26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arya dan Patung Dewi Saraswati – Sebuah Dongeng Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Fiksi

Ilustrasi: Surya Pratama

 

TERINGAT suatu pagi, ketika tahun ajaran baru dimulai, anak-anak Paud terperangah. Ada banyak mainan. Mereka bingung harus memainkan yang mana terlebih dahulu. Akhirnya, mereka memainkan semua permainan yang ada. Namun mereka main tidak sampai selesai. Mereka memberantakkan mainanya begitu saja, kemudian mengambil mainan yang lainnya dan diserakkan begitu saja.

“Bu, aku mau main lego!”

“Bu, Aku main kereta-keretaan!”

“Bu, aku main kenek!”

“Kak, aku main puzzel!”

“Kak, Aku main memori!”

Belum beberapa menit main, mereka sudah meninggalkan mainannya begitu saja. Bahkan, ada yang melempar mainan yang mereka mainkan ketika diminta membereskan. Lalu, sebagai orangtua, pernah tidak menolak membelikan anak mainan, mobil-mobilan misalnya?

“Sayang, gak usah beli mobil-mobilan itu ya! Mobil-mobilan itu jelek, cepat rusak!” Begitu misal rayuan orangtua. Padahal itu hanya sebuah alasan untuk menolak anak walaupun orangtua mampu membelikannya. Kerena, jika dibelikan, mainanya tidak akan bertahan dua hari. Mungkin, orangtua akan marah-marah melihat anaknya merusaki mainannya.

Kumudian, harus bagaimana agar anak menghargai mainannya dan mau merapikan mainnya setelah selesai bermain? Apakah harus marah-marah dan membentak anak? Atau, menjewer anak?

Untuk itu, marilah kita perkenalkan kisah dongeng-dongeng yang mengisahkan betapa berharganyanya mainan untuk anak-anak. Misalnya kisah “Arya dan Patung Dewinya”.

***

Begini ceritanya.

Dikisahkan, ada seorang anak bernama Arya. Ia suka dibelikan mainan oleh orangtuanya. Ia pun memiliki begitu banyak mainan. Ia senang memainkannya, tapi tidak suka merapikan mainannya ketika sudah selesai memainkanya. Bahkan, ia suka melempar mainannya kalau sudah bosan memainkannya.

Ketika malam tiba, semua mainan itu menangis sedih.

“Mengapa aku dirusaki? Aku tidak pernah disayang oleh Arya,” ucap salah satu mainan menangisi nasibnya. Kesedihan para mainan itu pun terus terjadi. Setiap malam, mereka hanya bisa bersedih dan menangis.

Suatu ketika, Arya liburan ke kota bersama ayahnya. Kemudian, Arya diajak masuk ke sebuah toko tua oleh ayahnya. Toko itu dijaga oleh seorang kakek-kakek. Kakek itulah pemilik toko mainan itu.

“Hai, Nak! Mau cari mainan apa?” sapa kakek itu.

“Cuma mau lihat-lihat saja. Siapa tahu putraku ini tertarik dengan mainan yang ada di sini,” ucap Ayah Arya.

“Silahkan lihat-lihat, Nak! Kakek mau ke gunang dulu sebentar mengecek setok barang,” ucap kakek. Kakek pun meninggalkan mereka berdua. Mereka pun sibuk melihat-lihat koleksi kakek itu.

Namun, Arya bengong tak berkedip sedikit pun memandangi patung tua yang terpajang di atas lemari.

“Arya, mau mainan yang mana?” ucap ayahnya.

“Arya mau mainan itu, Yah!” pinta Arya menunjuk patung tua itu.

“Itu tidak dijual sayang. Itu mainan kesayangan kakek. Pilih yang lain saja, ya!” kata ayahnya lembut. Ayahnya tahu kalau patung tua itu adalah barang kesayangan kakek. Ia tahu sejak remaja karena sering main di toko kakek itu ketika libur sekolah.

“Gak mau! Pokoknya Arya mau mainan itu!” kata Arya bersikukuh.

“Tidak bisa, sayang!” bisik ayahnya.

Tetap saja Arya tidak mau memilih mainan yang lain. Bahkan, ia hanya menangis merengek karena hanya tertarik pada patung itu. Patung seorang perempuan cantik yang memangku banyak mainan. Kakek pernah bilang kalau patung itu adalah patung keberuntungan selama bertahun-tahun.

“Arya, itu kan mainan kesukaan anak perempuan,” kata ayahnya mencari-cari alasan.

“Biar saja, itu nanti kan buat adik perempuan Arya kalau sudah lahir,” kata Arya yang masih tersedu-sedu menangis.

Saat itu Kakek datang.

“Eh, kok Arya menangis! Ada apa?” ucap kakek.

“Ini Kek, Arya mau patung keberuntungan kakek itu,” ucap ayahnya Arya bergegas membantu kakek yang sedang kerepotan membawa mainan dari gudang.

