6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komang Sujana Kenalkan Renganis Lewat Puisi Bali Modern | Catatan dari Ulas Buku Klub Buku Singaraja #2

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 18, 2024
in Khas
Komang Sujana Kenalkan Renganis Lewat Puisi Bali Modern | Catatan dari Ulas Buku Klub Buku Singaraja #2

Komang Sujana dan Gus Surya Bharata

SETELAH hujan benar-benar lewat dan menjauh, yang tersisa malam itu hanya becek tanah dan rembesan sisa air hujan yang menetes diantara tembok dan dedaunan. Dari jarak kurang lebih 10 meter dari pagar rumah, di dalam sana, suara orang berbincang sayup-sayup terdengar. Kadangkala mereka tertawa, kadang pula mereka terlihat serius.

Di atas meja, rokok berbagai macam merk tergeletak begitu saja. Ada yang kretek, ada yang mild, ada juga yang ngelinting. Suasana malam itu benar-benar syahdu. Dingin malam, bercampur dengan hangatnya orang-orang yang sedang bertukar pikiran. Sesekali, terdengar suara kidung dari salah satu handphone milik mereka.

Meski kopi sudah tinggal ampas, obrolan mereka masih mengalir begitu saja. Sedang yang lainnya, tampak disibukan dengan kabel-kabel yang belum terpasang dengan benar.

Malam itu, Sabtu 17 Februari 2024, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja, sedang berlangsung acara Ulas Buku yang diinisiasi oleh Klub Buku Singaraja edisi ke dua–setelah pada minggu lalu menyelenggarakan acara perdana dengan tajuk “Berkenalan dengan Buku”.0

Klub Buku Singaraja kali ini hadir dengan tema Ulas Buku Kumpulan Puisi Bali Modern yang berjudul “Renganis” karya komang Sujana–penulis yang meraih penghargaan Gerip Maurip 2023 itu.

Acara benar-benar dimulai sesaat setelah moderator mempersilahkan narasumber untuk menempati tempat yang disediakan. Dan, sebelum moderator benar-benar menyerahkan kepada narasumber untuk memaparkan hasil karyanya itu, ia memuji bahwa apa yang ditulis oleh Komang Sujana kali ini, adalah semacam sebuah perubahan—atau bisa dikatakan peng-upgrade-an—dari gaya penulisan Komang Sujana dengan karya sebelumnya yang berjudul Cangkit Den Bukit.

Acara itu dihadiri oleh beberapa tokoh penting di Buleleng. Sebut saja, Ida Bagus Gde Surya Bharata, yang menjadi pemateri ulasan dalam acara itu. Gus Surya, begitu ia dipanggil, adalah penggerak literasi sekaligus juga penulis puisi Bali modern. Saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Buleleng.

Hadir juga Made Adnyana Ole, sastrawan cum Pemred tatkala.co. Dan, Kadek Sonia Piscayanti, dosen sekaligus pendiri Rumah Belajar Komunitas Mahima. Serta, nama-nama lain seperti I Nengah Juliawan (dosen STAHN Mpu Kuturan), Yahya Umar (wartawan), dan Wayan Sukarena selaku salah satu tokoh pelestari seni Renganis asal Desa Pengelatan, Buleleng, Bali.

Benar, malam itu, di depan rak buku milik Komunitas Mahima, wartawan, sastrawan, budayawan serta akademisi, itu sedang berkumpul membahas tentang sastra, seni dan budaya.

Ida Bagus Gde Surya Bharata, mengaku menikmati betul puisi-puisi berbahasa Bali. Meskipun, ia juga mengaku masih memiliki kekurangan dalam mengartikan beberapa kosa kata yang ada di dalam puisi Bali Modern itu sendiri.

Meski begitu, ia memuji karya Komang Sujana. Ia mengatakan bahwa, penulis dengan karya kreatifnya kali ini, mencoba mengenalkan Renganis sebagai sastra tradisional asal Desa Penglatan.

Lebih dari itu, menurut Gus Surya, penulis mencoba menggambarkan Renganis secara keseluruhan lewat karya puisinya itu, dari proses lahir, cara kerja sampai ke tahap spiritual.

Namun, ironis memang, menurut Gus Surya, Renganis di era kini nyaris di tinggalkan, bahkan di desa asalnya. “Padahal, Renganis mampu dijadikan sebagai media belajar bahasa Bali dan media perekat rasa bahasa dan sastra dresta, untuk memahami desa kaje-kangin di Buleleng,” katanya.

Maka dari itu, diperlukan adanya atensi dari pihak-pihak terkait, untuk keberlangsungan Renganis sebagai karya sastra tradisonal khas Buleleng.

