23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Penjajah” Baru Itu Bernama Lagu-Lagu Jawa

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
August 29, 2023
in Esai
“Penjajah” Baru Itu Bernama Lagu-Lagu Jawa

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

MESKI SEBAGAI orang Jawa yang tumbuh besar di Bali, tapi saya tak merasa benar-benar jauh dari Jawa. Entah dari budaya, bahasa, maupun makanannya. Sebab, di sini—di Singaraja—saya masih dapat menemukan “Jawa” itu sendiri. Misalnya, di rumah makan yang diberi nama daerah-daerah di Jawa, para pedagang di pasar, dan tentu saja di kontrakan, tempat tinggal saya yang notabene diisi orang-orang Jawa.

Menjadi orang Jawa di tanah rantau bagi saya tak begitu sulit untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, meskipun tetap tak bisa mengubah gaya bahasa Indonesia saya yang masih medhok. Tapi tak apa, toh, saya memang orang Jawa, kan?

Saya akui, orang Jawa memang ada di mana-mana, bahkan di seluruh Indonesia. Hal tersebut, dalam konteks yang lebih gawat, ini bisa saja dianggap “penjajahan” secara halus atau kecil-kecilan. Bukan saja secara fisik, orang Jawa juga telah “menjajah” secara kebudayaan. Salah satunya adalah melalui lagu-lagu Jawa, khususnya lagu-lagu yang bagi sebagian orang dianggap sebagai dangdut modern.

Ya, ambil contoh saja di Kota Singaraja. Hampir sebagian besar masyarakat di Singaraja—setidaknya yang dekat dengan saya—sekarang tahu, bahkan hafal dengan lagu-lagu Jawa yang terkesan melankolia itu. Meskipun saya yakin, hanya ada sedikit orang Singaraja yang paham ari lagu berbahasa Jawa.

Banar. Setelah sempat beberapa tahun terakhir lagu-lagu bernuansa campursarian Didi Kempot menjamur dari kalangan muda dan tua, kini muncul pula penyanyi-penyanyi baru yang hadir dengan membawa nuansa Jawa modern, mencampurkan unsur pop, dangdut, keroncong, dan jazz dalam satu lagu.

Akibat dari meledaknya lagu-lagu dangdut Jawa yang mungkin sampai ke seluruh Indonesia itu, membuat adanya pergeseran selera musik di kalangan masyarakat. Bukan saja berpengaruh terhadap selera musik, tapi hal tersebut juga diiringi dengan lunturnya kreatifitas—maksudnya banyak musisi yang akhirnya ikut-ikutan tren tersebut.

Seperti di Singaraja, misalnya. Belum lama ini muncul satu sosok penyanyi pendatang baru bernama Bagus Wirata, yang terkenal dengan hok a hok e nya. Penyanyi yang terkenal sejak tahun 2021 itu memang sedang naik daun dengan gaya dangdut ukulelenya. Dan bohong rasanya kalau penembang lagu Magelang Rindu dan Demen Pedidi itu tak meniru lagu-lagu koplo Jawa.

Ya, lagi-lagi dangdut koplo. Padahal, bukankah di Bali sudah ada gaya bermusik dengan nuansa Pop Balinya? Seperti misal, lagu Kamu sing Nawang milik Leeyonk Sinatra, atau lagu-lagu AA Raka Sidan dengan Song Brerong sebagai tembang hitsnya. Dan tentu masih banyak musisi Bali dengan khas Pop Balinya. Tapi entah alasan apa yang membuat Bagus Wirata memilih gaya bermusik yang sekilas mirip dengan gaya dari Denny Caknan Dkk.

Lalu, yang jadi pertanyaannya adalah, mungkinkah masyarakat Indonesia di luar Bali mengonsumsi lagu-lagu dangdut ukulele Bagus Wirata seperti lagu-lagu dangdut Jawa dari Denny Caknan Dkk? Oh maaf, untuk hal ini saya belum bisa menjawabnya.

Tetapi, terlepas dari itu semua, dunia musik kita seolah sedang menuju ke arah keseragaman genre, meski masih ada beberapa musisi yang menampilkan genre yang berbeda.

***

Sekarang, lagu-lagu Jawa menjadi trend tentu tidak bisa dipisahkan dengan peran media sosial. Sebab, media sosial memberikan ruang yang begitu luas untuk para Musisi mengenalkan karya-karya mereka dengan sangat mudah dan cepat.

Berbeda dengan musisi-musisi era 90-an yang harus masuk label musik tertentu agar bisa mendistribusikan karya-karyanya ke khalayak yang lebih luas. Jadi, mulai dari proses rekaman, kemudian advertising company, sampai pada tahap publishing company, musisi era 90-an tak bisa melakukannya sendiri.

Namun, sebaliknya, musisi zaman sekarang dapat melakukan hal tersebut hanya dengan seorang diri—dengan kecanggihan teknologi. Bahkan, untuk proses marketing pun, mereka sudah sangat mudah karena memiliki kanal YouTube–nya masing-masing.

Ledakan musik dangdut Jawa juga dipengaruhi oleh budaya kekinian para pengguna media sosial seperti Instagram maupun Tiktok. Sebab, konten-konten yang dihadirkan dari algoritma kedua media sosial ini biasanya menggunakan backsound lagu-lagu dangdut koplo Jawa.

