28 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Desa Tembok

Jaswanto by Jaswanto
February 4, 2024
in Tualang
Menengok Desa Tembok

Pekak Tilem di atas pohon lontar | Foto: Kardian

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar yang tinggi sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun kakinya tak gemetar, meski gerakannya mungkin lebih lamban dari tiga puluh tahun yang lalu. Ia mengingatkan saya pada atlet panjat tebing veteran dengan prestasi gemilang di masa mudanya. Di pinggangnya terikat sebuah golok kecil dengan sarung kayu.

Tubuhnya jauh dari kata ringkih. Kulit dan ototnya tidak menggelambir. Sedang sorot matanya masih menunjukkan kilat yang mengagumkan. Kakek itu tidak kempot. Giginya tidak banyak tanggal. Sedang badanya tidak melengkung sama sekali. Tetap tegap layaknya gerilyawan di masa revolusi—melihat kumis dan topi yang dipakainya, kakek tua ini memang mirip pejuang sosialis yang revolusioner daripada pemanjat pohon lontar.

Pekak Tilem di atas pohon lontar | Foto: Kardian

Dalam hal fisik dan kerja keras, di umurnya saat itu, barangkali ia setara dengan Mao Ze Dong. Bedanya, seumuran ini, seperti kata Mahbub Djunaidi, Mao masih sanggup menggerakkan Revolusi Kebudayaan yang melindas gejala bojuis, menghardik cendekiawan snop yang menggurui, mengeremus kaum ragu-ragu yang kelihatan menempuh jalan kapitalis, dan di sela-sela itu ia masih bisa berenang-renang di Sungai Kuning lalu mengganyang habis sebaskom mi bakso tanpa berkedip.

Sedangkan kakek tua itu, meski tak pernah—dan barangkali juga tak sanggup—menggerakkan revolusi, tapi fisiknya masih sanggup memanjat pohon lontar dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Tak cukup satu-dua pohon, kakek tua itu memanjat puluhan pohon. “Setiap hari memanjat, dua kali dalam sehari, pagi dan sore,” katanya.

Untuk orang seperti saya yang tak sepenuhnya mengenal dunia perdesaan di Bali, bertemu dengan sosok seperti Made Tilem—ia biasa dipanggil Pekak—membuat hati saya gentar. Lelaki yang berumur hampir 80 tahun itu, bersama sang istri, sudah menekuni profesi ini selama tiga puluh tahun.

Pekak Tilem adalah penyadap nira pilih tanding. Ia tinggal di rumah sederhana di tengah kebun di Banjar Dinas Ngis, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa yang terletak di ujung timur Buleleng itu, memang terkenal akan hasil niranya. Di pinggir-pinggir kebun, di lereng-lereng bukit, pohon lontar tumbuh dengan subur.

Pekak Tilem memikul dua ember berisi nira | Foto: Kardian

Beberapa orang Tembok menggantungkan hidup kepada pohon yang daunya, dulu, digunakan sebagai tempat mencatat itu. “Pohon ini yang menghidupi keluarga kami,” ujar Ni Wayan Nyamin, istri Pekak Tilem, sembari memasukkan kayu ke dalam tungkunya. Api membesar. Nira di dalam wajan besar itu bergelembung, mendidih, dan meletup.

Pekak Tilem menyaring dan menuangkan seember tuak segar ke dalam ember yang lebih besar. Di saringan terdapat bunga, lebah yang tak bernyawa, dan kotoran lain yang tak jelas bentuknya. Ia meminta istrinya untuk mengambil gelas kaca. Lalu memaksa saya untuk mencicipi tuak manis hasil jerih-payahnya. Saya tak dapat menolakknya.

Umumnya, sebagaimana Pekak Tilem dan istrinya, orang Tembok mengolah nira lontar menjadi empat jenis produk: tuak manis, tuak wayah, tuak badeg, dan gula Bali. Tuak manis merupakan tuak murni (nira atau legen, begitu orang Tuban, Jawa Timur, menyebutnya).

Tuak murni ini difermentasi dengan lau—semacam starter untuk mempercepat proses fermentasi bahan pangan—berupa kulit kesambi yang dicampur dengan cuka. Selain itu, bisa juga digunakan lau kulit kayu santen, kulit mete, kulit nangka, kulit juwet atau jamblang, dan sebagainya.

