13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Passompe’ dari Kala Teater: Sebuah Jejak Perjuangan Tanpa Akhir – Tanpa Kalah

Andi Lili Evita by Andi Lili Evita
December 29, 2024
in Ulas Pentas
Passompe’ dari Kala Teater: Sebuah Jejak Perjuangan Tanpa Akhir – Tanpa Kalah

Passompe’' dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

KALA Teater kembali menunjukkan keindahan seni panggung melalui karya terbarunya, Passompe’: Perjalanan Melintas Batas Kesedihan. Disutradarai dan ditulis oleh Shinta Febriany, pementasan ini tak hanya bercerita tentang tradisi migrasi masyarakat Bugis-Makassar, tetapi juga menggugah emosi dan menyingkap makna perantauan yang begitu lekat dalam sejarah dan jiwa budaya Sulawesi Selatan.

Pementasan ini yang digelar di Gedung Mulo, Makassar, pada 10 Desember 2024, pementasan ini merangkum semangat perlawanan, harapan, dan nostalgia dalam sebuah mahakarya yang pantas dikenang.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Teater Passompe’‘ dengan alur maju mundur, melintasi batas waktu abad 17-21 berhasil memberikan eksplorasi mendalam tentang tradisi migrasi orang Bugis yang berakar pada tragedi dan perjuangan pasca Perang Bongaya. Perang Bongaya (1667) menjadi titik balik penting dalam sejarah Bugis-Makassar, di mana perjanjian tersebut memaksa mereka untuk tunduk pada VOC dan menyerahkan sebagian besar otonomi mereka.

Kekalahan itu tidak hanya melahirkan trauma tetapi juga memantik semangat perlawanan yang abadi—sebuah perjuangan yang tidak pernah mengenal kata menyerah.

Orang Bugis menjawab kekalahan ini dengan massompe’, atau merantau, meninggalkan tanah air mereka untuk mencari harapan baru di wilayah-wilayah jauh. Massompe’ bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga ekspresi dari siri’ na pesse—rasa harga diri dan solidaritas yang mendalam.

Dalam semangat mallekke dapureng (keberanian untuk meninggalkan zona nyaman demi masa depan), mereka melintasi lautan dengan perahu-perahu seperti Pinisi, Palari, dan Lambo, membawa serta harapan untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Teater ini secara puitis menggambarkan bagaimana orang Bugis menggunakan “tiga ujung” sebagai strategi bertahan hidup dalam perantauan: yang pertama ujung lidah (diplomasi), kedua ujung kemaluan (perkawinan), dan terakhir ujung badik (perlawanan).

Melalui diplomasi, mereka membangun hubungan dengan komunitas baru; melalui perkawinan, mereka mengakar pada budaya asing tanpa kehilangan identitas mereka; dan melalui perlawanan, mereka mempertahankan martabat serta tanah air simbolis mereka di hati.

Lakon Passompe’‘ memadukan elemen sejarah dan mitos, mengangkat kisah Sawerigading dari epos Sureq Lagaligo. Sawerigading, yang juga seorang perantau besar, menjadi simbol dari perjuangan tak kenal lelah dan semangat melintasi batas-batas untuk menemukan makna baru dalam kehidupan. Pesan ini relevan dengan pengalaman diaspora Bugis, di mana setiap perjalanan adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan upaya untuk mempertahankan martabat.

Penonton juga diajak untuk merenungkan kompleksitas identitas transnasional orang Bugis, di mana setiap persinggungan budaya menghasilkan identitas yang kaya dan dinamis. Teater ini menggarisbawahi bahwa massompe’ adalah perjalanan spiritual yang mempertegas nilai-nilai Bugis di tengah perubahan zaman.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Dengan latar musik tradisional dan dialog yang menggugah emosi, Passompe’‘ tidak hanya menjadi pengingat akan masa lalu tetapi juga penghormatan terhadap semangat para perantau Bugis yang terus hidup hingga kini. Pesannya adalah bahwa perjuangan bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang keberanian untuk terus melangkah meski menghadapi keterasingan dan kesedihan.

