2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Meja Perjamuan Kekuasaan, Siapakah Sebenarnya yang Pegang Tali Kendali?

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
February 26, 2025
in Esai
Di Meja Perjamuan Kekuasaan, Siapakah Sebenarnya yang Pegang Tali Kendali?

Ilustrasi tatkala.co | Nengah Juliawan

“Tan hana wruh ri sang nata sangkeng sira nahan ya tan hana wruh ri sang nata sangkaning sira”

Tiada yang tahu kepada siapa raja harus setia, dan tiada yang tahu dari mana kesetiaan seorang raja berasal. (Kakawin Bharatayuda)

Di balik tirai kegelapan, ada tangan-tangan yang tak terlihat, menyusun hidangan bagi mereka yang lapar akan kuasa. Di meja panjang yang berpendar cahaya lilin, janji dan kesetiaan bukanlah sekadar kata-kata, melainkan hidangan utama yang tersaji di atas piring emas. Siapa yang berani menolak jamuan itu, niscaya akan kehilangan tempat duduknya. Namun, siapa yang menyantapnya, tak akan pernah bebas dari utang yang tak kasat mata.

Raja Salya, Perjamuan dan Kehormatan

DI sebuah senja yang redup, ketika langit mulai menyulam jingga dan angin berbisik lirih di antara tenda-tenda perkemahan, Raja Salya tiba dengan langkah penuh wibawa. Niat hatinya hendak bergabung dengan keponakannya, Yudhishthira, dalam perang besar yang akan mengguncang daratan Bharata.

Namun, di tengah perjalanan, Duryodana telah merajut renda siasat licik, dengan jamuan yang megah dan hidangan yang menggoda, ia menyambut Salya bak tamu agung. Piala emas berisi anggur tertuang tanpa henti, sementara kerawang saling ngumbang ngisep mengiringi perjamuan yang penuh kehormatan.

Salya duduk di singgasana kehormatan, dan tanpa perlawanan setiap hidangan menyentuh lidahnya dengan kelembutan yang menipu. Jamuan itu bukan sekadar persembahan, melainkan jaring halus yang merayap di sekelilingnya, membelit, mengikat tanpa terasa.

Hidangan istimewa silih berganti menghampiri Salya dengan aroma rempah menelisik tepat ke relung hatinya, membisikkan kemewahan dan prestige yang sulit ditolak.

Duryodana, dengan senyum penuh makna, akhirnya bangkit. Udara seolah menegang, dan kata-kata yang meluncur dari bibirnya bagaikan rantai tak kasat mata.

“Wahai Raja Salya, betapa bahagianya aku menjamumu. Kini, jika engkau berkenan, berikrarlah untuk memberikan segala kecerdasan dan kekuatanmu kepadaku dalam perang besar yang akan datang!”

Saat itu, kehormatan Salya menggeliat dalam dirinya, bukan lagi sebuah kebanggaan, melainkan belenggu yang mencengkeram. Ia merasakan utang budi mengendap dalam darahnya, berdenyut di setiap nadi, menuntut balas.

“Sira tan hana sukaning dharma, nihan janma samyag asudha” (Tiada kebahagiaan dalam dharma jika manusia masih terikat oleh utang budi) — ‘Kakawin Arjunawiwaha’.

Seorang ksatria tak mungkin mengingkari penghormatan yang telah ia terima. Maka, dengan suara yang bergetar antara kewajiban dan nurani, ia mengucapkan sumpah setia kepada Duryodana. Namun, di kedalaman jiwanya, kesetiaan sejatinya tetap berbisik pelan pada Pandawa, lirih seperti angin yang enggan meninggalkan senja.

Begitulah sepenggal umum kisah Raja Madra (Salya), hingga saat ini kerap dijadikan sesenggakan “Politik Salya”.

Budaya Balas Budi

Konsep balas budi muncul sebagai pisau bermata dua, hal ini disebabkan karena nilai hutang budi akan mengakar dalam relasi sosial dan politik. Jika seseorang telah menerima kebaikan atau bantuan dari pihak lain, ada kewajiban moral untuk membalasnya, bahkan jika itu bertentangan dengan kepentingan pribadi.

Dalam konteks politik, budaya balas budi ini sering kali dimanfaatkan untuk membangun loyalitas dan koalisi kekuasaan. Seorang pemimpin yang telah menerima dukungan finansial atau politik dari pihak tertentu akan merasa berkewajiban untuk memberikan imbalan dalam bentuk kebijakan, proyek, atau posisi strategis.

Seperti Salya yang terikat oleh kehormatan dan etika ksatria, banyak pemimpin modern yang juga terikat oleh norma sosial dan tradisi yang mewajibkan mereka membalas kebaikan yang telah diterima.

Fenomena ini dapat kita lihat dalam berbagai aspek kehidupan politik kontemporer. Apabila para pemimpin yang telah menerima dukungan politik atau finansial dari suatu kelompok cenderung merasa berkewajiban untuk mengakomodasi kepentingan pemberi dukungan tersebut, sering kali dengan mengorbankan independensi dan prinsip idealisme yang seharusnya dijunjung tinggi.

Di tingkat lokal, politik balas budi juga terlihat dalam hubungan antara pemilih dan kandidat. Dalam tradisi politik patronase, banyak kandidat yang memberikan bantuan atau sumbangan kepada masyarakat sebagai bentuk “investasi politik”.

Setelah mereka terpilih, masyarakat yang merasa berhutang budi cenderung mendukung kebijakan atau keputusan pemimpin tersebut, meskipun tidak selalu menguntungkan kepentingan umum.

Dalam masyarakat tradisional, balas budi bisa menjadi alat untuk memperkuat hubungan sosial, tetapi dalam politik, hal ini bisa berubah menjadi instrumen kendali yang membatasi independensi seseorang dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi kepentingan umum.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa meskipun balas budi adalah nilai budaya yang luhur, dalam politik, nilai ini harus diterapkan secara bijak agar tidak menjadi beban yang menghambat kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Apakah Kita Semua adalah Salya?

Kisah ini mengajak kita untuk berpikir lebih dalam: dalam kehidupan sehari-hari, sejauh mana kita bisa tetap berpegang pada prinsip tanpa terjebak dalam skema politik transaksional?

Apakah kita bisa menolak “jamuan” yang diberikan oleh pihak yang memiliki agenda terselubung? Ataukah, seperti Salya, kita harus memainkan peran diplomatis dengan tetap menjaga prinsip meskipun berada di kubu yang tidak kita pilih?

Epos Mahabharata mengajarkan bahwa dunia politik tidak hitam dan putih. Dalam konteks hari ini, memahami strategi politik seperti yang dialami Salya dapat membantu kita lebih kritis dalam melihat dinamika kekuasaan dan diplomasi yang terjadi di sekitar kita.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa adalah: jika kita di posisi Salya, keputusan apa yang akan kita ambil? [T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I NENGAH JULIAWAN
Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi
“Bayanganku Lebih Baik” – Jadilah Bayangan Diri, Bukan Orang Lain
Petaka Fussy Diri, “Lali Ring Awak” – Mengenang Karya I Gusti Ngurah Made Agung
SDM Unggul [Melalui Bahasa, Sastra dan Aksara] Indonesia Maju
“Mecik Manggis”, Kunci Prestasi Fiksi
Tags: BharatayudaBudayakekuasaankisah mahabharataMahabharataPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Acara Baku dan Acara Buku dalam Bulan Bahasa Bali SMPN 14 Denpasar

Next Post

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co