Sedangkan, Komang Sujana, selaku penulis buku yang sedang di bedah malam itu, mengatakan bahwa dirinya merasa bersyukur dengan adanya ruang-ruang kretaif seperti yang ada di Komunitas Mahima. Menurutnya, ruang-ruang seperti itu adalah obat untuk mengobati dahaganya dalam proses belajarnya

“Saya bersyukur dikelilingi oleh orang-orang kreatif yang senantiasa menyediakan ruang belajar untuk saya,” katanya.

Alasan dipilihnya Renganis sebagai judul buku puisinya adalah sebagai bentuk upayanya dalam mengekspresikan hal-hal yang indah di sekelilingnya. Hal itu serupa dengan makna Renganis sendiri yakni, suara indah dari kesunyian.

Ia mengaku, bahwa, puisinya kali ini lebih banyak membahas tentang fenomena-fenomena yang ia temukan sehari-hari. Dan, menurut Putu Eka Guna Yasa, dalam kolomnya yang berjudul Wirangrong pada laman tatkala.co, menyebutkan bahwa puisi semacam itu adalah sastra yang lahir dari perjalanan.

“Tujuan saya menulis bukan untuk dikenal,” akunya.

Komang–begitu ia akrab dipanggil, mengatakan bahwa, tujuannya menulis adalah sebagai bahan ajar berbahasa Bali untuk murid-muridnya.

Ya, selain sebagai penulis, Komang adalah seorang guru di SMPN 2 Sawan. Dan, sebelum memutuskan menjadi guru, ia pernah beberapa kali menggeluti berbagai profesi. Diantaranya: sebagai Penyuluh Bahasa Bali pada tahun 2016-2017, kemudian berganti menjadi Perangkat Desa Tajun pada tahun 2017-2020.

Setelah Komang Sujana selesai dengan pemaparannya, salah satu peserta bedah buku yg hadir pada malam itu, bernama Juliawan–akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja–mencoba membaca satu puisi karya komang yang berjudul metapel kala. Puisi berbahasa Bali itu, dibacanya dengan lugas dan tegas. Seakan, puisi itu adalah semacam ungkapan yang lahir dari hatinya.

Setelah selesai membacanya, Juliawan mencoba menafsirkan puisi karya Komang tersebut. Menurutnya, di dalam puisi itu, penulis mencoba menghadirkan sebuah keresahan tentang pemimpin-pemimpin yang saat ini sedang menggunakan topeng-topeng dengan bentuk berbagai rupa.

“Menurut saya, saat ini Renganis sedang pingsan. Semoga, cepat sadar kembali,” ujar Juliawan sebelum mempersilahkan peserta yang lain untuk memaparkan tanggapannya.

Yahya Umar–wartawan senior Buleleng, sekaligus Pemred Balisharing.com, tak ingin kalah dengan Juliawan. Ia membaca puisi karya Komang yang berjudul TPS.

“Karena ini suasananya masih pemilu, saya ingin membaca puisi Komang yang berjudul TPS” ucapnya.

Yahya Umar membaca puisi berjudul TPS itu dengan gayanya sendiri–puisi Bahasa Bali yang dibaca dengan logat Madura Khas Yahya Umar. Setelah selesai membacanya, ia melontarkan pertanyaan kepada penulis “Mengapa membuat puisi bertema Pemilu?” tanyanya.

Menanggapi hal tersebut, Komang menceritakan tentang proses lahirnya karya puisi berjudul TPS tersebut. Ia mengaku bahwa, latar belakang puisinya tercipta, ketika ia melihat anak didiknya memungut barang barang bekas di TPS. Ia melihat bahwa ada semacam kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka ketika memungut barang bekas itu.

“Mereka bahagia ketika memungut barang bekas di TPS, karena dengan memungut barang bekas itu, mereka mendapatkan uang untuk bekalnya di sekolah,” katanya.

Sesaat setelah memberi jeda, ia menambahkan “Namun, di TPS yang lain, ada janji-janji manis yang mengakibatkan anak-anak itu harus memungut barang bekas,” imbuhnya.

Ya, meski janji-janji manis hanya dijadikan sebagai alat untuk mengeruk suara diajang pertarungan Pemilu, setidaknya, masih ada hal positif dari itu semua. Seperti, anak kecil yang menjadikan hasil dari menjual barang bekas itu sebagai tambahan uang sakunya, janji-janji manis juga sebagai inspirasi Komang untuk melahirkan sebuah puisi. 

Sedangkan menurut Kadek Sonia Piscayanti, Renganis lebih manis daripada karya Komang sebelumnya. Bahasa yang disuguhkan di dalam karyanya kali ini mulai berkembang. Dan, tentu saja perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan tempat tempat tinggalnya, yang Sonia–Panggilan akrabnya– sebut dengan istilah Self Culture Konteks.

