23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Iwan Fals, Rosana, dan Jalan Sederhana Menuju Bahagia – Catatan Kecil dari Munas Oi di Lampung

Pande Putu Sriasih by Pande Putu Sriasih
February 2, 2018
in Tualang

Foto-foto koleksi penulis

Oi adalah daya hidup. Oi datang dari mana-mana. Yang menjadikan kita sama adalah cinta dan semangat membangun organisasi. Itulah yang memacu semangatku berangkat ke Lampung ikut Munas Oi VI di Lampung, 21-23 April 2017.

Dengan sedikit merengek kepada suami karena suami kebetulan juga anggota Oi. Merengek agar ia bisa mendampingi perjalananku. Untung suamiku seorang lelaki yang selalu punya keinginan besar agar istrinya berkembang, di bidang apa pun, apalagi untuk urusan organisasi seni, sosial, dan kemanusiaan.

Suamiku bilang,  “Ya”.  Eh, aku malah balik bertanya, “Terus, apakah Ayang punya uang untuk bekal dan beli tiket?”

“Ayo kita bergerak.  Selalu ada hasil kalau kita mau berusaha,”  suamiku membakar semangatku.

Aku minta ijin Ketua BPW untuk mohon bantuan dana ke Bapak Wisnaya, Penasehat BPK Oi Buleleng. Andik, Ketua BPW Oi Bali mengijinkan. “Silahkan, Mbok, lakukan apa yang bisa dilakukan, kita mendukung sepenuhnya,”  kata Andik.

Aku pun jalan dan astungkara, Bapak Wisnaya membantu dengan senang hati.  Kurang 1 tiket lagi. Aku memutar otak, dan ingat temanku SMA yang kini jadi anggota Dewan. Temanku yang super sibuk itu sedang berada di luar daerah ketika kutelepon. Tapi, saat aku minta bantuan, ia langsung transfer dana ke rekeningku. Terima kasih.

Sebenarnya dana itu sudah cukup untuk berangkat ke Lampung, tapi hanya untuk berangkat saja. Untuk bekal dan lain-lain sama sekali kami tak punya.

Mungkin dilihat saking ngebet-nya aku ingin ikut Munas Oi, suami tak tinggal diam. Ia buka HP, set, set, dan menelepon salah seorang temannya untuk pinjam uang. Pinjam uang? Aku terharu. Sejauh ini aku tahu, suamiku tidak pernah mau ngomong “pinjam uang” kepada siapapun. Tapi kali ini tanpa beban ia melakukannya. Demi aku.

Pertama Naik Pesawat

Akhirnya kami berangkat ke Lampung. Sebenarnya malu juga menceritakan bagian ini. Tapi sebaiknya memang aku ceritakan. Meski agak klise, tapi “pengalaman pertama” untuk hal apa pun memang harus dicatat.

Aku baru pertamakali naik pesawat. Seperti mimpi. Sungguh. Setua ini aku memang beberapa kali melakukan perjalanan keluar daerah, tapi semuanya kulakukan lewat darat. Kalau suami sih, sudah seringkali.

Seperti mimpi. Dengan pemeriksaan yang ketat, dari terminal keberangkatan di Bandara Ngurah Rai akhirnya aku melangkahkan kaki menuju pesawat.

Mesin hidup, dan pesawat jalan perlahan menuju landasan pacu, pesawat ngebut dan cusss, lepas landas. Aku hanya bergumam dalam hati, “Biasa saja, seperti naik mobil…”.

Seperti tahu apa yang aku rasakan, suamiku nyeletuk, “Nanti kalau saat mendarat beda rasanya, buat Ade akan seperti uji nyali.”

Aku diam sambil membayangkan seperti apa. Dan satu jam dua puluh menit pesawat transit di Jakarta dan akan mendarat, terasa copot jantungku, tak sadar mulutku langsung melapalkan Mantram Gayatri.  Ternyata benar, saat mendarat sedikit menakutkan. Aku sempat berfikir kalau pesawat ini remnya blong.

Seperti tahu apa yang aku pikirkan, suamiku mengalihkan perhatianku dengan selfi sebelum turun pesawat. Untungnya transit tak terlalu lama. Naik pesawat kedua aku sudah merasa terbiasa dan tertidur hingga tiba di Lampung.

