23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku yang Mengawali Cinta

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 21, 2024
in Esai
Buku yang Mengawali Cinta

Buku " Catatan Pinggir"

SEBAGAI penikmat bacaan sejak usia muda, cukup mengherankan kalau buku pertama yang saya beli dari kantong sendiri adalah saat kuliah dulu. Itupun dengan mengorbankan bekal sebagai anak kost selama sepekan.

Buku Supernova, dengan anak judul Ksatria, Puteri dan Bintang jatuh yang ditulis Dewi Lestari (Dee) menjadi awal saya berani membeli buku. Saya tertarik membeli buku itu, karena ada pembahasan selama sebulan di rubrik sastra koran yang saya baca (Kompas dan Jawa Pos kalau tak salah ingat).

Banyak yang memuji buku itu dengan berbusa, tapi ada juga yang mengkritisinya dengan obyektif. Dan yang cukup romantis, buku itu saya berikan ke teman wanita yang memikat hati saya saat itu.

Dan buku berikutnya baru mampu  saya beli dengan sepenuh hati. Karena saat itu saya sudah mulai bekerja sebagai dokter jaga di klinik swasta di daerah Buleleng bagian barat. Buku kumpulan catatan pinggir tulisan Goenawan Mohamad (GM) begitu berkesan bagi saya. Saat buku itu dipinjam senior dokter dan tak kembali, saya membelinya lagi saat turun gunung ke kota  Denpasar.

Sejak mengenal tulisan GM itu, kecintaaan saya pada karya GM tak pernah surut hingga saat ini. Sampai hari ini, saya telah mengoleksi lima belasan buku tulisan GM.

Buku itu berisi kumpulan tulisan GM di majalah Tempo, yang khusus dibuatkan kolom yaitu Catatan Pinggir. Yang kalau dihitung sudah hampir melewati tiga dasa warsa GM  rutin mengisi kolom itu. Terhitung dari awal Tempo terbit.

Begitu banyak dan beragam tema yang ia angkat dalam tulisan itu. Dari yang berat mengenai Ideologi, agama, politik,  sastra, sampai yang agak ringan, seperti cerita tentang tokoh, dan peristiwa yang diceritakan dari sudut pandang GM, dan disandingkan dengan khasanah pengetahuan dan pemikiran yang ia miliki.

Tapi bagi saya sendiri, tulisan di buku itu mampu menjadi pintu masuk untuk membaca lebih jauh tentang tokoh, buku, tulisan yang menjadi tema dalam satu judul tulisan.

Saat ada kutipan Paulo Coelho disana, saya pasti segera memburu bukunya. Begitupun saat sebait tulisan Chairil Anwar dikutip, saya akan tergerak untuk mencari buku biografi tentang sang “binatang jalang” itu.

Dalam tulisan GM sering kita temukan petikan kata-kata indah penuh makna dari banyak penulis dalam dan luar negeri. Petikan puisi yang dicantumkan dalam tulisannya pun, bisa tersimpan di ingatan saya dalam waktu yang lama. Karena biasanya disertai penjelasan tentang latar belakang penulisan, suasana kebatinan penulis saat menulis puisi tersebut, maupun situasi sosial yang menyertai penulisan puisi itu.

Beberapa yang masih saya ingat , puisi Huesca ditulis oleh Jack Conford, penulis Inggris, sesaat sebelum kematiannya dalam perang saudara di Spanyol.

Kenanglah segala yang baik
Dan cintaku yang kekal

Kata-kata Daniel Ortega, presiden Nikaragua saat partainya Sandinista kalah dalam Pemilu saat itu. Benar-benar mewakili ide sosialisme yang tak lekang oleh waktu.

“Kami lahir miskin, tak menyesal kalau mati pun tetap miskin.Kami tak akan berselingkuh dengan kekuasaan. Dan kami telah memberikan pemilu yang bersih dan jujur untuk rakyat Nikaragua.”

 Tulisan tentang sebuah anomali kehidupan, ketika seorang pangeran kerajaan Mataram di abad 19 meninggalkan kekayaan dan istananya yang megah. Untuk menjadi rakyat biasa di pesisir utara Pulau Jawa. Tulisan ditutup dengan sebait puisi yang menyentuh.

