13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muasal

Hamzah by Hamzah
March 13, 2024
in Esai
Muasal

House of Squam Light, Gloucester (1923) oleh Edward Hopper

SAYA tidak pernah paham dengan sentimen ‘tanah air’. Bagi saya, idiom you can take the person out of their home, but you can’t take their home out of their person terdengar sangat…fantastis. Saya pribadi tidak rela disematkan identitas primordial—aneh rasanya untuk membanggakan yang terberi tanpa perlu meraih apa-apa. Muasal dan kebanggaannya saya pandang dengan begitu sinis. Toh, hidup saya seumur-umur berada di simpang jalan dan terminal.

Saya perantau, maka saya kudunya memahami para perantau. Sialnya, saya selalu menemukan sweet spot untuk betah dengan cepat jika diharuskan berpindah. Saya sudah lama tidak mengalami homesick atau rindu kampung halaman karena bagaimana pun, saya sudah lanjur menggali semayam bernama home sendiri. Saya toh paham, keadaanlah yang merentangkan jarak para perantau ini. Mencerabutnya dari zona nyaman hingga didera sawan bernama ‘kangen rumah’.

Agar adil, mari kita kulik terlebih dahulu, apa itu ‘rumah’ atau ‘kampung halaman’. Bahasa Inggris menyebutnya hometown, dengan ditabur sedikit patriotisme ia mekar menjadi homeland. Menalar homeland adalah penalaran berlapis makna dan terikat konteks yang luar biasa subyektif. Homeland menjadi konsep asali untuk mengenali dan mengenangi diri sendiri dalam wujudnya yang bermatra jamak. Merenungi homeland adalah merenungi keruangan yang tidak terbantahkan dalam menjelaskan apa dan siapa diri kita.

Bahasa Indonesia punya makna-makna alternatif atas apa yang dinalar sebagai homeland. Kita telah kenali makna awam homeland sebagai apa yang kita sebut ‘tanah air’. Bila mengulik penalaran keruangan, homeland tidak lain dan tidak bukan adalah ‘kampung halaman’. Dalam konteks geografi, homeland juga dapat berarti ‘nusa bangsa’. Semangat juang memaknainya lain lagi, homeland adalah ‘tanah tumpah darah’. Jika disejajarkan dengan sentimen identitas, kesejarahan (bahasa), dan gender, maka homeland dapat dipertukarkan dengan motherland, mengandung arti ‘ibu pertiwi’.[1]

Agung, ya? Sepertinya yang terberi menyematkan keagungan pada insan-insan yang lahir tanpa punya apa-apa. Maka, digenggamnya identitas erat-erat. Meletus konflik karenanya—karena ada dorongan untuk menegakkan panji atas siapa diri kita di dunia. Mula dari warna kulit hingga cara berpakaian, dari ruang-ruang bersifat natural hingga demarkasi tipu-tipu—selalu ada peluang untuk meneriakkan bahwa darah dan tumpahnya adalah demi ‘rumah’.[2]

Setiap peradaban adalah hikayat perjuangan kelas.[3] Peradaban—dan kelas masyarakat sebagai ‘perumahan’ adalah akibat dari konflik jatuh bangun antara si kecil dan si besar. Dalam bentuk paling purbanya, adalah ‘gesekan’ atau ‘penaklukan’ manusia atas alam. Selain arena sosial, karena wujud manusia yang fisik, ia juga menjadi arena spasial. ‘Kampung halaman’ tidak pernah terberi dengan tiba-tiba. Setiap panji, setiap bangsa, adalah hasil upaya para pendahulu. Apakah tegak dengan damai atau darah—itulah mengapa, sebagian maknanya menjadi ‘tanah tumpah darah’.

Datanglah masa-masa damai. Tanpa agresi, tidak ada alasan untuk mengangkat panji tinggi-tinggi. Tanah kampung menjadi klaustrofobik. Maka, manusia melanglang buana. Ia kemudian menemui hal lain dan yang-liyan. Ia ingin membaur, namun ia curiga dan dicurigai. Ia angkat panjinya yang menganggur jauh dari tlatah rumah. Ia kemudian disematkan padanya identitas asalinya.

Begitulah, ‘rumah’ kemudian menjadi suar. Agar yang-lain mendekati dirinya dengan prasangka baik-buruk dan mengukurnya. Agar yang-lain dapat berdiri menyalaminya dan menyelaminya. Agar yang-lain tidak gegas menjadi yang-liyan dan lekas berkawan.[4] Manusia tidak mampu melihat manusia sebagai satu karena tlatahnya yang dirasa menyempit di kepala.

Temuilah manusia itu rekannya dari rumah yang sama. Kebanggaan meluap, hendak bertanya apa kabar kampungnya. Di lidahnya mencecap, berkalang waktu dia jauh dari rumah, pun tak terkikis identitasnya sebagai warga rumahnya. Keberjarakan menjadi amplifikasi. Keberjarakan spasial menggandakan keakraban afektifnya; mendaulat diri sebagai warga rumahnya penuh waktu. Di kepalanya, realitas lain terbayangkan dan merumah karena pengalaman.[5]

Asyik meromantisir, manusia menggambar rumah dalam sebuah karikatur. Sebagian bahasa dan hikayat meletakkannya sebagai ibu, banyak lainnya—notabene karena kekasarannya—meletakkan sebagai ayah.[6] Hampar luas kemudian dilihat manusia tidak lebih dari bawah pusarnya sendiri. Narsisisme yang, hampir-hampir, meletakkan kampung halaman lebih dekat dengan nafsu dan nafas sendiri. Daya teluhnya kemudian mengukuhkan ‘tanah tumpah darah’ mengalir via jantung yang sama—menjadikan panji-panji kemudian semakin runcing dan hubungan manusia-manusia semakin runyam.