Proses penyaringan nira | Foto: Kardian

Sedangkan tuak wayah merupakan tuak yang difermentasi dengan lau yang terbuat dari sabut kelapa atau sabut buah lontar. Dan tuak badeg adalah tuak yang nantinya dijadikan sebagai bahan utama dalam pembuatan arak Bali—yang terkenal itu. Tuak, arak, dan warga Tembok nyaris tak bisa dipisahkan. Arak atau tuak, seperti kopi di kafe dalam masyarakat Prancis, menjadi minuman lalu-lintas informasi, simbol kesetiakawanan sosial dipelihara dan wacana dikembangkan.

Saya berkunjung ke Tembok sekira lima tahun yang lalu, sebelum Pandemi Covid-19 menjadi trending topic warga dunia. Saya menyatroni Tembok, desa perbatasan Buleleng-Karangasem itu, persis seperti yang dikatakan sebuah sajak: “Pejalan yang melemparkan kompas dan mencabik-cabik peta!” Saya datang dengan meraba-raba, tanpa literatur yang memadai sebagai bekal mengenal daerah ini.

Beruntung, saat itu, Tembok dipimpin seorang kepala desa yang memiliki kemampuan bercerita di atas rata-rata. Ia bernama Dewa Komang Yudi, akrab dipanggil “Pak Mekel”, salah satu kepala desa terbaik di wilayah Provinsi Bali. Kepala desa muda yang memiliki visi pembangunan desa berbasis sosial-masyarakat dengan memanfaatkan potensi-potensi yang ada di desanya. Saya sedikit tahu tentang Tembok berkat Pak Mekel.

Jaswanto mencicipi tuak manis | Foto: Kardian

Desa Tembok merupakan desa dataran rendah yang panas. Di musim kemarau, bukit-bukit kering dan gersang, hanya menyisakan batu, debu, dan bangkai ilalang. Orang-orangnya, selain mengantungkan hidup kepada lahan pertanian tadah hujan, pohon lontar, mete, dan mangga, beberapa juga melaut dan menjadi petani garam. Tembok punya bukit di selatan, dan laut di utara. Di pinggir pantainya yang tenang, berdiri beberapa vila dengan restoran ala Bali Selatan.

Pak Mekel telah melakukan banyak hal untuk Tembok. Dari tahun pertama sampai tahun ketiga pemerintahannya, ia fokus untuk membenahi infrastruktur desa yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat Tembok. Penyediaan air bersih, menjadi fokus utama programnya.

Pada tahun 2015, katanya, beberapa banjar di Desa Tembok masih kesulitan mengakses air bersih. Tahun 2016, setelah sah menjadi kepala desa, ia fokus mempermudah aksesnya. Dan sekarang, hampir 96 % masyarakat Tembok telah menikmati kerja kerasnya. Sekarang, di Tembok, “Air bersih su dekat, kaka”.

Pak Mekel membangun akses jalan raya, pelayanan sosial dasar (pendidikan dan kesehatan), juga perlindungan sosial. Pada tahun keempat, ia fokus kepada pemberdayaan SDM dan pengelolaan-pemanfaatan potensi alam desa, juga membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup tetap lestari, sampai sekarang.

Namun, pencapaian-pencapaian itu bukan tanpa hambatan. Menurut pengakuannya, SDM dan jaringan (relasi) menjadi hambatan atau kendala yang sering dihadapi. Masyarakat sebagai faktor utama dalam mendukung pembangunan memang harus memiliki kompetensi atau keahlian-keahlian—atau paling tidak memiliki hal mendasar berupa kesadaran.

Ketidaksadaran masyarakat akan potensi desa inilah yang menjadi kendala dalam proses pembangunan Desa Tembok. Tetapi, Pak Mekel tetap optimis bisa menjadikan Tembok jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Sampai saat ia mampu mengubah lilin itu menjadi obor yang menerangi Tembok dan masyarakatnya—yang sinarnya sampai pada sudut-sudut sempit sekalipun.

Sate ikan | Foto: Jaswanto

“Untuk mencapai visi membangun budaya baru yang lebih baik di Tembok, saya menggunakan pendekatan 4M,” ujarnya kepada saya.

Apa itu? “Menggagas, menjalankan, mengevaluasi, dan melanjutkan. Merencanakan berdasarkan masalah, pendekatan ke masyarakat, kolektif, dan membuat aturan atau regulasinya. Sejauh ini pendekatan-pendekatan ini cukup efektif diterapkan,” jawabnya.

Saya mengangguk. Benar, buktinya hampir semua gagasannya bisa dijalankan dengan sangat baik. Kepala desa yang sangat mengispirasi. Saat pandemi menghajar banyak hal, ia seperti sangat siap menghadapinya.

