23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
February 20, 2025
in Esai
Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

Lontar koleksi Grya Prabhu, Denkayu. Foto: Dok. Pribadi

BBB yang saya maksud adalah Bulan Bahasa Bali. Setiap tahun, tepat dari awal hingga akhir bulan Februari dilaksanakan acara tersebut. Acara yang dilaksanakan dari tingkat desa adat, kabupaten hingga provinsi itu, diharapkan dapat memupuk bahasa Bali di tengah era modernisasi saat ini. Namun, apakah ‘pemupukannya’ sudah tepat? Atau sekadar tuai saja?

Menyambung dari pertanyaan tersebut, banyak lomba yang dilaksanakan. Di tingkat desa adat, diwajibkan untuk melaksanakan beberapa lomba. Seperti ngwacen lontar, masatua bali, sambrama wacana, pidarta, nyurat aksara bali, dan beberapa lomba tambahan sesuai dengan kreativitas masing-masing desa adat. Dari sekian banyak lomba yang dilaksanakan saya mencoba untuk menyoroti satu cabang lomba, yakni ngwacen lontar.

Ngwacen lontar merupakan perlombaan membaca lontar yang tentu menggunakan aksara bali. Perlombaan ini biasanya diikuti oleh peserta yang masuk dalam kategori remaja atau daa teruna/i yang berumur kisaran 13-25 tahun. Namun tahun 2025 kategori untuk perlombaan tersebut diubah menjadi kategori SMA/K. Teknis perlombaan ini akan dimulai dari tingkat desa adat. Di tingkat desa adat mereka akan bersaing dengan peserta perwakilan masing-masing banjar adat. Setelah berlomba, siapa pun yang mendapatkan juara 1 di desa adat akan berangkat mewakili desa adatnya berlomba di tingkat kabupaten.

Di tingkat kabupaten mereka akan bersaing dengan seluruh duta desa adat, di kabupaten yang bersangkutan. Setelah mendapatkan juara 1 di kabupaten, peserta yang bersangkutan akan kembali berlomba di tingkat provinsi. Perjuangan panjang mereka akan berakhir di tingkat provinsi sebagai duta dari masing-masing kabupaten/kota di Bali. Selain teknis lomba hal yang penting menjadi sorotan adalah materi yang akan dibaca oleh peserta.

Lontar sebagai media uji dari semua peserta memiliki beragam jenis. Di tingkat desa adat mereka mendapatkan materi satua Bali. Tentunya materi ini cukup untuk pemula, karena satua Bali menggunakan bahasa Bali yang dominan dapat dipahami oleh peserta. Namun di tingkat kabupaten mereka biasanya akan mendapatkan materi yang lebih sulit. Seperti lomba ngwacen lontar di Kabupaten Badung. Para peserta yang berjumlah lebih dari 15 orang tersebut diuji dengan lontar berjenis Tutur.

Tutur merupakan salah satu klasifikasi lontar yang didalamnya membahas mengenai beragam aspek kehidupan. Dalam menarasikan isinya, tutur  lebih cenderung menggunakan bahasa Kawi-Bali, atau bahasa Jawa Kuno. Sehingga dengan kriteria peserta yang masih SMA cukup menyulitkan mereka saat membaca. Hal tersebut dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman mereka mengenai bahasa kawi-bali.

Hal serupa tidak hanya terjadi di tingkat kabupaten, bahkan saat saya menjadi pembina di desa adat, beberapa peserta sangat minim yang mengetahui aksara Bali. Padahal, aksara Bali adalah modal utama membaca lontar. Sehingga walaupun diberikan lontar satua Bali mereka tetap ditempuh kesulitan. Setelah ditelaah perlahan ternyata mereka masih sulit menulis bahkan membaca aksara Bali. Hal ini disebabkan karena mereka jarang menggunakan bahkan memelajari aksara Bali. Mereka akan membaca apabila guru mereka di sekolah memberikan materi mengenai aksara. Namun  itupun hanya bertahan beberapa pertemuan di kelas. Setelahnya mereka akan melupakan aksara Bali.

Pemikiran generasi muda mengenai pentingnya memelajari aksara Bali harus di pupuk sejak dini. Di Bali, pulau yang dilandasi dengan nilai religius dari agama hindu, mempergunakan aksara Bali, hampir pada setiap aspek kehidupan. Umpana tatkala suatu bangunan selesai digarap, maka salah satu piranti uparengga yang digunakan dalam upacara melaspas adalah ulap-ulap.

Ulap-ulap dibuat menggunakan secarik kain dan ditulis aksara modre sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. Selain itu, tatkala ajal telah tiba masyarakat Hindu Bali akan mempergunakan kain putih sepanjang kurang lebih 1-2 meter yang disebut dengan kajang. Kajang pun dituliskan aksara Bali berjenis Modre. Dua hal tersebut hanya contoh kecil dari manfaat dan fungsi aksara Bali di masyarakat Hindu Bali.

