22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Legu Juga Bisa Digugu

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
January 27, 2025
in Esai
Legu Juga Bisa Digugu

Foto ilustrasi oleh Darma Permana

JIKA ada yang bertanya, binatang apa yang diri ini paling tidak sukai, dengan tegas tanpa ragu lidah tak bertulang ini akan menyebut kata legu (nyamuk).

Binatang yang berukuran kecil namun mampu menghisap darah ini cukup membawa kenangan buruk dalam sanubari. Belum lekang dalam ingatan ketika ia mampu membuat diri ini tanpa sengaja menjatuhkan HP dalam genggaman. Tambah lagi, ketika ia juga mampu membawa seorang bibi, tepat satu tahun lalu, menginap di rumah sakit.

Berbicara mengenai eksistensi, keberadaan legu terasabertambah banyak saat musim hujan tiba. Setiap pagi, siang, dan malam, suara racing khasnya kian menggema mengelilingi daun telinga.

Tubuh dan pikiran ini pun terasa dibuat tidak tenang, was-was, serta diliputi rasa nestapa. Percayalah! Saat Anda membaca tulisan ini, mungkin ia juga tengah bersiap menghisap darah anda bak vampir di film-film horror.

***

“Terkadang, pembelajaran yang bisa digugu datang dari sesuatu yang dirimu benci!”

Seperti itulah seuntai quotes indahyang saya sempat lihat di Instagram beberapa waktu lalu. Ungkapan yang secara tidak langsung mampu mengarahkan manah pada keberadaan makhluk yang kebanyakan meninggalkan kesan kelabu ini. Memangnya pembelajaran apa yang bisa digugu dari seekor Legu?

1. Masalah Terkadang Perlu Selesai di Saat dan Tempat yang Tepat

Pernah pada suatu masa diri ini dibuat begitu jengkel pada seekor legu berwarna hitam. Beberapa kali ia telah dapat meninggalkan jejak bentolan, dan diri ini coba tepuk namun selalu gagal. Sampai pada saatnya tiba, ia tiba-tiba hinggap di atas kemeja putih yang tergantung di atas pintu.

Namun sekali lagi, saat telapak tangan sudah diarahkan sekencang-kencangnya, ia masih bisa selamat dan terbang menyelamatkan diri.

“Kle ngidang gen ye mekeber.” (Sial bisa saja ia terbang). Begitu umpat diri ini sambil mengibaskan tangan yang menjadi kebas.

Meskipun demikian, perjuangan diri ini dalam membalaskan dendam akan darah yang telah dihisap tidaklah surut. Diri ini coba menambahkan power damage dengan mengambil sapu lidi yang tergeletak di sudut kamar.

Tibalah saatnya ketika mata ini mampu melirik ia hinggap di tembok kamar yang telah menganga. Tak mau mengulang kegagalan yang sama, dengan sekali hempasan sapu lidi “Plakkkkkkk!!!” Legu itu pun harus puas meregang nyawa.

Setelah melihat jasad legu itu di tembok disertai dengan darah berceceran, sanubari tiba-tiba diliputi perenungan. Bukan karena perjuangan menepuk legu hitamyang akhirnya menemui keberhasilan. Namun lebih daripada itu, rasa syukur tiba-tiba timbul justru karena melihat TKP matinya legu hitamtersebut.

“Kle aget matine di temboke. Apa dadine yang tuni bakat matiang di kemeja putihe. Dong be je.” (Piuh, untung matinya ia di tembok. Apa jadinya kalau tadi berhasil mati di kemeja putih. Ya sudahlah).

Atas kejadian tersebut, diri ini pun mampu menarik sebuah pembelajaran, bahwa jasad legu, ternyata bisa menyimbolisasikan sebuah masalah perlu selesai di saat dan tempat yang tepat. 

2. Masalah Memang Akan Datang Lagi, Lagi, dan Lagi

Alkisah di suatu pagi hari yang gabut, diri ini begitu bangga dapat menepuk banyak sekali Legu. Dalam durasi waktu kurang dari 1 jam, secara berturut-turut sembilan ekor legu penyek di tangan Sang Dewa. Sambil menghela napas, diri ini pun sempat berpikir sejenak.

Hari ini memang para legu sedang apes atau tangan ini yang semakin cekatan?

