3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Quo Vadis Dokter Indonesia? | Renungan dari Polemik Menkes vs IDI

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
July 24, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

“Perasaan, telah banyak menyeret manusia ke dalam masalah. Karena perasaan sering  membawa manusia menjadi tak adil.”

MAU ke mana dokter Indonesia? Pertanyaan ini cukup relevan dilontarkan pada hari-hari ini, saat rancangan undang-undang (RUU) Kesehatan disahkan oleh DPR RI menjadi undang-undang (UU). Dan setelah konflik panjang yang begitu terasa antara pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan organisasi profesi (OP), terutama Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Bahkan diskursus sesungguhnya belum mereda lantaran berbagai pernyataan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (BGS) yang dirasa menyerang dokter Indonesia. Soal perundungan pendidikan dokter di Indonesia, resistensi dokter Indonesia terhadap persaingan global, dan sebaliknya tudingan IDI terhadap pemerintah yang seakan melupakan begitu saja jasa dokter Indonesia selama pandemi Covid-19. Habis manis sepah dibuang.

Bagi saya, jawaban atas pertanyaan di atas, sebetulnya cukup jelas dan sederhana. Dokter Indonesia dalam wadah IDI yang “Satu dan terus maju”, akan dan harus tetap berdiri dengan tegak dan selalu melangkah ke depan dengan tegap. Berdiri tegak sebagai organisasi profesi yang selalu menjaga integritas dan etik dengan kokoh dan melangkah tegap ke depan membangun kesehatan bangsa. Melanjutkan langkah gemilang Dokter Sutomo dan para dokter pergerakan nasional saat bahu-membahu dengan para pendiri bangsa yang lain, menancapkan Sang Merah Putih untuk kemerdekaan bangsa.

Kini, langkah itu kita tujukan untuk sesama yang memerlukan pelayanan kesehatan di seluruh pelosok negeri. Dengan kehangatan humanisme dan segenap jiwa pengabdian. Dan menjadi agen perubahan untuk masa depan bangsa yang lebih bermartabat.

Kita mesti percaya UU Kesehatan bukanlah vonis kiamat bagi IDI. Meski kita pun harus mengkui tak ada pemerintah yang sempurna dalam segala hal. Namun survey tingkat kepuasan masyarakat kepada pemerintahan Presiden Jokowi sebesar hampir 90% boleh dijadikan acuan. Ini termasuk angka terbesar dalam sejarah pemerintahan Indonesia, bahkan dunia.

Begitu juga, dengan berlakunya UU Kesehatan ini, bukanlah sebuah kekalahan memalukan bagi IDI. Keduanya, pemerintah dan IDI harus bisa melihat dinamika ini sebagai sebuah kehidupan bernegara dengan segala muatan dan nuansa politisnya.

Bukankah DPR adalah institusi politik? Bukankah menteri adalah jabatan politik? Maka UU tentu saja produk politik. Sepanjang langkah-langkah yang dipijakkan telah membawa serta spirit demokrasi maka keputusan layak untuk dihargai. Jika ada syak wasangka sejawat dokter yang menilai BGS hendak memecah belah bahkan akan menjajah dokter Indonesia, harus juga kita maklumi. Mengingat gaya komunikasi menkes yang terlampau vulgar. BGS mesti memahami psikologis para dokter dan membangun pola komunikasi yang lebih hangat dan egaliter.

Meskipun berbagai isu yang dilontarkan menkes ke publik ada benarnya, yang dilakukan oleh para oknum, namun perlu dilakukan dengan cara yang lebih terukur sehingga tidak menimbulkan sentimen negatif dari IDI. Apalagi BGS sendiri bukan berasal dari kalangan dokter yang tentu saja sudah memberi rasa jarak bagi para dokter, terutama dokter senior dan pengurus OP. Meskipun bukan hal aneh jika Menkes itu bukan seorang dokter. Singapura misalnya, menkesnya juga bukan dokter.

