26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsir Ramayana: Di Srilangka, Rahwana adalah Pahlawan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Topeng Rahwana

RAMAYANA seperti ditakdirkan lahir untuk ditafsir. Ke mana pun ia menyebar, di sana ia “bermutasi” menjadi versi tersendiri. Tak terhitung pementasan, novel, cerpen, film, dan berbagai jenis karya seni lainnya merupakan hasil “tafsir” dan “transformasi” teks Ramayana.

Ramayana bahkan melahirkan semacam “tradisi tafsir” yang khas Jawa dan Bali. Para dalang, dramawan, sutradara, dan juga sastrawan tembang, terus menjadikan teks Ramayana sebagai salah satu sumber inspirasi berkesenian.

Di panggung-panggung hiburan pedesaan Ubud dan Gianyar, Bali, hampir setiap hari teks Ramayana menjadi paket konsumsi pariwisata. Teks Ramayana “dipenggal” dan “diadopsi” sebagai pemanis pertunjukan kesenian kecak, lahirlah Kecak Ramayana. Di depan turis awam, pertunjukan ini disebut Monkey Dance. Tokoh Rama umumnya diperankan penari perempuan. Kecak Ramayana adalah sebuah hasil “tafsir” terhadap teks Ramayana.

Sebagai sebuah paket hiburan, teks Ramayana artinya sudah ditarik ke wilayah komersial. Ia “dikomoditisasi” menjadi sarana pengumpul uang, bukan untuk tujuan sakral atau religius.

Berabad-abad lalu, diperkirakan antara 1028—1035, Empu Kanwa sudah melakukan sebuah tafsir. Ia mereinterpretasi sebuah teks Ramayana, yaitu Ravanavadha (kematian Rawana) karya Bhatti, sebagai “prototipe” penulisan kakawin Ramayana. PJ Zoetmulder—dalam Kalangwan: A Survey of Old Javanese literature (1974)—melihat bahwa kakawin Ramayana, dari pupuh 17 sampai akhir atau sepertiga dari kakawin, menunjukkan “penyimpangan” pengarangnya. Ia mereinterpretasi dan bercerita dengan caranya sendiri, terlepas dari versi Bhatti-kavya.

Ravanavadha—lebih dikenal sebagai Bhatti-kavya—diperkirakan ditulis abad ke-6 atau ke-7, juga merupakan tafsir atau saduran teks Ramayana yang ada sebelumnya. Kakawin Ramayana adalah bukti dan puncak pencapaian seni “menafsir” teks Ramayana di zaman Jawa Kuno.

Kelahiran kakawin Ramayana ini tidak bisa dipisah dengan keemasan sebuah kerajaan Hindu-Budha di Jawa bagian timur yang dipimpin oleh Erlangga, raja yang melindungi para kawi (penyair). Diperkirakan, kakawin Ramayana adalah “teks utama” bagi masyarakat saat itu.

Setelah mayoritas penduduk Jawa masuk Islam, teks Ramayana tidak lagi menjadi “teks utama”. Sementara di Bali sampai saat ini, dalam pesantian (kelompok tembang atau kelompok pengajian yang berbasis pada susastra tembang) dan di sela-sela odalan (persembahyangan di pura), bait-bait kakawain Ramayana ditafsirkan dalam “perspektif agama”.

Melantunkan/melafalkan (makidung-mawirama) dan menafsir/menginterpretasi (mababasan) menjadi bagian penting dalam sebuah pasantian, dan juga bagian penting berbagai macam ritual. Mababasan dan wirama juga dilombakan antardesa dan diajarkan di sekolah-sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Tradisi mababasan dan wirama adalah “tradisi tafsir” yang tidak bisa lepas kelahirannya dari kebiasaan “menafsir” teks Ramayana.

Sebagai ilustrasi, sebuah bait yang sangat terkenal dari kakawin Ramayana, pupuh pertama, bait ketiga, berbunyi: Gunamanta Sang Dasaratha wruh siraring weda bhakti ring dewa tar malupeng pitra puja masih ta sireng swagotra kabeh. Terjemahannya (bait ini bukan hanya ditafsir sebagai bait ‘sastra spiritual’), ‘Seorang (Hindu) yang baik, semestinya seperti sang Dasaratha (ayah Rama mertua Sita), mempelajari Weda (kitab suci) sampai paham.

Setelah paham ilmu pengetahuan (suci), seseorang harus menahan diri agar tidak sombong. Seorang (Hindu) yang terpuji, tetap tidak melupakan pitra puja (upacara penghormatan pada leluhur). Pitra puja adalah sarana manusia (Hindu) untuk memberi penghormatan leluhur, menjaga seseorang agar tetap rendah hati (tidak arogan). Itu pun belum lengkap. Seseorang harus mencintai keluarga dan semua mahluk untuk meraih kedamaian di dunia dan akhirat.’

“Kenyataan tak Nyata”

Cara melihat sebuah teks dari perspektif moral dan agama banyak mewarnai cara orang Bali dalam “melihat” teks Ramayana. Walaupun demikian, dalam masyarakat Bali tidak ada tradisi penyembahan terhadap sosok Rama di pura-pura atau pun acara-acara pesantian.

Situasi tersebut berbeda dengan di India. Dalam bahasa Sanskrit, Ram memang bermakna yang tertinggi, sumber keilahian. Ram padanan kata Tuhan. Kata terakhir yang di ucapkan Mahatma Gandhi ketika tertembak adalah Ram.