Banyak influencer media sosial kerap menggunakan backsound lagu jawa pada setiap kontennya. Seperti Nopek Novian dan Agus Kotak, misalnya, yang kerap membagikan konten-kontennya dengan berisikan lagu-lagu Jawa pada akhir videonya. Karena hal tersebutlah, menjadikan lagu dangdut Jawa cepat menjadi populer di kalangan anak muda zaman sekarang, di seluruh Indonesia.

Salah satu musisi dangdut Jawa yang terkenal ialah Denny Setiawan atau lebih terkenal dengan nama panggung Denny Caknan. Penyanyi yang karier bermusiknya melejit lewat single lagu yang berjudul Kartonyono Medot Janji itu hadir dengan membawa nuansa perubahan gaya musik dangdut Jawa yang tampak lebih modern.

Sebab, lagu-lagu yang ia hidangkan bak memberi angin segar kepada penikmat lagu-lagu Jawa setelah kehilangan alm. Didi Kempot—atau yang lebih di kenal sebagai The Godfather of Broken Heart, sang maestro campursari itu.

Oh, tunggu, saya lupa. Dari tadi saya menyebut “dangdut Jawa” padahal apa yang dibawakan Denny Caknan dkk—apalagi Bagus Wirata—itu bukan dangdut.

Hal tersebut pernah disampaikan oleh Mahfud Ikhwan dalam esainya yang berjudul Pop Cengeng, Didi Kempor, dan Para Penerusnya (Jawa Pos (28/08/23). Kata Mahdud,karena kecintaan Denny Caknan Dkk kepada Didi Kempot, itu justru malah menjauhkannya dari pakem dangdut yang dibawakan Rhoma Irama, Evie Tamala, atau Hamdan ATT. Bahkan, Denny dkk, justru terkesan lebih condong kepada lagu-lagu pop cengeng Rinto dan Obbie, atau Arie dan Yongky. Saya sepakat dengan pendapat ini.

***

Tetapi, terlepas dari itu semua, sekali lagi, lagu-lagu Jawa memang telah menjadi semacam virus yang menjalar begitu cepat. Penggunaan lirik sederhana dan kosakata sehari-hari, membuat lagu-lagu Denny Caknan, Guyonwaton, NdarboyGeng, Happy Asmara dan penyanyi Jawa lainnya, dengan cepat menjadi familiar di telinga para pendengar.

Sebab, merayakan kegundahan hati dengan lagu-lagu Jawa dan lirik yang mudah dipahami, akan menjadi sebuah perayaan sakit hati yang sangat totalitas dan menyesakkan.

Banyak teman yang saya temui di media sosial sedang memutar atau menggunakan lagu-lagu Jawa hits kekinian sebagai musik latar video atau foto mereka. Seperti teman di Pulau Kangean yang memberi kabar kepada saya bahwa lagu Guyonwaton yang berjudul Dumes enak untuk didengar. Lantas dengan sedikit mengejek saya bertanya kepadanya, “Emang kamu paham artinya?” Jawabannya sudah dapat ditebak: “Jelas tidak dong!”

Tampaknya untuk menikmati lagu-lagu Jawa tak melulu harus paham artinya dahulu—untuk bisa membuat badan bergoyang di setiap alunannya. Toh tahun lalu, waktu HUT RI Ke-77 ketika Farel, penyanyi cilik asal Banyuwangi itu, berhasil menggoyang Istana dengan tembang Ojo Dibanding-bandingke. Seolah-olah pada saat itu semua masalah negara terselesaikan dengan irama musik dangdut koplo Jawa.

Bahkan kemarin, saat acara pelepasan wisuda Universitas Pendidikan Ganesha, Gedung Auditorium bergoyang heboh ketika seorang wisudawan menyanyikan lagu Rungkad di hadapan Rektor, jajaran senat Undiksha dan calon wisudawaan lainnya. Namun, sepertinya tetap sama—seperti teman saya yang berasal dari Kangean tadi—mereka sama-sama tidak paham betul arti dari lirik lagu tersebut. Barangkali efek “penjajahan” itu nyata adanya.

Akhirnya, sudah 7 tahun saya hidup di Singaraja. Dalam kurun waktu yang tak bisa dibilang sebentar itu, justru jiwa kejawaan saya malah menjadi-jadi. Sebab, semakin saya jauh dari tanah kelahiran, saya malah menemukan Jawa tumbuh subur di sini.

Pada saat saya mulai menulis tulisan ini pun, seorang tetangga sedang memutar lagu Denny Caknan yang berjudul Sanes, lagu ciptaan Andry Priyanta itu. Dan, tentu saja, sambil menulis saya juga menggoyang-goyangkan jempol kaki secara perlahan, supaya tidak ketahuan teman yang sedang bekerja…. Asoyyy.[T]

Musik Pop dan Cita-cita Kami
Dandi dan Dangdut | Cerita Duta Bali pada Liga Dangdut Indosiar 2021

Dangdut Koplo atau Kupu-kupu yang Lucu? – Sekilas Cerita tentang Lagu Anak
Gitaris Muda, Gitar Ibanez, dan Dangdut
Tags: dangdutjawamusikmusik pop balimusik pop indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melukis Cerita, Mereka-reka Dunia Lempad

Next Post

Cak Air “GanggaRam”: Seni Pertunjukan Baru di Air Terjun

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Cak Air “GanggaRam”: Seni Pertunjukan Baru di Air Terjun

Cak Air "GanggaRam": Seni Pertunjukan Baru di Air Terjun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co