24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketut Muhammad Suharto, “Juru Bicara” Desa Pegayaman yang Multitalenta

Jaswanto by Jaswanto
September 12, 2024
in Persona
Ketut Muhammad Suharto, “Juru Bicara” Desa Pegayaman yang Multitalenta

Ketut Muhammad Suharto | Foto: Bayu

IA tersenyum kecil saja saat seseorang mengabadikan dirinya setelah mendapat Anugerah Seni Wija Kusuma Agustus lalu. Penghargaan yang diberikan Dinas Kebudayaan Buleleng kepada seniman yang setia melestarikan kesenian tradisi di Buleleng itu, dipegangnya erat-erat. Ia tak sendirian malam itu, ada sang istri yang berdiri di sebelah kirinya. Dengan pakaian serba hitam, pasangan suami-istri itu berpose dengan, sekali lagi, senyuman yang kecil saja.

Anugerah Seni Wija Kusuma ia dapatkan karena pemerintah menilai ia berjasa dalam pelestarian kesenian burdah Desa Pegayaman. Tak bisa disangkal, memang, walaupun, mungkin, ia bukan satu-satunya orang yang melestarikan kesenian Islam yang sudah menubuh dengan lokalitas Bali itu. Tapi, barangkali hanya dia satu-satunya orang yang cakap membawa burdah ke mana-mana—tak cukup untuk keperluan tradisi, tapi juga hiburan di panggung-panggung festival.

Namanya Ketut Muhammad Suharto, sebuah paduan nama yang unik. Ada unsur Bali, Islam, pula Jawa dalam tiga kata namanya. “Ketut” adalah identitas orang Bali. Sedangkan “Muhammad” merupakan representasi Islam. Dan “Suharto” sangat identik dengan Jawa. Mungkin ini bukan tanpa sebab. Suharto, sebagaimana ia akrab dipanggil, lahir di Bali, beragama Islam, dan beberapa leluhur Pegayaman berasal dari Jawa. Seolah, identitas Pegayaman bersemayam dalam jiwa dan raganya.

Suharto adalah sosok, jika bukan tokoh, di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, yang terkenal. Namanya acap kali disebut saat orang-orang berbicara atau menulis tentang desa Muslim yang bertengger di tengah-tengah wilayah Hindu itu. Di Pegayaman, ia semacam “juru bicara” yang, tak hanya cakap dalam menjelaskan seluk-beluk Pegayaman, pula melakukan penggalian-penggalian bagaimana wajah Pegayaman di masa silam. Bisa dibilang, Suharto adalah sejarawan nonformal, organik, Desa Pegayaman.

Dan dari sana lah kemudia ia dikenal sebagai seorang yang peduli terhadap sejarah, seni, dan budaya Desa Pegayaman. Bertahun-tahun dia mendedikasikan diri untuk mempertahankan kesenian dan kebudayaan di Pegayaman—dan tentu saja berusaha memperkenalkannya kepada banyak orang—dan berusaha menyibak tabir masa lalu dengan menggali kepingan-kepingan sejarah tanah kelahirannya. Hasil penggalian itu kemudian ia tuliskan dan dihimpun dalam buku berjudul “Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali” yang diterbitkan pada tahun 2023.

Di rumah panggungnya yang unik, yang sekaligus sebagai sekretariat LPS Kumpi Bukit Pegayaman, banyak orang mendatanginya. Mulai dari wartawan, akademisi, peneliti, hingga orang-orang luar negeri. Suharto senang bercerita banyak hal tentang Pegayaman. Ah, barangkali karena ini dirinya sering menjadi narasumber di mana-mana. Orang ini termasuk jenis pencerita yang baik—meski bukan yang terbaik.

Di depan rak bukunya yang sederhana, kata-kata luber dari lisannya. Kadang lancar, kadang terbata. Kadang tegas dan percaya diri, kadang setengah berbisik karena tidak yakin. Dan tak jarang Suharto bersuara lantang bak orator ulung zaman perjuangan kemerdekaan. “Pegayaman ini termasuk desa tua. Wilayah istimewa pemberian Raja Panji Sakti, khusus untuk orang Muslim,” katanya suatu ketika di bulan Puasa.