Mulailah Sesi Perkenalan

Di Lampung, kudengar ada orang menyapa Midori, orang Jepang, yang menjadi wakil Denpasar. Ia memang lebih dulu jadi anggota Oi hingga sering menghadiri pertemuan Oi dan konser Babe (Iwan Fals) di seluruh Indonesia. Aku tahu, orang yang menyapa itu anggota Oi dari sapaannya yang khas. Hingga Midori memperkenalkan kami. “Saya Andre dari Bontang,” kata orang itu.

Otakku langsung berputar Bontang, Bontang, o ya Kalimantan Timur. Aku pernah baca Oi Bontang lewat kenalan di dunia maya. Dan aku ingat teman dunia mayaku yang sempat hilang dan ternyata satu BPW dengan Andre. Kami langsung akrab dengan gurauan alakadarnya karena sadar baru kenal.

Berpose senang bersama suami, Edi Robin.

Aku jadi berharap ketemu teman-teman dunia maya lainnya di Munas itu. Sampailah kami di LPMP Lampung, tempat karantina kami selama 3 hari ke depan. Sungguh tak pernah aku duga mereka semua ramah dan terasa sudah lama kenal. Tak ada rasa sungkan, canggung, dan semua rasa yang tak enak. Semua mengalir begitu saja. Sampai ada seseorang yang rasanya pernah aku lihat tapi di mana…

Aku menikmati keakraban ini sambil otakku menjelajah orang satu ini. Namanya Gus Barong. Orangnya asyik dan lucu. Dan krik..krik..krik… otakku terlintas, “O iya orang ini adalah orang yg berkostum aneh saat Bang Iwan Fals konser Jaga Bumi di Singaraja.”

Aku masih malu untuk menebaknya. Takut salah. Sampai akhirnya suamiku bilang, “Ade lupa sama abang ini?” “Nggak mungkin, Gus Barong yang lupa sama aku,” sahutku menyambar pertanyaan. Gus Barong akhirnya menyahut dan membuatku lega. “Aku nggak lupa, Mbak yang aku lihat super sibuk di konser itu.  Memberi aku jatah nasi bungkus setelah aku bantu-bantu kerja.”  katanya.

Dan akhirnya kami pun larut dalam cerita-cerita lucu yang pernah mereka alami bersama. Malam pertama ini Gus Barong rela memberikan kamarnya pada aku dan suamiku. Sungguh baik banget. Terima kasih Gus…

Rosana dan Iwan Fals Datang

Pagi mulai disamari panas matahari saat kami harus registrasi.

“Hai, kapan dateng? Waah, wajah baru?” Aku hanya tersenyum sambil tersipu bangga. Bang Ipul orang BPP mengingatku, menyapaku akrab sekali. Aku semakin melambung karena waktu tour Jaga Bumi di Singaraja orang ini tidak seakrab ini. Paling cuma senyum dan tak banyak omong. Tapi aku tahu Bang Ipul orang pintar karena jika ada orang yang membuat isu hoax sama Bang Iwan, dia yang paling dulu meluruskan. Mengklarifikasi dengan uraian-uraian cerdas.

Pukul 11.30 waktu setempat, Ibu Rosana Listanto, istri Bang Iwan Fals, Ketua Umum Oi, bersama Sekjen Bapak Ainu Rofik dan Bang Iwan sendiri tiba di LPMP. Dengan sukacita dan semangat yang kian meletup kami semua merasakan kebahagiaan tiada tara. Oi, Oi, Oi… betapa tak rugi aku berjuang untuk tiba di Lampung.

Saat itu, makan siang belum ditanggung. Aku dan suami menuju warung yang tidak terlalu jauh. Tinggal menyeberang langsung warung nasi. Aku pesan, “Bu, makan, dua orang ya, Bu.” “Nasinya ambil sendiri, Mbak,” kata si penjual nasi. Aku ragu, aku tanya lagi, “Lauknya, Mbak?” “Ya, ambil aja!” Sambil tersenyum si dagang nasi membuka tutup semua lauk. Aku membawa dua piring nasi ke tempat duduk suami yang sudah berbaur dengan peserta dari Jakarta Timur yang juga makan di sana. Mereka langsung akrab dan saling bertukar akun facebook.

