25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Pertama Mahima March March March 2024: Catatan dari Dapur

Son Lomri by Son Lomri
March 18, 2024
in Esai
Hari Pertama Mahima March March March 2024: Catatan dari Dapur

Peserta workshop puisi Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

SEBAGAI penjaga dapur, sudah seharusnya saya menjajakan jajanan dan minuman. Tapi sambil menanti pembeli memesan, di sela-sela itu saya mendengar-mengamati bagaimana kegiatan hari pertama Mahima March March March 2024, yang diisi kegiatan workshop menulis puisi—yang sangat menyenangkan—yang digelar pada Jum’at, 15 Maret 2024, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja.

Para peserta yang terdiri dari mahasiswa dan siswa-siswi SMA itu, menjadikan tempat kegiatan terasa sempit, berdesakan, karena begitu ramai setelah mereka datang. Dan di tengah perhatian mereka menyimak, Bunda Kadek Sonia Piscayanti, selaku pembicara sekaligus tuan rumah, memberikan sambutan hangat kepada mereka.

Bu Sonia menceritakan sedikit tentang perjalanan Komunitas Mahima yang didirikan pada tahun 2008, dan tetap berusaha konsisten selama itu dalam mengembangkan kesusastraan di Bali Utara sampai hari ini. Setelah itu ia menjelaskan tentang seluk-beluk puisi—Bu Sonia memaparkan materi yang telah disiapkan dengan apik melalui layar proyektor.

Di tengah para penyimak, ia cukup mengejutkan saya ketika mengatakan “hidup adalah puisi”. Ia banyak mengutip puisi penyair klasik dari Barat, saat memberikan wejangan pembuka-filosofis tentang hidup dan puisi sebelum dilanjutkan secara intens oleh pemateri kedua, Pak Ole—panggilan akrab Made Adnyana Ole, penyair, wartawan senior, sekaligus suami Bu Sonia.

Kalimat pendek, tetapi sangat mendalam itu membuat saya sadar bahwa dalam hidup manusia memang mengandung puisi. Hanya saja tak banyak orang menyadarinya. Selain itu, Bu Sonia juga mengatakan sesuatu yang lain, bahwa kita mesti memeriksa apa-apa yang sudah kita lakukan, atau yang dilewati oleh diri. “Begitulah berpikir filosofis-puitis kira-kira,” katanya.

Mengingat Chairil Anwar

Sedang dalam menulis puisi, menurut Bu Sonia, adalah sama halnya kita menumpahkan sesuatu atas apa yang kita rasakan. Sehingga, puisi itu kemudian menjadi dahsyat, menjadi sesuatu yang dapat diperhitungkan keberadaanya karena terdapat sesuatu hal di dalamnya. “Menulis tanpa tujuan bukan menulis sama sekali,”  ujarnya.

Ia kemudian mencontohkan seperti apa puisi yang dapat melibatkan perasaan atau emosional terhadap orang lain. “Puisi Aku Chairil Anwar adalah salah satu contoh puisi (yang ditulis dalam suasana penjajahan) telah menyadarkan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang merdeka,” kata Bu Sonia.

Made Adnyana Ole dan Kadek Sonia Piscayanti pada workshop puisi Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Pada puisi Chairil Anwar, menurutnya, merupakan salah satu puisi yang dapat membakar jiwa seseorang—bahkan lebih daripada itu—di zamannya.

“…Kalau sampai waktuku. Ku mau tak seorang kan merayu. Tidak juga kau. Tak perlu sedu sedan itu. Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang. Biar peluru menembus kulitku. Aku tetap meradang menerjang. Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari..“— Aku, Chairil Anwar.

Cara kerja puisi adalah kebebasan. Suara merdeka dari penyair adalah suatu renungan paling dalam untuk menyadarkan sesuatu yang tertutup, seperti rasa ketakutan. Sebab itu, dalam puisi tak hanya diperhitungkan seberapa indah dia dapat dibaca, melainkan pula seperti apa pesan di dalamnya.

Chairil Anwar (1922-1949) merupaka penyair muda kala itu. Dikenal sebagai ‘Binatang Jalang’ melalui puisinya berjudul “Aku” yang ditulis pada tahun 1943. Puisinya tersebut dianggap berbahaya bagi Kolonial Belanda. Sebab dianggap berpotensi dapat merubah kesadaran seseorang terhadap kesadaran untuk merdeka, terutama pada kalangan anak mudanya saat itu.

Bahasa Memiliki Kekuatan

Kita mesti menyadari bahwa bahasa itu memiliki kekuatan tersendiri, dan puisi salah satu daripada itu. Bahkan tentang cinta, puisi dapat mencitrakannya lebih pekat atau berarti.

