24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Popularitas Istilah Selingkuh & Main Belakang di Indonesia

Yoga Yolanda by Yoga Yolanda
July 24, 2023
in Bahasa
Popularitas Istilah Selingkuh & Main Belakang di Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Kadek Wiradinata

“Infidelity is like a cancer that eats away at the very core of a relationship. It may provide temporary pleasure, but the long-term consequences are devastating.”

-Dave Willis

“Perselingkuhan seperti kanker yang merusak inti hubungan. Mungkin memberikan kenikmatan sementara, tetapi konsekuensi jangka panjangnya menghancurkan.”

– Dave Willis

DALAM era media sosial dan perang informasi seperti sekarang, persaingan untuk mendapatkan popularitas dan perhatian publik semakin ketat. Beberapa media berita dan selebriti menggunakan strategi yang kadang-kadang kontroversial untuk mendongkrak popularitas mereka. Perselingkuhan menjadi salah satu topik yang sering menjadi perhatian dan menarik minat banyak orang di Indonesia.

Berita perselingkuhan sering kali menjadi sorotan utama di media massa dan media sosial. Para selebriti, tokoh publik, atau individu terkenal seringkali menjadi target pemberitaan ketika terlibat dalam skandal perselingkuhan. Fenomena ini tampaknya muncul dari kesadaran media dan editor bahwa cerita kontroversial tentang kehidupan pribadi atau hubungan orang-orang terkenal menarik perhatian pembaca dan penonton. Ketika berita tentang perselingkuhan diungkapkan, reaksi publik sangat bervariasi, tetapi seringkali menimbulkan keingintahuan yang tinggi dan perdebatan yang hangat.

Selingkuh dan main belakang adalah dua istilah yang sering muncul bergantian di Indonesia, terutama ketika membahas tentang hubungan antara dua orang. Kedua kata ini mengandung makna yang terkait dengan aspek-aspek yang intim dalam kehidupan manusia, namun konotasinya berbeda.

Kata selingkuh dalam kbbi.kemdikbud.go.id bermakna menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; serong. Pengertian yang diambil dari KBBI ini tidak eksplisit mengatakan selingkuh ada di wilayah hubungan antarmanusia. Dapat dikatakan bahwa selingkuh tidak selalu bermakna melakukan hubungan intim dengan orang selain pasangan atau kekasih yang sah. Hanya saja, selingkuh dalam pengertian inilah yang paling banyak digunakan masyarakat.

Dalam Korpus Indonesia (Koin) (korpusindonesia.kemdikbud.go.id) yang terdiri dari sebanyak 24.736.534 token, kata selingkuh muncul sebanyak 50 kali.Dari 50 kata tersebut, Istilah ini dikaitkan dengan pengkhianatan dalam hubungan, dan dampaknya dapat sangat merusak kepercayaan dan kestabilan hubungan. Meskipun membawa konotasi negatif, popularitas kata selingkuh dalam bahasa Indonesia cukup tinggi. Banyak drama, film, dan media populer mengangkat tema selingkuh sebagai alur cerita utama, menarik minat penonton dengan intrik dan konflik yang kompleks.

Faktor-faktor seperti ketidakpuasan dalam hubungan, kurangnya komunikasi, godaan dari pihak ketiga, dan gaya hidup modern yang lebih terbuka terhadap variasi hubungan, menjadi pendorong popularitas kata selingkuh di kalangan masyarakat Indonesia. Meskipun kebanyakan orang menyadari akibat negatif dari selingkuh, popularitas kata ini mungkin mencerminkan realitas bahwa masalah tersebut ada dalam masyarakat dan menjadi bagian dari perbincangan sehari-hari.

Sementara itu, kata main belakang memiliki makna yang lebih kasual dan bersifat eufemistik. Artinya, meskipun dapat dikatakan sebagai sinonim dari selingkuh, istilah main belakang lebih sopan dan lebih berkonotasi positif. Istilah ini menggambarkan hubungan intim tanpa ikatan emosional yang serius antara dua orang. Walaupun main belakang jarang terdengar dalam konteks formal atau media, popularitasnya cukup tinggi dalam percakapan informal di kalangan masyarakat, terutama di lingkungan muda. Meskipun lebih sopan atau eufemistik, sayangnya frasa main belakang bukan termasuk dalam bahasa Indonesia karena keberadaannya tidak dapat ditemukan di KBBI.

Kata main belakang mungkin mencerminkan pergeseran nilai-nilai sosial dalam masyarakat Indonesia terkait dengan hubungan dan seksualitas. Generasi muda cenderung lebih terbuka tentang variasi dalam bentuk hubungan dan mencari alternatif yang tidak terikat pada komitmen jangka panjang. Penggunaan main belakang bisa menjadi respons terhadap tekanan sosial dalam menjalin hubungan serius dan mencerminkan pandangan bahwa eksplorasi hubungan tanpa ikatan romantis adalah hal yang lebih diterima.

