12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serangga dan Kenangan Hidup Tak Biasa

I Wayan Artika by I Wayan Artika
January 29, 2025
in Esai
Serangga dan Kenangan Hidup Tak Biasa

Ilustrasi tatkala.co

KAUM modern, urban yang tidak memiliki relasi dengan kearifan pertanian kuno, menganggap serangga hanya hama. Karena itu, harus dimusnahkan. Tapi kearifan masa lalu sebelum manusia mengenal racun pertanian, serangga adalah teman. Manusia wajar berbagi kepadanya. Serangga sama sekali tidak dibunuh dalam pengertian dimusnahkan dengan obat-obatan kimia. Serangga dikendalikan secara alamiah dan biologis.

Pengalaman-pengalaman manusia di masa lalu di ladang-ladang pertanian, kebun, tegalan, subak, huma, sampai kepada penemuan-penemuan racun alamiah dari daun; untuk membunuh serangga atau mengendalikan populasinya.

Ada pula strategi jitu nan arif para petani untuk hidup di ladang-ladang pertanian bersama serangga yaitu dengan cara mengatur jadwal tanam. Para petani yang arif itu akhirnya menemukan kalender kertamasa (neng, memendo, ngemasa, gegadon). Kapan menanam apa (padi atau palawija). Jadwal tanam sebisanya bersamaan dalam satu kawasan persawahan (subak) atau perladangan atau perhumaan.

Dan, pelajaran penting dari kehidupan hubungan petani dan serangga baik di pertanian padi maupun di perkebunan kopi atau di tegalan adalah mendata serangga-serangga mana yang lezat disantap. Mungkin para petani di masa lalu belajar dari para predator serangga yaitu kadal atau reptil dan tentu saja burung pemakan serangga seperti king fisher. Akhirnya ditemukan sejumlah daftar serangga yang bisa dimakan. Tidak hanya aman dimakan, tentu saja lezat.

Namun demikian, serangga tidak bisa didapat sepanjang tahun. Kehadiran serangga di subak misalnya sangat bergantung pada musim atau siklus tanaman. Karena itu, menu makan serangga adalah menu makan musiman. Serangga-serangga muncul di ladang-ladang pertanian, persawahan, perkebunan kopi pada musim-musim tertentu. Ini sudah dipahami oleh para petani. Mereka tidak hanya mengenal kalender bercocok tanam, kalender musim, dan juga mengenal kalender serangga.

Kemudian muncul sejumlah serangga yang telah didaftar untuk bisa dimakan. Namun tidak semua kelompok masyarakat, suku memiliki daftar serangga yang sama dengan kelompok lainnya. Di suatu tempat (Papua) laba-laba besar dimakan tetapi di bagian masyarakat lain tidak demikian halnya. Sambal balang sangit hanya dikenal di Praya (lombok).

Serangga memang menjadi musuh menurut pandangan pertanian modern. Betapa kanibalnya pandangan ini. Betapa egoisnya pandangan ini. Padahal kalau belajar teori evolusi, serangga muncul jauh sebelum manusia hadir di dunia. Jumlah spesiesnya berlipat-lipat kali daripada spesies homo sapien.

Di desa-desa pertanian Bali, seperti di Kecamatan Pupuan, di mana daerah ini memiliki dua jenis pertanian, yaitu subak dan perkebunan kopi; serangga pun dikenal untuk menu makan yang lezat. Kehadiran serangga sama sekali tidak menjadi persoalan. Bahkan, serangga dianggap memiliki berkah bagi petani karena akan menambah menu makan (protein hewani). Pandangan ini melahirkan tradisi menyantap serangga.

Di samping dipicu juga oleh kondisi atau letak geografis Kecamatan Pupuan yang ada di ketinggian 1000 MDPL. Jarak dari laut baik di utara, di selatan, maupun di barat sangat jauh. Tidak mudah untuk mendapatkan ikan segar di sini. Karena itu pasar Pupuan menjadi tempat untuk mendapatkan protein hewani dari laut tetapi sudah dikeringkan yang semuanya berjenis ikan asin (sudang, berbagai jenis pindang, berjenis-jenis gerang, dan grago).

Makan daging di masa lalu adalah perilaku hidup sehat karena daging hanya disantap 6 bulan sekali bertepatan dengan hari raya galungan atau secara insidental. Masyarakat di sini menyantap daging babi, ayam, atau sapi ketika ada tetangga yang memiliki hajatan atau gae adat.