Rasanya tak sanggup menguraikan gagasan-gagasannya dalam tulisan ini. Yang jelas, desa memang membutuhkan sosok pemimpin seperti ini. Selain kreatif, inovatif, berwawasan, terbuka, transparan, juga demokratis. Bukan kepala desa yang hanya bisa membangun infrastruktur non-produktif saja.

Sampai di sini, saya sadar bahwa orang memang perlu menerima gelora-geloranya yang kuat, dan tidak kehilangan semangatnya untuk menaklukkan. Ini bagian dari hidup, dan membawa suka cita pada mereka yang ikut berpartisipasi di dalamnya.

Sate ikan dan ayam dipanggang | Foto: Jaswanto

Henry James, dalam buku Sungai yang Mengalir tulisan Paulo Coelho, mengibaratkan pengalaman sebagai semacam jaring laba-laba raksasa yang tergantung-gantung di alam sadar kita. Jaring-jaring ini tak hanya mampu memerangkap apa yang perlu, melainkan juga setiap partikel.

Sering kali yang kita sebut “pengalaman” sesungguhnya hanyalah kekalahan-kekalahan yang pernah kita alami. Dengan demikian, kita memandang ke depan dengan perasaan takut. Orang yang telah membuat banyak kesalahan dalam hidupnya, tak punya banyak keberanian untuk mengambil langkah berikutnya.

Barangkali kita semua memang cenderung percaya pada Hukum Murphy: bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, hasilnya pasti salah. Tapi mungkin juga tidak demikian. Pasalnya, masih banyak orang yang begitu percaya dengan apa yang dilakukan.

Pada saat-saat demikian, saya teringat ucapan Lord Salisbury, “Kalau Anda percaya dokter, maka tidak ada yang sehat; kalau Anda percaya para ahli teologi; maka tidak ada yang tidak bersalah; kalau Anda percaya para tentara, maka tidak ada yang aman.”

Sate blayag | Foto: Jaswanto

Dari rangkaian paragraf di atas, ada sosok yang “berpengalaman” tapi tak takut “mengambil langkah berikutnya”—karena saya pikir pengalamannya tak lahir dari kekalahan-kekalahan. Dan sosok ini barangkali juga tak percaya dengan Hukum Murphy. Ia, Dewa Komang Yudi, Kepala Desa Tembok yang lalu.

Di Tembok, saya mencicipi sate blayag. Sate ini lain dari yang lain. Jika umumnya sate menggunakan kecap, bumbu kacang, atau bawang merah yang dirajang, sate ini menggunakan kuah kental berwarna kuning sebagai bumbunya.

Daging ayam atau ikan dipotong kecil-kecil dan ditusuk seperti sate pada umumnya. Lalu dibalut dengan bumbu rempah khusus dan dipanggang. Kemudian diguyur kuah kental berwarna kuning dan disajikan dengan blayag, semacam lontong yang dibungkus daun kelapa muda.

Adalah Safiah, seorang perempuan paruh baya yang masih setia melestarikan, membuat, dan menjual sate blayag secara turun temurun. Dulu, sate ini dijual keliling Desa Tembok setiap siang dan sore. Tapi sekarang ia menjual di rumahnya, di samping masjid di Banjar Yeh Bau. Satu porsi dijual sepuluh hingga lima belas ribu rupiah. Bisa jadi ini adalah salah satu potensi Desa Tembok yang disebut Pak Mekel Yudi.[T]

Melihat Wajah Desa Baktiseraga di Tangan Ajik Armada
Malam Perayaan dan Pergelaran Budaya di Desa Tembok: Kolaborasi Dua Agama
Mengadu Layang-layang di Langit Cerah Desa Tembok
Ada Tarian dan Tabuh dalam Pembukaan Turnamen Futsal Tembok Junior Cup 2023
Tags: arak balibali utarabulelengDesa Tembokgula baliSingarajaTejakulatuak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Negeri “Kedas Silapin Meong” Sampai Bangsa Yang Tak Pernah Cebokan | Catatan Liburan Akhir Tahun

Next Post

“Arunika” Karya Alit S Rini, Buku Puisi Terbaik Pilihan Tempo 2023

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails
Next Post
“Arunika” Karya Alit S Rini, Buku Puisi Terbaik Pilihan Tempo 2023

“Arunika” Karya Alit S Rini, Buku Puisi Terbaik Pilihan Tempo 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co