23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Perasaanmu saat Kakak Perempuan Menikah? Ya Senang, Ya Sedih Juga

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

APAKAH kamu punya seorang kakak perempuan? Jika iya, mari jawab pertanyaan satu ini. Bagaimana perasaan kamu ketika kakak perempuanmu menikah?

Nah, pertanyaan itulah yang kini menghantui benak saya.

Saya punya seorang kakak perempuan, tujuh tahun lebih tua dari saya, dan beberapa waktu lalu ia menikah. Beberapa sanak mulai melempar sebuah pertanyaan yang sama. “Kakakmu menikah, bagaimana perasaanmu?”

Jujur, saya tidak mempersiapkan diri dan mental untuk menjawab pertanyaan itu. Saya sendiri bingung harus menjawab apa. Apakah saya harus senang, atau sebaliknya saya harus bersedih?

Pada akhirnya saya menjawab sebagaimana idealnya orang-orang menjawab pertanyaan seperti itu: “Saya turut bahagia”.

Sesungguhnya jawaban itu tak sepenuhnya jujur. Saya jawab cepat, hitung-hitung biar perkara jawab-menjawab ini cepat selesai. Padahal saya merasa perlu merenung dalam-dalam apa sebenarnya yang saya rasakan.

Hubungan dengan Kakak

Kalau boleh jujur lagi, hubungan saya dengan kakak saya tidak terlalu bagus. Saya dengan adik saya pun juga tidak bagus-bagus amat. Rentang usia yang terpaut jauh membuat kami memiliki minat dan ego yang sangat berbeda. Dari kecil, bak anjing dan kucing, kerjaan kami hanya bertengkar. Hari-hari yang kami lewati selalu diisi dengan sebuah pertengkaran.

Bahkan, kami 100 kali lebih sering bertengkar satu sama lain ketimbang bertengkar dengan teman sebaya kami. Bertengkarnya pun karena hal yang beragam, rebutan barang misalnya, seperti remote untuk mencari chanel TV favorit masing-masing, selisih paham, beda pendapat , sifat saya yang kekanak-kanakan, atau hanya sekadar saling ledek.

Akibatnya, tak jarang kami marahan berhari-hari, bahkan pernah juga sampai berbulan-bulan, layaknya seorang musuh. Orang tua kami sepertinya sudah lelah geleng-geleng kepala dan pusing melihat kami yang rajin bertengkar.

Tapi, itu kan dulu. Saya sendiri sadar kenapa saya bertengkar dengan kakak saya. Mempunyai saudara adalah mempunyai saingan. Ya, tak jarang saya dibanding-bandingkan dengan kakak saya, bahkan dengan sepupu-sepupu saya juga. Saya secara pribadi tidak suka dengan hal tersebut.

Di samping itu, karena umur saya masih belia, barangkali kemampuan menghargai perasaan orang lain yang saya miliki masih belum berkembang, juga kemampuan untuk mengalah dan berkompromi dengan masalah yang ada. Hal yang sama juga barangkali terjadi terhadap kakak saya.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kami, pertengkaran kami surut dengan sendirinya. Semakin dewasa, sepertinya kemampuan-kemampuan yang saya sebut tadi juga semakin berkembang. Namun, jika pertengkaran kami surut apakah berarti hubungan kami juga membaik? Ya, bisa dikatakan baik, dalam artian tidak ada pertengkaran, namun hubungan kami sejatinya jauh sekali. Kami tidak pernah lagi saling berkomunikasi. Pernah memang, tapi jarang. Kami cenderung tidak berkomunikasi untuk menghindari pertengkaran, untuk menghindari masalah, apalagi misalnya suasana di keluarga juga sedang panas. Bedik ngomong, bedik pelih, begitu kata pepatah Bali.

Saya mengerti bahwa pertengkaran dalam persaudaraan adalah sebuah hal yang mutlak. Saudara di keluarga mana pun pasti akan bertengkar. Adakah saudara di luar sana yang tidak pernah bertengkar? Tidak ada. Semua pernah memiliki pengalaman bertengkar. Tidak ada satu pun saudara yang bebas dari pengalaman bertengkar. Kalau dipikir-pikir lagi, bertengkar justru sengaja diciptakan Tuhan untuk tujuan tertentu.

