25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Iwan Fals, Rosana, dan Jalan Sederhana Menuju Bahagia – Catatan Kecil dari Munas Oi di Lampung

Pande Putu Sriasih by Pande Putu Sriasih
February 2, 2018
in Tualang

Foto-foto koleksi penulis

Oi adalah daya hidup. Oi datang dari mana-mana. Yang menjadikan kita sama adalah cinta dan semangat membangun organisasi. Itulah yang memacu semangatku berangkat ke Lampung ikut Munas Oi VI di Lampung, 21-23 April 2017.

Dengan sedikit merengek kepada suami karena suami kebetulan juga anggota Oi. Merengek agar ia bisa mendampingi perjalananku. Untung suamiku seorang lelaki yang selalu punya keinginan besar agar istrinya berkembang, di bidang apa pun, apalagi untuk urusan organisasi seni, sosial, dan kemanusiaan.

Suamiku bilang,  “Ya”.  Eh, aku malah balik bertanya, “Terus, apakah Ayang punya uang untuk bekal dan beli tiket?”

“Ayo kita bergerak.  Selalu ada hasil kalau kita mau berusaha,”  suamiku membakar semangatku.

Aku minta ijin Ketua BPW untuk mohon bantuan dana ke Bapak Wisnaya, Penasehat BPK Oi Buleleng. Andik, Ketua BPW Oi Bali mengijinkan. “Silahkan, Mbok, lakukan apa yang bisa dilakukan, kita mendukung sepenuhnya,”  kata Andik.

Aku pun jalan dan astungkara, Bapak Wisnaya membantu dengan senang hati.  Kurang 1 tiket lagi. Aku memutar otak, dan ingat temanku SMA yang kini jadi anggota Dewan. Temanku yang super sibuk itu sedang berada di luar daerah ketika kutelepon. Tapi, saat aku minta bantuan, ia langsung transfer dana ke rekeningku. Terima kasih.

Sebenarnya dana itu sudah cukup untuk berangkat ke Lampung, tapi hanya untuk berangkat saja. Untuk bekal dan lain-lain sama sekali kami tak punya.

Mungkin dilihat saking ngebet-nya aku ingin ikut Munas Oi, suami tak tinggal diam. Ia buka HP, set, set, dan menelepon salah seorang temannya untuk pinjam uang. Pinjam uang? Aku terharu. Sejauh ini aku tahu, suamiku tidak pernah mau ngomong “pinjam uang” kepada siapapun. Tapi kali ini tanpa beban ia melakukannya. Demi aku.

Pertama Naik Pesawat

Akhirnya kami berangkat ke Lampung. Sebenarnya malu juga menceritakan bagian ini. Tapi sebaiknya memang aku ceritakan. Meski agak klise, tapi “pengalaman pertama” untuk hal apa pun memang harus dicatat.

Aku baru pertamakali naik pesawat. Seperti mimpi. Sungguh. Setua ini aku memang beberapa kali melakukan perjalanan keluar daerah, tapi semuanya kulakukan lewat darat. Kalau suami sih, sudah seringkali.

Seperti mimpi. Dengan pemeriksaan yang ketat, dari terminal keberangkatan di Bandara Ngurah Rai akhirnya aku melangkahkan kaki menuju pesawat.

Mesin hidup, dan pesawat jalan perlahan menuju landasan pacu, pesawat ngebut dan cusss, lepas landas. Aku hanya bergumam dalam hati, “Biasa saja, seperti naik mobil…”.

Seperti tahu apa yang aku rasakan, suamiku nyeletuk, “Nanti kalau saat mendarat beda rasanya, buat Ade akan seperti uji nyali.”

Aku diam sambil membayangkan seperti apa. Dan satu jam dua puluh menit pesawat transit di Jakarta dan akan mendarat, terasa copot jantungku, tak sadar mulutku langsung melapalkan Mantram Gayatri.  Ternyata benar, saat mendarat sedikit menakutkan. Aku sempat berfikir kalau pesawat ini remnya blong.

Seperti tahu apa yang aku pikirkan, suamiku mengalihkan perhatianku dengan selfi sebelum turun pesawat. Untungnya transit tak terlalu lama. Naik pesawat kedua aku sudah merasa terbiasa dan tertidur hingga tiba di Lampung.