Namun, bagi generasi muda aksara Bali memiliki manfaat yang tidak kalah pentingnya. Saat menyemai pengetahuan dari SD hingga SMA/K jika masih berada di Bali, maka mereka akan tetap bertemu dengan aksara Bali, termasuk bahasa dan sastranya. Tentu jika memiliki pengetahuan menulis dan membaca aksara Bali yang cukup akan memermudah mereka dalam mengikuti materi yang diberikan. Selain itu hidup di lingkungan keluarga, membuatnya mau tidak mau harus membantu adik atau saudara sepupu disaat mendapatkan tugas mengenai aksara Bali. Jika kita tidak tau sama sekali mengenai aksara Bali, wajarkah?

Bulan Bahasa Bali yang dilaksanakan sebulan penuh merupakan suatu langkah yang amat baik dari Pemerintah Provinsi Bali. Mereka mengajak kita sebagai generasi dan krama Bali untuk menoleh kebelakang, bahwasannya setiap pengetahuan yang dititipkan oleh para leluhur sangat baik digunakan sebagai penuntun kehidupan.

Ungkapan ateken sastra sangat baik untuk digaungkan. Selain ngwacen lontar satua-satua bali seperti Cupak Grantang, Ketimun Mas, Sigir Jlema Tuah Asibak dan satua bali lainnya menyimpan kasanah moral yang baik bagi anak-anak, sehingga lomba masatua Bali diikuti oleh krama PKK.

Kemampuan berbahasa Bali yang baik perlu dijaga dan terus dipelajari, sehingga lomba sambrama wacana diperuntukkan bagi mereka para lelaki yang akan pertama kali menjadi pemimpin di lingkungan keluarga. Kemampuan menulis aksara Bali dengan baik sesuai dengan uger-uger pasang aksara Bali pun amat penting. Maka lomba nyurat lontar, dan nyurat aksara Bali di kertas diperuntukkan bagi siswa SMP dan SD. Selain lomba yang bersifat tradisional, jenis lomba inovasi pengembangan bahasa, aksara, dan sastra Bali setiap tahun selalu bervariasi dilaksanakan.

Namun, apakah cukup hanya sebulan untuk menghargai ibu dalam bentuk bahasa? Kasih seorang ibu kepada anaknya sepanjang hanyat, sama seperti kesetiaan pertiwi kepada alam semesta beserta isinya. kesetiaan ibu dalam bentuk bahasa pun begitu mulia kepada para penuturnya. Ia memberikan identias yang dikenal dan memiliki kekhasan pada setiap bahasa ibu yang ada. Sudah selayaknya bahasa Bali sebagai bahasa ibu masyarakat Pulau Bali terus dihargai. Setidaknya ia digunakan di lingkungan keluarga.

Pembelajaran mengenai aksara Bali sebagai simbol dari bunyi bahasa Bali pun selayaknya terus dipelajari. Bukan sebulan, dua bulan atau pada hari kamis saja, tetapi dua belas bulan. Agar bulan Bahasa Bali tidak hanya sekedar menjadi formalitas belaka. Aliran yang berhulu di Februari semoga terus mengalir ke bulan seterusnya. Yang kita inginkan adalah rutinitas bukan sekedar formalitas. [T]

Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Anak Muda yang Semangat dan Percaya Diri dalam Lomba Ngwacén Lontar Bulan Bahasa Bali
Bercermin Pada Sastra: Membaca Pesan Kakawin Nitisastra dan Sang Hyang Kamahayanikan
Ada Lontar “Tamba” Hingga “Panulak Leak” — Konservasi Lontar di Kedisan dan Suter Kintamani
Konservasi Lontar I Nengah Werden di Jembrana: 10 Ikat Lontar Rusak dari 24 Cakep Lontar yang Ada
Ida Padanda Wayahan dari Griya Jumpung Kerambitan Setia Merawat Lontar Meski Secara Sederhana
Lontar Tutur Aji Mas Ganda Purantaka Petak  tentang Tujuan Hidup Kemoksan, Ditemukan di Griya Sakti Nyalian-Klungkung
Meisya Ariasthi Juara Nyurat Aksara — Inilah Para Juara Bulan Bahasa Bali di Buleleng …
Tags: aksara baliBulan Bahasa Balilontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Like Father, Not Like Son

Next Post

“Nini Kija Jani”, Teater Jineng SMAN 1 Tabanan Buktikan Diri Jadi Lumbung Kreativitas Sastra

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Nini Kija Jani”, Teater Jineng SMAN 1 Tabanan Buktikan Diri Jadi Lumbung Kreativitas Sastra

“Nini Kija Jani”, Teater Jineng SMAN 1 Tabanan Buktikan Diri Jadi Lumbung Kreativitas Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co