27 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Passompe’ dari Kala Teater: Sebuah Jejak Perjuangan Tanpa Akhir – Tanpa Kalah

Andi Lili Evita by Andi Lili Evita
December 29, 2024
in Ulas Pentas
Passompe’ dari Kala Teater: Sebuah Jejak Perjuangan Tanpa Akhir – Tanpa Kalah

Passompe’' dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

KALA Teater kembali menunjukkan keindahan seni panggung melalui karya terbarunya, Passompe’: Perjalanan Melintas Batas Kesedihan. Disutradarai dan ditulis oleh Shinta Febriany, pementasan ini tak hanya bercerita tentang tradisi migrasi masyarakat Bugis-Makassar, tetapi juga menggugah emosi dan menyingkap makna perantauan yang begitu lekat dalam sejarah dan jiwa budaya Sulawesi Selatan.

Pementasan ini yang digelar di Gedung Mulo, Makassar, pada 10 Desember 2024, pementasan ini merangkum semangat perlawanan, harapan, dan nostalgia dalam sebuah mahakarya yang pantas dikenang.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Teater Passompe’‘ dengan alur maju mundur, melintasi batas waktu abad 17-21 berhasil memberikan eksplorasi mendalam tentang tradisi migrasi orang Bugis yang berakar pada tragedi dan perjuangan pasca Perang Bongaya. Perang Bongaya (1667) menjadi titik balik penting dalam sejarah Bugis-Makassar, di mana perjanjian tersebut memaksa mereka untuk tunduk pada VOC dan menyerahkan sebagian besar otonomi mereka.

Kekalahan itu tidak hanya melahirkan trauma tetapi juga memantik semangat perlawanan yang abadi—sebuah perjuangan yang tidak pernah mengenal kata menyerah.

Orang Bugis menjawab kekalahan ini dengan massompe’, atau merantau, meninggalkan tanah air mereka untuk mencari harapan baru di wilayah-wilayah jauh. Massompe’ bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga ekspresi dari siri’ na pesse—rasa harga diri dan solidaritas yang mendalam.

Dalam semangat mallekke dapureng (keberanian untuk meninggalkan zona nyaman demi masa depan), mereka melintasi lautan dengan perahu-perahu seperti Pinisi, Palari, dan Lambo, membawa serta harapan untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Teater ini secara puitis menggambarkan bagaimana orang Bugis menggunakan “tiga ujung” sebagai strategi bertahan hidup dalam perantauan: yang pertama ujung lidah (diplomasi), kedua ujung kemaluan (perkawinan), dan terakhir ujung badik (perlawanan).

Melalui diplomasi, mereka membangun hubungan dengan komunitas baru; melalui perkawinan, mereka mengakar pada budaya asing tanpa kehilangan identitas mereka; dan melalui perlawanan, mereka mempertahankan martabat serta tanah air simbolis mereka di hati.

Lakon Passompe’‘ memadukan elemen sejarah dan mitos, mengangkat kisah Sawerigading dari epos Sureq Lagaligo. Sawerigading, yang juga seorang perantau besar, menjadi simbol dari perjuangan tak kenal lelah dan semangat melintasi batas-batas untuk menemukan makna baru dalam kehidupan. Pesan ini relevan dengan pengalaman diaspora Bugis, di mana setiap perjalanan adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan upaya untuk mempertahankan martabat.

Penonton juga diajak untuk merenungkan kompleksitas identitas transnasional orang Bugis, di mana setiap persinggungan budaya menghasilkan identitas yang kaya dan dinamis. Teater ini menggarisbawahi bahwa massompe’ adalah perjalanan spiritual yang mempertegas nilai-nilai Bugis di tengah perubahan zaman.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Dengan latar musik tradisional dan dialog yang menggugah emosi, Passompe’‘ tidak hanya menjadi pengingat akan masa lalu tetapi juga penghormatan terhadap semangat para perantau Bugis yang terus hidup hingga kini. Pesannya adalah bahwa perjuangan bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang keberanian untuk terus melangkah meski menghadapi keterasingan dan kesedihan.