“Oh, jadi Arya mau itu?” kata kakek mendekati Arya.

Arya hanya mengangguk.

Kakek pun mengambil patung itu dan memberikannya pada Arya. Arya senang. Ia tak menangis lagi. “Horeee, aku punya mainan baru buat adikku nanti,” ucap Arya senang. Ia sudah lupa akan rengekannya.

“Kek! Bukankah itu benda keberuntungan yang kakek sayangi sejak dulu? Biarkan saja Arya tangisi patung itu. Toh nanti Arya akan diam sendiri dan melupakannya,” tolak ayahnya Arya.

“Tidak apa-apa, Nak. Itu sudah miliknya sekarang. Sebab, ayahku pernah berpesan. Kalau ada anak yang merengek meminta patung itu, anak itu akan memiliki patung itu,” terang kakek pemilik toko tua itu.

Mendengar penjelasan itu, ayahnya Arya hanya bisa terdiam dan tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berjanji dalam hatinya untuk selalu merawat patung keberuntungan itu. “Arya, bilang makasih sama kakek!” pinta Ayah Arya.

“Makasih kakek. Mainan ini cantik. Nanti pasti adik suka dengan mainanku ini,” kata Arya mengelus-elus patung itu.

Mereka pun pamitan pulang. Senyum ceria menyelimuti wajah Arya.

Sampailah Arya di rumah ketika matahari tenggelam di upuk barat. Arya bergegas masuk kamarnya dan menaruh patung itu. Ia lelah dan tertidur lelap di atas kasur empuknya. Sedangkan, mainannya yang lain masih berserakan di lantai kamarnya.

Tepat tengah malam di bulan purnama, kembali mainan-mainan itu menangis tersedu-sedu. “Andai saja Arya tahu gimana rasanya tidak disayang, tidak dirawat, dilempar, dan dibongkar-bongkar begitu saja,” kata mainan-mainan itu.

Dalam kesunyian malam, patung itu bergerak-gerak memancarkan sinar mengenai tubuh Arya yang sedang tidur terlelap. Tiba-tiba, Arya berubah menjadi mobil-mobilan dan kereta-keretaan. Sementara patung dari kakek itu pun berubah menjadi Arya.

“Pagi, Arya! Tumben anak mama bangun pagi. Cieee, anak mama sekarang sudah pintar bisa merapikan mainannya,” puji mama Arya yang tidak tahu itu kalau Arya itu adalah jelmaan pating. Dan Arya beraubah menjadi mainan.

“Ya, Ma! Aku sekarang menjadi anak yang pintar dan anak yang rajin,” ucap patung yang menjadi Arya itu.

Di sisi lain, Arya yang sudah berubah menjadi mainan, sontak kaget melihat dirinya yang berubah. Ia heran.

“Aku di sini, Ma!” teriak Arya yang sudah berubah jadi mainan.

Namun, mamanya tak mendengar teriakan Arya. Mamanya hanya melihat mainan-mainan itu sekilas, hanya sekedar mainan. Sekeras apapun teriakan Arya, mamanya tetap saja tidak mendengarnya.

“Waktunya Arya sekarang berangkat sekolah! Ayo kita mandi sekarang!” ajak mamanya kepada si patung.

“Baik, Ma!” Patung yang berwujut Arya itu bergegas masuk kamar mandi.

“Arya sekarang mandi dan gosok gigi sendiri, ya!” pinta mamanya.

“Beres, Ma. Sekarang aku sudah bisa sendiri,” dijawab di balik kamar mandi.

“Ada apa dengan Arya? Ia tiba-tiba berubah dengan cepat. Apa aku sedang bermimpi?” pikir mamanya.

Tapi, kemudian mamanya tidak ambil pusing atas perubahan Arya yang tiba-tiba dan mengagetkan itu. Ia hanya bisa bahagia atas perubahan Arya.

Sedangkan, Arya yang sudah berubah menjadi mainan, masih berteriak-teriak memanggil ibunya. Tapi, tetap saja tidak bisa didengar oleh mamanya. Teriakan Arya memanggil mamanya berubah menjadi tangisan sedih yang juga tidak bisa dirasakan oleh mamanya. Sebab, Arya sudah berada di dunia mainan.

“Siapa sesungguhnya yang menjadi diriku? Mengapa diriku berubah menjadi mainan?” pikir Arya sedih.

“Ma! Aku sudah siap berangkat sekolah sekarang,” ucap patung yang berwujut Arya itu mendekati mama Arya yang sedang menyiapkan sarapan.

“Hebat anak mama sekarang, juga sudah bisa pakai  pakaian sendiri. Tapi, sisir dulu rambutnya biar tambah ganteng,” ucap mama Arya.