Di sisi lain, kita pun harus mau mengakui secara obyektif, gebrakan Menkes yang telah menyiapkan anggaran Beasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) sebanyak 2.500 orang, ini merupakan jumlah terbesar dalam sejarah Kemenkes RI. Begitu juga kemudahan pendidikan fellowship maupun penyederhanaan perizinan praktek dokter.

Maka, jika syak wasangka tersebut diteruskan, akan berhadapan dengan tembok logika yang tak bisa dilewati. Jika dokter Indonesia sebagai profesi hancur, apa manfaatnya bagi Menkes? Jika masyarakat tak lagi percaya kepada dokter, apa gunanya buat pemerintah? Justru yang terjadi  kerugian teramat besar bagi pemerintahan negeri ini.

Makanya lagi, prasangka bahwa menkes atau pemerintah telah memecah belah organisasi dokter dan kemudian melancarkan kolonialisme terhadap profesi ini, tak punya alibi yang cukup kuat. Kalau toh ada sebuah konspirasi terselubung yang kita curigai, sejak begitu progresifnya upaya meloloskan RUU Kesehatan ini dilakukan, seperti keuntungan bagi asing misalnya, tentu kita harus menemukan data dan argumen yang valid. Jika tidak, kita pun masih bisa menunggu dan melihat (wait and see), apakah hal itu betul bakal menjadi kenyataan? Jika benar, tak usah ragu lagi para dokter harus kembali turun ke palagan. Seperti yang telah ditorehkan dengan tinta emas oleh Dokter Sutomo dan kawan-kawan.

Bahkan jika kita sepakat menggunakan koridor konstitusional, hari ini kita dapat mengajukan keberatan melalui uji materiil ke Mahkamah Konstitusi (MK). Itu jauh lebih baik, daripada meletupkan peperangan melalui media massa saat ini. Karena perlu disadari, mayoritas dokter saat ini, selain adalah keluarga besar IDI pada satu kaki, pun adalah jajaran kemenkes pada kakinya yang lain.

Satu pilihan yang tak kalah baiknya bagi dokter Indonesia adalah, memantau dan mengawasi dengan ketat pelaksanaan UU Kesehatan tersebut, termasuk bisa ikut terlibat dengan intens saat penyusunan turunan UU Kesehatan tersebut mulai dari peraturan pemerintah (PP) dan seterusnya. Pastikan pengurusan izin menjadi lebih mudah dan murah, realisasi beasiswa PPDS maupun fellowship serta pemerataan sarana prasarana medis ke seluruh pelosok negeri.

Saya sendiri, sejak lebih dari 10 tahun ini adalah salah satu pengurus inti IDI Cabang Buleleng. Bersama sejawat pengurus dan anggota telah melakukan banyak hal untuk anggota maupun masyarakat seperti kegiatan ilmiah, bakti sosial, edukasi masyarakat via berbagai platform media hingga kegiatan olah raga serta seni dan budaya.

Oleh karena itu, saya selalu meyakini IDI dan dokter sampai kapan pun tetap dihormati dan dimuliakan sebagai profesi yang sarat dengan spirit kemanusiaan yang senantiasa menggetarkan hati insani. Dokter Indonesia niscaya semakin profesional dan humanis karena saat melayani sesama telah dilatih mengedepankan kepekaan perasaan. Namun sebaliknya, saat menghadapi dinamika serta diskursus politik dan kenegaraan, dokter hendaknya lebih mengandalkan rasio dan nalar ketimbang perasaan. [T]  

  • BACA esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
Cerita-cerita Ringan Dokter (3): Image Mahasiswa Kedokteran
Cerita-cerita Ringan Dokter (2): Dokter Novelis, Politisi, dan Dokter Cuci Sepatu
Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek
Tags: IDIIkatan Dokter IndonesiakesehatanUndang-undang KesehatanUU Kesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha

Next Post

Popularitas Istilah Selingkuh & Main Belakang di Indonesia

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails
Next Post
Popularitas Istilah Selingkuh & Main Belakang di Indonesia

Popularitas Istilah Selingkuh & Main Belakang di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co