Fenomena massompe’ diulas sebagai simbol mobilitas sosial dan identitas transnasional yang telah berlangsung sejak abad XVII. Pada masa itu, migrasi dipicu oleh tekanan pasca Perjanjian Bongaya tahun 1667, yang memaksa masyarakat Bugis untuk meninggalkan tanah air sebagai bentuk perlawanan dan tidak berterimanya masyarakat terhadap kekuasaan kolonial VOC pada saat itu.

Pementasan yang menyajikan kisah tragis namun penuh semangat tentang pergulatan manusia, baik secara pribadi maupun sosial. Dalam konteks ini, tema kesedihan yang melintas batas begitu kuat terasa, mengingat latar belakang sejarah yang menggugah tentang peristiwa besar dalam sejarah Makassar, yaitu perang Bongaya pada tahun 1667.

Perjanjian Bongaya tidak hanya mengubah peta politik kerajaan-kerajaan di Celebes Selatan, tetapi juga merenggut kebebasan, menggiring masyarakat Makassar pada eksodus besar yang akhirnya membentuk komunitas-komunitas baru di luar Sulawesi.

Pementasan ini membawa penonton untuk merenungkan kembali masa lalu yang penuh gejolak. Ketika pasukan Belanda, setelah memecah perlawanan hebat Kerajaan Gowa, akhirnya memaksa Raja Gowa, Sultan Hasanuddin, untuk menandatangani Perjanjian Bongaya.

Perjanjian ini mengakhiri dominasi politik Kerajaan Gowa di wilayah Celebes Selatan dan mengubah kehidupan masyarakat Makassar selamanya. Dalam perjanjian tersebut, sebagian besar wilayah kekuasaan Gowa diserahkan kepada Belanda, dan sejumlah besar penduduk Makassar terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Mereka yang selamat dari perang dan penjajahan Belanda ini lalu melakukan migrasi besar-besaran ke berbagai tempat, baik di dalam maupun luar Sulawesi.

Salah satu aspek penting yang diangkat dalam Passompe’ adalah jejak-jejak migrasi orang Makassar, atau dikenal dengan istilah sompe’. Proses migrasi ini bukan hanya sekadar perpindahan fisik, melainkan juga perpindahan budaya dan ekonomi. Masyarakat Makassar yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya menemukan diri mereka di luar Sulawesi, membangun komunitas-komunitas baru dengan berbagai kegiatan ekonomi yang kemudian menjadi titik kekuatan mereka.

Salah satu tokoh yang sangat penting dalam sejarah migrasi ini adalah La Maddukelleng, seorang bangsawan Wajo yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran orang Bugis dan Makassar.

La Maddukelleng terkenal karena perannya dalam mempertahankan nilai-nilai kerajaan Gowa setelah Perjanjian Bongaya. Dia tidak hanya berperan dalam politik, tetapi juga dalam menyebarkan budaya dan kegiatan perdagangan orang Bugis dan Makassar ke berbagai wilayah. Para pelaut Bugis yang dikenal dengan keahlian mereka dalam bidang perkapalan dan navigasi, menjadi bagian penting dalam arus migrasi ini.

Mereka bergerak jauh hingga ke Maluku, Jawa, NTB, Kalimantan, bahkan sampai ke pesisir Barat Sumatra- Wilayah Melayu. Aktivitas mereka lebih banyak berfokus pada perdagangan rempah-rempah, beras, dan hasil bumi lainnya yang menjadi komoditas penting.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Tokoh lain yang tak kalah berpengaruh dalam migrasi ini adalah La Satumpugi, yang merupakan pemimpin di Wilayah Kerajaan Cina-Wajo dalam memperluas wilayah perdagangan orang Bugis-Makassar ke luar Sulawesi. Di bawah kepemimpinan La Satumpugi, para pedagang Bugis memperkenalkan berbagai komoditas lokal dari Sulawesi ke pasar-pasar besar di luar pulau. Mereka membawa hasil bumi, terutama rempah-rempah dan rotan, yang sangat dicari di pasar internasional, termasuk China dan India.

Aktivitas perdagangan ini menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga ekonomi masyarakat Bugis-Makassar, meskipun jauh dari tanah air mereka.

