23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran

Krisna Aji by Krisna Aji
December 10, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

DALAM interaksi sosial, akan terdapat tingkat kecocokan yang berbeda dalam berkomunikasi. Lalu, apa yang penyebab dari perbedaan tersebut? Jawabannya akan sangat banyak. Salah satunya adalah hal yang akan dipaparkan pada tulisan ini, yang menggunakan pandangan dari turunan teori psikoanalisis: peran alam bawah sadar yang dibawa oleh masing-masing pihak saat berkomunikasi.

Selain alam sadar yang berisi pikiran logis–dapat ditelaah dengan jelas, terdapat alam bawah sadar yang memengaruhi seseorang dalam bertindak. Dengan menggunakan konsep psikoanalisis Freud sebagai pondasi dasar, maka alam bawah sadar tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian: Id, superego, dan ego. Alam bawah sadar tersebut terbentuk dan berkembang terus, sejalan dengan perkembangan usia dan pengalaman manusia.

Menurut Freud, Id muncul terlebih dahulu saat kehidupan dimulai. Id adalah dorongan dari dalam diri manusia yang penuh hasrat untuk dipuaskan. Dengan karakteristik ini, Id yang tidak dikontrol akan terus berkembang dengan liar dan dapat menimbulkan konflik dengan kepentingan–kepentingan lain di luar manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, muncul kontrol bernama superego yang berbentuk aturan–aturan yang membatasi ruang gerak dari Id itu sendiri. Walaupun superego berakar dari kesepakatan dan norma – norma lingkungan yang luas, manusia pertama kali diperkenalkan superego–norma–yang dianut oleh lingkungan terkecilnya, yaitu orang tua.

Id dan superego tampak seperti dua kutub energi yang saling bertolak belakang. Benturan dari kedua energi ini, pada kelanjutannya akan membentuk titik kompromi yang sering dikenal dengan nama: ego.

Dengan pemahaman Id, superego, dan ego, pembahasan selanjutnya adalah teori analisis transaksional yang diperkenalkan oleh Eric Berne. Teori ini secara garis besar memaparkan tiga peran yang dimainkan alam bawah sadar yang dipakai saat berkomunikasi.

Tiga peran utama alam bawah sadar ini mencangkup: peran kanak – kanak, dewasa, dan orang tua. Peran kanak-kanak dan orang tua dapat dipecah menjadi variabel yang lebih kecil dan spesifik. Peran anak dipecah menjadi peran anak yang bebas dan penurut, sedangkan peran orang tua dipecah menjadi peran orang tua yang otoriter dan permisif.

Terdapat persamaan karakter antara ketiga peran alam bawah sadar yang ditawarkan oleh Berne dengan Freud. Peran kanak-kanak memiliki persamaan dengan Id; peran orang tua memiliki kesamaan dengan superego; dan peran dewasa yang serupa dengan ego.

Peran anak adalah representasi dari Id yang berkehendak untuk selalu dipuaskan. Peran ini terbagi menjadi dua, yaitu peran anak yang bebas dan peran anak yang penurut. Peran anak yang bebas adalah representasi Id yang liar dan tidak terkontrol superego. Masih di kutub yang sama, peran anak yang patuh adalah kondisi Id yang bersedia dijinakkan oleh superego.

Peran orang tua–pada kutub yang berlawanan dengan peran anak–adalah representasi dari superego yang awalnya diberikan oleh lingkungan seseorang dan akhirnya yang diakuisisi oleh orang tersebut. Peran ini pun terbagi menjadi dua: peran orang tua yang otoriter dan permisif.

Peran orang tua yang otoriter adalah kecenderungan superego untuk mengontrol segala gerak Id dengan kaku. Masih di kutub yang serupa, peran orang tua yang permisif adalah kecenderungan superego yang mengalah dan membebaskan Id.

Peran alam bawah sadar yang terakhir adalah peran yang berada di antara kanak–kanak dan orang tua. Peran ini mengambil posisi dewasa yang dapat merepresentasikan ego–jika memandang menggunakan kaca mata Freud.

Peran dewasa menempatkan logika dengan dominan dalam mengambil keputusan. Cara ini memungkinkan pengambilan keputusan yang jauh dari perasaan subjektif terhadap sesuatu. Oleh karena itu, hasil dari aksi yang disebabkan oleh peran dewasa tentu akan logis dan efektif.

Setiap manusia memiliki tiga peran tersebut. Tetapi, dalam setiap komunikasi, akan ada satu peran yang mendominasi tanpa melihat usia. Dominasi peran dapat berubah dari waktu ke waktu, bergantung pada kondisi yang sedang terjadi.

