23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Sejarah dan Pariwisata: Perihal Kebebasan Sejarah

I Wayan Artika by I Wayan Artika
September 25, 2023
in Ulas Buku
Pertemuan Sejarah dan Pariwisata: Perihal Kebebasan Sejarah

Buku Prosa Gerilya

Pahlawan Tak Dikenal

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda.

Demikianlah sebuah puisi nostalgia perang-perang kemerdekaan. Setelah perang dibangun monumen perjuangan di titik-titik pertempuran, gerilya, atau jalan penyingkiran. Yang selamat menjadi vetaran. Yang gugur mendapat predikat pahlawan yang dikubur di taman kusuma bangsa atau yang lebih besar jasanya mendapat anugerah pahlawan nasional, seperti I Gusti Ngurah Rai. Tidak hanya sebatas itu, namanya diabadikan menjadi nama bandara internasional di Bali, nama-nama jalan di berbagai kota, posternya dicetak dan dipasang di berbagai kantor atau kelas sekolah. Mata uang juga merekam wajah, nama, dan atribut pahlawannya.

Puisi ”Pahlawan Tak Dikenal” adalah monumen sastra. Dalam pelajaran bahasa di sekolah rasanya kalimat ”pahlawan tak dikenal” ini sebagai mitos. Hanya ciptaan penyair karena terasa indah dan heorik dalam kesendirian dan tidak memiliki nama. Tapi seperti yang ditulis oleh Andre Syahreza (2023) dalam Prosa Gerilya, Mengurai Kisah Ngurah Rai, itu tidak mitos. Pahlawan tak dikenal memang ada!

 Di barisan paling belakang, dari arah pusara I Gusti Ngurah Rai, Taman Kusuma Bangsa Marga Rana, sebuah makam dengan ukuran lebih besar dari kebanyakan makam, setelahn makam Ngurah Rai, adalah makam dengan nisan bertuliskan ”Pahlawan Tak Dikenal”. Karena itu, puisi Toto Sudarto Bachtiar adalah realitas. Di sini sastra itu tidak lagi hubungan yang kabur antara realitas dan dunia sastra itu sendiri tetapi historis.

 Tapak tilas sastra dalam bentuk prosa dari jejak atau jalan gerilya I Gusti Ngurah Rai sampai ke titik-titik yang bersejarah dengan bangunan tugu peringatan atau monumen perjuangan. Semua nasib monumen perjuangan setali tiga uang. Muram. Dilupakan. Tidak dianggap penting. Bahkan, api patriotisme Taman Kusuma Bangsa Marga Rana hanya dimaknai sebatas tempat aman aktivitas berpacaran. Ironis memang. Untuk ini, pihak pengelola memberi peringatan ”dilarang berpacaran di kompleks makam pahlawan”. Literasi sejarah tidak terpatri pada diri masyarakat karena pelajaran sejarah gagal. Sehingga sejarah tidak penting.

Andre Syahrezaberkali-kali menegaskan tugu peringatan yang diabaikan. Tinggal jargon besar, ”bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya.” Atau tidak ada cukup makna pada kata-kata Presiden Soekarno yang dikutipnya dari sehabis mengunjungi museum perjuangan di luar negeri ”Don’t leave history” yang dikenal dalam terjemahan bahasa Indonesia ”Jangan sekai-kali melupakan sejarah” disingkat jasmerah.

 Taman makam pahlawan dan puluhan tugu perang atau titik-titik peringatan yang bersejarah, hingga pada tahun-tahun awal kemerdekaan masih bermakna untuk memori, lebih-lebih bagi para veteran. Kemudian, taman makam pahlawan atau tugu-tugu pertempuran itu semakin penting hanya bagi sisa-sisa para veteran yang sudah beranjak tua. Pemerintah tiba-tiba ingat taman makam pahlawan atau monumen-monumen perjuangan tentara/rakyat ketika memperingatai HUT Negara Indonesia atau memperingati hari pahlawan (10 November, Hari Pahlawan Surabaya) dan khusus untuk Bali tentu saja tanggal 20 November (Hari Puputan Margarana).