Tidak bisa dilupakan pula peran La Tenri Lai To Sengngeng, seorang tokoh perempuan yang menjadi simbol keberanian dan kebijaksanaan dalam sejarah masyarakat Makassar.

Setelah perang Bongaya, We Tenri Senngeng menjadi simbol dari keteguhan hati masyarakat Makassar dalam menghadapi tantangan berat. Ia membantu mengorganisir komunitas-komunitas yang tersebar, menjaga kekuatan mental mereka, serta memfasilitasi perdagangan antar pulau. La Tenri Lai To Sengngeng juga dikenal dalam sejarah sebagai tokoh yang mempengaruhi hubungan politik antara komunitas Makassar dengan kerajaan-kerajaan lain di luar Sulawesi.

Pasca perang Bongaya, wilayah penyebaran orang Bugis-Makassar menjadi sangat luas. Mereka tersebar hingga ke Malaysia dan Singapura. Komunitas Makassar di luar negeri ini terus mengembangkan kekuatan mereka dalam perdagangan, sehingga seiring waktu, mereka menjadi bagian integral dari jaringan perdagangan internasional. Dengan keahlian dalam navigasi dan perkapalan, mereka menjadi penghubung penting antara pasar-pasar besar di Asia Tenggara dengan dunia internasional.

Komoditas yang diperjualbelikan tidak hanya terbatas pada rempah-rempah, tetapi juga barang-barang hasil kerajinan tangan dan tekstil yang diproduksi di Sulawesi. Para pedagang Makassar dikenal memiliki jaringan yang luas dan hubungan yang erat dengan pedagang-pedagang asing. Hal ini membuat mereka memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut.

Melalui teater Passompe’, kita diajak untuk melihat kembali peristiwa-peristiwa bersejarah yang bukan hanya menjadi kenangan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan semangat masyarakat Bugis-Makassar. Kisah migrasi ini bukan sekadar cerita tentang kehilangan, tetapi juga tentang kebangkitan, adaptasi, dan ketahanan dalam menghadapi tantangan.

Penonton yang menyaksikan pementasan ini tidak hanya diajak untuk merasakan kesedihan yang melintas batas, tetapi juga untuk menghargai perjuangan dan semangat masyarakat Makassar yang melintasi batas-batas geografi dan waktu.

Dalam setiap gerakan, setiap kata, dan setiap rintihan, Passompe’ menggambarkan bagaimana sejarah yang pahit sekaligus membentuk perjalanan hidup banyak orang, yang terus melanjutkan tradisi mereka dalam mencari harapan baru di luar batas-batas yang telah ditentukan.

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

Dalam konteks seni pertunjukan, Passompe’’ menghidupkan kembali kisah perjalanan Sawerigading dari Sureq Lagaligo, yang menjadi simbol perjuangan, adaptasi, dan transformasi hidup. Dialog penuh emosi dan tata panggung yang dramatis, diiringi musik tradisional, menghadirkan semangat keberanian dan harapan baru bagi para perantau.

Pementasan ini juga menyoroti nilai-nilai Bugis seperti mallekke dapureng, keberanian meninggalkan tempat yang tidak memberikan keadilan demi masa depan yang lebih baik. Selain itu, interaksi para perantau Bugis dengan berbagai budaya lain melalui perdagangan dan diplomasi menunjukkan betapa massompe’ telah membentuk identitas Bugis-Makassar yang adaptif dan penuh daya juang.

Sebagai penutup teater, lagu Summertime Sadness dari Lana Del Rey yang menggambarkan kerinduan pada kawan baik yang telah meninggalkan dunia di musim panas dengan bunga-bunga yang sedang mekar.

Sebelumnya, salah seorang aktor, menyanyikan lagu Totona Passompe’e dari Tajuddin Nur yang menceritakan kerinduan pada kampung halaman. Teater ini mengingatkan bahwa perantauan bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual menuju identitas yang lebih kuat dan pantas. [T]

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog
Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Mengabadikan Pentas Teater dalam Foto, Bermain dengan Cahaya Panggung

Tags: bugisKala TeaterMakasarsejarahTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan

Next Post

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Andi Lili Evita

Andi Lili Evita

Dosen sejarah Universitas Hasanuddin

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co