14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muasal

Hamzah by Hamzah
March 13, 2024
in Esai
Muasal

House of Squam Light, Gloucester (1923) oleh Edward Hopper

SAYA tidak pernah paham dengan sentimen ‘tanah air’. Bagi saya, idiom you can take the person out of their home, but you can’t take their home out of their person terdengar sangat…fantastis. Saya pribadi tidak rela disematkan identitas primordial—aneh rasanya untuk membanggakan yang terberi tanpa perlu meraih apa-apa. Muasal dan kebanggaannya saya pandang dengan begitu sinis. Toh, hidup saya seumur-umur berada di simpang jalan dan terminal.

Saya perantau, maka saya kudunya memahami para perantau. Sialnya, saya selalu menemukan sweet spot untuk betah dengan cepat jika diharuskan berpindah. Saya sudah lama tidak mengalami homesick atau rindu kampung halaman karena bagaimana pun, saya sudah lanjur menggali semayam bernama home sendiri. Saya toh paham, keadaanlah yang merentangkan jarak para perantau ini. Mencerabutnya dari zona nyaman hingga didera sawan bernama ‘kangen rumah’.

Agar adil, mari kita kulik terlebih dahulu, apa itu ‘rumah’ atau ‘kampung halaman’. Bahasa Inggris menyebutnya hometown, dengan ditabur sedikit patriotisme ia mekar menjadi homeland. Menalar homeland adalah penalaran berlapis makna dan terikat konteks yang luar biasa subyektif. Homeland menjadi konsep asali untuk mengenali dan mengenangi diri sendiri dalam wujudnya yang bermatra jamak. Merenungi homeland adalah merenungi keruangan yang tidak terbantahkan dalam menjelaskan apa dan siapa diri kita.

Bahasa Indonesia punya makna-makna alternatif atas apa yang dinalar sebagai homeland. Kita telah kenali makna awam homeland sebagai apa yang kita sebut ‘tanah air’. Bila mengulik penalaran keruangan, homeland tidak lain dan tidak bukan adalah ‘kampung halaman’. Dalam konteks geografi, homeland juga dapat berarti ‘nusa bangsa’. Semangat juang memaknainya lain lagi, homeland adalah ‘tanah tumpah darah’. Jika disejajarkan dengan sentimen identitas, kesejarahan (bahasa), dan gender, maka homeland dapat dipertukarkan dengan motherland, mengandung arti ‘ibu pertiwi’.[1]

Agung, ya? Sepertinya yang terberi menyematkan keagungan pada insan-insan yang lahir tanpa punya apa-apa. Maka, digenggamnya identitas erat-erat. Meletus konflik karenanya—karena ada dorongan untuk menegakkan panji atas siapa diri kita di dunia. Mula dari warna kulit hingga cara berpakaian, dari ruang-ruang bersifat natural hingga demarkasi tipu-tipu—selalu ada peluang untuk meneriakkan bahwa darah dan tumpahnya adalah demi ‘rumah’.[2]

Setiap peradaban adalah hikayat perjuangan kelas.[3] Peradaban—dan kelas masyarakat sebagai ‘perumahan’ adalah akibat dari konflik jatuh bangun antara si kecil dan si besar. Dalam bentuk paling purbanya, adalah ‘gesekan’ atau ‘penaklukan’ manusia atas alam. Selain arena sosial, karena wujud manusia yang fisik, ia juga menjadi arena spasial. ‘Kampung halaman’ tidak pernah terberi dengan tiba-tiba. Setiap panji, setiap bangsa, adalah hasil upaya para pendahulu. Apakah tegak dengan damai atau darah—itulah mengapa, sebagian maknanya menjadi ‘tanah tumpah darah’.

Datanglah masa-masa damai. Tanpa agresi, tidak ada alasan untuk mengangkat panji tinggi-tinggi. Tanah kampung menjadi klaustrofobik. Maka, manusia melanglang buana. Ia kemudian menemui hal lain dan yang-liyan. Ia ingin membaur, namun ia curiga dan dicurigai. Ia angkat panjinya yang menganggur jauh dari tlatah rumah. Ia kemudian disematkan padanya identitas asalinya.

Begitulah, ‘rumah’ kemudian menjadi suar. Agar yang-lain mendekati dirinya dengan prasangka baik-buruk dan mengukurnya. Agar yang-lain dapat berdiri menyalaminya dan menyelaminya. Agar yang-lain tidak gegas menjadi yang-liyan dan lekas berkawan.[4] Manusia tidak mampu melihat manusia sebagai satu karena tlatahnya yang dirasa menyempit di kepala.

Temuilah manusia itu rekannya dari rumah yang sama. Kebanggaan meluap, hendak bertanya apa kabar kampungnya. Di lidahnya mencecap, berkalang waktu dia jauh dari rumah, pun tak terkikis identitasnya sebagai warga rumahnya. Keberjarakan menjadi amplifikasi. Keberjarakan spasial menggandakan keakraban afektifnya; mendaulat diri sebagai warga rumahnya penuh waktu. Di kepalanya, realitas lain terbayangkan dan merumah karena pengalaman.[5]

Asyik meromantisir, manusia menggambar rumah dalam sebuah karikatur. Sebagian bahasa dan hikayat meletakkannya sebagai ibu, banyak lainnya—notabene karena kekasarannya—meletakkan sebagai ayah.[6] Hampar luas kemudian dilihat manusia tidak lebih dari bawah pusarnya sendiri. Narsisisme yang, hampir-hampir, meletakkan kampung halaman lebih dekat dengan nafsu dan nafas sendiri. Daya teluhnya kemudian mengukuhkan ‘tanah tumpah darah’ mengalir via jantung yang sama—menjadikan panji-panji kemudian semakin runcing dan hubungan manusia-manusia semakin runyam.