Apa yang Suharto katakan memang sudah menjadi semacam sejarah umum. Setelah I Gusti Anglurah Panji Sakti—pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Buleleng—meluluhlantakkan Kerajaan Blambangan pada 1647/1648 M, ia merekrut 100 orang laskar tentara Muslim dari Kerajaan Mataram di Jawa dan menempatkan mereka di wilayah hutan gatep yang terletak di sebelah selatan Kerajaan Buleleng.

“Mereka sebagai benteng pertahanan wilayah selatan,” kata Suharto bangga. Penempatan pasukan Muslim di wilayah perbatasan ini sering dijadikan lelucon oleh beberapa orang saat membahas sejarah Pegayaman. Kata mereka, kalau terjadi penyerbuan, orang-orang Muslim akan terbunuh lebih dulu. Meski masuk akal, tapi jelas itu jenis lelucon yang buruk. Dan Suharto bangga telah lahir dan besar di Pegayaman.

Ia fasih menyampaikan soal akulturasi budaya di Pegayaman. Menurutnya, Islam di Pegayaman sudah disesuaikan dengan budaya setempat—dan itu juga membuatnya bangga. “Banyak hal yang menjadikan Islam di Pegayaman begitu khas,” katanya. Selain adat dan tradisinya, kesenian dan kebudayaannya, cara beragama orang Pegayaman juga sedikit-banyak telah menyesuaikan dengan orang Bali—yang notabene mayoritas memeluk agama Hindu.

Islam di Pegayaman merupakan hasil akulturasi budaya, sebagaimana Islam di Jawa dan mungkin juga di banyak tempat lain yang memiliki coraknya sendiri. Selain menggunakan bahasa Bali sebagai komunikasi sehari-hari, penggunaan nama depan orang Bali juga digunakan oleh orang Muslim di Pegayaman. Maka tak heran jika orang-orang tua Muslim di Pegayaman masih membubuhkan istilah “wayan”, “nengah”, “nyoman”, dan “ketut” sebagai nama depan anak-anaknya—sampai sekarang.

“Tapi bedanya,” kata Suharto, “di Pegayaman anak nomor lima sampai seterusnya, tetap dikasih nama ketut. Sedangkan kalau orang Bali pada umumnya, anak yang lahir setelah anak keempat dikasih nama wayan—kembali ke satu setelah kelipatan empat. Makanya nama saya Ketut Muhammad Suharto. Padahal saya anak ke sembilan,” sambungnya sembari tertawa.

Ketut Muhammad Suharto (paling kiri) saat menerima piala “Lomba Penulisan Sejarah Desa” | Foto: Dok. Balisharing

Tak hanya soal pemberian nama depan, tapi juga soal kuliner, tata kelola air, sampai pernikahan, orang Pegayaman masih mengadopsi nilai-nilai kebudayaan orang Bali—itu sudah menubuh. Hanya saja, semua itu sudah disesuaikan dengan ajaran atau syariat Islam—seperti wali songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa, dulu. “Orang Pegayaman memiliki istilah ‘adat berpangku syara, bersandar kitabullah’. Apa pun itu, sandarannya harus kepada kitab suci,” ujar Suharto. Ia begitu serius saat mengatakan kredo tua itu.

Sosok Multitalenta

Sosok yang lahir pada 13 Januari 1966 ini baru saja menjuarai “Lomba Penulisan Sejarah Desa” yang dilaksanakan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Buleleng. Piala penghargaan lomba serangkaian Festival Literasi Buleleng 2024 ini diserahkan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno, Singaraja, Kamis (12/9/2024).

Tentu saja Suharto menulis sejarah desanya sendiri, Pegayaman. Desa yang sudah berumur 4 abad itu diperkirakan ada sejak 1648 M, yang diawali dengan 100 laskar yang direkrut pendiri Kerajaan Buleleng, I Gusti Anglurah Panji Sakti—seperti yang sering Suharto katakan. Atas jasa para 100 laskar dari Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur itu, Raja Panji Sakti memberi hadiah lahan di wilayah bukit yang sekarang bernama Pegayaman, Kecamatan Sukasada.

Soal sejarah Pegayaman, Suharto memang hafal di luar kepala. Dalam beberapa kesempatan, ia begitu lancar menceritakan sejarah desanya, termasuk angka tahun, detail-detail peristiwa, dan nama-nama tokoh awal desa tersebut—walaupun beberapa hasilnya lebih mengarah kepada apa yang dibenci oleh para sejarawan: mitos. Tapi Suharto bergeming, bahkan hasil penggaliannya itu—untuk tidak mengatakan hasil penelitiannya—kemudian ia tuliskan dan diterbitkan menjadi buku.