Namun, Sonia, kemudian mencerca penulis dengan berbagai pertanyaan kritisnya–mengingat bahwa Sonia adalah seorang akademisi pilih tanding–“Apakah bahasa yang ditemukan (kebaharuan kata) bisa mewakili Komang yang sesungguhnya? Bagaimana Tajun hadir di dalam puisi Renganis?”

Meski di awal Sonia mengatakan bahwa Renganis lebih manis dari Cangkit Den Bukit, ia tetap belum menemukan keautentikan dari Komang secara gaya dan pemilihan kata dalam puisi-puisinya yang seakan masih terkurung dalam pakem-pakem Bahasa Bali. Hal itu yang membuat seakan kreatifitas Komang dalam memilih dan menemukan gaya bahasanya tertutup.

“Padahal, sebuah Karya kreatif harus menabrak aturan-aturan yang berlaku untuk keluar dari keterkurungan itu sampai ke titik keauntetikan diri sang penulis,” terangnya.

Menjawab hal itu, Komang mengaku bahwa sebagai seorang Sarjana Bahasa Bali, menyebabkan ia merasa terikat dengan pemilihan dan penggunaan kata yang ia jadikan didalam karya-karyanya harus sesuai dengan kamus Bahasa Bali. Meskipun, pada dasarnya ia juga sadar, bahwa, setiap daerah memiliki kekhasan bahasanya sendiri.

Meskipun begitu, Komang, menegaskan bahwa kecintaanya dengan desanya lah yang menjadi stimulusnya untuk tetap menulis. “Saya harus menulis khusus tentang apa yg ada di Desa Tajun. Karena saya berprinsip bahwa, tulislah apa yang kamu ketahui,” ujarnya.

Senada dengan Sonia, Gus Surya, juga mengatakan bahwa ia belum menemukan Komang secara pribadi yang lahir dari Desa Tajun di dalam puisinya kali ini. Menurutnya,  Pemilihan Bahasa bali umum yang dipilih Komang untuk mengeskpresikan apa yang diketahui Komang dengan puisinya menjadikan tidak munculnya keauntetikan dari diri Komang.

Bayu, wartawan RRI yang juga hadir dalam acara bedah buku malam itu juga menyampaikan sebuah pertanyaan kepada penulis.

“Puisi mana yang proses kelahirannya membutuhkan tenaga dan waktu yang lama?” tanyanya. 

Buku pupulan puisi bali modern Renganis | Foto: Yudi Setiawan

Menurut Komang, ada beberapa puisi di dalam Kumpulan Puisi Bahasa Bali Modern yang berjudul Renganis ini yang proses lahirnya memakan waktu yang cukup lama. Alasannya, karena ia harus mengenal narasumber atau objek yang akan ia jadikan sebagai puisi.

“Kadang saya sampai membuka catatan-catatan saya ketika semasa kuliah, kemudian mengkonfirmasikannya dengan pihak yang terkait tentang kevalidan data yang saya peroleh sebagai bahan menulis puisi,” jelasnya.

Tak ingin hanya menyimak saja, Ole–panggilan akrab Made Adnyana Ole– juga menyampaikan sudut pandangnya tentang sastra dan kesenian. Menururtnya, idialisme untuk mengenalkan bahasa daerah melalui puisi adalah sebuah upaya untuk mengenalkan kekayaan bahasa atau juga malah menambah khasana bahasa itu sendiri.

“Sebab, dengan puisi, kita dipaksa harus menemukan kata-kata baru yang jarang atau bahkan belum pernah dipakai orang sama sekali, dan itulah sebenarnya yang dinamakan puisi,” katanya.

Ia mengatakan bahwa “kesalahan” Komang dalam menulis puisi berbahasa Bali adalah karena Komang belajar bahasa Bali. Sebab, hal tersebut yang membuatnya tidak berani keluar dari pedoman dan pakem-pakem bahasa Bali yang berlaku. Dan, Itu menyebabkan, Komang belum menemukan kekhasan bahasa Tajun di dalam puisinya.

Sesaat setelah menuangkan pemikirannya, Ole kemudian bertanya kepada Komang, “Apakah kelahiran puisinya mengadopsi seperti proses cara kerja kelahiran Renganis sendiri?”

Menanggapi pertanyaan itu, Komang mengaku bahwa dalam proses kreatifnya menulis puisi, tidak terpikirkan untuk mengadopsi cara kerja Renganis. Hal itu disebabkan karena ia belum mempelajari Renganis secara mendalam. Dan, ia mengaku, proses kreatifnya menulis puisi hanya dari merespon apa yang ia lihat dan ia rasakan saja.

Wayan Sukerena, selaku penerus kesenian Renganis generasi ke tiga dari Desa Pengelatan, memuji karya puisi Komang telah mendapat penghargaan Gerip Maurip tahun 2023.