Mulailah Sesi Perkenalan

Di Lampung, kudengar ada orang menyapa Midori, orang Jepang, yang menjadi wakil Denpasar. Ia memang lebih dulu jadi anggota Oi hingga sering menghadiri pertemuan Oi dan konser Babe (Iwan Fals) di seluruh Indonesia. Aku tahu, orang yang menyapa itu anggota Oi dari sapaannya yang khas. Hingga Midori memperkenalkan kami. “Saya Andre dari Bontang,” kata orang itu.

Otakku langsung berputar Bontang, Bontang, o ya Kalimantan Timur. Aku pernah baca Oi Bontang lewat kenalan di dunia maya. Dan aku ingat teman dunia mayaku yang sempat hilang dan ternyata satu BPW dengan Andre. Kami langsung akrab dengan gurauan alakadarnya karena sadar baru kenal.

Berpose senang bersama suami, Edi Robin.

Aku jadi berharap ketemu teman-teman dunia maya lainnya di Munas itu. Sampailah kami di LPMP Lampung, tempat karantina kami selama 3 hari ke depan. Sungguh tak pernah aku duga mereka semua ramah dan terasa sudah lama kenal. Tak ada rasa sungkan, canggung, dan semua rasa yang tak enak. Semua mengalir begitu saja. Sampai ada seseorang yang rasanya pernah aku lihat tapi di mana…

Aku menikmati keakraban ini sambil otakku menjelajah orang satu ini. Namanya Gus Barong. Orangnya asyik dan lucu. Dan krik..krik..krik… otakku terlintas, “O iya orang ini adalah orang yg berkostum aneh saat Bang Iwan Fals konser Jaga Bumi di Singaraja.”

Aku masih malu untuk menebaknya. Takut salah. Sampai akhirnya suamiku bilang, “Ade lupa sama abang ini?” “Nggak mungkin, Gus Barong yang lupa sama aku,” sahutku menyambar pertanyaan. Gus Barong akhirnya menyahut dan membuatku lega. “Aku nggak lupa, Mbak yang aku lihat super sibuk di konser itu.  Memberi aku jatah nasi bungkus setelah aku bantu-bantu kerja.”  katanya.

Dan akhirnya kami pun larut dalam cerita-cerita lucu yang pernah mereka alami bersama. Malam pertama ini Gus Barong rela memberikan kamarnya pada aku dan suamiku. Sungguh baik banget. Terima kasih Gus…

Rosana dan Iwan Fals Datang

Pagi mulai disamari panas matahari saat kami harus registrasi.

“Hai, kapan dateng? Waah, wajah baru?” Aku hanya tersenyum sambil tersipu bangga. Bang Ipul orang BPP mengingatku, menyapaku akrab sekali. Aku semakin melambung karena waktu tour Jaga Bumi di Singaraja orang ini tidak seakrab ini. Paling cuma senyum dan tak banyak omong. Tapi aku tahu Bang Ipul orang pintar karena jika ada orang yang membuat isu hoax sama Bang Iwan, dia yang paling dulu meluruskan. Mengklarifikasi dengan uraian-uraian cerdas.

Pukul 11.30 waktu setempat, Ibu Rosana Listanto, istri Bang Iwan Fals, Ketua Umum Oi, bersama Sekjen Bapak Ainu Rofik dan Bang Iwan sendiri tiba di LPMP. Dengan sukacita dan semangat yang kian meletup kami semua merasakan kebahagiaan tiada tara. Oi, Oi, Oi… betapa tak rugi aku berjuang untuk tiba di Lampung.

Saat itu, makan siang belum ditanggung. Aku dan suami menuju warung yang tidak terlalu jauh. Tinggal menyeberang langsung warung nasi. Aku pesan, “Bu, makan, dua orang ya, Bu.” “Nasinya ambil sendiri, Mbak,” kata si penjual nasi. Aku ragu, aku tanya lagi, “Lauknya, Mbak?” “Ya, ambil aja!” Sambil tersenyum si dagang nasi membuka tutup semua lauk. Aku membawa dua piring nasi ke tempat duduk suami yang sudah berbaur dengan peserta dari Jakarta Timur yang juga makan di sana. Mereka langsung akrab dan saling bertukar akun facebook.