Misalkan saja, terdapat peran anak bebas yang mendominasi pada orang tua yang sedang bermain judi; peran orang tua yang otoriter pada anak kecil yang memerintah adiknya untuk tidak jajan sembarangan; atau peran dewasa pada pebisnis yang membicarakan data penjualan dengan logika yang jernih.

Selain menggunakan satu peran yang dominan, alam bawah sadar seseorang juga mengharapkan umpan balik berupa peran alam bawah sadar tertentu dari lawan komunikasinya. Alam bawah sadar dari lawan komunikasi tersebut ditangkap dari sinyal– sinyal, baik verbal atau nonverbal, yang berupa gestur, cara bicara, atau nada. Bahkan, semua sinyal tersebut dapat dimanipulasi agar seolah – olah muncul peran alam bawah yang berbeda dari yang sejatinya ada.

Contoh kasus dari pengharapan umpan balik berupa peran alam bawah sadar tertentu adalah pada seseorang laki–laki berusia 30 tahun yang dengan semangat mengajak istrinya untuk bertamasya ke luar kota. Pada kondisi itu, laki–laki tersebut menggunakan peran anak bebas yang juga mengharapkan umpan balik berupa peran anak bebas yang digunakan oleh istri.

Komunikasi tersebut dapat berjalan baik jika sang istri juga menggunakan peran anak bebas yang setuju untuk bertamasya dengan semangat menggelora. Kesepakatan untuk bertamasya yang bebas konflik pun dapat terjadi.

Lalu, apa yang terjadi jika istri tidak mengeluarkan peran anak yang bebas? Misalkan saja, sang istri menggunakan peran dewasa yang berargumen mengenai untung rugi dari bertamasya; peran orang tua yang otoriter dengan langsung menolak karena bertamasya hanya akan menghamburkan uang; atau peran orang tua yang permisif yang setuju untuk bertamasya, tetapi tidak terlalu bersemangat jika dibandingkan dengan peran anak bebas.

Konflik besar akan terjadi jika peran dewasa dan orang tua yang otoriter muncul dari pihak istri. Walaupun konflik besar tidak terjadi saat istri mengeluarkan peran orang tua yang permisif, kondisi ini akan membuat tamasya menjadi lebih hambar jika dibandingkan dengan istri yang menggunakan peran anak yang bebas.

Dari penjabaran di atas, terlihat bahwa permainan peran adalah hal yang krusial dalam interaksi sosial. Interaksi sosial yang menjadi baik atau buruk, dapat ditentukan oleh kecocokan antara peran yang diambil dan munculnya peran yang diharapkan dari lawan komunikasinya. Bahkan, konsep peran ini dapat digunakan lebih jauh untuk memanipulasi orang lain. Manipulasi tersebut digunakan dengan cara memanfaatkan kelemahan dari masing – masing peran.

Misalkan saja, seorang penjaga toko yang mengompori pembeli untuk membeli produknya dengan memanfaatkan sisi lemah dari peran anak bebas. Penjaga toko tersebut seolah menantang pembeli dengan mengatakan bahwa pembeli tidak akan mampu membeli produk di toko tersebut.

Pada kondisi tersebut, penjaga toko menggunakan topeng berupa peran anak bebas yang menantang pembeli yang sedang berperan sebagai anak bebas. Karena sisi lemah dari peran anak bebas adalah tidak suka diremehkan, maka pembeli akan terpancing untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalahkan tantangan dari penjual.

Atau, penjual mobil yang menyadari kesempatan pada pasangan suami–istri yang sedang menentukan pembelian sebuah mobil. Pada kondisi tersebut, penjual mobil melihat permainan peran di antara pasangan suami–istri tersebut adalah istri yang berperan sebagai orang tua otoriter dan suami yang berperan sebagai anak yang penurut.

Peran yang dimainkan oleh suami–istri tersebut membuat penjual mobil cukup melakukan persuasi terhadap istri–yang berperan sebagai orang tua otoriter–sehingga suami–yang berperan sebagai anak penurut–akan mengikuti apapun kata istrinya.

Pada akhirnya, interaksi sosial tidak hanya berupa sesuatu yang kasat mata. Variabel abstrak seperti alam bawah sadar yang bermain peran juga sangat berpengaruh dan perlu untuk diperhitungkan. Seseorang dapat memanfaatkan variabel ini untuk memanipulasi keadaan setelah paham cara kerjanya—atau dimanipulasi oleh orang lain yang lebih mengerti cara kerja bermain peran.[T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Tags: filsafatPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pantun Lagi Naik Daun

Next Post

Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co