Ada sejumlah serangga yang bisa dimakan di daerah Pupuan, seperti misalnya di Desa Batungsel. Serangga-serangga tersebut tentu saja yang berasal dari sawah maupun yang berasal dari perkebunan kopi. Sawah dan perkebunan kopi adalah habitat serangga. Di sini serangga menjalani metamorfosis dan tempat melewati daur hidup.  Di perkebunan kopi maupun di lahan subak serangga-serangga juga bertarung untuk mempertahankan kehidupan dari predator. Di kedua habitat inilah tempat mereka kawin, bertelur, dan tumbuh dewasa, sampai pada akhirnya mati.

Di sawah ada sejumlah serangga yang bisa dimakan seperti klipes (ada dua jenis yang memiliki jarum di bawah perutnya adalah kelipes jantan dan ini enak dimakan karena tidak mengeluarkan bau amis sedangkan yang tidak memiliki jarum adalah betina). Di samping klipes ada juga blauk, tahapan ketika capung masih hidup di lumpur sawah.  Setelah blauk menjadi capung tentu saja capung bisa dimakan. Ada berbagai jenis capung yang dikenal di Desa Batungsel, seperti capung godeh, capung ragi, capung gantung, capung kokok, capung memedi, capung gula, caoung ning ning, dan capung sera (terasi), capung kebo.  Yang terbesar adalah capung godogan, paling langka berwarna hijau metalik, keemasan.

Di subak di sawah-sawah di Batungsel juga mudah ditemukan beluang. Ada dua jenis. Yang hidup di darat dan setiap malam berbunyi sangat memakakkan telinga yaitu disebut ngangang (beracun). Beluang yang bisa dimakan adalah beluang yang hidup di sawah. Beluang ini muncul pada saat petani membajak sawah yang sudah 6 bulan kering (neng).  Saat musim tanam tiba sawah ini dikembalikan untuk bisa ditanami padi. Selama pengolahan ini beluang muncul ke permukaan lumpur yang sedang dibajak dan ditangkap oleh petani dan anak-anak mereka dengan sangat riang.

Ada pula jangkrik walaupun jenisnya tidak banyak. Warnanya hitam, jangkrik bawang. Ini juga enak disantap. Di samping jangkrik adalah belalang. Belalang hidup di rumput-rumput di tegalan di tepi sawah dan bisa ditangkap ketika hujan. Air hujan membasahi sayap sehingga mereka tidak mudah terbang atau melompat.

Masyarakat Desa Batungsel mengenal berbagai jenis belalang, seperti balang sujen  (warnanya hijau dan bentuknya tajam seperti sujen), balang ketipat, balang senogol, balang seran, dan balang timah. Belalang ada juga yang terasa pahit tetapi tetap aman dikonsumsi. Sedangkan belalang yang berhabitat di kebun kopi adalah balang kekek (hijau dan cokelat kusam seperti warna kayu kering)

Di habitat perkebunan dan tegalan, masyarakat Batungsel mengenal ores, sungeret (nongcret), ancruk, nyawan, tabuan, dan dedalu (rayap dewasa yang sudah bersayap dan muncul di musim hujan, memburu sinar lampu). Ancruk hidup di bekas batang jaka yang sudah ditebang, dari nutrisi permentasi sagu. Pohon-pohon dapdap berduri yang tinggi menaungi kebun-kebun kopi adalah sarang terbaik bagi uled atau sebatah. Serangga ini juga sangat enak disantap apalagi yang sudah tua dan terutama sumangyang (uled dapdap yang sedang ada dalam metamorfosis: pada fase kepompong).

Ores satu spesies dengan sungeret. Yang lazim dimakan adalah ores (ukuran tubuh setengah lebih besar daripada sungeret, warna hijau tua dan hitam dengan garis putih pudar di bagian perut).  Karena ia hidup di pohon-pohon besar yang tinggi, seperti gumpinis, di samping karena bergantung pada musim; jauh sangat sulit ditangkap. Hanya pohon tertentu, seperti gumpinis saja yang disukai. Tertantang oleh kelezatan ores sehingga masyarakat Batungsel bekerja keras agar bisa menangkap mereka, dengan engket teep.

