24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran

Krisna Aji by Krisna Aji
December 10, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

DALAM interaksi sosial, akan terdapat tingkat kecocokan yang berbeda dalam berkomunikasi. Lalu, apa yang penyebab dari perbedaan tersebut? Jawabannya akan sangat banyak. Salah satunya adalah hal yang akan dipaparkan pada tulisan ini, yang menggunakan pandangan dari turunan teori psikoanalisis: peran alam bawah sadar yang dibawa oleh masing-masing pihak saat berkomunikasi.

Selain alam sadar yang berisi pikiran logis–dapat ditelaah dengan jelas, terdapat alam bawah sadar yang memengaruhi seseorang dalam bertindak. Dengan menggunakan konsep psikoanalisis Freud sebagai pondasi dasar, maka alam bawah sadar tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian: Id, superego, dan ego. Alam bawah sadar tersebut terbentuk dan berkembang terus, sejalan dengan perkembangan usia dan pengalaman manusia.

Menurut Freud, Id muncul terlebih dahulu saat kehidupan dimulai. Id adalah dorongan dari dalam diri manusia yang penuh hasrat untuk dipuaskan. Dengan karakteristik ini, Id yang tidak dikontrol akan terus berkembang dengan liar dan dapat menimbulkan konflik dengan kepentingan–kepentingan lain di luar manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, muncul kontrol bernama superego yang berbentuk aturan–aturan yang membatasi ruang gerak dari Id itu sendiri. Walaupun superego berakar dari kesepakatan dan norma – norma lingkungan yang luas, manusia pertama kali diperkenalkan superego–norma–yang dianut oleh lingkungan terkecilnya, yaitu orang tua.

Id dan superego tampak seperti dua kutub energi yang saling bertolak belakang. Benturan dari kedua energi ini, pada kelanjutannya akan membentuk titik kompromi yang sering dikenal dengan nama: ego.

Dengan pemahaman Id, superego, dan ego, pembahasan selanjutnya adalah teori analisis transaksional yang diperkenalkan oleh Eric Berne. Teori ini secara garis besar memaparkan tiga peran yang dimainkan alam bawah sadar yang dipakai saat berkomunikasi.

Tiga peran utama alam bawah sadar ini mencangkup: peran kanak – kanak, dewasa, dan orang tua. Peran kanak-kanak dan orang tua dapat dipecah menjadi variabel yang lebih kecil dan spesifik. Peran anak dipecah menjadi peran anak yang bebas dan penurut, sedangkan peran orang tua dipecah menjadi peran orang tua yang otoriter dan permisif.

Terdapat persamaan karakter antara ketiga peran alam bawah sadar yang ditawarkan oleh Berne dengan Freud. Peran kanak-kanak memiliki persamaan dengan Id; peran orang tua memiliki kesamaan dengan superego; dan peran dewasa yang serupa dengan ego.

Peran anak adalah representasi dari Id yang berkehendak untuk selalu dipuaskan. Peran ini terbagi menjadi dua, yaitu peran anak yang bebas dan peran anak yang penurut. Peran anak yang bebas adalah representasi Id yang liar dan tidak terkontrol superego. Masih di kutub yang sama, peran anak yang patuh adalah kondisi Id yang bersedia dijinakkan oleh superego.

Peran orang tua–pada kutub yang berlawanan dengan peran anak–adalah representasi dari superego yang awalnya diberikan oleh lingkungan seseorang dan akhirnya yang diakuisisi oleh orang tersebut. Peran ini pun terbagi menjadi dua: peran orang tua yang otoriter dan permisif.

Peran orang tua yang otoriter adalah kecenderungan superego untuk mengontrol segala gerak Id dengan kaku. Masih di kutub yang serupa, peran orang tua yang permisif adalah kecenderungan superego yang mengalah dan membebaskan Id.

Peran alam bawah sadar yang terakhir adalah peran yang berada di antara kanak–kanak dan orang tua. Peran ini mengambil posisi dewasa yang dapat merepresentasikan ego–jika memandang menggunakan kaca mata Freud.

Peran dewasa menempatkan logika dengan dominan dalam mengambil keputusan. Cara ini memungkinkan pengambilan keputusan yang jauh dari perasaan subjektif terhadap sesuatu. Oleh karena itu, hasil dari aksi yang disebabkan oleh peran dewasa tentu akan logis dan efektif.

Setiap manusia memiliki tiga peran tersebut. Tetapi, dalam setiap komunikasi, akan ada satu peran yang mendominasi tanpa melihat usia. Dominasi peran dapat berubah dari waktu ke waktu, bergantung pada kondisi yang sedang terjadi.

