15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arya dan Patung Dewi Saraswati – Sebuah Dongeng Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Fiksi

Ilustrasi: Surya Pratama

 

TERINGAT suatu pagi, ketika tahun ajaran baru dimulai, anak-anak Paud terperangah. Ada banyak mainan. Mereka bingung harus memainkan yang mana terlebih dahulu. Akhirnya, mereka memainkan semua permainan yang ada. Namun mereka main tidak sampai selesai. Mereka memberantakkan mainanya begitu saja, kemudian mengambil mainan yang lainnya dan diserakkan begitu saja.

“Bu, aku mau main lego!”

“Bu, Aku main kereta-keretaan!”

“Bu, aku main kenek!”

“Kak, aku main puzzel!”

“Kak, Aku main memori!”

Belum beberapa menit main, mereka sudah meninggalkan mainannya begitu saja. Bahkan, ada yang melempar mainan yang mereka mainkan ketika diminta membereskan. Lalu, sebagai orangtua, pernah tidak menolak membelikan anak mainan, mobil-mobilan misalnya?

“Sayang, gak usah beli mobil-mobilan itu ya! Mobil-mobilan itu jelek, cepat rusak!” Begitu misal rayuan orangtua. Padahal itu hanya sebuah alasan untuk menolak anak walaupun orangtua mampu membelikannya. Kerena, jika dibelikan, mainanya tidak akan bertahan dua hari. Mungkin, orangtua akan marah-marah melihat anaknya merusaki mainannya.

Kumudian, harus bagaimana agar anak menghargai mainannya dan mau merapikan mainnya setelah selesai bermain? Apakah harus marah-marah dan membentak anak? Atau, menjewer anak?

Untuk itu, marilah kita perkenalkan kisah dongeng-dongeng yang mengisahkan betapa berharganyanya mainan untuk anak-anak. Misalnya kisah “Arya dan Patung Dewinya”.

***

Begini ceritanya.

Dikisahkan, ada seorang anak bernama Arya. Ia suka dibelikan mainan oleh orangtuanya. Ia pun memiliki begitu banyak mainan. Ia senang memainkannya, tapi tidak suka merapikan mainannya ketika sudah selesai memainkanya. Bahkan, ia suka melempar mainannya kalau sudah bosan memainkannya.

Ketika malam tiba, semua mainan itu menangis sedih.

“Mengapa aku dirusaki? Aku tidak pernah disayang oleh Arya,” ucap salah satu mainan menangisi nasibnya. Kesedihan para mainan itu pun terus terjadi. Setiap malam, mereka hanya bisa bersedih dan menangis.

Suatu ketika, Arya liburan ke kota bersama ayahnya. Kemudian, Arya diajak masuk ke sebuah toko tua oleh ayahnya. Toko itu dijaga oleh seorang kakek-kakek. Kakek itulah pemilik toko mainan itu.

“Hai, Nak! Mau cari mainan apa?” sapa kakek itu.

“Cuma mau lihat-lihat saja. Siapa tahu putraku ini tertarik dengan mainan yang ada di sini,” ucap Ayah Arya.

“Silahkan lihat-lihat, Nak! Kakek mau ke gunang dulu sebentar mengecek setok barang,” ucap kakek. Kakek pun meninggalkan mereka berdua. Mereka pun sibuk melihat-lihat koleksi kakek itu.

Namun, Arya bengong tak berkedip sedikit pun memandangi patung tua yang terpajang di atas lemari.

“Arya, mau mainan yang mana?” ucap ayahnya.

“Arya mau mainan itu, Yah!” pinta Arya menunjuk patung tua itu.

“Itu tidak dijual sayang. Itu mainan kesayangan kakek. Pilih yang lain saja, ya!” kata ayahnya lembut. Ayahnya tahu kalau patung tua itu adalah barang kesayangan kakek. Ia tahu sejak remaja karena sering main di toko kakek itu ketika libur sekolah.

“Gak mau! Pokoknya Arya mau mainan itu!” kata Arya bersikukuh.

“Tidak bisa, sayang!” bisik ayahnya.

Tetap saja Arya tidak mau memilih mainan yang lain. Bahkan, ia hanya menangis merengek karena hanya tertarik pada patung itu. Patung seorang perempuan cantik yang memangku banyak mainan. Kakek pernah bilang kalau patung itu adalah patung keberuntungan selama bertahun-tahun.

“Arya, itu kan mainan kesukaan anak perempuan,” kata ayahnya mencari-cari alasan.

“Biar saja, itu nanti kan buat adik perempuan Arya kalau sudah lahir,” kata Arya yang masih tersedu-sedu menangis.

Saat itu Kakek datang.

“Eh, kok Arya menangis! Ada apa?” ucap kakek.

“Ini Kek, Arya mau patung keberuntungan kakek itu,” ucap ayahnya Arya bergegas membantu kakek yang sedang kerepotan membawa mainan dari gudang.