Menimbang jumlah kematian legu dalam satu masa yang kuantitasnya lebih banyak, jiwa ini pun merasa lebih aman, tentram, dan nyaman. Gangguan dari para legu durjana mungkin tidak akan datang menimbang jumlah kematian mereka yang begitu signifikan.

Berdasar pada ekspektasi tersebut, diri ini pada akhirnya memutuskan untuk lanjut membuat proyek tulisan. Ditimpali secangkir kopi, disertai luapan hati yang penuh ketenangan dan keriangan.

Namun apa yang terjadi? Apakahpara legu tersebut benar-benar lenyap dan menyerah?

Oh tidak semudah itu, Ferguso! Baru beberapa jam mengetik, seekor legu kembali datang dan bersandar di atas layar laptop. Begitu juga sampai pada malam harinya, nyanyian bunyi legu semacam tak surut-surut untuk senantiasa menghantui.

“Kle ber sing telah-telah teka Legune.” (Sial, tidak habis-habis datang nyamuknya).

Atas kejadian tersebut, diri ini pun berhasil menarik pembelajaran kedua, bahwa legu, bisa menjadi cermin dari masalah yang akan datang lagi, datang lagi, dan datang lagi.

3. Masalah Perlu Digali dan Dicabut Hingga ke Akar

Saking lelahnya menghadapi substansi bernama legu, pada akhirnya diri ini mulai merenungi dan memutuskan untuk menggali akar permasalahan. Akar di sini diarahkan pada hal-hal yang dapat memicu atau menjadi alasan kuat mengapa legu masih bisa eksis dan berkembak biak dalam ekosistem kamar. Mulai dari baju tergantung, adanya genangan air dalam wadah di waktu yang lama, sampah makanan yang dibiarkan mengendap dalam kamar, hingga air dalam bak kamar mandi yang jarang dikuras.

Setelah semua analisis alasan-alasan tersebut dikumpulkan, sarira pun mulai bergerak dan akar permasalahan coba diatasi satu demi satu.

Diri  mulai rajin merapikan baju dan memilih menyimpannya dalam lemari, membuang air dalam wadah apapun agar tidak menimbulkan genangan, mulai rajin dalam membersihkan dan memastikan kamar dalam keadaan bersih, sampai pada taat dalam menguras dan membersihkan kamar mandi.

Semua dilakukan demi tercabutnya gangguan Para Legu yang selama ini melanda. Belum lagi, obat nyamuk juga senantiasa tersedia dan diintensifkan untuk mengatasi serta mencegah sedotan mereka yang mematikan.

Dari sisi proses yang menyita pembiasaan, usaha untuk menganalisis dan mengatasi penyebab eksistensi legu mulai menampakkan hasil yang positif.

Gangguan legu memang masih ada, namun tidak seintens pada hari-hari biasanya. Sang diri pun mampu beraktivitas normal tanpa adanya gangguan.

Pada akhirnya, tidur malam juga bisa menjadi lebih nyenyak, menimbang suara knalpot mungil yang mengintimidasi gendang telinga sudah tidak ada lagi.

“Kle, akhirne suba siang ada legu buin.” (Piuhhh, akhirnya sudah tidak ada nyamuk lagi).

Atas kejadian tersebut, diri ini pun berhasil menarik sekali lagi pembelajaran, bahwa legu, juga bisa mengajarkan kita agar mampu menyelesaikan masalah hingga ke akar.

***

JADI bagaikan warnanya yang belang bercorak hitam dan putih, legu yang biasanya menjengkelkan ternyata juga mampu menghadirkan sisi hitam dan juga putih dalam kehidupan. Bahkan jika diselami secara lebih mendalam, sisi putihnya jauh lebih mampu menghadirkan pedoman hidup yang bisa digugu dan juga ditiru.

Jadi dari segala putih yang telah berhasil dihadirkan, apakah legu mampu menghapus stigmanya dalam sanubari ini sebagai hewan yang tidak disukai?

“Mohon maaf, kayaknya belum,” jawab langsung sanubari ini sambil tangan yang baru saja berhasil menepuk seekor legu. [T]

Penulis: Dewa Gede Darma Permana
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”
Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tags: renungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Next Post

Antisipasi Bencana di Satuan Pendidikan   

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails
Next Post
Pelatihan tentang Kebencanaan selama dua hari bagi 100 SMA/SMK/SLB se-Bali tersebar di 8 Kabupaten dan Kodya Denpasar.

Antisipasi Bencana di Satuan Pendidikan   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co