Bagi para pemuja Rama atau pengikut Vaisnava di India, dan juga pengikut di Bali, Ram adalah “biji mantra” yang dikumandangkan tanpa henti untuk mendoakan kesejahteraan dunia. Lebih jauh, bagi pengikut Vaisnava yang “militan”, keyakinan mereka terhadap sosok Rama sekiranya sebanding dengan keyakinan masyarakat Kristen dalam melihat Yesus sebagai Tuhan yang lahir ke dunia.

Bagaimana dengan Sita? Sita tetap Sita, istri Rama, sekalipun selalu mengapung di lautan prahara. Seniman bisa menafsir dengan “bebas”, bahkan “radikal”. Akan tetapi, tidak bagi para pemuja Rama. Mereka punya interpretasi berdasar rasa (getaran batiniah) yang tidak selalu sama dengan semangat “kebebasan kreatif”. Rakyat India dan kelompok pemuja Rama di Bali atau Indonesia, banyak yang meyakini bahwa kisah itu sebagai “kebenaran sejarah”. Rama dan Sita diyakini sebagai pasangan yang pernah hidup di dunia ribuan tahun silam. Mereka memeluk “kenyataan tak nyata” itu.

Ketika seorang seniman atau siapa pun yang dinilai menjungkir-balik “kenyataan tak nyata” tersebut, ia berhadapan dengan pemeluknya. Baru saja tersiar berita, Garin Nugroho—seorang sutradara—mencoba mereinterpretasi (dekonstruksi?) tokoh-tokoh Ramayana. Dan masih dalam proses mentransformasikan tafsir itu menjadi sebuah garapan film, ia sudah “dicegat” dan “diadili” oleh sebuah tantangan yang berasal dari luar dunia seni. Satu berusaha merealisasikan “imajinasi”-nya, satu berusaha menghadang agar jangan sampai terjadi realisasi “imajinasi” itu, yang dikhawatirkan bisa merusak “kenyataan tak nyata” yang dipeluknya.

Kehadiran Dewi Sita, seperti umumnya istri-istri nabi dalam berbagai agama, tidak menjadi pokok atau sentral pengisahan kehidupan suaminya. Perempuan-perempuan itu menjadi tokoh-tokoh bayangan, timbul dan tenggelam. Sentral pengisahan berada pada para lelaki.

Bisa diprediksikan akan muncul reaksi sejenis jika seorang seniman berani menafsirkan secara “bebas” kisah salah seorang istri nabi. Katakanlah istri nabi tertentu dalam pentas teater digambarkan berselingkuh dan doyan seks. Apakah kelompok yang “meyakini” nabi bersangkutan akan berdiam diri?

Belum lama berselang, Maria Magdalena dikisahkan tidur dengan Yesus, publik barat langsung bereaksi. Reaksi seperti ini bisa dari kelompok mana saja, tak cuma bisa terjadi di Indonesia, tidak juga hanya muncul dari kelompok mayoritas.

Sekte, agama, komunitas spiritual, atau sebuah suku umumnya punya “kenyataan tak nyata” yang mereka sepakati dalam “kesadaran batin”. Untuk “mengada” mereka perlu “kenyataan tak nyata” itu. Kalau itu terguncang, terguncang pula eksistensi mereka. Dalam hal ini, kelompok spiritual itu sedang berusaha memproteksi “kenyataan tak nyata” itu.

Keberadaan kisah Ramayana dan tokoh-tokohnya di kalangan anggota pesantian di Bali umumnya ditanggapi dengan konsep hana tan hana, ‘ada dan tak ada’. Ini persoalan “kenyataan tak nyata”, semestinya rendah hati untuk tidak bersikap cepat-cepat menyimpulkan, berpikir “serba betul-betul pasti”, seolah-olah segala sesuatu bisa disimpulkan.

Belajar dari kajian sastra, jika horizon of expectation (referensi teks, sudut pandang, tingkat pemahaman, wawasan, dan latar belakang budaya) kita berbeda dalam menyelami dan memahami sebuah teks, hasilnya jelas berbeda-beda, dan tak mungkin tercipta “standardisasi tafsir” terhadap sebuah teks, sekalipun ditempuh jalan kekerasan. Lantas apakah seorang cukup pantas mendaulat diri untuk menjadi polisi, jaksa, hakim, sekaligus juri dan pengeksekusi dalam “kasus” hana tan hana ini?

Negeri Sri Lanka menjadi sebuah pelajaran. Di sana teks Ramayana “dijungkir-balik”. Rahwana-lah sang pahlawan. Dewi Sita bukan diculik, tetapi lari ke Alengka meminta perlindungan Rahwana. Sosok Rama bukanlah tokoh terpuji, tetapi seorang “ekspansionis”. Di negeri itu, masyarakat melakukan “dekonstruksi teks” secara komunal. Institusi apa yang bisa menghentikan sebuah kekuatan “dekontrusksi komunal” semacam itu? (T)

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Kompas dengan judul “Menafsir Ramayana”

Tags: balikebudayaanRamayananwayang
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Alexander Robert Nainggolan# Ctrl + A, Alt + Tab, Shift + F3, Ctrl + X

Next Post

Mengenal Patria – Tugas Mulia Pemuda Buddhis

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Mengenal Patria – Tugas Mulia Pemuda Buddhis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co