27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Es Krim Rasa Lidah Lokal Digandrungi Kaum Milenial

Luh Eka Susanti by Luh Eka Susanti
May 9, 2024
in Esai
Es Krim Rasa Lidah Lokal Digandrungi Kaum Milenial

WALLS. DIAMOND. GELATO. AICE. Siapa tak kenal merk es krim tersebut?

Ketiga merek ini memiliki pangsa pasar yang kuat di Indonesia, masing-masing dengan segmen pasar dan strategi branding yang berbeda. Walls dengan brand globalnya, Diamond dengan harga yang terjangkau, dan gelato dengan posisinya sebagai produk premium.

Aice yang merupakan pendatang baru di pasaran Indonesia tetapi telah berhasil mengambil pangsa pasar yang signifikan dengan produk es krim yang terjangkau dan variasi rasa yang menarik.

Siapa tak suka es krim ?

Es krim merupakan salah satu makanan beku yang telah ada sejak zaman kuno, dengan bentuk awal yang dapat ditelusuri kembali ke zaman kerajaan-kerajaan kuno seperti Persia dan China. Versi awal es krim merupakan campuran salju dengan buah-buahan dan madu. Seiring berjalannya waktu, es krim mulai dikembangkan di Eropa, terutama Italia dan Prancis, dengan penambahan krim dan gula.

Dalam era modern, es krim telah berkembang menjadi sebuah produk gaya hidup yang tidak hanya dinikmati sebagai makanan penutup tetapi juga sebagai simbol kebahagiaan, kenyamanan, dan kebersamaan. Dengan keanekaragaman rasa dan bentuk, es krim jadi bagian dari budaya pop dan seringkali terkait dengan momen-momen khusus serta kenangan masa kecil.

Dalam dekade terakhir, tren es krim juga telah mengalami evolusi seiring meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan, dengan munculnya varian es krim yang mengandung bahan-bahan lebih sehat, seperti penambahan buah-buahan, rempah-rempah, komponen kaya protein, probiotik, dan prebiotik

Sejalan dengan tren gaya hidup yang modern, es krim dijadikan sebagai produk yang dapat merefleksikan kepribadian atau identitas seseorang, serta alat untuk bersosialisasi dan ekspresi diri. Dengan demikian, es krim tidak hanya menjadi makanan yang dinikmati tetapi juga bagian dari cara hidup kontemporer. Dengan inovasi teknologi pembekuan, es krim kini lebih mudah diakses. Produk yang berorientasi pada kemudahan seperti es krim batangan dan kemasan single-serve mencerminkan gaya hidup modern yang dinamis dan sibuk.

Pengalaman sosial juga dapat diperoleh lewat konsumsi es krim, dari perayaan ulang tahun hingga kumpul-kumpul kasual. Es krim merupakan simbol persatuan dan kegembiraan, yang beresonansi dengan gaya hidup yang menitikberatkan pada pengalaman dan konektivitas.

Dengan trend es krim artisanal, konsumen modern dapat mengungkapkan identitas mereka melalui preferensi terhadap brand atau varian tertentu, ini juga mencerminkan kesadaran lebih besar tentang merek dan nilai-nilai mereka, seperti keberlanjutan dan produksi lokal.

Varian rasa es krim tidak hanya selalu tentang rasa cokelat, strawberry, dan vanilla. Memang ketiga rasa es krim ini adalah rasa yang sangat umum untuk dikonsumsi publik. Namun, terdapat kecenderungan rasa bosan terhadap ketiga varian rasa es krim ini.

Ide untuk melestarikan dan memperkenalkan rasa lokal melalui inovasi produk es krim dengan rasa lidah lokal mulai dilirik oleh Prodi D3 Perhotelan Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional. Melalui program regular pada jurusan Konsentrasi Tata Boga yaitu pada mata kuliah Sweet, Candy and Ice Cream, serangkaian kegiatan mata kuliah ini mengangkat peran produk lokal terhadap inovasi es krim di masa modern ini.

Melalui kegiatan “ICE CREAM FESTIVE” setiap kelas akan berinovasi untuk menciptakan rasa-rasa baru dengan menggunakan bahan-bahan atau kuliner lokal, seperti umbi-umbian, wedang ronde, temulawak, es doger, es cendol, asinan Bogor, dll.  Es krim ini dijual dengan harga yang terjangkau untuk kalangan mahasiswa. Mata kuliah ini pun menjadi salah satu Project-based learning di Prodi D3 Perhotelan karena UAS tertulis akan digantikan oleh projek yang tidak menekankan pada hasil melainkan pada proses.