“Puisi cinta Sapardi Djoko Damono yang berjudul Aku Ingin, kita bisa membayangkannya bagaimana cinta ditulis dengan sangat dalam,” ujar Made Adnyana Ole (Pak Ole) saat memberikan pelatihan cara menulis puisi setelah istrinya memberikan materi.

“ ..Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..”— Aku Ingin, Sapardi Djoko Damono.

Dalam puisi, tentu yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana mereka, penyair, menulis indah seperti itu, kata Pak Ole. Penyair seperti memiliki mata-cara pandang tersendiri atas apa yang ia lihat. Sehingga, sosial-kultural dan tempat di mana penyair tinggal pula sangat berpengaruh terhadap puisi-puisinya yang dibuat.

“Dalam percakapan, ‘kata’ dapat menegaskan apa yang kita rasakan untuk menguatkan sesuatu. Semisal ‘sakkiiiittt..’ untuk menjelaskan betapa sakitnya dirinya dalam menjelaskan. Tapi dalam puisi, itu tidak mesti, justru berbeda cara mereka (penyair) menuliskan perasaannya terhadap sesuatu. Mereka (penyair) menggunakan-memilih diksi yang tepat. Yang padat. Tidak biasa. Dan tentunya yang indah saat dibacakan,” tutur Pak Ole.

Apa yang dikatakan Pak Ole di atas, secara sederhana dapat saya pahami bahwa cara penyair menuliskan sesuatu, memilih diksi, merupakan hal penting. Sehingga mereka sangat berbeda atau tidak klise. Dari sanalah kita selalu melihat puisi seperti memiliki kekuatan tersendiri (khas) dalam menjelaskan sesuatu (pesan).

Dalam mencontohkan seperti apa puisi yang bagus, Pak Ole kemudian membacakan satu puisi cinta yang lain, puisi karya Pablo Nerruda berjudul “Aku Bisa Saja Menulis Puisi Paling Sedih Malam Ini”, yang diterjemahan oleh Saut Situmorang.

“..aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini. misalnya, menulis: “malam penuh bintang, dan bintang bintang itu, biru, menggigil di kejauhan..”

Pak Ole kemudian menjelaskan, bahwa dalam puisi seperti itulah contoh puisi yang bagus. Kita bisa merasakan tidak biasa dalam pilihan diksinya.

“Tentu, dalam puisi cinta seperti itu, tak hanya mengandalkan intuisi saat menuliskannya. Tetapi logika (kegiatan berpikir) dalam menulis puisi juga menjadi hal penting. Agar puisi menjadi bagus, masuk akal, dan tidak mengawang-ngawang,” sambung Bu Sonia, melanjutkan pembahasan suaminya, Made Adnyana Ole.

Praktik Menulis Puisi

Tampak dari sudut dapur, mereka, para peserta itu, sangat antusias. Pada sesi praktik, setelah mendengar panjang lebar dan padat seperti apa puisi dan bagaimana cara menuliskannya, peserta diminta untuk membuat masing-masing satu puisi bebas dan membacakannya di depan.

Berikut dua puisi peserta yang sempat dibacakan dan dapat saya tulis dari dapur:

Darah
Oleh Adip

Kamu selalu sulit diterka
Bagai darah tanpa wadah
Mengucur terang merah-

Kadang biru,
Yang kasang bercabang,
Hingga ujungmu,
Tak terlihat kemana

Hitam legam bersama,
Hidangan padang seserhana.
Runtuhkan sinar rupa,
Karena suryaku yang gerhana.

Namun darahmu ramah.
Hangat saat rasa bertemu rasa.
Aku takut,-
Darahmu terasa beku.
Tampak kebiruan ungu.
Takut jelas di bawah punggungmu.
Bolehkah aku mendahuluimu?

Mahima, 15 Maret 2024.

Dirimu
Oleh Frisca

Tatapanmu…
Bagaikan petir di malam hari,
Penuh cahaya dan berhasil menyambar hati
Senyumanmu…
Selalu berhasil meluluhkan hati kecilku
Bagaikan sebuah perahu di lautan,
Begitulah diriku yang terombang ambing
Oleh pesonamu.
Bagaikan sebuah Aliran Sungai, Cintaku selalu mengalir
Untuk dirimu dan hanya dirimu.

Mahima, 15 Maret 2024.[T]

Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima
Ruang Ketiga; Kebudayaan yang Menguar di Tongkrongan
Tags: baliKomunitas MahimaMahima March March March 2024PuisisastraSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekspedisi Budaya Indonesia dari Fatris MF, Catatan Perjalanan yang Menggelitik dan Penuh Ironi

Next Post

Jawan, Film Angry Young Man?

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post
Jawan, Film Angry Young Man?

Jawan, Film Angry Young Man?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co