Lihatlah tanganku di akar rumput
Lebih banyak yang bisa kusentuh
Dari yang mampu kau rengkuh

Cerita tentang tokoh, pernah mengupas kehidupan dan pilihan hidup Romo Mangunwijaya. Seorang humanis yang dengan program Kali Code-nya banyak membantu kaum marginal di pinggiran Yogyakarta. Yang mencengangkan, ternyata GM sangat mengagumi sosok Sutan Syahrir, lebih dibandingkan tokoh pahlawan lain yang lebih kita kenal semisal Bung Karno dan Bung Hatta.

Alasan yang dikemukakan, karena ia mengagumi sosok yang kalah dari Sutan Syahrir dan tetap menerima kekalahannya itu secara legawa tanpa dendam. Kalah yang dimaksud tentu saja kekalahan secara politik dari sosok Bung Karno.

Di tahun 60-an ia pernah ditanya wartawan, “Kalau sekarang Bapak dipanggil ke istana oleh Presiden, apakah Bapak bersedia?” Dengan senang hati, jawabnya. Karena Bung Karno adalah presiden saya. Sosok dengan jiwa besar dalam tubuhnya yang mungil.

Tentang sang penulis sendiri, barangkali tak ada yang perlu saya tambahkan lagi. Seorang sastrawan lintas generasi, budayawan yang kata-katanya masih banyak dikutip. Akun media sosialnya saja diikuti oleh  ribuan follower saya lihat. Ia seumuran dengan bapak saya. Ayahnya mati dieksekusi NICA saat zaman perjuangan.

Kakaknya seorang dokter yang aktif berorganisasi dan sempat menjadi Ketua IDI dalam waktu yang lama. Ia bersahabat dengan Salim Said, sejak pertama merintis majalah Tempo. Yang ironisnya, begitu Salim Said balik dari studinya di Amerika mereka berpisah. Saya lihat dalam situasi politik terkini sepertinya mereka bersimpangan.

Hubungannya dengan Romo Magnis Susseno, bagawan filsafat kita cukup unik. Mereka saling mengagumi, tapi tak mesti sejalan dalam sikap dan pemikiran. Tulisan Romo Magnis untuk pengantar buku GM saya rasa merupakan yang terbaik diantara penulis yang lain. Begitu jernih, memukau dan menimbulkan rasa ingin tahu yang mendesak untuk segera membaca buku itu secara keseluruhan.

Mereka pernah berseberangan dalam menyikapi sepak terjang Ahok saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, ini mungkin terkait dengan sikap Romo Magnis yang menghindari konfrontasi. Tetapi untuk situasi politik terkini, saya lihat mereka berada dalam satu gelombang pikiran yang sama.

Dan terakhir yang perlu kita teladani dari GM, adalah pilihan sikapnya. Itu menjiwai secara tersamar pemberitaan dan cara pandang secara umum majalah Tempo yang ia rintis dari awal. Sehingga saat orang berbicara tentang Tempo, mereka pasti tak melupakan sosok GM di belakangnya.

“Jurnalisme kami tak hendak mendesakkan sebuah kebenaran, sebatas mengetuk pintu untuk hadirnya,” kata GM tentang pilihan sikap yang diambil Tempo.

Dan ia bukanlah sosok yang anti kritik. Kritik itu adalah sebuah keniscayaan, karena tak ada yang abadi dalam sikap dan pemikiran seseorang, kita hari ini, belum tentu sama dengan kita seminggu yang akan datang. Jadi sampai saat ini pun ia  bersetia dengan sikapnya itu untuk tetap mengkritisi apapun, seperti diungkapkan dalam sebait puisinya, “dengan raung yang tak diserap karang”

Tak salah kalau seorang Nirwan Arsuka, redaktur budaya senior Kompas dulu, pernah menyandingkan GM dengan Pramoedya Ananta Toer, dalam hal menghasilkan karya sastra secara konsisten dengan kualitas yang nyaris tak pernah berkurang.

Akhirnya di usia yang hampir mendekati 80 tahun, selayaknya kita tetap berharap, panjang umur dan tetap berkarya guru bangsa.

Old Soldier Never die ! [T]

Menatap Perempuan Bali Secara Sekala dan Niskala dalam Leak Tegal Sirah
Tags: BukuDee LestariGoenawan Mohamad
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meisya Tiarani, Siswa SMAN 1 Singaraja, Juara Pencak Silat Porjar Bali 2024: Hasil Perjuangan Bertahap  

Next Post

Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co