Sampai di sini, homeland menjadi sesuatu yang kisut. Lebih mudah menalarnya sebagai agonisme cangkang dan antagonisme benda asing yang memaksa masuk. Iritasi yang disebabkan benturan tersebut hanya akan lebih masuk akal dipahami dalam konteksnya yang ekonomi politik. Penjajahan dan opresi pertama-tama adalah soal sumberdaya—kemudian, (melalui) penguasaan atas satu atau lainnya.

Saya tidak sedang menyinggung mereka yang membela rumahnya dari serbuan penjajah. Saya juga benci mereka-mereka yang tetap memutuskan memakai sepatu mereka yang kotor ke ruang tamu tanpa dipersilakan dan malah berkalang kekerasan. Untuk urusan itu, unjuk panji adalah bukan kerja-kerja meliyankan melainkan bela diri. Toh manusia-manusia najis yang merangsek masuk sembarangan ini yang malah menganggap manusia lainnya liyan dan sampiran.

Dalam kekerasan, harapan mekar dibasuh perlawanan. Perlawanan kemudian diselimur sentimen identitas. Sentimen tersebut, kemudian dijalin dengan ingatan dan waktu. Susan Abulhawa membayangkan tentang masa lalu dan masa depan rumahnya di Palestina adalah wilayah dengan agama dan budaya jamak.[7] Latar metropolitan adalah imajinasi pamungkas tentang tanah berlanda konflik seperti Palestina. ‘Tanah tumpah darah’ menjelma belanga-belanga yang menampung mimpi-mimpi metropolitan para penyintasnya.

Bunga-bunga budaya yang mekar dalam perlintasan manusia adalah akibat kehendak yang luar biasa manusiawi. Dalam hiruk-pikuk dan perjalinannya, tanah air dan rumah menjelma dalam kepala orang-orang. Identitas bergeser karena ruang-ruang yang menyempit akibat semakin banyaknya manusia. Identitas kemudian menjadi sesuatu yang lapang dan carut-marut. Kampung halaman dalam kota, adalah kenangan dan lakon di mana sejarah bekerja terus-menerus untuk mencatat jadinya tlatah—tanpa pernah final kemenjadiannya.

Dalam jiwa-jiwa kelana, rumah kemudian adalah kemenjadian terus menerus, di dalam manusianya sebagaimana di atas tanah-tanahnya. Lazim dimaknai bahwa kampung halaman tidak melulu merujuk pada wilayah administratif. Sah belaka, bahwa kampung halaman adalah sudut dan kelokan jalan yang dikenali—membumikan diri dari kebanggaan panji-panji yang dimaknai sebatas awang dan kejumawaan.

Baiklah, saya mulai memahami sentimennya. Lahirlah kita sekalian. Lahirlah saya selembar daun dari pohon kampung halamannya. Pohon yang berkalang tahun meranggas, tumbuh, tersambar, tebang, terbakar, dan berlubang sarang. Lahirlah kita selembar daun, dan dengan tangkainya mengalir air dari cabang, batang, akar, kemudian parasit, jamur, tanah, dan kembali ke badan air. Saya sintas karenanya.

Saya kini paham tabiat tanah air, saya kini mengerti sifat kampung halaman—saya kini paham mengapa rumah bersemayam di jiwa-jiwa. [T]


[1] Urusan ini dijabarkan dengan cantik oleh Wikipedia sendiri https://en.wikipedia.org/wiki/Homeland

[2] Fukuyama, Francis (2018). “Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment”. Farrar, Straus and Giroux

[3] Marx, Karl dan Engels, Friedrich. 1818-1883. “The Communist Manifesto”. London

[4] Webber, Jonathan (2019). “Against type: what existentialist philosophy reveals about prejudices”. Aeon.

[5] Anderson, Benedict. (2016). “Imagined communities”. Verso Books.

[6] Luar biasa seram bagaimana patriarki begitu prevalent dalam konotasi soal ‘tanah air’ ini, James, Caroline (May 2015). “Identity Crisis: Motherland or Fatherland?”. Oxford Dictionaries. Oxford University Press. Tahukah kamu bahwa patriotisme bersepupu akar kata dengan father?

[7] Abulhawa, Susan (2014). “We Have Only Ourselves and People of Conscience to Effectuate Our Own Liberation”. Middle East Eye, Edisi Musim Panas 2014. Diterbitkan ulang oleh Literary Hub, May 16 2018.

BACA esai lain dari penulis HAMZAH

Kata Kembali Merumah di Singaraja
Batas Nalar : Catatan Sehabis Menonton “Our Sea is Always Hungry” – Leyla Stevens
Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi, Bukan Sekadar Membaca, Tapi Juga Berwisata
Tags: filosofirenunganRumahtanah air
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi dan Pandangan Dunia

Next Post

Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Hamzah

Hamzah

Lebih suka menyebut dirinya berlapis jamak seperti larik Walt Whitman. Laki-laki cis ini hidup nomaden sepanjang ingatannya. Kini semayam di Gianyar, Bali sebagai buruh nonprofit. Dapat dikunjungi di https://hamzah.id

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co