“Taksu Renganis menyertai Komang,” pujinya.

Setelah memberikan pujian itu, Wayan Sukerena menjelaskan sedikit tentang kesenian Renganis yang menjadi warisan leluhur dari desanya itu. Menurutnya, Renganis terdiri dari dua suku kata. Reng dan manis. (Suara merdu dan mendengarkan suara niskala).

Masih menurut penjelasan Wayan Sukerena, di dalam lantunan kidung Renganis, isinya memiliki unsur pujian-pujian yang mengadopsi suara-suara niskala. “Seperti suara kesunyian malam,” katanya.

Ya, Renganis menurutnya lahir dari kesunyian malam. “kebanyakan malam diartikan dengan kekosongan. Padahal, ketika malam hari, muncul bunyi-bunyian yang dilahirkan oleh alam,” katanya.

Di sela-sela ia bercerita tentang kesenian khas Desa Pengelatan itu, sesekali ia melantunkan kidung renganis dengan nada yang mendayu-dayu. Dan, sebagai penggelut kesenian Renganis, Ia mempunyai harapan, dengan adanya perhatian dari pemerintah untuk lebih memperhatikan Renganis. Agar kesenian adiluhur itu mampu berkelanjutan dan berkembang.

“Pada tahun 2013, kami tampil di PKB teater dengan mengembangkan Renganis dengan inovasi baru dengan melibatkan unsur karya sastra lainnya,” akunya.

Dengan demikian, bahwa, Renganis merupakan salah satu kekayaan seni dan budaya Bali yang patut diperhatikan. Entahlah, sejauh ini, posisi Pemkab Buleleng dalam hal ini ada dimana, saya tidak berani melanjutkan.

Kembali pada topik pembahasan, Juliawan selaku akademisi cum Budayawan, menambahkan bahwa, menghilangkan sifat akademis agar dapat keluar dari pakem-pakem bahasa yg berlaku untuk melahirkan karya sastra yang auntentk itu, tidaklah mudah. Sebab, beban moral yang diemban oleh tenaga pendidik tidak mudah dihilangkan.

Ia kemudian mengutip salah satu kalimat José Miguel Covarrubias–Seniman yang menulis buku Islan Of Bali, Itu– “Jika kamu belajar bahasa Bali, belajarlah ke Buleleng dan ke Klungkung”.

Sebab, menurutnya, di kedua daerah itulah bahasa yang digunakan memiliki keauntetikan dengan ciri khas daerahnya masing-masing.

Diskusi malam itu memang menarik. Semua menyumbangkan pemikirannya tentang seni dan budaya serta cara kerja proses kelahiran puisi dengan melibatkan berbagai metode yang mungkin bisa dilakukan. Semua saling bercengkrama. Semua saling belajar. Tak ada yang menggurui, tak ada pula yang digurui.

Ya, hal itu senada dengan tujuan adanya Klub Buku Singaraja, ini. Menurut Rusdi–selaku penanggung jawab Klub Buku Singaraja–mengatakan bahwa, “Klub Buku ini membuka ruang alternatif baru untuk bercengkrama bersama kawan-kawan yang ada di Singaraja. Sekedar berbincang soal buku, sastra, musik atau semua yang tanpa ragu ingin kita ucapkan,” jelasnya.

Acara diskusi dan bedah buku itu ditutup dengan dilantunkannya kidung Renganis dari Wayan Sukerena dan Komang Sujana.

Di atas sofa merah itu, –mengutip status fb Made Adnyana Ole, kata-kata didudukkan, kreasi dimainkan, diskusi dipanggungkan, kesimpulan dibawa pulang oleh masing-masing peserta dengan kesan dan pesan yang bisa seragam, bisa juga beragam–Suara kidung dari dua lelaki pecinta bahasa Bali itu saling bersahut-sahutan.

Seakan tak ingin kalah dengan mereka berdua, di luar, di depan Rumah Belajar Komunitas Mahima, di antara becek tanah, rembesan sisa air hujan, dan di persawahan yang baru ditanami, katak dan Jangkrik pun mengeluarkan nyanyian-nyanyian malamnya. [T]

Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru
Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan
Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen
Tags: BukuKlub Buku SingarajaKomunitas Mahimapuisi bali anyarpuisi berbahasa balisastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 “Jalinan Kasih” di Bulan Kasih Sayang Bersama Monarch Bali Dalung

Next Post

Majelis Buku Tipis dari Komunitas Akarpohon: Bicara 8 Buku Tipis dari 8 Penulis

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Majelis Buku Tipis dari Komunitas Akarpohon: Bicara 8 Buku Tipis dari 8 Penulis

Majelis Buku Tipis dari Komunitas Akarpohon: Bicara 8 Buku Tipis dari 8 Penulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co