Popularitas kata selingkuh dan main belakang mencerminkan perubahan sosial dan nilai-nilai dalam masyarakat Indonesia. Kemajuan teknologi, akses yang mudah terhadap media sosial, dan globalisasi telah membawa perubahan dalam cara orang berhubungan dan berinteraksi. Budaya yang semakin terbuka dan toleran terhadap variasi dalam hubungan menciptakan ruang bagi penggunaan kata-kata ini dalam konteks yang lebih luas.

Perlu dicatat bahwa penggunaan kedua kata tersebut tidak selalu mendapat persetujuan dari masyarakat. Beberapa orang mengkritik popularitas istilah-istilah ini karena bisa merusak hubungan yang sah dan kurangnya komitmen pada hubungan yang lebih mendalam. Hanya saja, Dunia hiburan senantiasa menggunakan dua istilah ini dalam strategi pemberitaan.

Ada beberapa alasan yang mendasari penggunaan strategi berita perselingkuhan dalam mendongkrak popularitas:

Pertama, sensasi dan kontroversi. Berita perselingkuhan menyajikan sensasi dan kontroversi yang menarik perhatian banyak orang. Berbagai aspek dari skandal tersebut, seperti pengkhianatan, konflik emosional, dan konsekuensinya, menciptakan ketegangan yang menarik bagi pembaca dan penonton.

Kedua, peningkatan klik dan penonton. Konten berita yang kontroversial dan menarik emosi cenderung mendapatkan lebih banyak klik, tayangan, dan pembagian di media sosial. Ini berarti meningkatkan popularitas media yang menerbitkan berita semacam itu.

Ketiga, persepsi sebagai “berita penting“. Beberapa media mungkin berpendapat bahwa berita perselingkuhan yang melibatkan tokoh publik adalah bagian dari tugas mereka untuk menginformasikan masyarakat tentang masalah-masalah terkini, terutama yang melibatkan orang-orang yang berada di sorotan publik.

Keempat, persaingan di dunia media. Dalam dunia media yang penuh persaingan, menampilkan berita perselingkuhan dapat menjadi cara bagi outlet media untuk mencapai posisi yang lebih unggul dan meningkatkan kehadiran mereka di pasar.

Mungkin, bagi tokoh atau media yang terlibat, berita tentang selingkuh atau main belakang dapat mendongkrak popularitas mereka, tetapi bagi masyarakat awam, hal ini dapat membentuk budaya sensasi dalam diri masyarakat. Dengan kata lain, ketabuan dua istilah ini menjadi samar-samar.

Memang, terlalu sering menghadirkan berita sensasional, termasuk perselingkuhan, dapat membentuk budaya yang terobsesi dengan sensasi dan kehidupan pribadi orang lain. Jadilah, banyak masyarakat yang terjerembab dengan dunia perselingkuhan, baik terjebak sendiri di dalamnya maupun menjadi sumber penyebaran berita perselingkuhan di lingkungannya. Dengan demikian, moral dalam diri masyarakat terkikis akibat hal ini. Selingkuh dianggap hal yang (mengarah pada) biasa saja.

Sebagai simpulan, saya dapat mengatakan bahwa dalam budaya Indonesia, popularitas kata selingkuh dan main belakang saat ini mencerminkan realitas sosial dan perubahan nilai-nilai dalam masyarakat. Meskipun keduanya memiliki konotasi yang berbeda, penggunaan mereka mencerminkan pergeseran dalam pandangan dan pemahaman tentang hubungan dan seksualitas.

Sebagai masyarakat yang semakin terbuka dan beragam, penting bagi kita untuk memahami implikasi dari penggunaan kata-kata ini dan mencari cara-cara yang lebih positif dan menghormati dalam menjalani hubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Memopularkan kata-kata ini hanya untuk mendongkrak popularitas tokoh atau media barangkali sah-sah saja dalam dunia hiburan, tetapi dampak negatifnya pada masyarakat cukup signifikan. [T]

  • BACA artikel lain dari YOGA YOLANDA
Menjadi Penulis Cekatan di Tengah Badai Kecerdasan Buatan
Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]
Tags: BahasaBahasa Indonesiajurnalismeselingkuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Quo Vadis Dokter Indonesia? | Renungan dari Polemik Menkes vs IDI

Next Post

Anom Ranuara, Drama Klasik dan Kesetiaan Berkarya Tiada Henti

Yoga Yolanda

Yoga Yolanda

Dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Jember

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Anom Ranuara, Drama Klasik dan Kesetiaan Berkarya Tiada Henti

Anom Ranuara, Drama Klasik dan Kesetiaan Berkarya Tiada Henti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co