24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bebunyian: Berangkat dari Mana, Berhenti Entah di Mana – Catatan Sutradara Sebelum Pentas

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Esai

 

SETIAP pementasan memiliki pesan, nilai, misi yang ingin disampaikan kepada penonton. Setiap pementasan memiliki ruang interpretasinya masing-masing: seluas apa, sesempit apa, itu haknya sang penikmat/penonton, entah suka atau tidak suka itu urusan kesekian. Begitulah salah seorang kawan menasihati saya pada suatu kesempatan di bulan Juni waktu lalu.Atas dalil itu, saya berusaha menjawabnya melalui pementasan yang tidak pada jalur kereta pada umumnya (setidaknya di Bali).

Bersama 8 pemain inti (termasuk saya), yakni Iin Velentine (Teater Orok), Trees (Teater Orok), Damar (Teater Orok),  Anang (Teater Orok), Jecko (Teater Kini Berseri), Novy Rainy (Teater Angin), Wisnu Negara (Teater Kalangan) dan saya. Hampir sebulan terakhir ini kami berdiskusi, di warung kopi, di warung lalapan, di tempat latihan, usai menonton pementasan, saat membuat panggung bahkan sampai di rumah kami tetap berpikir, menggodok ide, konsep, adegan, bunyi apa saja yang ingin dimasukan, pada produksi pementasan yang kami beri judul “Bebunyian”. Bisa dikatakan hampir 70% waktu kami gunakan untuk berdiskusi pada berbagai kesempatan.

Akhirnya kami sepakat untuk mengusung Bali dengan segala kegelisahannya sebagai lini utama pementasan.“Bebunyian” ingin menyampaikan pendapatnya tentang Bali, menerka Bali, mengisahkan Bali, bahkan lebih jauh meramal Bali melalui jejeran fakta, fenomena yang saat ini sedang bergolak. Terutama hal-hal yang menyangkut tentang ikatan manusia terhadap alam sekitarnya. Menjadi topik hangat yang sedang dibicarakan di mana-mana, bolehlah kami para pencinta teater juga membawanya ke ranah  pemanggungan. Namun dengan pendekatan yang berbeda, tidak melalui tata logika narasi yang teratur dan harmonis.Melainkan dengan keliaran bahasa bunyi, bahasa gerak, bunyi tubuh dan bunyi tak bernada, namun sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Lompatan-lompatan peritiwa tentang Bali, kami hadirkan dalam adegan yang terkesan sedang berlompatan dari waktu ke waktu. Benang merahnya mungkin samaratau sama sekali tidak terlihat, namun kami berusaha untuk merajutnya agar (terasa) terlihat hangat. Terlebih lagi sebagian besar dari kami dibesarkan di Bali, tentu akan menjadi sah-sah saja saat kritik disampaikan kepada saudara sendiri (autokritik) untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Di tengah latihan kami sering berbincang tentang gerakan Bali Tolak Reklamasi; petani garam tradisional  Amed yang terhimpit pembangunan pariwisata; pedagang arak yang sering masuk penjara padahal dia menjaga kearifan lokal Bali; tentang gebogan buah yang didominasi minuman kaleng; tentang tumpek bubuh, tumpek kandang, tumpek wayang yang semakin hari kehilangan esensinya dan seterusnya.

Proses Kreatif

Satu hal yang penting pada pementasan kali ini  adalah  keberadaan naskah. Kami sama sekali tidak berangkat dari naskah utuh. Kami berdelapan membangunnya di tengah proses latihan, sembari menimbang kemungkinan-kemungkinan estetika di atas panggung. Naskah hanya berupa coretan-coretan di atas kertas nasi, catatan di ponsel pintar, buku sketsanya Rizky Wahyu yang kebetulan suka menggambar. Lalu coretan-coretan itu kami satukan perlahan  (diketik ulang) agar mudah diingat dan dipahami.

Ketidakberadaan naskah memberi ruang luas untuk berdebat antar pelaku. Metode ini melatih kami dalam mengambil keputusan agar tidak menyakiti satu sama lain. Jika salah satu orang tidak setuju dengan adegan (gerakan) yang diajukan, ia bisa menyampaikan keberatannya dengan segala alasan yang masuk akal, bukan hanya berdasarkan perasaan kurang “sreg” saja.

