24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengasah Belati Bermata Dua – Catatan bagi Sahabat Penulis Muda Sastra Bali Modern

I Gede Gita Purnama A.P by I Gede Gita Purnama A.P
February 2, 2018
in Opini

LOKOMOTIF sastra Bali modern kini tengah melaju kencang, energi lajunya tengah memuncak. Nilai takar pada pandangan ini adalah jumlah karya yang muncul ke ruang baca publik semakin banyak. Masinis lokomotif sastra Bali modern kini adalah generasi penulis muda yang kesadaran bersastranya cukup baik, khususnya pada sastra berbahasa daerah (Bali). Tentu saja segala yang dikerjakan (digeluti) oleh generasi muda memiliki energi yang besar, identik dengan kemudaan, menggebu, kencang, bahkan cenderung membabi buta.

Penulis muda sastra Bali modern adalah mereka yang jatuh cinta pada dunia berkarya sastra berbahasa Bali dengan genre puisi, cerpen, prosa liris, juga novel. Untuk jenis drama, nampaknya belum tersentuh oleh kaum penulis muda sastra Bali modern. Generasi penulis muda ini adalah generasi milenia, generasi Bali yang lahir, tumbuh, dan berkembang di era serba instan serba digital, serba mudah. Mereka seperti melawan arus lingkungan sosial sebaya mereka, ketika sebaya mereka gandrung pada segala kehidupan beraroma kekinian, mereka justru asik menyelami kedaerahan mereka melalui jalan sastra.

Maka, mereka tergolong spesies unik diantara kalangan sosial mereka, perlu dilestarikan, perlu dikembangbiakkan semangat dan ketidakbiasaannya ini. Karya-karya penulis muda sastra Bali modern kini tengah merajai berbagai ruang media masa yang menyediakan halaman berbahasa Bali. Bahkan mereka membangun kalangan sendiri, agar tak melulu antri karya di media masa, sebab karya mereka melimpah, karya mereka nyaris tak terbentung jumlahnya.

Dua media berbahasa Bali dengan basis online, Isin Gumi (Made Sugianto) dan Suara Saking Bali (Putu Supartika) adalah arena yang mereka bangun sendiri untuk memenuhi kebutuhan publikasi karya mereka. Ada pula yang menebar karya pada laman blog pribadi, ruang komunitas online atau media sosial pribadi mereka. Sebagai generasi milenia, sangat wajar mereka fasih menjelajahi dunia digital, mengeksplorasi dan membangun ruang di dunia mereka sendiri. Keadaan ini menjadikan sastra Bali modern mudah jangkau, beredar sama luasnya dengan karya-karya se-genre ­yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing. Sampai titik ini, sastra Bali modern jadi punya nilai tawar dan nilai tarik.

Pasca menjadi semarak dalam skala jumlah, lantas apakah serentak pula semarak dari segi kualitas? Perihal ini, barangkali mesti ditinjau lebih cermat lagi. Penulis muda sastra Bali modern yang memiliki semangat tinggi dalam berkarya, semestinya membangun kembali semangat mereka untuk membaca, mengeksplorasi, dan bermain lebih berani. Memperluas ruang jangkau bacaan adalah syarat mutlak bagi penulis yang hendak kualitas karyanya meningkat.

Selepas memperluas jangkauan baca, penulis yang ingin kualitas karyanya meningkat wajib mengeksplorasi bahan bacaan dan lingkungan sosialnya. Melakukan eksplorasi pada dunia literer dan dunia sosial adalah modal kuat bagi penulis yang berniat kualitas karyanya menjadi lebih baik. Kemudian, sebagai penulis dengan semangat muda, penulis sastra Bali modern seharusnya lebih berani bermain, lebih berani bereksperimen. Jadi tidak sekadar mengikuti pola-pola yang sudah ada, tetapi berani bermain pola baru, berani mengkreasikan teknik baru, berani melepaskan ide-ide baru yang liar namun tetap bertanggung jawab.

Belati Bermata Dua

Penulis muda sastra Bali modern mesti berbekal “belati bermata dua” ketika telah memutuskan diri berkarya dalam dunia sastra Bali modern. Belati bermata dua digunakan penulis untuk bekal menghasilkan karya ber-genre modern dengan identitas lokal Bali. Pada bagian ini, tidak dalam hal mempertentangkan kelahiran modern dan eksistensi tradisi, namun mengawinkan keduanya dalam sebuah karya yang berkualitas.