Misalkan saja, terdapat peran anak bebas yang mendominasi pada orang tua yang sedang bermain judi; peran orang tua yang otoriter pada anak kecil yang memerintah adiknya untuk tidak jajan sembarangan; atau peran dewasa pada pebisnis yang membicarakan data penjualan dengan logika yang jernih.

Selain menggunakan satu peran yang dominan, alam bawah sadar seseorang juga mengharapkan umpan balik berupa peran alam bawah sadar tertentu dari lawan komunikasinya. Alam bawah sadar dari lawan komunikasi tersebut ditangkap dari sinyal– sinyal, baik verbal atau nonverbal, yang berupa gestur, cara bicara, atau nada. Bahkan, semua sinyal tersebut dapat dimanipulasi agar seolah – olah muncul peran alam bawah yang berbeda dari yang sejatinya ada.

Contoh kasus dari pengharapan umpan balik berupa peran alam bawah sadar tertentu adalah pada seseorang laki–laki berusia 30 tahun yang dengan semangat mengajak istrinya untuk bertamasya ke luar kota. Pada kondisi itu, laki–laki tersebut menggunakan peran anak bebas yang juga mengharapkan umpan balik berupa peran anak bebas yang digunakan oleh istri.

Komunikasi tersebut dapat berjalan baik jika sang istri juga menggunakan peran anak bebas yang setuju untuk bertamasya dengan semangat menggelora. Kesepakatan untuk bertamasya yang bebas konflik pun dapat terjadi.

Lalu, apa yang terjadi jika istri tidak mengeluarkan peran anak yang bebas? Misalkan saja, sang istri menggunakan peran dewasa yang berargumen mengenai untung rugi dari bertamasya; peran orang tua yang otoriter dengan langsung menolak karena bertamasya hanya akan menghamburkan uang; atau peran orang tua yang permisif yang setuju untuk bertamasya, tetapi tidak terlalu bersemangat jika dibandingkan dengan peran anak bebas.

Konflik besar akan terjadi jika peran dewasa dan orang tua yang otoriter muncul dari pihak istri. Walaupun konflik besar tidak terjadi saat istri mengeluarkan peran orang tua yang permisif, kondisi ini akan membuat tamasya menjadi lebih hambar jika dibandingkan dengan istri yang menggunakan peran anak yang bebas.

Dari penjabaran di atas, terlihat bahwa permainan peran adalah hal yang krusial dalam interaksi sosial. Interaksi sosial yang menjadi baik atau buruk, dapat ditentukan oleh kecocokan antara peran yang diambil dan munculnya peran yang diharapkan dari lawan komunikasinya. Bahkan, konsep peran ini dapat digunakan lebih jauh untuk memanipulasi orang lain. Manipulasi tersebut digunakan dengan cara memanfaatkan kelemahan dari masing – masing peran.

Misalkan saja, seorang penjaga toko yang mengompori pembeli untuk membeli produknya dengan memanfaatkan sisi lemah dari peran anak bebas. Penjaga toko tersebut seolah menantang pembeli dengan mengatakan bahwa pembeli tidak akan mampu membeli produk di toko tersebut.

Pada kondisi tersebut, penjaga toko menggunakan topeng berupa peran anak bebas yang menantang pembeli yang sedang berperan sebagai anak bebas. Karena sisi lemah dari peran anak bebas adalah tidak suka diremehkan, maka pembeli akan terpancing untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalahkan tantangan dari penjual.

Atau, penjual mobil yang menyadari kesempatan pada pasangan suami–istri yang sedang menentukan pembelian sebuah mobil. Pada kondisi tersebut, penjual mobil melihat permainan peran di antara pasangan suami–istri tersebut adalah istri yang berperan sebagai orang tua otoriter dan suami yang berperan sebagai anak yang penurut.

Peran yang dimainkan oleh suami–istri tersebut membuat penjual mobil cukup melakukan persuasi terhadap istri–yang berperan sebagai orang tua otoriter–sehingga suami–yang berperan sebagai anak penurut–akan mengikuti apapun kata istrinya.

Pada akhirnya, interaksi sosial tidak hanya berupa sesuatu yang kasat mata. Variabel abstrak seperti alam bawah sadar yang bermain peran juga sangat berpengaruh dan perlu untuk diperhitungkan. Seseorang dapat memanfaatkan variabel ini untuk memanipulasi keadaan setelah paham cara kerjanya—atau dimanipulasi oleh orang lain yang lebih mengerti cara kerja bermain peran.[T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Tags: filsafatPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pantun Lagi Naik Daun

Next Post

Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co