 Selebihnya, taman makam pahlawan hanyalah tempat yang aman untuk berpacaran (?). Demikian pula, museum yang dibangun di kompleks Taman Kusuma Bangsa Marga Rana  harus mengunci pintunya, debu-debu menempel pada topi baja atau senapan.

 Tulisan ini membahas buku Prosa Gerilya dengan menggunakan teori analisis isi atau content analysis yang menekankan pada aspek isi atau informasi yang disampaikan. Walaupun kajian ini sudah lama dikenal di dunia penelitian sosial dan humaniora, para peneliti tidak bisa berpaling. Hal ini menunjukkan suatu esensi dalam narasi atau teks, yakni informasi yang disampaikan.

 Di samping menggunakan analisis isi, juga akan dibahas dari aspek strukturnya. Struktur adalah cara pengarang menyampaikan ceritanya atau dalam hal ini cara yang digunakan Andre Syahreza ”mengurai kisah Ngurah Rai” (anak judul).

 Analisis isi fokus kepada kandungan informasi atau pengetahaun di dalam teks. Dalam ilmu komunikasi sering disebut pesan. Analisis isi tidak hanya memberi pengetahuan kepada pembaca. Analisis isi mampu memotret arkeologi pengetahuan penulisnya. Buku adalah kumpulan pengetahuan penulisnya yang dipindahlan dari otak ke atas kertas atau ke dalam media digital. Analisis isi juga memberi informasi cara kerja penulis. Karena menggunakan analisis isi, selanjutnya disampaikan keluasan pengetahuan yang disampaikan di dalam buku ini.

 Dimulai dari deskripsi atau narasi mengenai Kota Singaraja, dengan fokus analisis pada SMAN 1  atau lambang Kabupaten Buleleng. Pada bagian awal buku ini mulai disinggung puputan  sebagai salah satu teknik berperang. Pembicaraan ini bersumber pada perang tradisional yang kontroversial dan dikaitkan dengan Puputan  Margarana.

Andre mengakui bahwa dirinya tidak menyukai sejarah. Itu dulu Ketika ia menjadi pelajar.  Tapi Prosa Gerilya (Proxy Media, 2023) telah membantahnya. Ia pecinta sejarah dan dia mengurai sejarah. Buku ini menjadi satu versi sejarah Ngurah Rai. Tidak ada penjelasan bagimana cinta sejarah itu lahir kemudian? Dan, itu jatuh pada Ngurah Rai? Hal ini mungkin subjektif namun mengandung argumen atau justifikasi yang tidak dituliskan di dalam buku ini. Buat apa? Alasan jatuh cinta atas sejarah tidak penting. Yang terpenting adalah mengurai sejarah itu dengan cara sendiri, entah menjadi Prosa Gerilya atau yang lain.

Andre mengritik pelajaran sejarah dan ini memang demikian adanya. Para sejarawan tidak pernah sanggup membina masyarakat agar tidak menderita mati rasa sejarah. Mungkin pengajaran sejarah memang salah metode. Terlalu mengguri siswa! Siswa ditenggelamkan dalam fakta sejarah (tahun, nama, dan peristiwa) tanpa pengolahan yang kreatif. Di sini siswa adalah objek sejarah.

Kondisi ini berbalik dari keadaan tersebut. Andre mengurai sejarah gerilya Ngurah Rai menjadi satu buku. Tentu hal ini terlalu jauh dalam pengajaran sejarah. Namun demikian jadi model dalam pengajaran sejarah dengan mendekonstruksi hubungan materi sejarah dan siswa. Arah pelajaran sejarah harus dibalik dengan menempatkan siswa sebagai subjek. Merekalah mereproduksi dan merekonstruksi sejarah. Hasil yang dicapai dalam metode ini adalah produk nyata berupa buku atau entah genre teks lainnya, seperti film, testimoni, cerpen, catatan-catatan pribadi. Pengajaran sejarah adalam menulis ulang sejarah itu. Ini dilakukan oleh siswa sendiri.