Sebagai penulis dengan genre modern (cerpen, puisi, novel, prosa liris, drama), penulis sastra Bali modern tentu saja wajib mengeksplorasi kekuatan-kekuatan yang dimungkinkan oleh kendaraan mereka. Sebab sastra ber-genre modern adalah adaptasi sastra Barat, dan perkembangannya di dunia asalnya begitu pesat, ada baiknya penulis muda sastra Bali modern melebarkan khasanah bacaannya pada karya-karya Barat yang memiliki kualitas baik. Jika kesulitan memahami bahasa asing, dapat dibaca karya terjemahannya, tentu rasanya akan berbeda namun tidak akan mengurangi kualitas kekuatan instrinsik karya tersebut. Sebut saja salah satu karya Leo Tolstoy, penulis humanisme Rusia ini melejit pesat dengan kemampuannya membangun narasi pada kisah roman dan cerpen. Ia membangun romantisme percintaan yang sama sekali tak cengeng dalam novelnya Anna Karenina.

Sementara penulis muda sastra Bali modern (meski tak semua) yang mencoba membangun kisah percintaan, selalu nampak cengeng, dengan alur yang mudah terbaca, dan eksekusi akhir yang lemah. Konflik yang terbangun pun sering kali tidak memiliki kekuatan menggugah pembaca, sehingga tampak datar tanpa riak. Permainan membangun konflik dan penempatannya dalam karya adalah hal yang tidak bisa dipandang remeh. Konflik mampu membangun tegangan pada kesuntukan pembaca, yang akhirnya menjadi kekuatan tersendiri untuk menempatkan pembaca pada sudut keterpakuan, sudut gregetan, bahkan titik grimutan pembaca pada tokoh yang membangun konflik.

Konflik tak melulu perkara perkelahian fisik antar tokoh, konflik yang melibatkan psikologis antar tokoh bahkan internal tokoh pun sejatinya adalah sumber konflik yang mumpuni. Bahkan konflik secara batiniah, jika sukses dibangun oleh pengarang, akan dengan mudah membawa pembaca berada dalam situasi konflik tersebut. Turut merasakan konflik batin tokoh, hingga hanyut pula pembaca di dalamnya.

Selain bacaan sastra Asing, penulis muda sastra Bali modern pun wajib baca karya-karya sastra Indonesia. Sastra indonesia memiliki banyak penulis yang dari segi kekuatan intrinsiknya membangun karya sangat baik. Sebut saja salah satunya adalah Gde Aryantha Soethama. Kelebihan penulis satu ini adalah kekuatan cerita yang sederhana dan permainan konflik batin.

Pemilihan ide-ide dengan tema kritik sosial khususnya pada kultur manusia Bali juga menjadi ciri khas dari Aryantha Soetama. Bahkan dalam beberapa buku esainya, kritik atas manusia Bali ditulis dengan bahasa yang sangat mudah di cerna namun cukup membuat batin bergejolak. Hari ini, penulis muda sastra Bali modern juga sedang gandrungnya mengangkat tema kritik sosial pada masyarakat Bali. Sebaiknya bergurulah pada Aryantha Soethama perkara melesapkan kritik atas “diri sendiri”.

Selepas melakukan perburuan ke luar khasanah sastra Bali, selanjutnya sahabat penulis muda sastra Bali modern wajib menyelami khasanah sastra tradisional Bali. Sejauh ini, penulis muda sastra Bali modern tidak banyak yang membaca sastra Bali tradisional. Padahal, dunia sastra Bali tradisional adalah pustaka yang menyiapkan banyak sekali pilihan-pilihan bahasa dan istilah kesastraan yang seharusnya diketahui penulis sastra Bali modern.

Keberjarakan antara penulis muda sastra Bali modern dengan sastra tradisional inilah yang menjadikan sebagian besar penulis sastra Bali modern lemah dalam perbendaharaan kata dan istilah-istilah kesastraan. Kerapian tata bahasa Bali para penulis muda ini perlu diasah lagi, perbendaharaan kosa kata bahasa Bali perlu ditingkatkan lagi. Menyelami sastra tradisi adalah mutlak, guna menyerap komponen kebahasaan paling mendasar dalam bersastra, kata.