Sampai di sini, homeland menjadi sesuatu yang kisut. Lebih mudah menalarnya sebagai agonisme cangkang dan antagonisme benda asing yang memaksa masuk. Iritasi yang disebabkan benturan tersebut hanya akan lebih masuk akal dipahami dalam konteksnya yang ekonomi politik. Penjajahan dan opresi pertama-tama adalah soal sumberdaya—kemudian, (melalui) penguasaan atas satu atau lainnya.

Saya tidak sedang menyinggung mereka yang membela rumahnya dari serbuan penjajah. Saya juga benci mereka-mereka yang tetap memutuskan memakai sepatu mereka yang kotor ke ruang tamu tanpa dipersilakan dan malah berkalang kekerasan. Untuk urusan itu, unjuk panji adalah bukan kerja-kerja meliyankan melainkan bela diri. Toh manusia-manusia najis yang merangsek masuk sembarangan ini yang malah menganggap manusia lainnya liyan dan sampiran.

Dalam kekerasan, harapan mekar dibasuh perlawanan. Perlawanan kemudian diselimur sentimen identitas. Sentimen tersebut, kemudian dijalin dengan ingatan dan waktu. Susan Abulhawa membayangkan tentang masa lalu dan masa depan rumahnya di Palestina adalah wilayah dengan agama dan budaya jamak.[7] Latar metropolitan adalah imajinasi pamungkas tentang tanah berlanda konflik seperti Palestina. ‘Tanah tumpah darah’ menjelma belanga-belanga yang menampung mimpi-mimpi metropolitan para penyintasnya.

Bunga-bunga budaya yang mekar dalam perlintasan manusia adalah akibat kehendak yang luar biasa manusiawi. Dalam hiruk-pikuk dan perjalinannya, tanah air dan rumah menjelma dalam kepala orang-orang. Identitas bergeser karena ruang-ruang yang menyempit akibat semakin banyaknya manusia. Identitas kemudian menjadi sesuatu yang lapang dan carut-marut. Kampung halaman dalam kota, adalah kenangan dan lakon di mana sejarah bekerja terus-menerus untuk mencatat jadinya tlatah—tanpa pernah final kemenjadiannya.

Dalam jiwa-jiwa kelana, rumah kemudian adalah kemenjadian terus menerus, di dalam manusianya sebagaimana di atas tanah-tanahnya. Lazim dimaknai bahwa kampung halaman tidak melulu merujuk pada wilayah administratif. Sah belaka, bahwa kampung halaman adalah sudut dan kelokan jalan yang dikenali—membumikan diri dari kebanggaan panji-panji yang dimaknai sebatas awang dan kejumawaan.

Baiklah, saya mulai memahami sentimennya. Lahirlah kita sekalian. Lahirlah saya selembar daun dari pohon kampung halamannya. Pohon yang berkalang tahun meranggas, tumbuh, tersambar, tebang, terbakar, dan berlubang sarang. Lahirlah kita selembar daun, dan dengan tangkainya mengalir air dari cabang, batang, akar, kemudian parasit, jamur, tanah, dan kembali ke badan air. Saya sintas karenanya.

Saya kini paham tabiat tanah air, saya kini mengerti sifat kampung halaman—saya kini paham mengapa rumah bersemayam di jiwa-jiwa. [T]


[1] Urusan ini dijabarkan dengan cantik oleh Wikipedia sendiri https://en.wikipedia.org/wiki/Homeland

[2] Fukuyama, Francis (2018). “Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment”. Farrar, Straus and Giroux

[3] Marx, Karl dan Engels, Friedrich. 1818-1883. “The Communist Manifesto”. London

[4] Webber, Jonathan (2019). “Against type: what existentialist philosophy reveals about prejudices”. Aeon.

[5] Anderson, Benedict. (2016). “Imagined communities”. Verso Books.

[6] Luar biasa seram bagaimana patriarki begitu prevalent dalam konotasi soal ‘tanah air’ ini, James, Caroline (May 2015). “Identity Crisis: Motherland or Fatherland?”. Oxford Dictionaries. Oxford University Press. Tahukah kamu bahwa patriotisme bersepupu akar kata dengan father?

[7] Abulhawa, Susan (2014). “We Have Only Ourselves and People of Conscience to Effectuate Our Own Liberation”. Middle East Eye, Edisi Musim Panas 2014. Diterbitkan ulang oleh Literary Hub, May 16 2018.

BACA esai lain dari penulis HAMZAH

Kata Kembali Merumah di Singaraja
Batas Nalar : Catatan Sehabis Menonton “Our Sea is Always Hungry” – Leyla Stevens
Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi, Bukan Sekadar Membaca, Tapi Juga Berwisata
Tags: filosofirenunganRumahtanah air
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi dan Pandangan Dunia

Next Post

Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Hamzah

Hamzah

Lebih suka menyebut dirinya berlapis jamak seperti larik Walt Whitman. Laki-laki cis ini hidup nomaden sepanjang ingatannya. Kini semayam di Gianyar, Bali sebagai buruh nonprofit. Dapat dikunjungi di https://hamzah.id

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co