Dan ya, dalam beberapa tahun ini, saat Pegayaman berkembang menjadi semacam ‘destinasi wisata penelitian’, saat banyak pakar, profesor, doktor, peneliti, para calon peneliti, mahasiswa, siswa, jurnalis, dan termasuk peneliti dari luar negeri yang melakukan kunjungan ke Pegayaman, Suharto-lah yang dipercaya untuk mendampingi. Ia mengantar para pengunjung ke beberapa tempat bersejarah dan menjelaskan banyak hal kepada mereka—semacam juru kunci atau tour guide.

Selain cakap berbicara sejarah, Ketut Suharto juga menekuni seni burdah—kesenian semacam rebana, terbangan, khas Pegayaman. Ia seniman sekaligus pemimpin sekaa (kelompok) Burdah Burak Pegayaman. Tak hanya menekuni, ia juga melakukan berbagai upaya bagaimana seni burdah tetap lestari dan eksis di zaman sekarang.

Salah satu upaya yang ia lakukan, selain mementaskan dan mengajarkannya, pula memproduksi pengetahuan atas seni burdah Pegayaman dengan cara menuliskannya, dari sejarahnya, tokoh-tokoh atau seniman-senimannya, keunikan dan kekhasannya, hingga syair dan ragam lagunya. Oleh karena itu Dinas Kebudayaan Buleleng memberikan penghargaan Anugerah Seni Wija Kusuma kepadanya.

Selain menekuni penulisan sejarah dan kesenian burdah, Suharto ternyata juga jago melukis dan membuat sketsa. Karya-karyanya memang baru sebatas menjadi koleksi pribadi dan beberapa temannya. Namun, tak berlebihan kalau mengatakan bahwa tangannya amat terampil dalam menggores garis dan titik di atas kertas membentuk lukisan atau sketsa tertentu.

Suharto menempuh pendidikan dasar di Desa Pegayaman. Setamat SMP, ia merantau ke Kota Negara, Jembrana, menjadi siswa PGA. Sementara pendidikan sarjananya ia tempuh di kota Mataram, NTB, di sebuah perguruan tinggi Islam di sana (IAIN). Sampai akhirnya ia menyunting gadis Lombok, Baiq Palmafni Zahara, namanya—perempuan yang mendampinginya saat mendapat Anugerah Seni Wija Kusuma.

Sebagaimana kebanyakan warga Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto juga menekuni pertanian. Ia seorang petani cengkeh. Juga sering diminta mendampingi pembinaan petani kopi organik yang dilaksanakan berbagai lembaga, seperti Unud dan ITBM Bali.

Ia juga aktif di kegiatan Masjid Jami’ Safinatussalam Pegayaman—masjid yang berhasil meraih juara pertama lomba masjid bersejarah di tingkat Provinsi Bali yang dilaksanakan Kementerian Agama, dan kini mewakili Bali dalam lomba yang sama di tingkat nasional. Di desanya, Suharto juga menjadi Ketua BUMDESA “Barokah” Desa Pegayaman. Ia aktif di Tagana Buleleng. Dan menjadi Ketua ICMI Buleleng.

Beberapa kali, Suharto menjadi narasumber pada seminar nasional tentang sejarah, budaya, dan adat-istiadat Pegayaman. Ia juga menjadi anggota Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng, yang aktif meneliti sejarah, terutama sejarah komunitas Islam di Bali. Suharto juga aktif menulis tentang sejarah dan seni-budaya di portal balisharing.com.[T]

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)
Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (2)
Tradisi Tadarus Al-Qur’an Bersama di Rumah-Rumah Warga Saat Bulan Puasa
Tradisi Desa Pegayaman di Bulan Ramadan: Salat Tarawih di Masjid Pukul Sepuluh Malam
Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Tags: Anugerah Seni Wija KusumaburdahDesa PegayamanKetut Muhammad Suharto
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membedah Problematika Pariwisata Daerah

Next Post

Tanaman dan Pelajaran Seni Rupa: Gambar Ilustrasi untuk Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Milenial

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Tanaman dan Pelajaran Seni Rupa: Gambar Ilustrasi untuk Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Milenial

Tanaman dan Pelajaran Seni Rupa: Gambar Ilustrasi untuk Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Milenial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co