Fenomena massompe’ diulas sebagai simbol mobilitas sosial dan identitas transnasional yang telah berlangsung sejak abad XVII. Pada masa itu, migrasi dipicu oleh tekanan pasca Perjanjian Bongaya tahun 1667, yang memaksa masyarakat Bugis untuk meninggalkan tanah air sebagai bentuk perlawanan dan tidak berterimanya masyarakat terhadap kekuasaan kolonial VOC pada saat itu.

Pementasan yang menyajikan kisah tragis namun penuh semangat tentang pergulatan manusia, baik secara pribadi maupun sosial. Dalam konteks ini, tema kesedihan yang melintas batas begitu kuat terasa, mengingat latar belakang sejarah yang menggugah tentang peristiwa besar dalam sejarah Makassar, yaitu perang Bongaya pada tahun 1667.

Perjanjian Bongaya tidak hanya mengubah peta politik kerajaan-kerajaan di Celebes Selatan, tetapi juga merenggut kebebasan, menggiring masyarakat Makassar pada eksodus besar yang akhirnya membentuk komunitas-komunitas baru di luar Sulawesi.

Pementasan ini membawa penonton untuk merenungkan kembali masa lalu yang penuh gejolak. Ketika pasukan Belanda, setelah memecah perlawanan hebat Kerajaan Gowa, akhirnya memaksa Raja Gowa, Sultan Hasanuddin, untuk menandatangani Perjanjian Bongaya.

Perjanjian ini mengakhiri dominasi politik Kerajaan Gowa di wilayah Celebes Selatan dan mengubah kehidupan masyarakat Makassar selamanya. Dalam perjanjian tersebut, sebagian besar wilayah kekuasaan Gowa diserahkan kepada Belanda, dan sejumlah besar penduduk Makassar terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Mereka yang selamat dari perang dan penjajahan Belanda ini lalu melakukan migrasi besar-besaran ke berbagai tempat, baik di dalam maupun luar Sulawesi.

Salah satu aspek penting yang diangkat dalam Passompe’ adalah jejak-jejak migrasi orang Makassar, atau dikenal dengan istilah sompe’. Proses migrasi ini bukan hanya sekadar perpindahan fisik, melainkan juga perpindahan budaya dan ekonomi. Masyarakat Makassar yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya menemukan diri mereka di luar Sulawesi, membangun komunitas-komunitas baru dengan berbagai kegiatan ekonomi yang kemudian menjadi titik kekuatan mereka.

Salah satu tokoh yang sangat penting dalam sejarah migrasi ini adalah La Maddukelleng, seorang bangsawan Wajo yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran orang Bugis dan Makassar.

La Maddukelleng terkenal karena perannya dalam mempertahankan nilai-nilai kerajaan Gowa setelah Perjanjian Bongaya. Dia tidak hanya berperan dalam politik, tetapi juga dalam menyebarkan budaya dan kegiatan perdagangan orang Bugis dan Makassar ke berbagai wilayah. Para pelaut Bugis yang dikenal dengan keahlian mereka dalam bidang perkapalan dan navigasi, menjadi bagian penting dalam arus migrasi ini.

Mereka bergerak jauh hingga ke Maluku, Jawa, NTB, Kalimantan, bahkan sampai ke pesisir Barat Sumatra- Wilayah Melayu. Aktivitas mereka lebih banyak berfokus pada perdagangan rempah-rempah, beras, dan hasil bumi lainnya yang menjadi komoditas penting.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Tokoh lain yang tak kalah berpengaruh dalam migrasi ini adalah La Satumpugi, yang merupakan pemimpin di Wilayah Kerajaan Cina-Wajo dalam memperluas wilayah perdagangan orang Bugis-Makassar ke luar Sulawesi. Di bawah kepemimpinan La Satumpugi, para pedagang Bugis memperkenalkan berbagai komoditas lokal dari Sulawesi ke pasar-pasar besar di luar pulau. Mereka membawa hasil bumi, terutama rempah-rempah dan rotan, yang sangat dicari di pasar internasional, termasuk China dan India.

Aktivitas perdagangan ini menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga ekonomi masyarakat Bugis-Makassar, meskipun jauh dari tanah air mereka.