Buku ini adalah contohnya. Sejarah gerilya Ngurah rai ditulis ulang. Dengan cara sendiri. Dengan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan teori penulisan sejarah atau hitoriografi. Dengan demikian benar bahwa sejarah adalah konstruksi peristiwa. Bedanya dengan Andre dan para sejarawan adalah dalam menggunakan bahan-bahan menulis sejarah. Andre Syahreza menggunakan pengalaman hari ini dan buku-buku yang telah dibacanya.

Dari segi konten atau isi, buku ini menyinggung sedikit Pantai Lovina. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya tempat wisata ini. Kembali ke soal ini yang relevan dengan kisah Ngurah Rai, adalah pennyebutan dan uraian mengenai Pantai Temukus dana Perang Ringdikit, long march. Di luar tsejarah perang dan dalam waktu sesudahnya, kota-kota memiliki tradisi menamai jalan dengan nama Pahlawan.

Komentar Media Indonesia yang dikutip di sampul depan menyatakan, ”kadang terasa seperti membaca buku sejarah; kadang juga seperti buku traveling”, benar adanya. Buku ini disusun dari dua kategori pengetahuan: sejarah dan pariwisata.

Ubud ditulis sebagai pusat wisata dunia dan penulis kembali ke masa lahir Ngurah Rai (1917). Pada bagian ini Andre mengawinkan sejarah dan pariwisata. Tahun lahir Ngurah Rai dipandang sebagai Bali era kolonial dan pariwisata belum terjadi di Bali. Ini adalah teknik mengurai kisah Ngurah rai yang ditempeli varibel lain: dalam hal ini pariwisata (karena Andre Syahreza adalah wartawan pariwisata). Masih pada tahun-tahun kelahiran Ngurah Rai, ditulis dalam buku ini sejarah pariwisata Bali dengan menebutkan Henri Huberr van Kol adalah wisatawan pertama mengunjungi Bali. Pada bagian ini, dijelaskan promosi Bali karena datangnya para penulis Eropa. Ini mengandung konsep wisata sastra ketika sastra atau buku memberi sumbangan kepada promosi suatu destinasi.

”Misi” pariwisata dalam buku ini, mungkin tampak sebagai variabel kedua, selalu disisipi oleh Ngurah Rai, Andre menggali ingatan orang-orang yang bekerja di sektor pariwisata, seperti di salah satu resort di Ubud, mengenai Ngurah Rai. Sudah bisa ditebak, tidak banyak ingatan yang tersisa soal Ngurah rai, selain sebagai nama bandara internasional.

Tidak hanya monumen perjuangan yang diabaikan kini tetapi juga Ngurah Rai dan kisahnya. Mengaitkan Ngurah Rai sebatas nama bandara internasional yang sibuk, tentu lebih produktif di era pariwisata modern di Bali. Banda adalah infrastruktur terpenting untuk mendatangkan wisatawan mancanegara.

Pariwisata Bali di mata Andre Syahreza adalah bali hari ini. Bali ketika Ngurah Rai kecil hingga 1945 atau 1946 adalah masa lalu. Pengetahuan-pengetahuan di dalam buku ini dikonstruksi pada kedua pembagian waktu tersebut. Buku ini memilah isinya menjadi dua berdasarkan zona waktu: waktu Ngurah rai dan waktu pariwisata. Walaupn terkadang Andre pergi terlalu jauh dan dalam kepada masa kecil Ngurah Rai, terlepas dari bayang-bayang untuk mengkomparasikan waktu itu dengan Bali saat ini.

Menguarai kisah Ngurah Rai memang merupakan satu versi sejarah, dengan campuran pengetahuan yang dengan sadar selalu diakitkan dengan biografi gerilya Ngurah Rai, pengetahuan yang dikutip dan dikonstruksi di dalam buku ini cenderung bersifat interpretatif. Pengetahuan dalam buku ini telah melewati subjektivitas konstruksi penulisnya sndiri. Andre memang tidak sedang menulis artikel jurnal atau menulis laporan jurnalistik.

Andre Syahreza menulis Prosa Gerilya secara subjektif. Membangun pijakan pengetahuan yakni biografi Ngurah Rai dan menempeli berbagai pengetahuan di luar itu dan dengan cara logis bagian-bagian pengetahuan itu dapat relevan dan mempertebal/memperkaya buku ini. Dengan konsep itu, buku ini adalah konstruksi atau kompilasi aneka pengetahuan yang kaya dan luas penulisnya.