“Oh, jadi Arya mau itu?” kata kakek mendekati Arya.

Arya hanya mengangguk.

Kakek pun mengambil patung itu dan memberikannya pada Arya. Arya senang. Ia tak menangis lagi. “Horeee, aku punya mainan baru buat adikku nanti,” ucap Arya senang. Ia sudah lupa akan rengekannya.

“Kek! Bukankah itu benda keberuntungan yang kakek sayangi sejak dulu? Biarkan saja Arya tangisi patung itu. Toh nanti Arya akan diam sendiri dan melupakannya,” tolak ayahnya Arya.

“Tidak apa-apa, Nak. Itu sudah miliknya sekarang. Sebab, ayahku pernah berpesan. Kalau ada anak yang merengek meminta patung itu, anak itu akan memiliki patung itu,” terang kakek pemilik toko tua itu.

Mendengar penjelasan itu, ayahnya Arya hanya bisa terdiam dan tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berjanji dalam hatinya untuk selalu merawat patung keberuntungan itu. “Arya, bilang makasih sama kakek!” pinta Ayah Arya.

“Makasih kakek. Mainan ini cantik. Nanti pasti adik suka dengan mainanku ini,” kata Arya mengelus-elus patung itu.

Mereka pun pamitan pulang. Senyum ceria menyelimuti wajah Arya.

Sampailah Arya di rumah ketika matahari tenggelam di upuk barat. Arya bergegas masuk kamarnya dan menaruh patung itu. Ia lelah dan tertidur lelap di atas kasur empuknya. Sedangkan, mainannya yang lain masih berserakan di lantai kamarnya.

Tepat tengah malam di bulan purnama, kembali mainan-mainan itu menangis tersedu-sedu. “Andai saja Arya tahu gimana rasanya tidak disayang, tidak dirawat, dilempar, dan dibongkar-bongkar begitu saja,” kata mainan-mainan itu.

Dalam kesunyian malam, patung itu bergerak-gerak memancarkan sinar mengenai tubuh Arya yang sedang tidur terlelap. Tiba-tiba, Arya berubah menjadi mobil-mobilan dan kereta-keretaan. Sementara patung dari kakek itu pun berubah menjadi Arya.

“Pagi, Arya! Tumben anak mama bangun pagi. Cieee, anak mama sekarang sudah pintar bisa merapikan mainannya,” puji mama Arya yang tidak tahu itu kalau Arya itu adalah jelmaan pating. Dan Arya beraubah menjadi mainan.

“Ya, Ma! Aku sekarang menjadi anak yang pintar dan anak yang rajin,” ucap patung yang menjadi Arya itu.

Di sisi lain, Arya yang sudah berubah menjadi mainan, sontak kaget melihat dirinya yang berubah. Ia heran.

“Aku di sini, Ma!” teriak Arya yang sudah berubah jadi mainan.

Namun, mamanya tak mendengar teriakan Arya. Mamanya hanya melihat mainan-mainan itu sekilas, hanya sekedar mainan. Sekeras apapun teriakan Arya, mamanya tetap saja tidak mendengarnya.

“Waktunya Arya sekarang berangkat sekolah! Ayo kita mandi sekarang!” ajak mamanya kepada si patung.

“Baik, Ma!” Patung yang berwujut Arya itu bergegas masuk kamar mandi.

“Arya sekarang mandi dan gosok gigi sendiri, ya!” pinta mamanya.

“Beres, Ma. Sekarang aku sudah bisa sendiri,” dijawab di balik kamar mandi.

“Ada apa dengan Arya? Ia tiba-tiba berubah dengan cepat. Apa aku sedang bermimpi?” pikir mamanya.

Tapi, kemudian mamanya tidak ambil pusing atas perubahan Arya yang tiba-tiba dan mengagetkan itu. Ia hanya bisa bahagia atas perubahan Arya.

Sedangkan, Arya yang sudah berubah menjadi mainan, masih berteriak-teriak memanggil ibunya. Tapi, tetap saja tidak bisa didengar oleh mamanya. Teriakan Arya memanggil mamanya berubah menjadi tangisan sedih yang juga tidak bisa dirasakan oleh mamanya. Sebab, Arya sudah berada di dunia mainan.

“Siapa sesungguhnya yang menjadi diriku? Mengapa diriku berubah menjadi mainan?” pikir Arya sedih.

“Ma! Aku sudah siap berangkat sekolah sekarang,” ucap patung yang berwujut Arya itu mendekati mama Arya yang sedang menyiapkan sarapan.

“Hebat anak mama sekarang, juga sudah bisa pakai  pakaian sendiri. Tapi, sisir dulu rambutnya biar tambah ganteng,” ucap mama Arya.