Akupun tak ketinggalan memperkenalkan akun facebook. Dan salah seorang dari mereka bilang “Eeeh… sudah berteman”. Aku mengangkat wajahku dan kami saling mengingat. “Saya, Addian Lawula!” “Oww, beda loh di foto facebook dengan kenyataan,” candaku. Sambil makan kami diskusi ringan seputar Oi.

Sore pukul 18.00 WIB jatah makan pertama dari panitia. Kami menuju ruang makan sempat ragu tak enak karena berpikir masak dalam jumlah yang sangat banyak pasti seadanya. Ada lebih kurang 500 orang termasuk panitia yang makan. Tapi ternyata, enak luar biasa. Aku beri semua jempolku untuk tukang masak itu. Selama 3 hari dengan 5 kali jatah makan tak tercela, semua mantap.

Cuma yang susah dicari adalah kopi kesukaanku. Lampung memang terkenal dengan kopinya. Entah kenapa aku tak bisa menikmatinya karena memang tak suka kopi hitam. Aku suka kopi mainstream dengan merek tertentu (tak usahlah kusebutkan).

Tiba Saat Munas

Usai makan, kami dikumpulkan panitia, kemudian diangkut bus Trans Lampung menuju Gedung Keratun di Gubernuran. Munas dimulai. Langsung masuk dengan Sidang Paripurna I. Pembukaan baru bisa dilaksanakan pagi hari karena mengundang Pejabat nomor 1 di Lampung. Sidang pertama ini di pimpin Bang Ipul, Ketua Badan Pekerja Munas sebagai Ketua Sidang Sementara.

Munas Oi VI pun dibuka

Aku buta dengan Munas. Tidak tahu secara detail isi acara dan rangkaiannya. Aku tak pernah ikut acara-acara seperti ini. Paling-paling jadi panitia jika dulu sering diajak suami dalam kegiatan organisasi. Sambil terus berdiskusi dengan suami aku belajar mengerti dan mengambil hal-hal yang bisa aku petik untuk menambah wawasan. Aku belum berani bersuara secara formal. Takut salah karena aku sadar Munas adalah forum tertinggi sebuah organisasi.

Tiba saatnya pemilihan Ketua Sidang Tetap. “Bali… Bali… Bali…!”  Aku semangat berkoar dalam suasana gaduh. Sampai semua sepakat memilih Bali karena mungkin terpengaruh koar-koar aku dan suamiku. Dari Buleleng kami berangkat bertiga. Malam sebelum berangkat ke Lampung kami sudah merundingkan merebut Tahta Ketua Sidang Tetap dengan strategi lobi-lobi peserta. Dan sukses. Sidang digenjot tak mengenal waktu. Aku berusaha menikmati sambil bercanda dengan suami agar tidak bosan.

Sampai malam ketiga aku mulai sempoyongan. Suamiku kumat, sarafnya kaku karena AC. Aku tinggalkan sidang setelah selesai sidang komisi, sampai pemilihan Ketua Umum. Karena aku pun mulai bosan dengan usul yang kadang tak masuk akal dan terlalu mengada-ada menurut otakku. Dan aku sudah menyatakan satu suara dengan BPW, arahnya juga sudah pasti memilih Ibu Rosana untuk kembali memimpin kami. Selesai rangkaian sidang, Munas ditutup dengan konser gratis Bang Iwan di Lapangan Gubernuran.

Suasana Munas

Dari jam 10 pagi kami sudah diangkut ke lapangan walau konser baru mulai jam 3 sore. Aku memanfaatkan waktu ini untuk sekedar mencari cindera mata kenang-kenangan dari Lampung. Berkeliling lapangan aku melihat Kang Ayub Suparman. Dia adalah pimpinan tim panggung Bang Iwan Fals. Orang dekat Bang Iwan Fals yang pertama kali aku kenal saat survey konser Jaga Bumi di Singaraja.

“Kang Ayub, apa kabar,” sapaku.

“Eh, Pande, akhirnya ketemu juga, kemarin cuma komentar di facebook. Berapa orang dari Buleleng?” Akhirnya kami ngobrol akrab sambil cek sound. Tidak enak mengganggu aku melanjutkan keliling lapangan sambil sesekali membuka HP. Dan cring, “Bunda di sini juga? Aku pengen ketemu!”  Aku membaca inbox teman facebook lain yang juga ikut Munas. “Yap, kita ketemu di LPMP aja ya,”  balasku senang.