Jadi, perkara menulis adalah tidak lagi teknik tetapi isi. Mungkin sedikit bantuan teori intertekstualitas dapat memahami cara kerja penulis. Buku ini adalah wadah percampuran pengetahuan yang telah ada yang disaring oleh penulis dengan suatu alat. Buku ini mengacu ke berbagai sumber, seperti pengalaman dan buku-buku lainnya.

Andre ternyata tetap patuh pada konvensi biografi. Ia masuk ke masa-masa sekolah Ngurah Rai.

Alur biografi Ngurah Rai memang sebagai pijakan. Ini kisah bsarnya sesuai dengan anak judul, Andre kemudian memotong alur itu untuk menempatkan informasi atau narasi-narasi pariwisata atau narasi-narasi lainnya. Terkadang nyambung tetapi sering juga tidak nyambung. Setelah membicarakan pendidikan Ngurah Rai, Andre menulis mengenai hubungan orang Bali dengan pariwisata. Walaupun kemudian, pada beberapa halaman lainnya diceritakan keluarga Ngurah Rai. Selain biografi dan pariwisata, Andre juga membicarakan teori-teori sejarah. Hal ini sebagai kesadaran bahwa dia sedang mengurai sejarah.

Dengan mengawinkan sejarah atau biografi gerilya Ngurah Rai dengan pariwisata, sejarah tidak hanya data/faktual tetapi juga konstruksi kontekstual. Teknik mengurai sejarah seperti ini mungkin belum ada dalam historiografi. Karena itu tidak hanya faktual, sejarah cenderung ke masa lalu. Andre menulis sejarah dengan menggunakan dua perspektif waktu yang tidak lagi leksikal. Dengan demikian, sejarah yang ditulis adalah tarik ulur antara masa lalu dan masa kini. Sayang sekali sejarawan terbelenggu waktu sejarah dan tidak pernah terpikir menulis sejarah dengan dua perspektif waktu.

Dalam penulisan sejarah hanya digunakan satu garis waktu tempat terjadinya perisitiwa. Biografi gerilya Ngurah Rai adalah satu garis konvensional dalam hitoriografi professional. Namun dalam buku ini dikombinasikan dengan garis waktu lain, yaitu perkembangan desa-desa di Bali karena pariwisata.

Tentu cara ini tidak digunakan dalam menulis sejarah karena sejarah harus fokus, independen, dan tunggal. Buku ini menggunakan cara lain, yaitu menggabungkan sejarah yang sudah ada dengan perkembangan wisata. Di sini dipertemukan sejarah dan pariwisata.

Dari segi isi, buku ini mengandung informasi sejarah gerilya Ngurah Rai yang sejalan dengan buku-buku sejarah yang sudah ada dan resmi atau teruji. Menulis kembali sejarah akan menghasilkan versi baru namun tetap dipayungi oleh sejarah resmi. Pengajaran dan konsumsi sejarah masih terpaku pada sejarah resmi. Model ini pernah digunakan oleh Pemerintah Orde Baru untuk melakukan legitimasi dan mungkin masih terjadi sampai saat ini sehingga sejarah alternatif atau versi-versi lain tidak ada.

Sejarah tidak selesai tetapi dinamis. Sejarah selalu dapat diurai dengan berbagai cara, seperti yang dilakukan Andre Syahreza. Sejarah selalu bisa direproduksi. Sejarah dapat ditulis terus-menerus oleh siapapun dengan caranya sendiri. Sejarah adalah apa yang diceritakan secara lisan dan bebas. Setiap orang memiliki kebebasan dalam menceritakan sejarah. Dengan demkian, sejarah berbicara sepanjang waktu. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN ARTIKA
“Prosa Gerilya: Mengurai Kisah Ngurah Rai” Dalam Festival Powerful Indonesia The Apurva Kempinski Bali
Bayang-Bayang Belanda di Bali Abad XIX: Catatan dari Kidung Bhuwana Winasa dan Yadnyeng Ukir Karya Ida Padanda Ngurah
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Tags: MargaranapahlawanPariwisatasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

Next Post

Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co