Patung yang berwujud Arya itu pun sarapan. Ia menikmati sarapan nasi gorengnya. “Ma! Arya sudah selesai sarapan. Ayo berangkat sekolah! Tapi, Arya hari ini mau bawa mainan ke sekolah. Arya akan bermain dengan teman baru,” ucapnya.

Lalu, patung yang menjadi Arya itu pun membawa mainan-mainan itu yang sudah dirapikan ke sekolah. “Hai Arya, sekarang waktunya kamu merasakan menjadi mainan. Nikmatilah Arya!” bisik patung itu kepada Arya yang sudah jadi mainan. Arya yang jadi mainan itu dibawa ke sekolah.

“Tolong kembalikan aku seperti semula menjadi Arya yang sebenarnya!” rengek Arya sedih. Namun, patung itu tidak mengabulkan permintaan Arya.

Ketika sudah berada di sekolah Paud, patung itu melihat anak-anak sedang sibuk bermain dengan dunianya. “Hai teman-teman, aku bawa main bagus! Siapa yang mau mainanku ini?” Patung yang dilihat sebagai Arya itu mengeluarkan semua mainan yang dibawanya. Mainan itu sebenarnya adalah Arya.

Anak-anak pun segera menghampiri berebut mainan itu. Mereka pun memain-mainkan sesuka hatinya. Bahkan, ketika anak-anak bosan memainkannya, mereka meletakkan mainan itu di sembarang tempat.

“Begini rasanya menjadi mainan. Aku ditarik-tarik, dilempar, dan berserakan begitu saja di lantai. Semua badanku menjadi sakit semua. Oh, andai aku bisa kembali lagi menjadi Arya yang sesungguhnya, aku akan memperlakukan semua mainanku dengan baik dan merawatnya.” Bisik Arya dalam hati.

“Ah, aku sudah bosan memainkan mainan ini,” ucap salah satu anak yang sibuk bermain.

Tiba-tiba anak itu melempar mainan itu, “Breaaak duuk.”

“Aduhhh kepalaku sakit. Apa yang terjadi dengan diriku?”

Arya meringis sakit mengusap-ngusap kepalanya. Dan, Arya baru sadar kalau baru jatuh dari tempat tidur.

“Ah, ternyata aku hanya bermimpi. Aku tidak benar-benar berubah menjadi mainan. Aku memang benar-benar Arya yang sesungguhnya.” Arya kegirangan memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.

Arya teringat akan mimpinya, ia memaling arah pandangannya ke arah patung itu. Ia mendekati patung itu. Patung itu tetap pada posisi semula berada di atas lemari tanpa bergeser sedikit pun.

“Ini patung apa sebenarnya? Mengapa aku memimpikan patung ini? Ah, mulai sekarang aku selalu menjaga dan merawat semua mainanku. Aku tidak akan mudah merusak mainanku. Aku tidak mau terjadi seperti dalam mimpiku,” janji Arya dalam hatinya.

“Arya, kamu sudah bangun? Ayo kita bersih-bersih bersama yuk! Karena sakarang hari minggu,” ucap ayahnya Arya.

“Ya, ayah!” sahut Arya. Arya pun menghampiri ayah dan mamanya yang mulai sibuk membersihkan ruang tamu.

“Sekarang Arya bantu mama membereskan dan membersihkan semua mainanmu yang ada di kamar!” pinta mamanya.

“Ma, Arya sudah membereskan dan merapikan semua mainanku,” ucap Arya.

“Wow, Anak mama sekarang hebat bisa membereskan dan merapikan mainan tanpa ibu pinta,” Puji ibunya Arya. Orang tua Arya pun bergegas melihat ke kamar Arya. Benar saja, semua mainan Arya sudah tertata rapi.

“O ya, Arya! Ayah lupa. Kemarin ketika membeli patung itu di tempat toko kakek itu, kakek berpesan agar Arya menjaga dan merawat patung itu. Katanya, patung itu adalah patung Dewi Saraswati yang sedang memangku mainan,” ucap ayahnya Arya menyampaikan pesan kakek.

Arya hanya mengangguk mendengarkan pesan kakek itu yang disampaikan oleh ayahnya.

“Ah, jangan-jangan Dewi Saraswati yang membuat mimpiku semalam. Mimpi yang benar-benar nyata aku rasakan,” gumam Arya.

Semenjak itu, Arya menepati janjinya selalu merawat dan menjaga mainannya. Kemudian, ketika Arya memiliki adik perempuan, Patung Dewi Saraswati yang memangku mainan itu diletakkan di atas lemari kamar adiknya. Patung itu pun menemani keceriaan adik perempuan Arya. (T)

Tags: Dewi SaraswatidongengPendidikanpendidikan usia dini
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Anomali Kucing

Next Post

Lucu jika Rocky Menyanyi Lagu Lucu

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post

Lucu jika Rocky Menyanyi Lagu Lucu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co