Pada umumnya serangga dipanen dengan tangan telanjang. Ada pula beberapa serangga yang harus ditangkap dengan alat bantu seperti engket (cara kerjanya seperti lem) (dari pohon nangka atau teep). Menangkap serangga di samping menggunakan alat juga dapat memanfaatkan keadaan lingkungan. Misalnya menangkap capung di sawah tidak perlu menggunakan alat tetapi harus ketika embun masih lebat di sawah. Embun menutupi sayap-sayap capung yang bermalam di rumpun padi. Pagi ketika embun masih melekat tebal di sayap capung-capung yang masih lelap tidur, tidak bisa terbang ketika ditangkap dengan sangat mudah. Menangkap capung dengan bantuan embun pagi di Desa Batungsel dikenal dengan sebutan nyemeng. Pada siang hari ores dan capung ditangkap dengan engket.

Sayap-sayap serangga dihilangkan ketika digoreng, demikian pula duri-duri kaki, atau sungutnya yang tajam; diberi bumbu kesuna cekuh. Ini menjadi suguhan yang sangat nikmat.

Revolusi hijau (dengan racun, pupuk, mengubah struktur tanaman, memperpadat pola tanam, mengganti  bibit) telah menghancurkan habitat serangga. Serangga semakin sedikit ditemukan di ladang-ladang pertanian subak di Desa Batungsel. Daging ayam bisa didapat setiap hari sehingga lambat laun tradisi makan serangga dari generasi ke generasi tidak dikenal lagi. Ini juga menghancurkan permainan petualangan anak-anak,  seperti nyemeng  dan nyapung yaitu menangkap serangga di persawahan atau tegalan dengan engket dan sangat mengasyikkan. Mereka otomatis tidak lagi mengenal menu makan belalang, capung, belawuk, cueng, ancruk, uled, ores, dan  rayap yang sangat langka.

Pelajaran IPA atau ilmu hayat (biologi) di sekolah telah meracuni otak anak-anak dan semakin memperburuk pandangan mereka terhadap serangga. Serangga adalah berbahaya, hama, menjijikkan.

Munculnya polemik tentang menu serangga ketika ada program makan bergizi gratis, karena ketidakarifan dan kebodohan. Jika saja wawasan soal serangga bagus maka tidak muncul pandangan-pandangan yang mencibiri tawaran untuk menyantap serangga. Serangga adalah makanan yang sangat sehat karena bebas dari budidaya dan rekayasa industri, seperti makanan-makanan instan.

Tulisan ini bermaksud untuk menyampaikan pengalaman bahwa saat ini masih generasi yang dulu pernah menyantap serangga (penulis sendiri). Namun, pengalaman ini hanyalah masa lalu karena serangga sudah tidak bisa ditemukan lagi, juga di Kecamatan Pupuan, pun di Desa Batungsel.  Orang-orang Kasepuhan Ciptagelar (di Jawa barat) menganggap serangga adalah kawan berbagi. Serangga tetap dikendalikan. Bukan dimusnahkan dengan racun.

Masyarakat di Kecamatan Pupuan, seperti di Desa Batungsel, sedang mengalami kehilangan sejumlah serangga. Kehilangan ini bukan tanpa alasan.  Adalah ada hubungannya dengan rusaknya habitat di sawah maupun di perkebunan kopi.

Ancruk yang gurih tidak ada lagi karena pohon jaka tidak ada, sudah habis ditebang atau mati karena tua. Sementara itu, mitos larangan atau pantang menanam pohon jaka masih dianut.  Mulai menggunakan pupuk dan menyemprot walaupun dalam jumlah yang terkendali nyatanya telah menghancurkan metamofose blauk, beluang, dan klipes di sawah.  

Revolusi hijau di kebun kopi dengan mengganti pohon-pohon dapdap besar, tinggi, dan berduri; dengan gamal atau kaliandra; sehingga tidak lagi menyediakan tempat bersarang bagi uled (sebatah). Tidak ada lagi serangga jenis ini di habitat perkebunan kopi. Demikian pula halnya dengan habisnya pohon-pohon besar, seperti gumpinis,  adis karena pohon-pohon kopi berebut ruang, maka ores tidak muncul sudah semenjak 35 tahun yang lalu, bermusim-musim. Artinya hilangnya serangga adalah rusaknya ekosistem, rusaknya lingkungan. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA
Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng
Bubuh Nyawan Dadong Rinten dari Blahkiuh, Bubur Bali dengan Cita Rasa Autentik
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur
Tags: Desa BatungselKecamatan Pupuanperkebunanpertanianserangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

by Chusmeru
August 12, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

Read moreDetails

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
0
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

Read moreDetails

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co