Akupun tak ketinggalan memperkenalkan akun facebook. Dan salah seorang dari mereka bilang “Eeeh… sudah berteman”. Aku mengangkat wajahku dan kami saling mengingat. “Saya, Addian Lawula!” “Oww, beda loh di foto facebook dengan kenyataan,” candaku. Sambil makan kami diskusi ringan seputar Oi.

Sore pukul 18.00 WIB jatah makan pertama dari panitia. Kami menuju ruang makan sempat ragu tak enak karena berpikir masak dalam jumlah yang sangat banyak pasti seadanya. Ada lebih kurang 500 orang termasuk panitia yang makan. Tapi ternyata, enak luar biasa. Aku beri semua jempolku untuk tukang masak itu. Selama 3 hari dengan 5 kali jatah makan tak tercela, semua mantap.

Cuma yang susah dicari adalah kopi kesukaanku. Lampung memang terkenal dengan kopinya. Entah kenapa aku tak bisa menikmatinya karena memang tak suka kopi hitam. Aku suka kopi mainstream dengan merek tertentu (tak usahlah kusebutkan).

Tiba Saat Munas

Usai makan, kami dikumpulkan panitia, kemudian diangkut bus Trans Lampung menuju Gedung Keratun di Gubernuran. Munas dimulai. Langsung masuk dengan Sidang Paripurna I. Pembukaan baru bisa dilaksanakan pagi hari karena mengundang Pejabat nomor 1 di Lampung. Sidang pertama ini di pimpin Bang Ipul, Ketua Badan Pekerja Munas sebagai Ketua Sidang Sementara.

Munas Oi VI pun dibuka

Aku buta dengan Munas. Tidak tahu secara detail isi acara dan rangkaiannya. Aku tak pernah ikut acara-acara seperti ini. Paling-paling jadi panitia jika dulu sering diajak suami dalam kegiatan organisasi. Sambil terus berdiskusi dengan suami aku belajar mengerti dan mengambil hal-hal yang bisa aku petik untuk menambah wawasan. Aku belum berani bersuara secara formal. Takut salah karena aku sadar Munas adalah forum tertinggi sebuah organisasi.

Tiba saatnya pemilihan Ketua Sidang Tetap. “Bali… Bali… Bali…!”  Aku semangat berkoar dalam suasana gaduh. Sampai semua sepakat memilih Bali karena mungkin terpengaruh koar-koar aku dan suamiku. Dari Buleleng kami berangkat bertiga. Malam sebelum berangkat ke Lampung kami sudah merundingkan merebut Tahta Ketua Sidang Tetap dengan strategi lobi-lobi peserta. Dan sukses. Sidang digenjot tak mengenal waktu. Aku berusaha menikmati sambil bercanda dengan suami agar tidak bosan.

Sampai malam ketiga aku mulai sempoyongan. Suamiku kumat, sarafnya kaku karena AC. Aku tinggalkan sidang setelah selesai sidang komisi, sampai pemilihan Ketua Umum. Karena aku pun mulai bosan dengan usul yang kadang tak masuk akal dan terlalu mengada-ada menurut otakku. Dan aku sudah menyatakan satu suara dengan BPW, arahnya juga sudah pasti memilih Ibu Rosana untuk kembali memimpin kami. Selesai rangkaian sidang, Munas ditutup dengan konser gratis Bang Iwan di Lapangan Gubernuran.

Suasana Munas

Dari jam 10 pagi kami sudah diangkut ke lapangan walau konser baru mulai jam 3 sore. Aku memanfaatkan waktu ini untuk sekedar mencari cindera mata kenang-kenangan dari Lampung. Berkeliling lapangan aku melihat Kang Ayub Suparman. Dia adalah pimpinan tim panggung Bang Iwan Fals. Orang dekat Bang Iwan Fals yang pertama kali aku kenal saat survey konser Jaga Bumi di Singaraja.

“Kang Ayub, apa kabar,” sapaku.

“Eh, Pande, akhirnya ketemu juga, kemarin cuma komentar di facebook. Berapa orang dari Buleleng?” Akhirnya kami ngobrol akrab sambil cek sound. Tidak enak mengganggu aku melanjutkan keliling lapangan sambil sesekali membuka HP. Dan cring, “Bunda di sini juga? Aku pengen ketemu!”  Aku membaca inbox teman facebook lain yang juga ikut Munas. “Yap, kita ketemu di LPMP aja ya,”  balasku senang.