Patung yang berwujud Arya itu pun sarapan. Ia menikmati sarapan nasi gorengnya. “Ma! Arya sudah selesai sarapan. Ayo berangkat sekolah! Tapi, Arya hari ini mau bawa mainan ke sekolah. Arya akan bermain dengan teman baru,” ucapnya.

Lalu, patung yang menjadi Arya itu pun membawa mainan-mainan itu yang sudah dirapikan ke sekolah. “Hai Arya, sekarang waktunya kamu merasakan menjadi mainan. Nikmatilah Arya!” bisik patung itu kepada Arya yang sudah jadi mainan. Arya yang jadi mainan itu dibawa ke sekolah.

“Tolong kembalikan aku seperti semula menjadi Arya yang sebenarnya!” rengek Arya sedih. Namun, patung itu tidak mengabulkan permintaan Arya.

Ketika sudah berada di sekolah Paud, patung itu melihat anak-anak sedang sibuk bermain dengan dunianya. “Hai teman-teman, aku bawa main bagus! Siapa yang mau mainanku ini?” Patung yang dilihat sebagai Arya itu mengeluarkan semua mainan yang dibawanya. Mainan itu sebenarnya adalah Arya.

Anak-anak pun segera menghampiri berebut mainan itu. Mereka pun memain-mainkan sesuka hatinya. Bahkan, ketika anak-anak bosan memainkannya, mereka meletakkan mainan itu di sembarang tempat.

“Begini rasanya menjadi mainan. Aku ditarik-tarik, dilempar, dan berserakan begitu saja di lantai. Semua badanku menjadi sakit semua. Oh, andai aku bisa kembali lagi menjadi Arya yang sesungguhnya, aku akan memperlakukan semua mainanku dengan baik dan merawatnya.” Bisik Arya dalam hati.

“Ah, aku sudah bosan memainkan mainan ini,” ucap salah satu anak yang sibuk bermain.

Tiba-tiba anak itu melempar mainan itu, “Breaaak duuk.”

“Aduhhh kepalaku sakit. Apa yang terjadi dengan diriku?”

Arya meringis sakit mengusap-ngusap kepalanya. Dan, Arya baru sadar kalau baru jatuh dari tempat tidur.

“Ah, ternyata aku hanya bermimpi. Aku tidak benar-benar berubah menjadi mainan. Aku memang benar-benar Arya yang sesungguhnya.” Arya kegirangan memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.

Arya teringat akan mimpinya, ia memaling arah pandangannya ke arah patung itu. Ia mendekati patung itu. Patung itu tetap pada posisi semula berada di atas lemari tanpa bergeser sedikit pun.

“Ini patung apa sebenarnya? Mengapa aku memimpikan patung ini? Ah, mulai sekarang aku selalu menjaga dan merawat semua mainanku. Aku tidak akan mudah merusak mainanku. Aku tidak mau terjadi seperti dalam mimpiku,” janji Arya dalam hatinya.

“Arya, kamu sudah bangun? Ayo kita bersih-bersih bersama yuk! Karena sakarang hari minggu,” ucap ayahnya Arya.

“Ya, ayah!” sahut Arya. Arya pun menghampiri ayah dan mamanya yang mulai sibuk membersihkan ruang tamu.

“Sekarang Arya bantu mama membereskan dan membersihkan semua mainanmu yang ada di kamar!” pinta mamanya.

“Ma, Arya sudah membereskan dan merapikan semua mainanku,” ucap Arya.

“Wow, Anak mama sekarang hebat bisa membereskan dan merapikan mainan tanpa ibu pinta,” Puji ibunya Arya. Orang tua Arya pun bergegas melihat ke kamar Arya. Benar saja, semua mainan Arya sudah tertata rapi.

“O ya, Arya! Ayah lupa. Kemarin ketika membeli patung itu di tempat toko kakek itu, kakek berpesan agar Arya menjaga dan merawat patung itu. Katanya, patung itu adalah patung Dewi Saraswati yang sedang memangku mainan,” ucap ayahnya Arya menyampaikan pesan kakek.

Arya hanya mengangguk mendengarkan pesan kakek itu yang disampaikan oleh ayahnya.

“Ah, jangan-jangan Dewi Saraswati yang membuat mimpiku semalam. Mimpi yang benar-benar nyata aku rasakan,” gumam Arya.

Semenjak itu, Arya menepati janjinya selalu merawat dan menjaga mainannya. Kemudian, ketika Arya memiliki adik perempuan, Patung Dewi Saraswati yang memangku mainan itu diletakkan di atas lemari kamar adiknya. Patung itu pun menemani keceriaan adik perempuan Arya. (T)

Tags: Dewi SaraswatidongengPendidikanpendidikan usia dini
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Anomali Kucing

Next Post

Lucu jika Rocky Menyanyi Lagu Lucu

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post

Lucu jika Rocky Menyanyi Lagu Lucu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co