23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hakikat Peran Sebagai Solusi Atas Ketakutan Akan Kematian

Krisna Aji by Krisna Aji
August 1, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SALAH SATU ketakutan terbesar manusia adalah kematian. Akibat dari kematian yang seram, manusia selalu mencoba untuk mengalahkannya. Tetapi, kematian tetaplah masa depan yang mutlak sehingga usaha untuk mengalahkan akan kembali beralih ke penyangkalan. Penyangkalan yang pada akhirnya membawa manusia kembali pada ketakutan akan sebuah kepastian.

Ketakutan akan kematian dapat disebabkan oleh banyak hal. Beberapa contoh sebab adalah ketidaktahuan akan alam setelah kematian, berbagai pengalaman kehidupan yang belum memuaskan, hilangnya segala sesuatu yang melekat saat hidup, dan masih banyak lagi. Sebutkan saja.

Dari banyaknya versi, ada satu kemungkinan akan sebab ketakutan akan kematian, yang pernah dikatakan oleh Sogyal Riponche dalam bukunya yang berjudul The Tibetan Book of Living and Dying. Dalam buku tersebut, Sogyal Riponche menyebutkan bahwa—bisa jadi—ketakutan muncul akibat ketidaktahuan akan siapa diri kita setelah kematian.

Konsep ketidaktahuan akan siapa diri kita beranjak dari kenyataan bahwa identitas yang melekat pada diri kita didapatkan dari berbagai label yang melekat, seperti kepribadian yang sangat personal, unik, dan beda dengan orang lain.

Di luar itu, identitas diperkuat oleh perjalanan hidup—biografi—yang mencangkup pasangan, keluarga, rumah, pekerjaan, lingkungan, harta benda, atau apapun yang saat hidup sering kita banggakan—senada dengan pernyataan James Suzman dalam buku Work: A History of How We Spend Our Time. Padahal, semua itu berakhir saat kematian tiba. Semua identitas yang melekat, hilang tak tersisa.

Kondisi memang terlihat buruk saat kita kehilangan identitas. Apalagi, jika dipandang dari sisi yang berlawanan, identitas awalnya memang dibutuhkan. Hal ini berakar dari fungsi identitas sebagai pemberi makna hidup.

Lalu, makna hidup tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi individu untuk menjalani hidupnya. Bahkan, jika kita berkaca pada konsep logoterapi, kehilangan makna akan membuat seseorang lebih mungkin mengalami putus asa dan depresi dari pada kehilangan objek kelekatan—lost of love object.

Kedekatan antara makna hidup dan identitas sering kali menyeret manusia ke arah sengsara dengan cara yang halus. Hal tersebut disebabkan oleh pencarian makna hidup yang membuat kita semakin melekat pada identitas yang pada dasarnya tidak kekal. Kelekatan tersebut, pada akhirnya akan memunculkan sebuah kehilangan yang signifikan saat objek kelekatan bernama identitas menghilang bersama kematian.

Jika dilihat dengan seksama, muncul paradoks yang saling meniadakan. Memihak paradoks “identitas” akan memunculkan ketakutan akan kematian, sedangkan berdiri di paradoks “anti-identitas” dapat berujung pada hilangnya semangat untuk menjalani hidup. Lalu, bagaimana?

Bagaimana jika masalah bukan berada pada identitas, tetapi lebih kepada anggapan bahwa identitas adalah sama dengan diri yang sejati? Mungkinkah diri yang sejati dan identitas adalah hal yang berbeda?

Bagaimana dengan melakukan analogi sederhana kepada diri sendiri? Seperti, jika ini adalah kekayaanku, maka kekayaan ini bukanlah aku; jika ini adalah profesiku, maka profesi ini bukanlah aku; jika ini adalah namaku, maka nama ini bukanlah aku; jika ini adalah tubuhku, maka tubuh ini bukanlah aku; jika ini adalah pikiranku, maka pikiran ini bukanlah aku; jika ini adalah perasaanku, maka perasaan ini bukanlah aku.

Dengan semua analogi sederhana tersebut, akan tampak bahwa “aku” dan identitas adalah hal yang berbeda. Kehilangan akan identitas sejatinya tidak akan berdampak sama sekali terhadap “aku”. Dengan analogi itu pula, kematian pun tidak akan lagi menjadi hal yang mencekam bagi diri yang sejati.

Di sisi lain, analogi tersebut akan membuat paradoks yang lekat dengan identitas—pencarian makna—seperti melambai untuk memberi pertanyaan: apakah makna dari adanya “aku”? Sekilas, pertanyaan tersebut tampak menguatkan pertikaian kembali. Tetapi, sebenarnya pertanyaan itu dapat menjadi awal mula perdamaian. Lalu, bagaimana penjabarannya?

Analogi permainan peran dalam teater dapat digunakan untuk mempermudah penjabaran. Analogi ini mungkin akan cocok karena segala peran—dengan identitasnya—dalam pementasan tidak akan dibawa pulang oleh pemain saat peran tersebut selesai dimainkan.

Pementasan teater terdiri dari berbagai elemen peran yang hidup dan berinteraksi di dalamnya. Dalam hal ini pula, ukuran waktu adalah relatif. Bagi pentas teater secara keseluruhan, waktu dihitung dari keseluruhan waktu mulai dan selesainya pementasan. Tetapi, bagi tiap peran, waktu dihitung dari lama waktu peran tersebut masih dibutuhkan di panggung.

Waktu akan sangat berbeda antara peran satu dengan peran lainnya. Begitu pula dengan fungsi tiap peran. Fungsi peran akan jelas berbeda karena tiap peran adalah potongan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain untuk membentuk pementasan maha besar yang sempurna.

Dengan memandang bahwa tiap peran adalah potongan puzzle yang berfungsi untuk melengkapi keseluruhan pementasan, dapat dipahami bahwa masing-masing peran sebenarnya tidak berada pada hierarki superior-inferior.

Semua peran memiliki fungsi dan waktunya masing-masing, yang sama penting untuk dimainkan dengan sepenuh hati. Peran yang dimainkan dengan tidak semestinya seperti keluar dari pementasan sebelum waktunya, mengambil hak peran lain, atau tidak bersemangat dalam mensukseskan pementasan hanya akan membuat kekacauan.

Dengan sepenuhnya menyadari hal tersebut, menjalani peran dengan sepenuh hati dan meninggalkan peran tersebut dengan keiklasan saat tiba waktunya, adalah langkah yang dapat ditempuh untuk memeroleh makna yang paripurna.

Bermakna karena memiliki peran penting dalam sebuah cerita tanpa terikat dengan peran tersebut saat waktu pulang sudah tiba. Karena, peran dan pemain peran adalah hal yang berbeda. Sehingga, kematian tidak lagi menakutkan dan hidup tidak lagi membosankan.

***

Lalu, Siapakah “aku”—diri yang sejati?[T]

BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA DI SINI

Orang Tua Penyebab Hilangnya Tujuan Hidup Anak
Kesalahan dalam Mencari Makna Hidup
Masa Depan Perasaan Manusia
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Tags: filsafatilmu filsafatkematianrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggupkah Media Meliput Pemilu 2024 Secara Proporsional? | Catatan Workshop Peliputan Pemilu Tahun 2024 Dewan Pers [1]

Next Post

Upacara Ngusaba Dimel Desa Adat Batur: Bentuk Keyakinan Anugerah Kesuburan  

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Upacara Ngusaba Dimel Desa Adat Batur: Bentuk Keyakinan Anugerah Kesuburan  

Upacara Ngusaba Dimel Desa Adat Batur: Bentuk Keyakinan Anugerah Kesuburan  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co