Kenangan Berharga

”Yuk, lihat t-shirt Munas,” ajak suami menuju lapak yang dibuka di lapangan.

Di lapak kami ngobrol seakan sudah lama kenal karena mereka, para pedagang itu juga anggota Oi.  Aku bersyukur masih banyak orang-orang baik yang aku kenal. Kenapa aku bilang orang baik? Mereka yang aku temui di lapangan ini tidak sungkan-sungkan langsung memberi kami kenang-kenangan karena mungkin merasa cocok dan nyambung dengan obrolan.

Ada yang langsung mentraktir dengan memanggil dagang yang lalu lalang dan tidak basa-basi membayar semua makanan. Jarang bisa bertemu orang-orang tulus seperti itu. Itulah kenangan berharga dalam Munas itu. Sampai konser usai, kami kembali ke Asrama LPMP. Tak ada obrolan antara aku dan suami. Kami berfikir sendiri-sendiri. Walau apa yang kami pikirkan ternyata sama. Ya, tiket untuk balik pulang ke Bali. Karena weekend ditambah libur nasional harga tiket melambung. Kami sadar bekal kami menipis. Sisa uang tak cukup untuk dua tiket.

Setelah merasa lelah memikirkan sendiri akhirnya kami diskusi. Memecahkan masalah ini berdua. Solusi, solusi, solusi, akhirnya kami menunda kepulangan kami 1 hari lagi karna tiket normal keesokan harinya.

Karena sudah harus meninggalkan asrama terpaksa kami mencari Wisma yang tidak terlalu mahal untuk 1 malam lagi. Kebetulan ketemu Kang Acong, Pengurus BPP yang juga pulangnya tertunda sehari, mengantar kami mencari penginapan depan Bandara untuk memudahkan kami berangkat esoknya. Menghabiskan hari terakhir di Lampung dengan istirahat penuh. Bisa kembali pulang bertemu ketiga anakku yang membanggakan. Memberi kesempatan ibunya bahagia dalam organisasi, walau ibunya ini sudah uzur, he he he.

Munas Oi di Lampung, kupikir hanya satu jalan saja yang harus dilalui menuju kebahagiaan, kebahagiaan seorang ibu yang selama ini lebih banyak tinggal di rumah. Di situ aku melihat Ibu Rosana dan Iwan Fals yang selama ini – sebagai selebritis dan tokoh nasional –  selalu menunjukkan kepada kami tentang dunia manusia di luar image glamour selebritis di TV.

Mereka menunjukkan kepada kami cara berbagi, cara untuk tetap bersama-sama di tengah perbedaan, cara merawat nilai-nilai kemanusiaan, dan cara merawat alam dan lingkungan. Bukanlah semua itu jalan untuk menuju kebahagiaan?

Jadi, semua perjuangan lengkap dengan pengalaman yang aku lalui dari Bali hingga ke Lampung lalu balik kembali ke Bali, kupikir bukan semata kulakukan karena Oi, karena Iwan Fals, atau karena Ibu Rosana, atau karena teman-teman Oi seluruh Indonesia yang baik hati dan tidak sombong itu. Ibu Rosana dan Iwan Fals tentu saja tak akan mau kami kultuskan, dan kami juga tidak sedang mengkultuskan mereka.

Semua itu kulakukan karena seseorang, termasuk aku yang hanya ibu rumah tangga ini, harus mengejar kebahagiaannya, dengan cara apa pun, lewat apa pun, sampai di mana pun. Terimakasih Tuhan. Terimakasih Oi. Terimakasih suamiku. Terimakasih anak-anakku, untuk pengalaman indah dan berharga ini. Banyak hal yang bisa aku pelajari dan sungguh aku bahagia. (T)

Tags: baliIwan FalsLampungorganisasi
Share465TweetSendShareSend
Previous Post

Bandem dan Dibya Bicarakan Ida Bagus Oka Blangsinga di Bentara Budaya

Next Post

“Tangkil” ke Pura Besakih – Ketika Bersama, Ketika Berbeda…

Pande Putu Sriasih

Pande Putu Sriasih

Ibu Rumah Tangga, tinggal di Singaraja, Bali

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post

“Tangkil” ke Pura Besakih – Ketika Bersama, Ketika Berbeda…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co