Tidak bisa dilupakan pula peran La Tenri Lai To Sengngeng, seorang tokoh perempuan yang menjadi simbol keberanian dan kebijaksanaan dalam sejarah masyarakat Makassar.

Setelah perang Bongaya, We Tenri Senngeng menjadi simbol dari keteguhan hati masyarakat Makassar dalam menghadapi tantangan berat. Ia membantu mengorganisir komunitas-komunitas yang tersebar, menjaga kekuatan mental mereka, serta memfasilitasi perdagangan antar pulau. La Tenri Lai To Sengngeng juga dikenal dalam sejarah sebagai tokoh yang mempengaruhi hubungan politik antara komunitas Makassar dengan kerajaan-kerajaan lain di luar Sulawesi.

Pasca perang Bongaya, wilayah penyebaran orang Bugis-Makassar menjadi sangat luas. Mereka tersebar hingga ke Malaysia dan Singapura. Komunitas Makassar di luar negeri ini terus mengembangkan kekuatan mereka dalam perdagangan, sehingga seiring waktu, mereka menjadi bagian integral dari jaringan perdagangan internasional. Dengan keahlian dalam navigasi dan perkapalan, mereka menjadi penghubung penting antara pasar-pasar besar di Asia Tenggara dengan dunia internasional.

Komoditas yang diperjualbelikan tidak hanya terbatas pada rempah-rempah, tetapi juga barang-barang hasil kerajinan tangan dan tekstil yang diproduksi di Sulawesi. Para pedagang Makassar dikenal memiliki jaringan yang luas dan hubungan yang erat dengan pedagang-pedagang asing. Hal ini membuat mereka memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut.

Melalui teater Passompe’, kita diajak untuk melihat kembali peristiwa-peristiwa bersejarah yang bukan hanya menjadi kenangan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan semangat masyarakat Bugis-Makassar. Kisah migrasi ini bukan sekadar cerita tentang kehilangan, tetapi juga tentang kebangkitan, adaptasi, dan ketahanan dalam menghadapi tantangan.

Penonton yang menyaksikan pementasan ini tidak hanya diajak untuk merasakan kesedihan yang melintas batas, tetapi juga untuk menghargai perjuangan dan semangat masyarakat Makassar yang melintasi batas-batas geografi dan waktu.

Dalam setiap gerakan, setiap kata, dan setiap rintihan, Passompe’ menggambarkan bagaimana sejarah yang pahit sekaligus membentuk perjalanan hidup banyak orang, yang terus melanjutkan tradisi mereka dalam mencari harapan baru di luar batas-batas yang telah ditentukan.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Dalam konteks seni pertunjukan, Passompe’’ menghidupkan kembali kisah perjalanan Sawerigading dari Sureq Lagaligo, yang menjadi simbol perjuangan, adaptasi, dan transformasi hidup. Dialog penuh emosi dan tata panggung yang dramatis, diiringi musik tradisional, menghadirkan semangat keberanian dan harapan baru bagi para perantau.

Pementasan ini juga menyoroti nilai-nilai Bugis seperti mallekke dapureng, keberanian meninggalkan tempat yang tidak memberikan keadilan demi masa depan yang lebih baik. Selain itu, interaksi para perantau Bugis dengan berbagai budaya lain melalui perdagangan dan diplomasi menunjukkan betapa massompe’ telah membentuk identitas Bugis-Makassar yang adaptif dan penuh daya juang.

Sebagai penutup teater, lagu Summertime Sadness dari Lana Del Rey yang menggambarkan kerinduan pada kawan baik yang telah meninggalkan dunia di musim panas dengan bunga-bunga yang sedang mekar.

Sebelumnya, salah seorang aktor, menyanyikan lagu Totona Passompe’e dari Tajuddin Nur yang menceritakan kerinduan pada kampung halaman. Teater ini mengingatkan bahwa perantauan bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual menuju identitas yang lebih kuat dan pantas. [T]

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog
Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Mengabadikan Pentas Teater dalam Foto, Bermain dengan Cahaya Panggung

Tags: bugisKala TeaterMakasarsejarahTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan

Next Post

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Andi Lili Evita

Andi Lili Evita

Dosen sejarah Universitas Hasanuddin

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co