Lalu apakah perenungan ini sudah bisa menjawab pertanyaan yang saya dapatkan di awal tadi? “Bagaimana perasaanmu saat kakak perempuanmu menikah?” Hhhhmmm saya rasa masih belum.

Perasaan terhadap Kakak

Karena menyangkut perasaan, tentu akan ada pertanyaan seperti “Apakah kamu sayang dengan kakakmu?”

Jujur, saya sendiri sayang sekali dengan kakak saya. Itulah kenapa saya sering mengusilinya, mencari perhatiannya dengan hal-hal konyol dan lain-lain. Ya, atas dasar sayang.

Saya selalu bangga mengakuinya sebagai kakak. Saya selalu bangga mempunyai kakak yang cantik, meski pada akhirnya yang saya dapat adalah ledekan karena wajah kakak saya dengan saya tidak ada miripnya, bak langit dan bumi. Kakak saya memang terlahir cantik, saya sialnya terlahir kurang tampan, mendekati jelek. Tapi saya tidak terlalu memusingkan ledekan-ledekan macam itu. Cuma ledekan bercanda, tak ada seriusnya. Hal yang sudah biasa terjadi dalam sebuah pertemanan.

Selain itu, saya juga bangga menceritakan ke teman-teman saya bahwa kakak saya berbakat, tentang bakatnya menjadi MC sampai menjadi juara di perlombaan, tentang pengalamannya menjadi penari dalam sendratari pawai ogoh-ogoh, tentang pengalamannya terlibat dalam lomba baris berbaris sampai menjadi juara, dan masih banyak lagi. Cukup saya katakana saya bangga dengan semua itu, meski kemudian berakhir juga dengan ledekan bercandaan teman-teman saya yang mengatai saya tak bisa apa-apa.

Namun, di satu sisi, memang benci dulu pernah ada karena pertengkaran yang berlarut dengan marahan selama berbulan-bulan, tapi seiring berjalanya waktu benci itu memang sudah memudar, tapi yang terjadi selanjutnya saya dan kakak saya seperti canggung untuk berinteraksi, untuk mengobrol, untuk menyapa, atau hanya untuk jalan bareng.

Bagaimana Perasaan Ketika Kakak Menikah?

Nah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan ini berdasarkan dua renungan saya di atas. Jika nanti ada lagi yang bertanya demikian, saya akan menjawab dengan tegas “Saya senang, dan saya sedih”

Saya bahagia, ia akan melangsungkan pernikahan dengan orang yang ia pilih, laki-laki polos dan lugu yang asing dengan rokok dan kekerasan, yang saya yakini bisa membuatnya bahagia setelah kisah cintanya selama kurang lebih delapan tahun dalam status pacaran. Sebagai saudara memang sepantasnya saya bahagia. Sudah wajibnya saya mendukung kebahagian kakak saya sendiri.

Saya bersedih, karena ternyata saya sedikit menyesal. Aya menyesal karena ternyata hari-hari yang saya lalui dengan kakak saya hanya diwarnai sebuah pertengkaran. Saya merasa sedikit sekali memiliki kenangan indah bersama kakak saya, sepertinya juga hampir tak bisa dingat, kecuali pertengkaran-pertengkaran kami, dan saat kakak saya akan menikah, ia akan dimiliki sepenuhnya oleh suami dan keluarga suaminya, sementara saya merasa saya belum bisa menjadi adik yang baik dan berguna.

Keinginan untuk memiliki hubungan lebih dekat tentu ada, selalu bersama meski saling mengejek, karena menurut saya lebih baik berisik karena bertengkar ketimbang damai tapi berpisah. Berpisah selain karena jarak, juga karena saling tidak mau menyapa dan bergaul karena membenci satu sama lain. Waktu memang membawa perubahan. Pertengkaran yang sudah lama berlalu kerap membuat saya rindu masa-masa menggelikan itu. Meski menyebalkan, keberadaan kakak saya juga terkadang saya rindukan.

Teruntuk kakak saya, maaf karena saya belum menjadi adik yang baik. Saya berharap pertengkaran yang kita lalui selama ini bisa menjadi bekal hidup untuk menghadapi masalah-masalah yang akan nanti, entah apa, entah kapan. Saya bahagia kakak menikah, dan saya sedih juga kakak menikah. (T)

Tags: cintakasihkemanusiaanperasaanpersaudaraan
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Hari Ini, Apakah Agama itu Mitos?

Next Post

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co