atau Bli Bayu dan tokoh yang mempopulerkan istilah ini yaitu seniman Nyoman Gunarsa.

Padahal, semasa hidupnya, Bli Bayu sempat bercerita tentang Baligrafi kepada saya akan tetapi luput saya catat, sebab saya merasa istilah Baligrafi hanya bentuk pengistilahan terkait seni menulis aksara. Hingga akhirnya saya kelimpungan ketika Bli Bayu telah tiada, kepada siapa saya harus mengkonfirmasi hal ini, dan pada akhirnya saya mengontak sahabat-sahabat yang aktif pada perjuangan bahasa dan aksara Bali yaitu Wayan Suarmaja, Adit Arthadipa, dan Bli Mangku Gede Wiratana dengan via telf WA terkait Baligrafi dan tanggapan-tanggapan mereka terhadap hasil karya Baligrafi pada masa kekinian.

Hasil yang saya dapatkan adalah, yang pertama terkait dengan pengistilahan Baligrafi. Sebelum populer istilah Baligrafi, perilaku seni menulis aksara Bali telah dilakukan dengan istilah Kaligrafi aksara Bali.  Baligrafi menjadi istilah populer dikarenakan ketokohan seniman almarhum Nyoman Gunarsa dan Bli Bayu sehingga Museum Gunarsa di Klungkung menjelma menjadi patron Baligrafi. Istilah Baligrafi sendiri adalah penyematan identitas atau brand terhadap seni menulis aksara Bali, memadankan Baligrafi dengan Kaligrafi.

Yang kedua terkait dengan karya Baligrafi terjadi banyak kasus penempatan aksara tidak sesuai kondisi, kekeliruan pemahaman bahwa Baligrafi harus berbentuk gambar, Baligrafi diarahkan kepada bentuk aksara modre dengan bentuk varian lekak-lekuk dengan tujuan hanya agar enak dilihat. Dalam konteks lomba Baligrafi, efek yang terjadi pasca-lomba adalah para pembina atau peserta lomba mengacu kepada karya yang menjadi juara sekaligus melihat siapa yang menjadi jurinya, yang terjadi justru Baligrafi dikompetisikan hanya untuk menang dan menjadi pelayan atas selera juri.

Pada dasarnya, terkait Baligrafi disampaikan oleh Bli Gede Mangku Wiratana menurut dosennya pada masa kuliah yaitu almarhum AA. Bagus Setiawan, tegas menyatakan bahwa Baligrafi seharusnya tidak melanggar pasang pageh aksara, kiri-kanan atau atas ke bawah, kata-kata itu agar tidak terputus. Menariknya lagi bahwa ternyata Baligrafi telah masuk ke dalam kurikulum SMP kelas 9 di Klungkung. Hal ini harusnya direspon oleh perguruan tinggi seni rupa dan desain atau sastra Bali, sebagai contohnya adalah terkait seni prasi yang kini berevolusi berkat masuk sebagai kurikulum di jurusan seni rupa Undiksha Singaraja.

Arjunawijaya – Sir Hans Sloane – The British Library – Sloane 3480

Kaligrafi pada dasarnya adalah ‘tulisan yang indah’, seni menulis aksara. Baligrafi berbeda dengan genre ‘Modre’ dalam sastra Bali, Baligrafi sebagaimana kaligrafi ditulis dengan pena, kuas, penggunaan tinta, dan media tulis lainnya. Sampai di sini, definisi kaligrafi tersebut jelas merujuk kepada kerja menulis yang indah.

Kata indah tentu merujuk kepada sifat estetik, lango, yang mampu mengesankan hati. Ia berkaitan dengan ekspresi dan sejalan dengan itu sangat subjektif. Di lain sisi, istilah Baligrafi lebih kepada alih-istilah yang pada dasarnya secara tata cara pengerjaan sama, istilah Baligrafi juga hadir sebagai branding spesifik hanya untuk aksara Bali. Pada titik ini kita memahami bahwa Baligrafi sebagai sebuah brand dari kerja menulis aksara Bali yang ‘indah’ sedangkan Kaligrafi adalah istilah yang berlaku umum.

Apabila Baligrafi sebagai seni menulis mempergunakan aksara Bali maka cikal bakalnya haruslah dilihat pada manuskrip atau lontar-lontar. Ada banyak varian bentuk tulisan aksara Bali yang dapat dipergunakan sebagai acuan, salah seorang sabahat saya dulu bercerita tentang temuan satu lembar lontar yang kondisinya rusak koleksi British Museum, aksara Bali yang ditulis pada lontar tersebut unik dengan lekukan garis yang digurat sedemikian rupa lentur dengan tetap memperhatikan ‘pasang pageh’ aksara Bali yang taat.

Beberapa temuan lontar yang tersimpan di rumah-rumah masyarakat juga memiliki karakteristik penulisan yang unik dan baik sekaligus dapat dipergunakan sebagai rujukan di dalam pemetaan awal sejarah Baligrafi itu sendiri.