Kenangan Berharga

”Yuk, lihat t-shirt Munas,” ajak suami menuju lapak yang dibuka di lapangan.

Di lapak kami ngobrol seakan sudah lama kenal karena mereka, para pedagang itu juga anggota Oi.  Aku bersyukur masih banyak orang-orang baik yang aku kenal. Kenapa aku bilang orang baik? Mereka yang aku temui di lapangan ini tidak sungkan-sungkan langsung memberi kami kenang-kenangan karena mungkin merasa cocok dan nyambung dengan obrolan.

Ada yang langsung mentraktir dengan memanggil dagang yang lalu lalang dan tidak basa-basi membayar semua makanan. Jarang bisa bertemu orang-orang tulus seperti itu. Itulah kenangan berharga dalam Munas itu. Sampai konser usai, kami kembali ke Asrama LPMP. Tak ada obrolan antara aku dan suami. Kami berfikir sendiri-sendiri. Walau apa yang kami pikirkan ternyata sama. Ya, tiket untuk balik pulang ke Bali. Karena weekend ditambah libur nasional harga tiket melambung. Kami sadar bekal kami menipis. Sisa uang tak cukup untuk dua tiket.

Setelah merasa lelah memikirkan sendiri akhirnya kami diskusi. Memecahkan masalah ini berdua. Solusi, solusi, solusi, akhirnya kami menunda kepulangan kami 1 hari lagi karna tiket normal keesokan harinya.

Karena sudah harus meninggalkan asrama terpaksa kami mencari Wisma yang tidak terlalu mahal untuk 1 malam lagi. Kebetulan ketemu Kang Acong, Pengurus BPP yang juga pulangnya tertunda sehari, mengantar kami mencari penginapan depan Bandara untuk memudahkan kami berangkat esoknya. Menghabiskan hari terakhir di Lampung dengan istirahat penuh. Bisa kembali pulang bertemu ketiga anakku yang membanggakan. Memberi kesempatan ibunya bahagia dalam organisasi, walau ibunya ini sudah uzur, he he he.

Munas Oi di Lampung, kupikir hanya satu jalan saja yang harus dilalui menuju kebahagiaan, kebahagiaan seorang ibu yang selama ini lebih banyak tinggal di rumah. Di situ aku melihat Ibu Rosana dan Iwan Fals yang selama ini – sebagai selebritis dan tokoh nasional –  selalu menunjukkan kepada kami tentang dunia manusia di luar image glamour selebritis di TV.

Mereka menunjukkan kepada kami cara berbagi, cara untuk tetap bersama-sama di tengah perbedaan, cara merawat nilai-nilai kemanusiaan, dan cara merawat alam dan lingkungan. Bukanlah semua itu jalan untuk menuju kebahagiaan?

Jadi, semua perjuangan lengkap dengan pengalaman yang aku lalui dari Bali hingga ke Lampung lalu balik kembali ke Bali, kupikir bukan semata kulakukan karena Oi, karena Iwan Fals, atau karena Ibu Rosana, atau karena teman-teman Oi seluruh Indonesia yang baik hati dan tidak sombong itu. Ibu Rosana dan Iwan Fals tentu saja tak akan mau kami kultuskan, dan kami juga tidak sedang mengkultuskan mereka.

Semua itu kulakukan karena seseorang, termasuk aku yang hanya ibu rumah tangga ini, harus mengejar kebahagiaannya, dengan cara apa pun, lewat apa pun, sampai di mana pun. Terimakasih Tuhan. Terimakasih Oi. Terimakasih suamiku. Terimakasih anak-anakku, untuk pengalaman indah dan berharga ini. Banyak hal yang bisa aku pelajari dan sungguh aku bahagia. (T)

Tags: baliIwan FalsLampungorganisasi
Share465TweetSendShareSend
Previous Post

Bandem dan Dibya Bicarakan Ida Bagus Oka Blangsinga di Bentara Budaya

Next Post

“Tangkil” ke Pura Besakih – Ketika Bersama, Ketika Berbeda…

Pande Putu Sriasih

Pande Putu Sriasih

Ibu Rumah Tangga, tinggal di Singaraja, Bali

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post

“Tangkil” ke Pura Besakih – Ketika Bersama, Ketika Berbeda…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co