Es krim dengan bahan dan rasa produk lokal merepresentasikan sebuah peluang kewirausahaan yang kuat dalam beberapa aspek, yaitu:

a) Autentisitas (bahan dan rasa lokal menyediakan autentisitas yang dicari banyak konsumen. Produk yang menggabungkan tradisi dan modernitas sering kali diterima baik karena mereka menyentuh rasa nostalgia sekaligus memberikan pengalaman baru,

b) Differensiasi Pasar (menggunakan rasa lokal dapat membedakan produk dari pesaing dan menarik perhatian pecinta kuliner yang ingin mencoba sesuatu yang unik dan berbeda,

c) Pengenalan Budaya (dapat menjadi cara untuk memperkenalkan dan mempromosikan budaya lokal kepada audiens yang lebih luas, termasuk turis yang mencari pengalaman autentik saat berkunjung),

d) Pemberdayaan Ekonomi Lokal (mengambil bahan baku dari supplier lokal tidak hanya meningkatkan ekonomi daerah tetapi juga mendukung keberlanjutan dan mengurangi jejak karbon),

e) Keanekaragaman Produk (ide-ide inovatif di kategori es krim membantu menciptakan keanekaragaman produk yang lebih luas, menarik segmen pasar yang berbeda dan memuaskan berbagai selera),

 f) Tren Kesadaran Kesehatan (dengan bahan alami dan lokal dapat diposisikan sebagai pilihan yang lebih sehat, terutama jika dibuat dengan bahan-bahan organik atau dengan menggunakan pemanis alami).

Mengembangkan usaha es krim dengan bahan dan rasa lokal bukan hanya memenuhi preferensi rasa tetapi juga membawa dimensi budaya dan sosial ekonomi yang lebih luas. Penggunaan bahan-bahan lokal dalam es krim bisa menciptakan rasa unik yang tidak ditemukan di es krim komersial, menarik mahasiswa yang ingin mencoba sesuatu yang baru.

Selain itu, mahasiswa sering lebih sadar akan isu sosial dan lingkungan. Mereka cenderung mendukung produk yang berkelanjutan dan mendukung komunitas lokal. Produk yang menggunakan bahan lokal umumnya dapat menawarkan harga yang lebih terjangkau bagi mahasiswa yang sering memiliki keterbatasan anggaran. Es krim dengan bahan lokal dapat memicu semangat kewirausahaan di kalangan mahasiswa, memberi inspirasi untuk memulai usaha sendiri yang mengangkat ciri khas lokal.

Projek “ICE CREAM FESTIVE” ini juga dapat menjadi kegiatan edukasi tentang pentingnya mendukung industri lokal dan manfaat gizi dari bahan baku lokal. Projek seperti ini juga berpotensi meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam pengelolaan usaha, memperkenalkan mereka pada aspek-aspek kewirausahaan praktis dan membangun keterampilan bisnis mereka. [T]

Implementasi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”  Melalui Wisata Edukasi “Coral Planting” di Pantai Pandawa
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif
Tags: es krimInstitut Pariwisata dan Bisnis InternasionalkulinerPariwisataPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Dua Sisi Perjalanan Merantau ke Singaraja: Menembus Air Bah hingga Menyapa sang Surya

Next Post

GORIS PUN PERNAH SALAH MENULIS BESAKIH

Luh Eka Susanti

Luh Eka Susanti

Luh Eka Susanti, S.Pd.,M.Pd lahir di Denpasar, 19 Agustus 1988 silam. Ia memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Pendidikan Ganesha pada tahun 2013. Karirnya menjadi dosen Bahasa Inggris dimulai sejak tahun 2010. Dia juga mengajar Bahasa Inggris untuk caddy golf, hotelier dan spa therapist, serta menekuni Pembelajaran BIPA. Selain itu, ia pernah menjadi salah satu pemenang dalam lomba Menulis Bahan Ajar Membaca Dini oleh Balai Bahasa Bali Tahun 2019 dan Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Sisa SD Kelas Awal

Related Posts

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

GORIS PUN PERNAH SALAH MENULIS BESAKIH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co