Relief Stilasi figur gajah di Masjid Mantingan, Jepara | Foto dari Koleksi Tropen Museum

Lomba-lomba Baligrafi yang digelar di Bali selalu menghasilkan kaligrafi figuratif, aksara yang dituliskan dengan pendekatan figur atau menjadi sebuah indeks seperti membentuk pulau Bali, membentuk gapura, dan umumnya adalah figur dewata atau simbol-simbol dewata seperti cakra, trisula, dan lainnya. Hal ini mengingatkan saya pada tradisi deformasi bentuk oleh Islam di Nusantara, jejaknya ada panil relief pada Masjid Mantingan, Jepara. Figur distilasi mempergunakan motif ornamen membentuk sebuah figur binatang kera dan gajah, saya kira dasarnya adalah salah satu norma di dalam agama Islam yang tidak diperbolehkan menggambarkan makhluk hidup yang memiliki jiwa dengan tujuan dipuja atau diagungkan.

Kasus di dalam Baligrafi yang populer hari ini adalah stilasi aksara Bali membentuk sebuah figur, deformasi bentuk aksara terjadi untuk mengejar bentuk figur yang diinginkan. Itu tidak salah asalkan tidak merusak aturan ‘pasang pageh’ aksara Bali, yang sering terjadi pada hasil karya lomba Baligrafi adalah aksara Bali dipaksakan atau terdeformasi terlalu jauh karena mengejar bentuk figur, dan saya tidak setuju akan hal ini.

Seharusnya penekanan Baligrafi adalah pada tata cara menulis aksara Bali dengan ragam varian media tulis dan ‘pasang pageh’ aksara Bali adalah acuan mutlak di dalam kriteria utama penilaian. Perosalan apakah bentuknya Baligrafi figuratif bukan menjadi acuan utama penilaian, itu hanya salah satu genre dalam dunia kaligrafi. Jika ada yang membuat Baligrafi tanpa menjadi figur juga sangat patut untuk dipertimbangkan dengan catatan bagaimana mereka mengolah atau menambahkan lekukan-lekukan aksara Bali dengan pendekatan seni tanpa menghancurkan aturan ‘pasang pageh’ aksara Bali. Kita harus menengok kembali kepada tradisi kaligrafi baik pada dunia kaligrafi Barat maupun tradisi kaligrafi Timur.

Di dunia Barat Kaligrafi berkembang menjadi ragam penciptaan karakter dan penyusunan huruf yang kita kenal sebagai ilmu tipografi, ada pula istilah illustrated manuscript menjadi genre tersendiri dalam dunia kaligrafi mereka. Sedangkan di dunia Timur, kaligrafi China sebagai contoh, dari mengencerkan tinta batangan dengan menghidupkan dupa berbau harum proses pembuatan kaligrafinya didasari pada keterhubungan spiritualitas manusia dengan dunia melalui penyatuan antara tubuh manusia, perasaan, dan spiritualitas. Tradisi kaligrafi Arab menunjukan perkembangan lain yaitu kaligrafi figuratif dengan tetap acuan utamanya adalah keterbacaan aksaranya.

Baligrafi dalam konteks Invented Tradition ternyata mengalami kebuntuan pun kebingungan, yang terjadi adalah perilaku penyimpangan menulis aksara akibat dari kekeliruan pola pikir atau ketidak jelasan pemahaman konsep Baligrafi itu sendiri.

Kaligrafi figuratif wujud kuda dengan aksara Arab | Sumber Seni Kaligrafi Islam

Melalui catatan ini, saya mengajukan beberapa kriteria Baligrafi yaitu [1] Pasang Pageh Aksara Bali; [2] teknik penulisan; [3] nilai ‘lango’ atau estetika; [4] kesesuaian ekspresi guratan dengan acuan teks.

Empat kriteria itu diturunkan dari dua aspek utama yaitu aspek sastra dan aspek seni rupa. Kriteria [1] dan [2] adalah wilayah aspek sastra dalam hal ini sastra Bali. ‘Pasang pageh’ aksara Bali berkenaan dengan aturan atau tata cara penulisan Aksara Bali, acuan umum penulisan dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah, keterbacaan aksara Bali, kesesuaian alih aksara dari latin ke aksara Bali.

Pada tataran lomba, tidak usahlah menghadirkan teks-teks mantra, itu terlalu berat jika kita ingin membumikan bahasa dan aksara Bali terhadap anak-anak maupun generasi muda, Baligrafi cukup dengan kutipan kakawin atau gaguritan.

Kriteria teknik penulisan mengacu kepada hasil guratan alat tulis terhadap media, penting diingat bahwa media memiliki peranan penting di dalam menghasilkan ragam jenis efek guratan, penggunaan tinta dengan alat tulis pena berbeda dengan guratan kuas, bahkan efek sapuan tinta dengan jenis kuas berbeda memberikan efek yang variatif, tipe kuas khusus kaligrafi berbeda dengan kuas meski sama-sama dapat dipergunakan di dalam membuat Baligrafi, lukis yang dapat dipergunakan untuk kaligafi pada umumnya ada 8 yaitu kuas tipe round, flat, bright, filbert, fan, angle, mop, dan rigger.