Secara tidak langsung kami melatih teater sistematis berdasarkan logika peristiwa, bukan bertumpu berat pada adegan improvisasi.Yang sering terjadi, misalnya satu adegan dianggap kurang, yang lain ikut menambahkan, yang satu menginterpretasi, yang satu mencari respon gerak, yang satu mencari respon bunyinya. Kerja kolektif seperti ini memang membutuhkan kesabaran, keikhlasan serta  keberanian untuk mengatakan cukup, sebab kita berangkat dari nol, kapan berhenti pun kadang kita tidak pahami secara sadar. Mengerikan!

Dalam produksi kali ini saya cukup banyak berbincang dengan Rizky Wahyu (Jecko) seorang penari dubstep di Denpasar.Ia memberikan banyak masukan kamus gerakan dan tarian kepada kami. Hampir seluruh gerakan di setiap adegan merupakan cikal bakal dari idenya, kemudian kami “goreng” bersama untuk mencapai energi yang diinginkan.Selain Jecko saya sendiri banyak terpengaruh dari sejumlah pementasan teatar eksperimental seperti Payung Hitam, Teater Garasi, Creamer Box yang saya tonton secara berulang di cannel Youtube.Kendati referensi dari luar Bali, wacana ke-Bali-an tetap kami junjung tinggi sebagai pondasi bangunan pementasan.

Sementara komposisi bunyi banyak mendapat asupan gizi dari Wisnu Negara yang saat ini menempuh studi musik di Amerika. Dari Wisnu, kami belajar banyak tentang musik klasik, komposisi harmonis, atonal dan segala macam teknik-teknik yang tidak kami pahami sebelumnya. Ini menjadi tantangan bagi saya selaku sutradara (hanya formalitas) untuk menyatukan segala macam komponen menjadi satu genggaman pukulan yang baik. Ramuan antara bunyi  dan gerak agar tidak saling menonjol, tapi berjalan beriringan, namun juga  menghadirkan kejutan-kejutan  yang tak terduga bagi penikmatnya.

Terus terang garapan ini masih sangat muda, tapi menarik menjadi variasi tontonan di tengah jagat perteateran di Bali, Denpasar khususnya.Saya mencoba menggarap pementasan di ruang-ruang yang kurang lazim. Konsep tersebut terinspirasi dari pertunjukan musik grup Band Sigurros dari Islandia yang sering pentas musik di gedung tua, di perbukitan, di café kecil, dan lain sebagainya.Kalau di Denpasar biasanya ada Dramawan Abu Bakar yang menyajikan pentas teater rumahan.Pak Abu mengeksplorasi bagian rumah sebagai panggung pementasan.

Memilih lahan pentas secara acak seperti yang kami lakukan tentu memiliki resiko yang cukup tinggi, terutama kami harus observasi lebih dalam atas faktor eksternal tempat pementasan, seperti meminta izin tetangga, kepala dinas, kelian adat, serta pecalang. Selain itu di lahan pentas pun kami mesti melakukan adaptasi ruang dari awal, membuat setting dengan penuh kesadaran agar tidak terlalu banyak mengubah lahan yang sudah ada. Alih-alih membuat bangunan  baru, lebih baik mendayakan alam yang sudah ada. Lahan pentas “Bebunyian” adalah tanah milik salah seorang sahabat saya, rencananya di lahan tersebut akan dibangun gudang untuk usaha properti miliknya. Kami memerawani tanahnya terlebih dahulu sebelum dipakai pemiliknya.

Pementasan “Bebunyian” ini, belum utuh sepenuhnya, saya sendiri agak enggan mengatakan pementasan ini adalah akhir, melainkan awa untuk pementasan yang lebih matang, mungkin satu-dua-lima bulan, bahkan setahun lagi.Bagi kami, itu sah sah saja.setiap adegannya masih dapat dikembangkan sampai titik batas tertentu. Untuk itu, perlu masukan dari penonton/undangan yang hadir. Kemudian kami jadikan ramuan untuk pentas berikutnya. Entah kapan, tapi PASTI! Selamat  menikmati.

Teater Kalangan 2017

Baca juga: Catatan Penata Bunyi Sebelum Pentas

Tags: musikTeaterTeater Kalangan
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

“Kekuatan Mata Hati” – Ketika Penyandang Tunanetra Bermain Drama

Next Post

Bebunyian: Apa yang Harus Dibunyikan? – Catatan Penata Bunyi Sebelum Pentas

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post

Bebunyian: Apa yang Harus Dibunyikan? – Catatan Penata Bunyi Sebelum Pentas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co