Sastra tardisional menawarkan banyak metafora khas Bali, menyajikan limpahan idiom khas Bali, yang jika dieksplorasi dengan baik akan melahirkan diksi memukau dalam karya sastra Bali modern. Sebut saja salah satu karya tradisional, Geguritan Kasmaran, geguritan ini berisi limpahan metafor yang digunakan untuk menunjukkan keindahan pujaan hati (perempuan). Penggambaran pujaan hati begitu indah dibuatnya dengan pilihan bahasa yang sangat rapi, terbungkus, namun tersirat jelas. Barangkali geguritan ini dapat jadi refrensi bagi penulis muda sastra Bali modern yang gemar menulis kisah romansa. Romantis tanpa terlihat gombal.

Sastra Bali tradisional menyuguhkan banyak kata arkais yang kini sudah tak lagi fasih dipakai manusia Bali. Jika ini mampu dihadirkan dalam ruang baca yang ber-genre modern, maka sastra Bali modern telah melaksanakan tugas utama sastra, mengedukasi pembaca. Sastra Bali modern akan pula menjadi media penyelamatan bahasa-bahasa arkais, media dokumentasi bahasa yang perannya sama penting dengan kamus.

Selain limpahan kata-kata dan unsur ketatabahasaan, sastra tradisional juga menyiapkan ribuan gagasan atau ide yang siap untuk dieksplorasi lebih dalam. Menyelami lebih dalam sastra tradisional kemudian melakukan reinterpretasi, atau mereproduksi, bahkan mendekonstruksi kandungan-kandungan sastra tradisional adalah kekuatan tersembunyi yang belum banyak dilirik penulis muda sastra Bali modern. Jika kini bertebaran karya sastra aliran surealis, sufisme, absurd, dan kontemporer, sejatinya sastra Bali tradisi sudah jauh lebih dulu melakoninya. Hanya saja sudut pandang kita membaca harus digeser untuk dapat menemukan titik-titik ini, dan proses kreatif penulis diuji disini.

Perkara mereinterpretasi teks tradisional, penulis muda sastra Bali modern bisa berguru pada Oka Rusmini. Ia sukses besar melakukan reinterpretasi teks Kakawin Sumanasantaka hingga membuahkan Kumpulan Puisi Saiban. Hebatnya, Oka Rusmini penuh percaya diri dan total tampil dengan nilai tradisi, bahkan judul buku pun digunakan kata yang dekat dan hanya ada di Bali, Saiban. Kumpulan puisi yang meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 ini menghadirkan rasa tradisi yang dalam pada sastra modern. Ini membuktikan bahwa sastra tradisional menyiapkan mutiara indah pada kedalamannya.

Belati bermata dua sebagai bekal utama penulis muda sastra Bali modern harus tetap terasah. Satu sisi mata diasah dan dipergunakan membedah karya-karya modern, pada sisi lain mata belati diasah serta dimanfaatkan menguliti sastra tradisional Bali. Ketika keduanya telah terasah baik, maka bukan tidak  mungkin sastra Bali modern ke depannya menghasilkan karya-karya fenomenal. Waktu untuk belajar masih terlalu panjang untuk disia-siakan, mumpung masih muda, selagi kencang-kencangnya nafas untuk berlari, manfaatkan dengan bijak. Menulis dengan langgam modern, namun bercita rasa tradisi, itu baru asik… (T)

Tags: balisastrasastra bali modern
Share93TweetSendShareSend
Previous Post

Sumbangan Bung Karno dalam Kesenian Bali – Salah satunya Nama Tari Terunajaya

Next Post

Melulu Diskusi Soal Fashion, Pacar dan Uang – Mahasiswa Jangan Melacurkan Idealisme

I Gede Gita Purnama A.P

I Gede Gita Purnama A.P

Terkenal dengan panggilan Bayu. Hobi membaca dan minum kopi. Sehari-hari mondar-mandir di Fakultas Ilmu Budaya Unud.

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Melulu Diskusi Soal Fashion, Pacar dan Uang - Mahasiswa Jangan Melacurkan Idealisme

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co