Kriteria nilai ‘lango’ atau estetika berkenanaan terhadap penilaian elemen rupa yang dihadirkan, bisa berupa lelehan tinta, cipratan tinta yang disengaja untuk memperkuat kesan tertentu, penggunaan warna dalam konteks harmonisasi, penambahan simbol atau ikon rupa, atau keselarasan aksara yang dibentuk figuratif. Merujuk kepada kaligrafi, Baligrafi tidak harus dibuat dalam format lukisan/painting, mati-matian melukis bidang latar belakang yang justru mengaburkan point of view tulisan. Ingat bahwa Baligrafi adalah seni menulis aksara Bali, bukan seni melukis yang ditambahkan aksara Bali! aspek seni rupa yaitu lukisan sebagai pendekatan di dalam mewujudkan tulisan aksara Bali yang indah, memiliki nilai ‘lango’.

Kriteria kesesuaian ekspresi guratan dengan acuan teks dalam Baligrafi berhubungan dengan ‘an art of self expression’ atau seni mengekspresikan diri melalui aksara Bali. Pada tahapan ini yang dilihat adalah karya Baligrafi secara holistik atau menyeluruh. Misalkan saja, bait yang dituliskan merujuk kepada bait kakawin tentang cinta maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana si pembuat Baligrafi ini mengekspresikan nuansa cinta pada guratan/garis garis aksara Bali. Pentingnya memiliki sensibilitas, peka terhadap rasa, memahami dan merasakan karakteristik garis dan keseuaian dengan bait yang disodorkan dan tema yang ditetapkan.

Terkait dengan penggunaan media tulis bisa beragam, kertas khusus kaligrafi, kertas gambar yang khusus untuk cat air, kanvas lukis, kanvas lukis Kamasan, bahkan lontar. Meski sama-sama menyuratkan aksara Bali, Baligrafi berbeda dengan hanya menyurat aksara Bali.

Relief Stilasi figur kera di Masjid Mantingan, Jepara | Foto dari Koleksi Tropen Museum

Di dalam konteks lomba Baligrafi, penting untuk panitia lomba menyediakan pilihan teks bagi peserta. Maksud saya adalah panitia memilih satu bait atau satu kalimat dari sebuah bait dari kakawin ataupun geguritan dalam aksara latin lengkap penggunaan tanda diakritiknya, inilah yang disodorkan kepada peserta lomba.

Di lain sisi, para peserta lomba tentu harus memahami pengetahuan alih aksara Bali secara ulang-alik yaitu dari aksara Bali ke aksara latin, begitu juga sebaliknya. Penguasaan alih aksara dan penggunaan tanda diakritik ini adalah bagian pembelajaran terhadap bahasa dan aksara Bali bagi anak-anak maupun generasi muda Bali. Tujuan yang saya bayangkan adalah adanya pembelajaran penulisan aksara Bali yang berdasar pada aturan-aturan ‘pasang pageh’ aksara, bagian dari membumikan aksara dan bahasa Bali, sehingga pada saat lomba ada semacam kejutan kepada peserta lomba ketika menerima tulisan latin lengkap tanda diakritik yang harus dialih aksarakan sekaligus ditulis dengan seni menulis.

Di samping itu, tentu saja para peserta lomba memaknai kalimat atau bait yang disodorkan, dalam artian memaknai rasa pada narasi kalimat atau bait, apakah bahagian, sedih, takut, cinta, marah, benci, heroisme, dan lainnya. Hal ini tergantung pada relasi tema yang ditetapkan oleh panitia.

Lomba tentu saja menjadi sebuah ajang kompetisi, mencari yang terbaik, tetapi yang harus diingat adalah bahwa lomba hanya salah satu jalan pembuktian dari proses pembelajaran terhadap sesuatu. Yang perlu ditanamkan kepada para peserta lomba dalam konteks Baligrafi adalah bahwa apa yang mereka lakukan pada hasilnya bukan perkara juara atau tidak melainkan proses pembelajaran dan pemahaman pengetahuan atas bahasa dan aksara Bali sekaligus wujud keberanian mereka atas kebanggaan mempergunakan bahasa dan aksara Bali. Boleh jadi pelestarian bahasa dan aksara Bali dilakukan dengan jalan mesatua, pidato, debat, bernyanyi karaoke berbahasa Bali, tetapi ingat bahwa Baligrafi memiliki peluang besar di dalam medan sosial seni dan dunia industri kreatif. Baligrafi, dengan demikian adalah salah satu indikator masa depan seni menulis aksara ibu orang Bali. [T]

Pohmanis, 5 Maret 2025

Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Adnyana Ole

WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Seni Baligrafi Makin Diminati Kalangan Remaja Bali
TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman
Tags: aksara baliBahasa BaliBulan Bahasa BaliRumah Intaranseni baligrafi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BATU KOLKATA

Next Post

5 Pilihan Sepatu Sport New Balance Terlaris dan Terpopuler Sepanjang Masa

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
5 Pilihan Sepatu Sport New Balance Terlaris dan Terpopuler Sepanjang Masa

5 Pilihan Sepatu Sport New Balance Terlaris dan Terpopuler Sepanjang Masa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co